RSS Feed
Showing posts with label Pharmacy. Show all posts
Showing posts with label Pharmacy. Show all posts

Wednesday, October 26, 2011

Pengertian Obat Tetes Mata


Obat tetes mata merupakan sediaan berupa larutan atau suspense, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola mata. Obat-obat yang digunakan pada produk optaimik dapat dikategorikan menjadi miotik, midriatik, siklopegik, anti-inflamatory agent, anti infeksi, anti glaucoma, senyawa diagnostic dan anestetik local.

Kelebiahan Dan Kekurangan Obat Tetes Mata

Kelebihan :

1. Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal homogeny, bioavailabilitas, dan kemudahan penanganan.

2. Suspense mata memiliki kelebihan dimana adanya partikel zat aktif dapat memperpanjang waktu tinggal pada mata sehingga meningkatkan waktu terdisolusinya oleh air mata, sehingga terjadi peningkatan bioavailabilitas dan efek terapinya.

Kekurangan :

1. Volume larutan yang dapat ditampung oleh mata sangat terbatas (± 7μL) maka larutan yang berlebih dapat masuk ke nasel cavity lalu masuk ke jalur GI menghasilkan absorpsi sistemik yang tidak diinginkan. Misalnya β-bloker untuk perawatan glaucoma dapat menjadi masalah bagi pasien gangguan jantung atau asma bronchial.

2. Kornea dan rongga mata sangat kurang tervaskularisasi, selain itu kapiler pada retina dan iris relatf non permeable sehingga umumnya sediaan untuk mata adalah efeknya local atau topical.Kornea dan rongga mata sangat kurang tervaskularisasi, selain itu kapiler pada retina dan iris relatf non permeable sehingga umumnya sediaan untuk mata adalah efeknya local atau topical.


Persyaratan Sediaan Tetes Mata

Steril

Farmakope modern mesyaratkan sterilitas kuman bagi optalmika (angka kuman harus 0). Pembuatan tetes mata pada dasarnya pada kondisi kerja aseptik.

Jernih
Persyaratan larutan bebas partikel bertujuan menghindari rangsangan akibat bahan padat. Filtrasi dengan kertas saring atau kain wol tidak dapat menghasilkan larutan bebas partikel melayang. Oleh karena itu, sebagai material penyaring kita menggunakan leburan gelas. Misalnya Jenaer Fritten berukuran pori G3-G5.


Pengawetan (antimicrobial preservative)

Meskipun steril, ketika disalurkan setiap larutan untuk mata ini harus mengandung bahan antibakteri yang efektif yang tidak mengiritasi atau campuran dari bahan-bahan tersebut untuk mencegah berkembang atau masuknya mikroorganisme dengan tidak sengaja yang masuk k edalam larutan, ketika wadah terbuka selama pemakaian. Pengawetan yang tepat dan konsentrasi maksimum dari pengawet untuk tujuan ini termasuk:

1) a) 0,013% benzalkonium klorida

2) b) 0,01% benzetonium klorida

3) c) 0,5% klorobutanol

4) d) 0,004% fenilmerkuri asetat

5) e) 0,004% fenilmerkuri nitrat

6) f) 0,01% timerosal

Tonisitas

Karena kandungan elektrolit dan koloid di dalamnya, cairan air mata memiliki tekanan osmotik, yang nilainya sama dengan darah dan cairan jaringan. Besarnya adalah 0,65 – 0,8 M Pa (6,5 – 8 atmosfir), penurunan titik bekunya terhadap air 0,52° K atau konsentrasinya sesuai dengan larutan natrium klorida 0,9% dalam air. Larutan hipertonis relatif lebih dapat diterima daripada hipotonis. Larutan yang digunakan pada mata luka atau yang telah dioperasi menggunakan larutan isotonis. Pada larutan yang mengandung perak, kita memakia garam nitrat 1,2 – 1,6%.

Stabilitas
Pendaparan

Harga pH mata sama dengan darah, yaitu 7,4. Pada pemakaian tetesan biasa, larutan yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan pH 7,3 – 9,7. Namun, daerah pH 5,5 – 11,4 masih dapat diterima. Larutan dapar berikut digunakan secara internasional:

1. Dapar Natrium asetat – Asam borat, kapasitasnya tinggi di daerah asam.

2. Dapar fosfat, kapasitasnya tinggi di daerah alkalis.

Viskositas dan aktivitas permukaan

Tetes mata dalam air mempunyai kekurangan karena dapat ditekan keluar dari saluran konjungtiva oleh gerakan pelupuk mata. Namun, melalui peningkatan viskositas tetes mata dapat mencapai distribusi bahan aktif yang lebih baik di dalam cairan dan waktu kontak yang panjang. Sebagai peningkat viskositas, kita memakai metilselulosa dan polivinilpirilidon (PVP) dan sangat disarankan menggunakan polivinilalkohol (PVA) 1-2%. Kita memakai larutan dengan viskositas 5-15 mPa detik (5-15 cP). Apabila zat padat sulit larut, maka kita dapat menambahkan Tween 80, polioksietilen 40, stearat dan benzalkonium klorida atau benzalkonium bromida.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Obat Tetes Mata

1. Sterilisasi sediaan dan adanya bahan pengawet untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme pada waktu wadah dibuka untuk digunakan.

2. Jika tidak mungkin dibuat isotonis dan isohidris maka larutan dibuat hipertonis dan pH dicapai melalui teknik euhidri.

3. Adanya air mata yang dapat mempersingkat waktu kontak antara zat aktif dengan mata (maka perlu ditambahkan bahan pengental).

4. pH optimum lebih diutamakan untuk menjamin stabilitas sediaan.

5. Dapar yang ditambahkan mempunyai kapasitas dapar yang rendah, tetapi masih efektif untuk menunjang stabilitas zat aktif dalam sediaan.

6. Konsentrasi zat aktif berpengaruh pada penetrasi zat aktif yang mengikuti mekanika absorpsi dengan cara difusi pasif.

7. Peningkatan viskositas dimaksudkan untuk meningkatkan waktu kontak sediaan dengan kornea mata.

8. Beberapa larutan obat mata perlu hipertonik untuk meningkatkan daya serap dan menyediakan kadar bahan aktif yang cukup tinggi untuk menghasilkan efek obat yang cepat dan efektif. Apabila larutan obat seperti ini digunakan dalam jumlah kecil, pengenceran denagn air mata cepat terjadi sehingga rasa perih akibat hipertonisitas hanya sementara.

9. Pembuatan obat mata dengan sistem dapar mendekati pH fisiologis dapat dilakukan dengan mencampurkan secara aseptik larutan obat steril dengan larutan dapar steril. Walaupun demikian, perlu diperhatikan mengenai kemampuan berkurangnya kestabilan obat pada pH yang lebih tinggi, pencapaian dan pemeliharaan sterilitas selama proses pembuatan. Berbagai obat, bila didapar pada pH yang dapat digunakan secara terapeutik, tidak akan stabil dalam larutan untuk jangka waktu yang lama. Sediaan ini dibeku-keringkan dan direkonstitusikan segera sebelum digunakan.

Sterilisasi Alat

1. Alat Dan Cara Sterilisasi

2. Nama Alat Jumlah Cara Sterilisasi

3. Erlenmeyer 1 buah Oven 1700 C

4. Gelas Ukur 1 buah Autoklaf 115-1160 C

5. Beaker glass 2 buah Oven 1700 C

6. Kaca Arloji 3 buah Oven 1700 C

7. Pinset 1 buah Oven 1700 C

8. Pipet tetes tanpa karet 1 buah Autoklaf 115-1160 C

9. Batang Pengaduk gelas 1 buah Oven 1700 C

10. Spatel logam 1 buah Oven 1700 C

11. Kertas saring 2 buah Autoklaf 115-1160 C

12. Corong 1 buah Autoklaf 115-116° C

13. Spuit 1 buah Autoklaf 115-116° C

14. Botol tetes mata plastik 1 buah Autoklaf 115-116° C


Langkah Pembuatan

1. Menyiapkkan alat dan bahan yang akan di gunakan

2. Alat dan bahan disterilisasi sesuai dari data sterilisasi

3. Membuat API (Aqua Proinjection)

4. Dipanaskan aquadest dalam Erlenmeyer sampai air mendidih (dicatat waktunya)

5. Setelah mendidih dipanaskan kembali hingga 30 menit

6. Kemudian dipanaskan kembali selama 10 menit agar diperoleh API bebas O2

7. Menimbang zat aktif dan zat tambahan (ditempatkan pada kaca arloji yang berbeda-beda yang telah disterilisasi)

8. Zat aktif dan zat tambahan dilarutkan dengan Aqua proinjection (API) didalam beaker glass

9. Kaca arloji yang telah digunakan dibilas dengan Aqua proinjection (API), kemudian dimasukkan ke dalam beaker glass

10. Larutan ditambahkan Aqua proinjection (API) sampai sebelum tanda batas, kira-kira 3 mL sebelum tanda batas (beaker glass telah dikalibrasi)

11. Dilakukan cek pH

12. Larutan ditambahkan Aqua proinjection (API) sampai tanda batas

13. Larutan disaring menggunakan kertas saring rangkap dua (sebelumnya kertas saring telah dibasahi dengan Aqua proinjection (API)

14. 10 mL larutan dimasukkan ke dalam gelas ukur, kemudian dimasukkan ke dalam botol tetes mata

15. Botol tetes mata ditutup

Dokumentasi dan Pengecekan Barang Datang dalam Sistem Pergudangan Apotek

Dokumentasi dan Pengecekan Barang Datang dalam Sistem Pergudangan Apotek

I. Dokumentasi barang datang di Apotek

Kegiatan penerimaan merupakan kegiatan yang sangat penting mulai dari jenis,jumlah dan kualitas. Spesifikasi dan persyaratan lainnya dari barang yang diterima harus sama dengan yang tercantum dalam kontrak. Proses penerimaan sangat penting karena pada proses inilah kita dapat menyaring barang-barang yang tidak bermutu dan tidak sesuai denga spesifikasi yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan suatu kegiatan tentu dibutuhkan sebuah dokumentasi yang menandakan bahwa kegiatan tersebut benar-benar terjadi, termasuk pula kegiatan di apotek yang berkecimpung dalam penyaluran obat-obatan dan perbekalan farmasi kepada masyarakat. Dokumentasi diperlukan untuk dapat menjamin kualitas dan legalitas dari obat-obatan maupun perbekalan farmasi yang ada di apotek, sehingga memberikan kepercayaan bagi masyarakat bahwa mereka mengkonsumsi dan menggunakan perbekalan kesehatan yang benar dan tepat.

Terjaminnya kualitas dan legalitas dari barang-barang yang didatangkan ke apotek untuk diperjualbelikan harus dipertanggungjawabkan dengan baik. Bentuk tanggung jawab tersebut dengan adanya bukti-bukti hitam di atas putih yang menunjukan bahwa barang-barang (obat dan perbekalan farmasi) tersebut sesuai dengan pemesanan apotek. Maka, dokumentasi kedatangan barang yang dibutuhkan antara lain :

a. Faktur merupakan lembaran data obat yang berisikan nama PBF, nama obat, nomor batch obat, tanggal kadaluarsa, jumlah harga satuan, potongan harga, jumlah harga, dan tanggal penerimaan. Lembaran ini diberikan oleh PBF bersamaan dengan datangnya barang yang dipesan oleh apotek, untuk kemudian ditandatangani oleh farmasis yang memiliki SIK, selanjutnya faktur disimpan untuk kemudian digunakan kembali saat melakukan pembayaran/pelunasan.

b. Surat Pesanan merupakan lembaran data obat maupun alat kesehatan yang dipesan oleh apotek kepada PBF. Barang-barang yang dipesan tersebut disesuaikan nama maupun jumlahnya dengan stok barang habis dalam buku defekta sehingga regulasi barang-barang di apotek berjalan baik dan tidak berlebihan.

c. Bukti kas keluar ( BKK ) merupakan lembar pembayaran yang dilakukan oleh apotek kepada PBF dalam rangka melunasi barang-barang pesanan yang telah datang. Dalam setiap pembayaran secara tunai maupun kredit memerlukan BKK yang terdiri atas 3 lembar. Lembar pertama (asli) dimiliki oleh PBF, lembar kedua disimpan oleh apotek dan lembar ketiga disimpan di bagian keuangan apotek.

d. Buku Catatan Penerimaan Barang merupakan data-data tertulis yang menjadi salinan dari faktur yang diterima saat barang datang. Setiap hari saat menerima kedatangaan barang-barang yang telah dipesan, dilakukan pencatatan dalam buku ini sehingga mencegah pembelian obat yang melebihi anggaran. Selain itu, BCPB dapat menjadi salinan faktur yang berguna apabila ada faktur yang hilang. Dalam BCPB, tidak hanya data dalam faktur yang tertulis, tetapi juga tanggal pemesanan serta waktu kedatangan barang juga dicatat.

e. Kartu Stok merupakan catatan kendali terhadap keluar masuknya jumlah obat dan perbekalan farmasi yang ada di apotek. Saat barang-barang tersebut datang, kemudian disimpan di gudang, diperlukan pencatatan jumlah yang ada dalam kartu stok sebagai dokumen ketersediaan barang-barang yang ada dalam gudang.

II. Pengecekan barang datang di Apotek

Pengecekan barang datang di apotek merupakan salah satu kegiatan penting yang harus dilakukan. Barang-barang yang datang di apotek perlu diperiksa kembali kesesuaiannya dengan pesanan apotek yang tertulis dalam SP serta faktur yang menyertai barang-barang tersebut. Pengecekan diperlukan untuk memastikan kualitasnya serta menjaga tidak ada barang-barang yang salah yang datang ke apotek. Selain pemeriksaan fisik dari barang-barang yang ada, pengecekan terhadap harga juga perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya kesalahan perhitungan harga dari harga yang telah disepakati oleh apotek dengan pihak apotek. Pengecekan fisik tersebut berupa pencocokan kesesuaian antara faktur dengan obat yang datang mengenai jumlah, nama dan spesifikasi barang, tanggal kadaluarsa, nomor bacth serta ada tidaknya kerusakan pada kemasan. Sementara pengecekan harga meliputi harga satuan, jumlah potongan atau diskon, serta harga total yang harus dibayarkan oleh apotek tersebut. Berikut ini adalah prosedur pengecekan barang datang di apotek:

1. Cek keabsahan dokumen

2. Cek keabsahan barang yang datang

3. Cek jenis barang sesuai dengan SOP (Surat order Pembelian) dan faktur pengantar.

4. Cek kualitas barang (dari segi fisik, waktu kadaluarsa, kemasan).

5. Cek jumlah barang yang sesuai dengan SOP dan faktur pengantar. Diberi tanda tangan, cap, dan ditulis tanggal penerimaan sebagai bukti keabsahan.

6. Bila semua selesai buat BA (Berita Acara) penerimaan

7. Buat laporan penerimaan dan catat pada buku masuk

8. Catat pada kolom gudang untuk mempermudah penataan

9. Barang datang sudah siap untuk disimpan

III. Penataan barang di gudang Apotek

Penataan barang di gudang yang baik akan lebih mempermudah pengambilan maupun penyimpanan kembali barang-barang tersebut. Pengecekan terhadap ketersediaannya tidak akan menjadi hal yang sulit bila tertata rapi. Kerapian penataan barang di gudang dapat dilakukan dengan cara penyimpanan yang terpisah antara obat maupun perbekalan farmasi yang satu dengan yang lainnya. Pemisahan tersebut dapat dilakukan berdasarkan pengelompokan golongan obatnya (obat-obat generik, obat keras, dan obat bebas serta obat narkotik dan psikotropik), bentuk sediaannya (injeksi, infus, sirup, salep, suppositoria, ovula, tetesan, serbuk), maupun sifat-sifat khususnya (obat-obat yang tidak tahan suhu tinggi disimpan dalam kulkas, obat narkotik dan psikotropik disimpan dalam lemari berkunci dan tertanam dalam tembok). Selain itu pemberian nama pada rak penyimpanan yang diurutkan secara alfabetis tentu lebih mempermudah pencarian barang-barang tersebut.

Penataan barang pada gudang menggunakan sistem FEFO (First Expired First Out). Obat dengan waktu kadaluwarsa lebih awal diletakkan paling depan agar lebih dahulu digunakan dan meminimalkan jumlah obat yang kadaluarsa. Untuk obat-obat dalam bentuk larutan atau sirup diletakkan di lemari bagian paling bawah. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam pengambilannya, sehingga mengurangi resiko pecahnya botol karena terjatuh dari lemari atas. Tujuan dari proses penataan obat saat disimpan di gudang dapat dijabarkan sebagai berikut :

· Kualitas barang di apotek dapat dipertahankan

· Barang terhindar dari kerusakan fisik

· Pencarian barang menjadi lebih mudah dan cepat

· Barang aman dari pencurian

· Mempermudah pengawasan stok barang

IV. Peran gudang sebagai sumber informasi bagi kasir

Secara definisi gudang hanya sebagai tempat untuk penyimpanan dan mengetahui ketersediaan barang. Namun gudang di apotek tidak hanya menjadi tempat penyimpanan obat-obatan maupun perbekalan farmasi, tetapi juga mampu berperan sebagai sumber informasi bagi kegiatan administrasi. Baik administrasi inventaris terkait pengadaan barang-barang yang ada di dalamnya, serta administrasi keuangan yang memegang pengelolaan harga demi keuntungan apotek. Secara khusus, gudang menjadi sumber data bagi kasir untuk memasukan nilainya pada daftar harga barang-barang yang dijual di apotek. Kasir sebagai seseorang yang menerima pembayaran harus mengetahui barang-barang apa saja yang ada di gudang untuk kemudian dijual sesuai dengan harga yang telah disepakati apotek. Tidak hanya jenis barang yang ada, tetapi juga harga diskon (potongan harga) yang diberikan bagi rekanan bisnis tertentu juga menjadi hal wajib yang diketahuinya. Maka, data harga dan ketersediaan barang yang ada di bagian pergudangan perlu diinformasikan dengan jelas kepada kasir sehingga proses transaksi berjalan baik.

Mau?

afferinte.com

MERAIH RUPIAH KLIK INI

Join in Here