RSS Feed
Showing posts with label healt. Show all posts
Showing posts with label healt. Show all posts

Wednesday, October 26, 2011

Gaya Merokok Ketinggalan Zaman

MENYUSUN WACANA EKSPOSISI

Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam menempuh Mata Kuliah Bahasa Indonesia yang dibina oleh Dra. Anna S.Prawoto

OLEH

IRWANTO NIM: 08.034


DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA MALANG

November 2010

Gaya Merokok Ketinggalan Zaman

Lajaran 1 : Media yang digunakan

1. Daun jagung (klobot)

2. Kertas ambri

3. Menggunakan tangan untuk membentuk batang rokok

Lajaran 2 : Bahan yang digunakan

1. Tembakau rajangan sendiri

2. Cengkeh utuh

3. Tanpa bahan tambahan

Lajaran 3 : Hasil yang didapat

1. Alami

2. Hasil sesuai yang diinginkan (bentuk dan ukuran)

3. Kadar kimia rendah (nikotin)


Gaya Merokok Ketinggalan Zaman

Merokok adalah suatu kebiasaan yang diterima secara meluas dalam masyarakat kita, sehingga kadangkala merokok dipandang sebagai satu norma yang membanggakan. Dalam pandangan ini, ada orang yang sangat benci merokok, ada juga orang yang sangat menyukai rokok. Dia akan tidak merasakan hidup akan semakin hidup jika dia tidak merokok. Mereka memang merasakanya, dengan perasaaan ketagihan, merasa merokok sebagai pengghilang stress, dan dapat membuat nyaman.

Merekapun mencari rokok dengan mengeluarkan beberapa ribu uang mereka untuk mendapatkan beberapa batang rokok bahkan hingga beberapa pak yang mereka lakukan setiap hari dari aktifitas merokok sebangun tidur, melakukan aktifitas siang hingga sebelum tidur. Mereka lebih banyak untuk membeli rokok, padahal ada cara yang tidak maju yang dapat dikatakan cara yang ketingglan zaman yaitu dengan membuat batang rokok sendiri yang akan menekan pengeluaran untuk membeli rokok.

Cara yang ketinggal zaman ini dapat dibilang unik,asyik, dan efesien untuk para perokok untuk menghemat uang untuk membel rokok. Dengan berbahan daun jagung buah atau kertas ambri dan berapa isinya berupa tembakau rasa berbeda yang dirajang sendiri tanpa bahan tambahan yang dapat dipadukan dengan cengkeh untuk mendapatkan rasa lebih nikmat, ditambah lagi cara sederhana dengan membentuk batangan rokok dengan tangan akan mendapatkan bentuk dan ukuran yang sesuai dengan apa yang diinginkan.

Selain unik cara ketinggalan zaman ini dapat mengurahi resiko ancaman kesehatan yang ditimbulkan rokok. Rokok buatan sediri yang dalam pembuatanya tanpa tambahan bahan kimia yang bisa dikatakan alami, pastinya kandungan kimia rokok seperti Phenol,Tar, Methyl choloride, dan Ammonium yang dibuat dengan cara lama ini akan lebih rendah dari rokok dari buatan industri.

Rokok buatan sendiri yang unik, asyik, efesien dalam hal keuangan dan mengurangi ancaman mahaya merokok ini memang dapat menekan dan menambah nikmatnya, tetapi untuk zaman yang sibuk dan padat kegitan ini membuat rokok dengan cara membentuk batang rokok sendiri memang sangat merepotkan untuk efesien waktu, butuh banyak wakyu untuk mencari bahan-bahan untuk membuat sebatang rokok, seperti mencari klobot atau daun jagung buah membutuhkan waktu untuk mengerinkan dan membentuk lembaran-lembaran yang sesuai agar saat pembentukan batang rokok, apalagi jika menginginkan rasa yang lebih klobot harus diperoleh dari daun jagung buah yang masih muda setelah itu memebentuhkan proses perebusan dan pengeringan tanpa sinar matahari, yang pastinya mebutuhakan waktu lebih dari satu hari. Apa lagi proses perajangan tembakau yang memebutukan ketrapilan khusus untuk merajang tembakau yang halus, ditambah lagi tembakau juga membutuhkan waktu untuk proses pengeringan dan proses pelempeman.

Untuk para perokok yang tidak mempunyai waktu luang memang yang tepat untuk efesiensi waktu langsung beli di toko, otlet-otlet rokok. Perokok dapat memilih kretek atau rokok filter berbagai rasa dan aroma tanpa melakukan hal-hal yang merepotkan. Dengan bungkus yang cantik pula rokok dapat di bawa langsung dimasukkan saku tanpa membawa butelan-buntelan bahan pembuatan rokok yang sulit meribetkan.

Thursday, April 14, 2011

STROKE


Definition
A stroke is the sudden death of a portion of the brain cells due to a lack of oxygen. A stroke occurs when blood flow to the brain is damage resulting in abnormal function of brain. It causes by blockage or rupture of an artery to the brain.
Description of Stroke
The specific abilities that will be lost or affected by the stroke depend on the extent of the cell death and where in the brain the stroke happened.
The brain is divided into four primary parts: the right hemisphere, the left hemisphere, the cerebellum and the brain stem.
The right hemisphere controls:
• left side of the body
• analytical and perceptual tasks such as judging distance, size, speed, position
• short-term memory
The left hemisphere controls:
• right side of the body
• speech and language
• memory
The cerebellum controls:
• balance and coordination
The brain stem controls:
• life-support functions such as breathing, blood pressure and heartbeat
• eye movements
• hearing
• speech
• swallowing
Depending on the severity of the stroke, victims may or may not experience any or all losses of the above functions.

Ethiology
There are two broad categories of strokes, called ischemic stroke or hemorrhagic stroke.
Ischemic stroke is caused by a blockage of a blood vessel in the brain or neck. This stroke can stem from three different conditions: thrombosis, embolism or stenosis:
• Thrombosis (cerebral thrombosis) is the formation of a clot within a blood vessel of the brain or neck and is usually caused by atherosclerotic plaque build-up.
• Embolism (cerebral embolism) is the movement of a clot from another part of body to the brain or neck. These clots can form on artificial valves in the heart, on atherosclerotic plaques in aorta or caused from a condition called atrial fibrillation. Atrial fibrillation is an irregular heartbeat whereby the upper chamber of the heart quivers rapidly rather than beats. Because this quivering motion is not forceful enough to send all the blood to the heart's lower chambers, the blood pools, thus allowing clots to develop.
• Stenosis is a severe narrowing of an artery in or leading to the brain. Roughly 2/3 of all strokes are caused by clots.
Hemorrhagic stroke is the bleeding into the brain or the spaces surrounding the brain which is caused by a number of disorders that affect the blood vessels (i.e., high blood pressure and cerebral aneurysm). There are two types of hemorrhagic stroke: subarachnoid and intracerebral.
• Subarachnoid hemorrhage is caused by the rupture of a blood vessel on the surface of the brain so that blood fills the space between the brain and the skull.
• An intracerebral hemorrhage is caused by the rupture of a blood vessel within the brain itself.
Risk Factors of Stroke
Some factors that increase the risk of stroke are genetically determined, others are simply a function of natural processes, and still others result from a person's lifestyle. The factors resulting from heredity or natural processes can't be changed, but those that are environmental can be modified with a doctor's help.
There are five uncontrollable risk factors:
• Age - your chances of having a stroke go up as you get older. Two-thirds of all strokes happen to people over age 65. Your stroke risk doubles with each decade past age 55.
• Sex - males have a slightly higher risk than females.
• Race - American blacks have a higher stroke risk than most other racial groups.
• Family history of diabetes.
• Family history of stroke or TIA (transient ischemic attack).
There are two basic controllable risk factors:
• Treatable medical disorders - includes diabetes, atrial fibrillation, heart attack, high blood pressure, high cholesterol, carotid artery disease, heart disease, personal history of stroke or TIA and patent foramen ovale (PFO). PFO is an abnormal opening between the right and left sides of the heart.
• Lifestyle factors - includes smoking, drinking too much, obesity, drug abuse (especially cocaine), physical inactivity and low estrogen.

Symptoms of Stroke
The warning signs of stroke are:
• Sudden weakness or numbness of the face, arm and leg on one side of the body.
• Loss of speech, or trouble talking or understanding speech.
• Dimness or loss of vision, particularly in only one eye.
• Unexplained dizziness, unsteadiness or sudden falls.
• "Temporary strokes" (transient ischemic attacks or TIAs). These can occur days, weeks or even months before a major stroke. TIAs result when a blood clot temporarily clogs an artery and part of the brain does not get the supply of blood it needs. The symptoms occur rapidly and last a relatively short period of time, usually from a few minutes to several hours. The usual symptoms are like those of a full-fledged stroke, except that the symptoms of a TIA are temporary, lasting 24 hours or less. In fact, people who have had TIAs are 9.5 times more likely to have a stroke than people of the same age and sex who have not had a TIA.

Treatment of Stroke
Treating a stroke depends on where the stroke occurred in your brain and whether it's ischemic or hemorrhagic. The doctor may use a magnetic resonance imaging (MRI) scan, computed tomography (CT) imaging or angiography (injecting dye through a catheter inserted into the suspected blocked blood vessel and taking x-rays of the vessels) to determine the stroke type and location.
Time is critical. Until a few years ago, strokes were regarded as untreatable. Brain cells were thought to die within minutes after a stroke began, so stroke treatment was believed useless. The only onsite medical treatment is stabilization and "wait and see." Now researchers have discovered that some brain cells die immediately after a stroke, but others can survive for as long as several days. It is now clear that treatment following a stroke, especially if begun within three hours of onset, can help preserve brain tissue.
In June 1996 the FDA approved tissue plasminogen activator (t-PA) as the first treatment for strokes caused by arterial blockages. This "clotbuster" is inserted into the femoral artery near the groin and then threaded up into the brain to directly dissolve the blood clot, thereby limiting or stopping the damage to the brain cells. This therapy is used on ischemic strokes and effective within three hours of onset.
The use of t-PA is not recommended after three hours of onset due to the risk of hemorrhaging, thus standard treatment is administered. In an ischemic stroke the goal is to (1) maintain normal blood pressure and (2) improve blood flow by preventing recurrent clots. This is done by administrating anti-hypertensives to reduce blood pressure, platelet-inhibiting drugs such as aspirin, ticlopidine (Ticlid) or an anticoagulant such as heparin, coumadin or warfarin to prevent blood clots from forming or growing.
If unsuccessful, a carotid endarterectomy may be considered. This procedure removes the atherosclerotic plaque and the blood clot from the left or right carotid artery (the major vessels that carry blood through the neck to the brain) thus allowing the blood to flow uninterrupted.
In a hemorrhagic stroke, the goal is to (1) get the blood pressure under control and (2) correct the cause of the hemorrhage and protect the brain from further damage. The hemorrhage causes blood to pool in the brain and thus increases pressure on the brain. The doctor will give diuretic drugs to minimize the temporary swelling of the brain tissue.
Rarely is surgery recommended, but if tests detect an aneurysm, the surgeon may clamp the aneurysm at its base and then remove it. The surgeon now has the option to use a catheter, containing a metal coil, that passes through the blood vessel in the neck. The metal coil causes the aneurysm to clot and seal itself off.
Some people are only slightly affected by strokes. Others recover quickly from what seemed like a severe stroke. Still others may suffer such serious damage that it will take a long time to regain even partial use of their limbs, speech, or whatever faculties that have been affected.
Successful rehabilitation depends on the extent of brain damage, the patient's attitude, the skill of the rehabilitation team, and the cooperation of family and friends. Most stroke patients can benefit from rehabilitation, and today the outlook for stroke patients is more hopeful than ever before. Because of advances in treatment and rehabilitation, many patients are being restored to a fully functional life.
For rehabilitation to be most effective, three points must be kept in mind:
1. Rehabilitation must begin as soon after the stroke as possible
2. The family can be the patient's most important means of support during the rehabilitation process
3. Rehabilitation is a team effort with the physician, nurse, and other specialists working with the patient and their family.
Prevention of Stroke
Strokes may be prevented by lowering your blood pressure, quitting smoking, beginning or increasing exercise, controlling medical problems with medications (i.e., atrial fibrillation requires anticoagulants), maintaining optimal weight, and eating a diet high in fruits and vegetables.
If you have a blocked carotid artery your doctor may suggest a carotid endarterectomy to remove the fatty deposits.
Questions To Ask Your Doctor About Stroke
What are the chances the symptoms were caused by something other than a stroke?
What was the cause of the stroke?
What tests are used to determine what type of stroke occurred and how much damage was done?
What medications will be prescribed?

What are the side effects?
Would surgery be recommended to improve cerebral circulation?

If so, what type of surgery?
What other treatment can be used to prevent another stroke?
Is there a support group for the family to go to ask questions?
What are the chances of having a stroke after a TIA or having another stroke after a first?
What do we need to know about rehabilitation?
Can the rehabilitation be done on an outpatient basis?
Will a nurse or therapist help instruct us on what we need to know for home care such as exercise, diet and communication?
Approximately how long will rehabilitation take to return to normal activities?
Rehabilitation
Stroke rehabilitation is the process by which a stroke survivor works with a team of health care providers with the aim of regaining as much of the function lost after a stroke as possible. By joining a comprehensive rehabilitation program immediately after leaving the hospital, stroke survivors can maximize their chances of recovery, and in most cases they can regain a substantial portion of the functions they lost as a result of their stroke.
Some of the different types of medical professionals who participate in the care of stroke patients during the rehabilitation process include:
• Physical Medicine and Rehabilitation Physicians (Physiatrists)
• Physical Therapists
• Speech Therapists
• Occupational Therapists

Wednesday, December 15, 2010

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny “W” P1001 Ab000 24 JAM POST PARTUM Dengan HPP PRIMER

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masa nifas merupakan masa ynag membutuhkan pengawasan yang ketat terutama pada masa 2 jam post partum karena pada masa itu perdarahan sering terjadi yang menyebabkan ibu kehilangan darah sangat banyak. Sehingga angka kematian maternal sangat tinggi oleh akibat perdarahan.
Post partum / puerperium adalah masa dimana tubuh menyesuaikan, baik fisik maupun psikososial terhadap proses melahirkan. Dimulai segera setelah bersalin sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna dan kembali mendekati keadaan sebelum hamil ( 6 minggu ). Masa post partum dibagi dalam tiga tahap : Immediate post partum dalam 24 jam pertama, Early post partum period (minggu pertama) dan Late post partum period ( minggu kedua sampai minggu ke enam). Potensial bahaya yang sering terjadi adalah pada immediate dan early post partum period sedangkan perubahan secara bertahap kebanyakan terjadi pada late post partum period. Bahaya yang paling sering terjadi itu adalah perdarahan paska persalinan atau HPP. Menurut Willams & Wilkins (1988) perdarahan paska persalinan adalah perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang lebih dari 500 cc segera setelah bayi lahir. Tetapi menentukan jumlah perdarahan pada saat persalinan sulit karena bercampurnya darah dengan air ketuban serta rembesan dikain pada alas tidur. POGI, tahun 2000 mendefinisikan perdarahan paska persalinan adalah perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang menyebabkan perubahan tanda vital seperti klien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, dalam pemeriksaan fisik hiperpnea, sistolik < 90 mmHg, nadi > 100 x/menit dan kadar HB < 8 gr %.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menerapkan dan memahami pengetahuan secara teoritis dan praktis mengenai Asuhan Kebidanan sehingga dapat memperluas, memperbanyak pengetahuan dan ketrampilan mengenai asuhan kebidanan pada pasien kegawat daruratan obstetrik.



1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah pembuatan asuhan kebidanan ini diharapkan mahasiswa dapat :
• Mengumpulkan data sampai menganalisa data
• Mengidentifikasi diagnosa dan masalah
• Mengidantifikasi diagnosa dan masalah potensial
• Mengidentifikasi kebutuhan segera
• Merencanakn asuhan kebidanan
• Melaksanakan asuhan kebidanan yang telah direncanakan
• Dapat mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan

1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup asuhan kebidanan dalam makalah ini adalah masalah perdarahn post partum 2 jam PP (HPP).

1.4 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan penulis dalam membuat asuhan kebidanan pada Ny “W” P1001 Ab000 dengan perdarahan 24 jam PP menggunakan metode:
1. Studi Pustaka
Dari buku-buku penunjang
2. Studi Dokumentasi
Mempelajari dan mempelajari data dengan melihat catatan atau catatan perkembangan pasien dan hasilnya.
1.5 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Tujuan
1.3 Ruang lingkup
1.4 Sistematika penulisan



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Nifas
2.1.1 Pengertian
2.1.2 Periode-periode masa nifas
2.1.3 Perubahan fisiologis pada masa nifas
2.1.4 Perawatn Pasca Persalinan
2.1.5 Masalah Kompliakasi dan Penatalaksanaan
2.2 Konsep Dasar HPP
2.2.1 Pengertian
2.2.2 Etiologi
2.2.3 Macam-macam perdarahan post partum
2.2.4 Komplikasi
2.2.5 Diagnosa
2.2.6 Penatalaksanaan
2.3 Konsep manajemen kebidanan

BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian data
3.2 Identifikasi diagnosa dan masalah
3.3 Identifikasi diagnosa masalah potensial
3.4 Identifikasi kebutuhan segera
3.5 Intervensi
3.6 Implementasi
3.7 Evaluasi
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Nifas
2.1.1 Pengertian
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali sepeerti seperti pra hamil. Lama masa nifas yaitu 6-8 minggu.
(Sinopsis Obstetri, 1998:115)
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu.
(Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal, N-23)
Puerperium (nifas) berlangsung selama 6 minggu atau 24 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat-alat kandungan pada keadaan yang normal.
(Manuaba, 1998:190)
Masa nifas atau puerperium adalah periode waktu dan masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil.
(Perawatan Maternitas,1999:225)
Masa nifas atau puerperium adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu.
(Kapita Selekta Kedokteran I:316)
Masa puerperium (nifas) adalah waktu setelah partus selesai sampai kurang 6 minggu tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum hamil dalam waktu 3 bulan. (Hanifah, 2002)








2.1.2 Periode-Periode Masa Nifas
Nifas dibagi menjadi 3 periode :
a. Puerperium Dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
b. Puerperium Intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
c. Remote Puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat bagi semua ibu nifas terutama bila selama 1 hari atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.
(Mochtar Rustam, 1998)

2.1.3 Perubahan Fisiologi Masa Nifas
1. Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil sehingga akhirnya seperti sebelum kehamilan yang disebut dengan involusi.
Tinggi fundus uteri dan berat menurut masa involusi sebagai berikut :
Involusi TFU Berat Uterus
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari bawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat symphisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba di atas symphisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram

2. Bekas implantasi uri
Plasenta mengecil karena kontraksi dan menonjol ke cavum uteri dengan diameter 7,5 cm. Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm. Pada minggu ke enam 2,4 cm dan akhirnya pulih.
3. Luka-luka pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh sendiri dalam waktu 6-7 hari.
4. Rasa sakit yang disebut afterpain (mules) disebabkan kontraksi uterus biasanya berlangsung 2-4 hari pasca paersalinan.
5. Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Klasifikasi lochea sebagai berikut :
• Lochea rubra (cruenta) berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua-vernik kaseosa, lanugo dan mekonium selama 2 hari pasca persalinan.
• Lochea Sanguinolenta berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari 3-7 pasca persalinan.
• Lochea Serosa berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
• Lochea Alba berwarna putih setelah 2 minggu.
• Lochea statis adalah lochea yang tidak lancar keluarnya.
6. Serviks
Setelah persalinan, bentuk servik agak menganga seperti corong warna kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan kecil.
7. Ligamen-ligamen
Ligamen, fascia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan. Setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum retundum menjadi kendor.
( Sinopsis Obstetri, 1999:116)

2.1.4 Perawatn Pasca Persalinan
a. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, terlentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring kekeanan dan kekiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan trombo embolik. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk, hari ke-3 diperbolehkan jalan, hari ke-4dan ke-5 sudah diperbolehkan pulang.
b. Diet
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan-makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.
c. Miksi
Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-kadang wanita mengalami sulit kencing. Karena ureter ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi sfingter ani setelah persalinan, juga oleh karena oedem kandung kemih selama persalinan.
d. Defekasi
BAB harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan bila masih sulit BAB dan terjadi obstipasi apalagi berak keras tanpa diberikan obat per oral atau rektal. Jika belum bisa dilakukan klisma.
e. Perawatan payudara
Perawatan mammae telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas dan tidak kering supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik untukkesehatan bayinya.
f. Laktasi
Dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran ASI. ASI ini merupakan makanan pokok bayi, makanan yang terbaik bagi bayi, makanan yang bersifat alamia. Bila bayi mulai disusui isapan pada puting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mwngakibatkan oksitosin dikeluarkan oleh hipofise. Produksi ASI akan lebih banyak sebagai efak positif adalah involusi uterus akan lebih sempurna.
g. Cuti Hamil dan bersalin
Cuti hamil menurut UU selama 3 bulan. 1 bulan sebelum bersalin dan 2 bulan setelah bersalin.
h. Pemeriksaan Pasca Persalinan
Dilakukan 6 minggu stelah persalinan, terdiri dari :
• Pemeriksaan umum, TD, nadi, keluhan, dsb.
• Keadaan umum : suhu, selera makan, dll.
• Payudara : ASI, puting, susu.
• Dinding perut, perineum, kandung kemih, rektum.
• Sekret yang keluar lochea dan fluor albus.
• Keadaan kandungan
i. Nasehat untuk ibu post natal
• Fisioterapi post natal sangat baik diberikan.
• Sebaiknya bayi disusui.
• Kerjakan gymnastik sehabis bersalin.
• Untuk kesehatan ibu, ibu dan keluarga sebaiknya melakukan KB untuk menjarangkan anak.
• Bawalah bayi anda untuk di imunisasi.


2.1.5 Masalah Kompliakasi dan Penatalaksanaan
a. Puting lecet
Dapat disebabkan cara menyusui dan perawatan mammae yang salah menyebabkan infeksi nosokomial. Penatalaksanannya dengan teknik menyusui ynag benar. Puting harus kering saat menyusui, puting diberi laneorin, monolia terapi dan menyusu pada payudara yang tadi lecet.
b. Payudara bengkak
Disebabkan mammae ASI tidak lancar karena bayi tadi sering menyusu atau terlalu cepat disapih. Penatalaksaannya dengan menyusu lebih sering, kompres hangat. ASI dikeluarkan dengan pompa dan pemberian analgesik.
c. Mastitis
Payudara tampak oedem, kemerahan dan nyeri yang biasanya terjadi beberapa minggu setelah melahirkan. Penatalaksanaannya dengan kompres hangat atau dingin, pemberian antibiotik atau analgesik.
d. Abses payudara
ASI dipompa, abses diinsisi, diberikan antibiotik dan analgesik.
e. Perdarahan post partum sekunder
Terjadi 24 jam atau lebih setelah persalinan disebabkan oleh sub involusi, kelainan kongenital itu inversio uterus, mioma uteri, sub mukosum dan penghentian pengobatan denagn esterogen untuk menghentikan laktasi.
(Perawatn Maternitas, 1999:226)







2.2 Konsep Dasar HPP
2.2.1 Pengertian
Perdarahan post partum adalah perdarahan yang terjadi 24 jam setelah persalinan berlangsung.
(Manuaba, 1998)
Perdarahan post partum adalah hilangnya darah 500 ml atau lebih dari organ-organ reproduksi setelah selesainya kala III persalinan (ekspullsi atau ekstraksi plasenta dan ketuban.
(Melfia Wati S.dr, 2000)
Perdarahan post partum adalah perdarahan pervaginam yang lebih 500 ml setelah bersalin.
(Buku Panduan Praktis Ppelayanan Kesehatan Maternal Neonatal:N-23)
Perdarahan post partum adalah keadaan hilangnya darah lebih dari 500ml selama 24jam pertama sesudah kelahiran.
(Obstetri william, 1995:479)
Perdarahan post partum adalah perdarahan yang terjadi 24 jam setelah perslinaan berlangsung.
(Ilmu kebidanan, 1998:296)
Perddarahan post partum yang dimaksud disini adalah perdarahan dalam kelas IV yang
(Sinopsis Obstetri, 1998:300)
2.2.2 Etiologi
a. Atonia uteri
Faktor predisposisi terjadinya atonia uteri
- Umur, umur yang terlalu muda
- Parietas, sering dijumpai pada multipara dan Grandmultipara
- Partus lama
- Obstetri operatif dan narkoba
- Uterus terlalu tegang dan besar (Gemeli, Hidramnion, Makrosomi)
- Kelainan Uterus (Mioma Uteri, Uterus Couvelain pada solusio plasenta)
-Faktor sosio ekonomi yaitu malnutrisi
b. Sisa plasenta dan selaput ketuban
c. Jalan lahir, robekan perinium, vagina, servik, fornik, uterus

d. Penyakit darah
Kelainan pembekuan darah misalnya Hipofibrinogenemia yang sering dijumpai pada:
• Perdarahan yang banyak
• Solusio plasenta
• Kematian janin yang lama dalam kandungan
• Pre eklamsi dan Eklamsi
• Infeksi, Hepatitis dan septik syok

2.2.3 Macam-macam perdarahan post partum
a. Perdarahan post partum dini atau primer
Merupakan perdarahan yang berlebihan terjadi selama 24jam pertama setelah kala IV persalinan selesai. Penyebab utamanya adalah Atonia uteri,retensio plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir, terbanyak dalam 2 jam pertama.
b. Perdarahan post partum lanjut atau sekunder
Adalah perdarahan yang berlebihan terjadi selama masa nifas, termasuk periode 24 jam pertama setelah kala III persalinan selesai. Penyebab utamanya adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta/membran.

2.2.4 Komplikasi
Komplikasi kehilangan darah yang banyak adalah syok hipovelemik disertai dengan perfusi jaringan yang tidak adekuat. Perdarahan memerlukan 2 softek dalam 30 menit, uterus lembek, kontraksi uterus jelek.

2.2.5 Diagnosa
1. Palpasi uterus, bagaimana kontraksi uterus dan TFU.
2. Memeriksa plasenta dan ketuban lengkap atau tidak.
3. Lakukan explorasi cavum uteri untuk mencari :
- Sisa Plasenta dan ketuban
- Robekan uterus
- Plasenta sukrenturianta
4. Inspekulo, untuk melihat robekan pada serviks, vagina dan varises yang pecah.

5. Pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan darah, Hb, COS dll.
(Sinopsis Obstetri, 1998: 301)

2.2.6 Penatalaksanaan
1. Mintalah bantuan
2. Lakukan pemeriksaan secara tepat keadaan umum ibu termsuk TTV.
3. Jika dicurigai adanya syok, segera lakukan tindakan jika tanda-tanda syok tidak terlihat.Ingatlah pada saat melakukan evaluasi lanjut karena status wanita tersebut dapat
4. Pastikan kontraksi uterus baik
5.Pasang infus cairan IV
6. Lakukan kateterisasi dan pantau cairan keluar masuk.
7. Periksa kelengkapan plasenta
8. Periksa kemungkinan robekan serviks, vagina dan perinium.
9. Jika perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah.
10. Setelah teratasi (24 jam setelah perdarahan berhenti) Periksa kadar Hb:
- Jika Hb <7gr% atau hematokrit <20 % (anemia berat) beerilah sulfas ferrosus 600mg atau ferosus 120 mg ditambah asam folat 400mg peroral/hari selama 6 bulan.
- Jika Hb7-11 gr % berisulfas ferrosus fumarat 60 mg+asam folat 400mg peroral IX/hari selam 6bulan.
- Pada daerah cacing gelang (prevalensi sama atau > 20 %) Berikan terapi albendasol 400 mg peroral sekali perhari atau membendasol 500mg peroral sekali atau100mg 2 kali sehari selama 3 hari.
- Pada daerah edemik tinggi cacing gelang (prevalensi sama atau >50%) berikan terapi dosis tersebut selama 12 minggu setelah dosis pertama.








2.3 Konsep Manajemen Kebidanan
I. PENGKAJIAN DATA
Tanggal :
Jam :
Tempat :
A. Data Subyektif
1. Biodata
Nama Ibu : Identitas ibu
Umur :Primi muda / tua
Agama :
Pendidikan :Tingkat pengetahuan
Perkerjaan : tingkat ekonomi
Alamat : Identitas tempat tinggal
Nama suami :Identitas keluarga
2. Alasan Datang
Ibu mengatakan ingin memeriksakan keadaanya saat ini
3. Keluhan Utama
Ibu mengatakan telah melahirkan bayinya dengan normal, BB/PB lahir.....kg/.......cm.Jenis Kelamin...............dan mengeluh mengeluarkan darah dari alat kelaminnya
4. Riwayat haid
Menarce : pertama kali menstruasi
Siklus : periode dalam menstruasi
Lama : lama menstruasi
Keluhan : dismenorea / tidak
Flour albus : pernah atau tidak
HPHT : hari pertama haid terakhir
TP : prematur, aterm, atau post date
5. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu pernah mengalami perdarahan setelah persalinan sebelumnya, dan pernahkah ibu menderita panyakit menurun, menahun dan menular seperti jantung, darah tinggi, asma yang dapat mengganggu kehamilan dan persalinan.

6. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah dalam keluarga yang menderita penyakkit menular menurun dan menahun seperti diabetes, hepatitis, TBC, jantung
7. Riwayat perkawinan
Untuk mengetahui status pernikahan.
8. Riwayat pre natal, natal, post natal
a. Riwayat prenatal
• ANC minimal 4 kali selama kehamilan
• Imunisasi TT 2 kali selma hamil
• Grand multi
• Hidramnion
• Gemeli
• Bayi besar
b. Riwayat natal
Ibu melahirkan tanggal...jam...secara spontan, jenis kelamin...BB/PB...retensio plasenta, plasenta rest, trauma persalinan (ruptur uteri, robekan vagina, servik, perineum) perdarahan lebih dari 500 ml.
c. Riwayat post natal
Ibu lemah, atonia uteri, perdarahan lebih dari 500 ml.
9. Riwayat KB
Selama sebelum hamil ibu memakai KB...dan rencanya setelah melahirkan sekarang ibu ingin memakai KB...
10. Pola kebiasaan sehari-hari
1. Pola nutrisi
Ibu tidak pernah berpantangan dalam hal makanan.
2. Pola istirahat
Ibu tidur siang ±...... jam,malam ±....jam
3. Pola aktifitas
Ibu melakukan perkerjaan rumah (IRT)


4. Pola eliminasi
BAK : hendaknya dapat dilakukan sedini mungkin karena kandung kemih yan gpenuh dapat menyebabkan perdarahan.
BAB : harus dapat dilakukan 2-3 hari pasca persalinan bila tidak bisa maka diberi obat per oral atau per rectal atau klisma.
5. Pola kebiasaan lain
Ibu tidak pernah mengkonsumsi minum-minuman beralkohol, jamu-jamuan Dan tidak merokok

11. Psikologi
Keadaan mental ibu nifas, tanda-tanda taking in.

B.Data Subyektif
1. Pemeriksaan Umum
KU :Baik atau lemah
Kesadaran :Composmentis sampai somnolens
TD :Hipotensi atau hipertensi
Nadi :bradykardi atau takikardi
RR :cepat atau lambat
Suhu :hipotermi atau febris
2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi, palpasi, auskultalsi dan perkusi.
Kepala : adakah benjolan abnormal
Muka : pucat atau tidak
Mata : konjungtiva pucat atau tidak
Hidung : adakah pernafasan cuping hidung
mulut : pucat/tidak, adakah stomatitis
Dada &payu dara : Payudara membesar, puting menonjol tidak ada ronkhi
atau wezing.
Genetalia : ada pengeluaran darah
Perut : tidak ada nyeri tekan pada perut bagian bawah



3. Pemeriksaan laboratorium
Hb :9-13%


II. Identifikasi Diagnosa dan Masalah
Dx : Ny.......P.....Ab... 24 jam Post partum dengan HPP Primer
Ds : Ibu mengatakan pusing dan lemas
Do : Keadaan umum
Kesadaran :composmentis sampai somnolens
TD : hipotensi sampai hipertensi
Nadi : bradykardi sampai takikardi
RR : cepat atau lambat
Suhu : Hipotermi atau febris
UC : baik
Mata :konjungtiva pucat, sklera tidak ikterus
Mulut :bibir tidak pucat, tidak kering
TFU :......jari...pusat......
Genetalia :vulva vagina terdapat perdarahan lebih dari 500 ml
Lochea : rubra

III. Identifikasi Diagnosa dan Masalah potensial
Potensi terjadi : -Anemia
-Insfeksi post partum
-Syok hemoragik
-HPP sekunder


IV. Identifikasi kebutuhan segera
• Cari penyebab
• Mesase fundus uteri
• Pemasangan nfus dan uterotonika
• Pemberian antibiotika

V. Intervensi
Dx : Ny...... P.....Ab......24 jam post partum dengan HPP Primer
Tujuan :Setelah diberi asuhan kebidanan diharapkan masalah dapat teratasi, perdarahan terhenti dan tidak terjadi komplikasi.
Kriteria hasil : TTVnormal
Involusi baik dan UC baik
Perdarahan berkurang
Tidak terjadi infeksi
Hb dalam batas normal
Intervensi :
1. Beri infrmed concent pada ibu dan keluarga
R/ Ibu dan keluarga lebih kooperatif dan persetujuan semua tindakan yang dilakukan
2. Berikan terapi infus, antibiotik, uterotonika
R/ merangsang kontraksi otot rahim sehingga dapat menghentikan perdarahan dan memperbaiki keadaan umum
3. Observasi TTV,TFU,Lochea dan UC
R/ Deteksi dini adanya komplikasi
4. Lakukan antiseptik pada daerah genetalia
R/ mencegah terjadinya infeksi
5. Cari penyebab perdarahan
R/ dengan mengetahui penyabab maka dapat dilakukan penanganan sesuai penyebab
6. Lakukan observasi perdarahan
R/ parameter terjadinya perdarahan lanjut


VI. Implementasi
Tanggal :
Jam :
Dx : Ny...... P.....Ab......24 jam post partum dengan HPP Primer

1. Memberi penjelasan pada ibu dan keluarga tentang keadaan dan hasil
pemeriksaan.
2. Memberikan terapi infus dan memasukkan anakgetik untuk memperbaiki keadaan umum ibu
3. Mengobservasi TTV,TFU, lochea, dan UC ibu untuk mendeteksi dini adanya
komplikasi dan kelainan.
4. Melakukan antiseptik pada genetalia luar yang dimulai dari lipatan paha kanan-kiri, sympisis dari luar kedalam, labia mayor kanan dan kiri, labia minor kanan dan kiri dengan menggunakan kasa yang dibubuhi betadhine
5. Mencari penyebab perdarahan dan mencari apakah ada perdarahan aktif yang disebabkan perlukaan jalan lahir.
6. Melakukan observasi perdarahan denagn melihat jumlah darah yang keluar di softek

VII. Evaluasi
Tanggal :.....
Jam :
Dx : Ny....P....Ab..... 24 jam post partum dengan HPP primer
S : keluhan yang diungkapkan oleh pasien
O : hasil pemeriksaan petugas
A : kesimpulan dari Ds dan Do dari evaluasi
P : melanjutkan intervensi pada no....














BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1Pengkajian Data
Tanggal pengkajian :11 November 2008 jam : 17.15WIB
Tanggal MKB : 10 November 2008 jam :15.10 WIB
Tempat pengkajian :
No. Registrasi :24356
A. Data subyetif
1. Biodata
Nama Ibu :Ny “W” Nama Suami : Tn “H”
Umur : 37 Th Umur : 38 th
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan :SMU Pendidikan : SMU
Perkerjaan :Karyawati Perkerjaan : Swasta
Alamat :Sudimoro 07 Alamat : Sudimoro 07
2. Alasan datang
Ibu mengatakan ingin memeriksakan keadaanya saat ini
3. Keluhan Utama
Ibu mengatakan mengeluarkan darah banyak dan bergumpal-gumpal setelah melahirkan.
4. Riwayat Menstruasi
Menarce : 13 tahun
Siklus :30 hari
Lama :7hari
Flour albus :sebelum/sesudah
Dismenore :ya (pada hari pertma mensttruasi)
HPHT :3 februari 2008
TP :
5. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti TBC, hipertensi, jantung, asma, dan lain-lain yang dapat mempengaruhi kehamilan, persalinan dan nifas.
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarganya dan keluarga suaminya tidak ada yang menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti TBC, hipertensi, jantung, asma dan lain –lain dan keturunan kembar.
7. Riwayat perkawinan
Menikah : 1 Kali
Usia menikah : 32 Tahun
Lama : 5 Tahun
8. . Riwayat kehamilan, persalinan dan Nifas sekarang
- Kehamilan
Ibu mengatakan hamil 9 bulan, ini kehamilan yang pertama. Ibu memeriksakan kehamilannya kebidan 8x, setiap periksa ibu mendapatkan obat tambah darah dan vitamin. Ibu juga mendapat imunisasi TT 2kali. Tanggal 10 – 11 – 2008 merasa kenceng – kenceng dan mengeluarkan cairan.
- Persalinan
Ibu mengatakan anak pertamanya lahir tanggal 10 November 2008 jam 03.15 WIB dengan jenis kelamin perempuan BB/PB adalah 3500 gr / 51 cm. Bayi langsung menangis, plasenta lahir secara manual lengkap oleh dokter pada jam WIB dan terdapat jahitan pada perineum. Perdarahan kurang lebih 500 ml.
- Nifas
Ibu mengatakan setelah melahirkan mengeluarkan darah banyak dan bergumpal – gumpal. Ibu agak lemas setelah melahirkan, serta pusing.
9. Riwayat KB
Ibu mengatakan sebelum hamil ibu tidak memakai KB dan setelah ini ibu tidak berencana memakai KB karena ibu ingin segera memiliki anak lagi
10. Pola kebiasaan sehari – hari
a. Pola nutrisi
Saat Hamil : Makan 3x sehari dengan menu nasi, sayur, lauk pauk, minum 8 gelas/hari.
Setelah melahirkan : Makan dari RS 3X sehari, nasi, sayur, lauk, minum 6-8
gelas / hari.
b.Pola eliminasi
Saat Hamil : BAK : 7-8 x/hari
BAB : 1 x/hari
Setelah melahikan :BAK : saat dikaji ibu belum BAK
BAB : belum saat dikaji
c. Pola istirahat
Saat hamil : malam 8 jam, siang 2 jam
Setelah melahirkan : ibu tidak bias tidur nyenyak
d. Pola aktivitas
Saat Hamil : Ibu bekerja sebagai kariawan mulai jam 07.00 WIB
sampai 14.00 WIB, setelah pulang ibu mengerjakan
pekerjaan sebagai ibu rumah tangga
Setelah melahirkan : Aktifitas dilakukan ditempat tidur
f. Pola kebiasaan lain
Ibu tidak pernah minum –minuman yang mengandung alcohol, jamu- jamuan dan ibu tidak merokok.
11. Data Psikososial
Ibu merasa bangga atas kelahiran putra pertamanya. Dan ibu bisa menerima keadaannya dan mau berusaha menahan rasa sakit waktu perut kontraksi.


B. DATA OBYEKTIF
1.Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TD : 100/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR : 16 x/menit
BB : 62 kg
TB : 160 cm
Suhu : 37 C

2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Kepala : bentuk lonjong, rambut lurus, warna hitam, bersih, dan tidak berketombe.
Muka : Cyanosis, tidak ada odema, tidak ada kloasma
Mata : Simetris, Konjungtiva pucat
Hidung : Simetris, tidak ada pernafasan cuping hidung, bersih, tidak keluar serumen
Mulut : Bibir pucat, tidak ada stomatitis, tidak ada karies gigi, mukosa bibir pucat
Telinga : Simetris, tidak keluar serume, bersih
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, dan tidak ada bendungan vena jugularis
Dada :Simetris, payudara membesar, putting susu menonjol, terdapat hiperpigmentasi
Payudara:aerola mamae, tidak ada retraksi dinding dada, putting menonjol dan bersih, colostrums belum keluar
Abdomen: Terdapat strie ablican, terdapat linea nigra, tidak ada luka bekas oprasi, UC baik,
TFU 2 jari bawah pusat
Genetalia: Tidak odema, tidak ada varises, terdapat locea rubra, terdapat luka bekas jahitan, clitoris berdarah dan membelah
Ekstremitas: Simetris, tidak ada odema, tidak ada varises, tangan kiri terdapat infuse

Auskultasi
Dada : Tidak ada pernafasan ronchi dan wheezing

Perkusi
Abdomen : Ada bunyi timpani
Reflek Hamer : Kaki kanan/kiri : +/+

3. Pemeriksaan Penunjang
Hb : 7,7 gr %

4. Terapi yang telah diberikan
Jam 15.20 WIB : Infus RL I digerojok + ampicilin
Jam 16.00 WIB : Infus RL II digerojok
Jam 16.30 WIB : Infus RL III 16 tetes / menit
Cytotex 4 tab / rectal



3.2 Identifikasi diagnosa dan masalah
Dx : NY “ W “ P1001 Ab000 24 jam Post Partum dengan HPP primer
Ds : - Ibu mengatakan telah melahirkan anak pertama secara normal pada tanggal 10 November 2008 jam 03.15 WIB
-Ibu mengatakan BB/PB bainya 3500 gr/ 51 cm
-Ibu mengatakan keluar darah banyak dan bergumpal – gumpal setelah melahirkan
Do : Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TD : 100/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR : 16 x/menit
BB : 62 kg
TB : 160 cm
Suhu : 37 C

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Muka : Cyanosis, tidak ada odema, tidak ada cloasma
Mata : Simetris, konjungtiva pucat
Mulut : Bibir pucat, tidak ada stomatitis, tidak ada karies gig, mukosa bibir pucat
Dada : Simetris, payudara membesar, putting susu menonjol, terdapat
hiperpigmentasi aerola mamae, tidakada kontraksi dinding dada, putting menonjol dan bersih, kolostrum belum keluar
Abdomen :Terdapat strie ablican, terdapat linea nigra, tidak ada luka bekas oprasi, UC baik, TFU 2 jari bawah pusat
Genetalia :Tidak odema, tidak ada varises, terdapat lucea rubra, terdapat luka bekas jahitan,
Ekstremitas :Simetris, tidak odema, tiadak ada varises, tangan kiri terdapat infuse




Auskultasi
Dada : Tidak ada pernafasan ronkhi dan weezing
Perkusi
Abdomen : Ada bumyi timpani
Reflek hammer : Kaki kanan/ kiri : +/+

Pemeriksaan penunjang
Hb : 7,7 gr %
Terapi yang telah diberikan
Jam 15.20 WIB : Infus RL I digerojok + ampicilin
Jam 16.00 WIB : Infus RL II digerojok
Jam 16.30 WIB : Infus RL III 16 tetes / menit
Cytotex 4 tab / rectal

Masalah
1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan luka jahitan
Ds : Ibu merasakan nyeri pada luka jahitan
Do :- Ibu terlihat meringis kesaktan dan merintih
- Pada perineum terdapat luka jahitan
- Keadaan luka masih basah
- Genetalia : tidak odema, tidak ada varises, terdapat lucea rubra, terdapat luka bekas jahitan
2. Ibu mengalami anemia sedang sehubungan dengan banyaknya darah yang keluar
Ds : Ibu mengatakan kepalanya pusing dan mata kunang
Do :
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TD : 100/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR : 16 x/menit
BB : 62 kg
TB : 160 cm
Suhu : 37 c


Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Muka : Cyanosis, tidak ada odema, tidak ada cloasma
Mata : Simetris, konjungtiva pucat
Mulut : Bibir pucat, tidak ada stomatitis, tidak ada karies gigi, mukosa bibir pucat
Ekstremitas : Simetris, tidak odema, tiadak ada varises, tangan kiri terdapat infuse

Pemeriksaan penunjang
Hb : 7,7 gr %

3.3 Identifikasi Diagnosa Dan Masalah Potensial
- Anemia
- Syok hemoragik
- Infeksi post partum
- HPP sekunder

3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
• Cari penyebab
• Mesase fundus uteri
• Pemasangan nfus dan uterotonika
• Pemberian antibiotika
• Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi

3.5 Intervensi
Dx : NY “ W “ P1001 Ab000 24 jam Post Partum dengan HPP primer
Tujuan : Nifas berjalan normal tanpa adanya komplikasi



Kriteria Hasil : - TTV
- Keadaan Umum Baik
TD : 120/90 mmHg
Nadi : 70-90 x/menit
RR : 16-24 x/menit
- Perdarahan berhenti
- Involusi UC baik
- Pengeluaran lucea rubra sesuai dengan hari massa nifas


Intervensi
1. Beri infrmed concent pada ibu dan keluarga
R/ Ibu dan keluarga lebih kooperatif dan persetujuan semua tindakan yang dilakukan
2. Berikan terapi infus, antibiotik, uterotonika
R/ merangsang kontraksi otot rahim sehingga dapat menghentikan perdarahan dan memperbaiki keadaan umum
3. Observasi TTV,TFU,Lochea dan UC
R/ Deteksi dini adanya komplikasi
4. Lakukan antiseptik pada daerah genetalia
R/ mencegah terjadinya infeksi
5. Cari penyebab perdarahan
R/ dengan mengetahui penyabab maka dapat dilakukan penanganan sesuai penyebab
6. Lakukan observasi perdarahan
R/ parameter terjadinya perdarahan lanjut
7. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi
R/ Dokter lebih tahu dengan tindakan yang lebih lanjut






1.6 Implementasi
Dx : NY “ W “ P1001 Ab000 24 jam Post Partum dengan HPP primer
Tanggal : 11-11-2008
Jam : 17.40 WIB
Implementasi
1. Memberi penjelasan pada ibu dan keluarga tentang keadaan dan hasil pemeriksaan.
2. Memberikan terapi infus dan memasukkan anakgetik untuk memperbaiki keadaan umum ibu
3. Mengobservasi TTV,TFU, lochea, dan UC ibu untuk mendeteksi dini adanya
komplikasi dan kelainan.
Memberi penjelasan tentang keadaan dan hasil pemeriksaan yaitu :
Keadaan umum : lemah
TD : 90/70 mmHg
Nadi : 76x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,7˚C
4. Melakukan antiseptik pada genetalia luar yang dimulai dari lipatan paha kanan-kiri, sympisis dari luar kedalam, labia mayor kanan dan kiri, labia minor kanan dan kiri dengan menggunakan kasa yang dibubuhi betadhine
5. Mencari penyebab perdarahan dan mencari apakah ada perdarahan aktif yang disebabkan perlukaan jalan lahir.
6. Melakukan observasi perdarahan denagn melihat jumlah darah yang keluar di softek ±500 cc.
7. Melakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi :
o Amoxicilin 3x1 tablet per oral
o Lactacyt 1x1 per rectal
o Injeksi methergin






1.7 Evaluasi
Tanggal : 11-11-2008 jam : 19.00 WIB
Dx : NY “ W “ P1001 Ab000 24 jam Post Partum dengan HPP primer
S : -ibu mengatakan sudah merasa sudah sehat dan kuat meneteki bayi
- ibu masih merasa nyeri pada luka bekas jahitan
O : Ibu sudah tidak merasa cemas dan tampak lebih tenang setelah ditangani
KU ibu : baik
TD : 120/90 mmHg
Nadi : 70-90 x/menit
RR : 16-24 x/menit
Klien tampak mengerti dan mau melakukan anjuran petugas kesehatan
A : NY “ W “ P1001 Ab000 24 jam Post Partum dengan HPP primer
P : - observasi terus TTV ibu
- berikan transfusi darah lagi jika Hb masih rendah
- lanjutkan rencana tindakan dengan memberikan KIE :
• Personal hygiene
• Nutrisi
• Perawatan payudara
• Terapi lanjutan
















BAB IV
PEMBAHASAN


1.1. Pengkajian
Dari hasil pengkajian data pada NY “ W “ P1001 Ab000 24 jam Post Partum dengan HPP primer ditekankan data tentang keluhan utama ibu saat dikaji, yaitu ibu mengatakan mengelurkan banyak darah dan bergumpal-gumpal setelah melahirkan. Hal ini sesuai dengan landasan teori pada buku “Manuaba, 1998” yang menjelaskan bahwa HPP adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung. Jadi pada pengkajian data tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.
1.2. Diagnosa
Gejala dari diagnosa pada kasus ini adalah ibu mengalami perdarahan banyak setelah melahirkan, jadi pada kasus ini sesuai dengan teori pada buku “Sinopsis Obstetri, 1998” yaitu post partum dengan HPP.
1.3. Intervensi
Intervensi pada asuhan kebidanan ini rencana tindakan yang akan dilakukan yaitu perawatan ibu nifas dengan perdarahan primer dengan cara memberikan infus dan trnsfusi darah jika ibu mengalami anemia. Pada buku “Manuaba, 1998” menjelaskan bahwa penanganan pada ibu dengan HPP adalah dengan pemberian infus terlebih dahulu. Sehingga pada intervensi tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.
1.4. Implementasi
Tindakan pertama setelah diketahui ibu mengalami perdarahan primer adalah dengan pemberian infus, kemudian ibu diberi transfuse darah yang sebelumnya diambil sampel darahnya dahulu untuk contoh pengambilan darah di bank darah. Hal ini sesuai dengan teori pada buku “





BAB V
PENUTUP


5.1. Kesimpulan
Perdarahan post partum adalah hilangnya darah 500 ml atau lebih dari organ reproduksi setelah selesainya kala III persalinan. Dalam kasus ini HPP disebabkan retensio plasenta dan robekan jalan lahir. Ny “D” mendapat penanganan yang tidak jauh beda dengan buku panduan yang penulis baca. Dalam hal ini antara kasus dan teori memang sama.
5.2. Saran
Harapan kami agar lebih hati-hati dalam menangani pasien kegawatdaruratan obstetric, sehingga pasien tidak sampai mengalami anemia sedang karena kehilangan darah yang banyak.






DAFTAR PUSTAKA


Hamid, Maryati. 2004. Makalah ASKEB Ibu Hamil. Malang : AKBID Widyagama Husada Malang
Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam. 1998. Synopsis Obstetri Jilid I dan Jilid II. Jakarta : EGC
Warney, Hellen. 1998. Varney Midwifery. Jakarta : EGC
Wikjosastro Hanifa. 1999. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP

Ensefalokel

BAB I
TINJAUAN TEORI

1.1 Pengertian
Ensefalokel adalah meningokel otak atau meningomielokel. Merupakan defek tabung neural yang dikarakteristikan dengan kista seperti kantung yang mengandung jaringan otak, cairan serebrospinal, dan meninges, yang menonjol melalui defek kongenital pada tengkorak dan dikaitkan pada defek otak.
• Defek ini mungkin dapat dilihat pada saat lahir, namun dapat tidak tampak selama kehidupan intrauterin.
• Defek ini terjadi pada area oksipital tengkorak atau mungkin defek nasal atau nasofaring.
• Ensefalokel secara umum dapat tertutup seluruhnya oleh kulit tetapi mungkin terbuka disertai resiko infeksi.
( Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak, EGC : 348)

Ensefalokel adalah kantong berisi cairan, jaringan syaraf atau sebagian dan otak yang biasanya terdapat pada daerah oksipitalis.
Ensefalokel di daerah oksipital sering berubungan dengan kelainan mental yang berat dan mikrosefal. ( Ilmu Kesehatan Anak, FKUI Jilid 3 : 137 )

Ensefalokel tidak saja ada di daerah oksipital tetapi bisa terjadi di daerah sinsipital yang disebut meningoenssefalokel anterior atau ensefalokel fossa kranialis anterior.
Meningoensefalokel merupakan herniasi jaringan isi intracranial rnelalui suatu defek congenital tulang tengkorak pada perhubungan antar tulang di daerah fossa kranii anterior dan tampak sebagai massa tumor di permukaan wajah. ( www.google.com )


Ensefalokel adalah herniasi otak dan meningen melalui suatu cacat kraniurn, menimbulkan struktur mirip kantong, 75 % ensefalokel terjadi pada daerah oksipital: sisanya pada daerah parietal, frontal, atau nasofaingel.
( Ilmu Kesehatan Anak, Nelson, Hal 370 Jilid 3, 1992 )

Enchepahalocele merupakan gangguan langka pada bayi yang lahir dengan sebuah celah pada tengkoraknya. ( http://med.unhas.ac.id )

Enchephalocele adalah suatu kelainan tabung saraf yang di tandai dengan adanya penonjolan meningens (selaput otak) dan otak yang terbentuk seperti kantung melalui suatu lubang pada tengkorak. ( www.google.com )

Ensefalokel lebih jarang daripada meningokel. Jika ada biasanya didapatkan pada daerah oksipital. Kantung berisi cairan, jaringan saraf atau sebagian otak. Ensefalokel pada daerah oksipital ini sering berhubungan dengan kelainan mental yang berat dan mikrosefali.
( Perawatan Anak Sakit, EGC : 208 )


1.2 Etiologi
 Enchephalocele di sebabkan oleh kegagalan penutupan tabung saraf selama perkembangan janin.
 Kegagalan penutupan tabung saraf ini disebabkan oleh gangguan pembentukan tulang kranium saat dalam uterus seperti kurangnya asupan Asam Folat selama kehamilan, adanya infeksi saat kehamilan terutama infeksi TORCH, mutasi gen (terpapar bahan radiology), obat-obatan yang mengandung bahan yang teratogenik.
 Enchephalocele disebabkan oleh defek tulang kepala, biasanya terjadi di bagian oksipitalis, kadang-kadang juga di bagian nasal, frontal, frontal, atau parietal. Besarnya defek bervariasi, pada defek yang besar sering kali disertai hernia jaringan otak (eksefalus).

1.3 Prognosis
Luasnya defek dan besarnya herniasi jaringan otak akan menentukan prognosis enchephalus. Enchephalocele mudah dideteksi dengan USG bila defek tulang kepala cukup besar, apalagi bila sudah disertai herniasi. Akan telapi lesi pada tulang kepala menjadi sulit di kenali bila terdapat oligohidramnion.

1.4 Gejala klinis
a. Kelumpuhan keempat anggota gerak (kuadri plegia spastic)
b. Gangguan perkembangan
c. Mikrochephalus
d. Hidrosefalus
e. Gangguan penglihatan
f. Keterbelakangan mental dan pertumbuhan
g. Ataksia
h. Kejang
(www.google.com)

1.5 Penanganan
• Penanganan pra bedah.
a. Segera setelah lahir daerah yang terpapar harus dikenakan kassa steril yang direndam salin yang ditutupi plastic, atau lesi yang terpapar harus ditutupi kassa steril yang tidak melekat untuk mencegah jaringan syaraf yang terpapar menjadi kering.
b. Perawatan pra bedah neonatus rutin dengan penekanan khusus pada mempertahankan suhu tubuh yang dapat menurun dengan cepat. Pada beberapa pusat tubuh bayi ditempatkan dalam kantong plastic untuk mencegah kehilangan panas yang dapat terjadi akibat permukaan lesi yang basah.
c. Lingkaran oksipito-fronlalis kepal diukur dan dibuat graviknya.
d. Akan diminta X-ray medulla spinalis.
e. Akan diambil fotografi dari lesi
f. Persiapan operasi.
g. Suatu catatan aktivitas otot pada anggota gerak bawah dan sringter anal akan di lakukan oleh fisioterapi.

• Pembedahan medulla spinalis yang terpapar ditutupi dengan penutup durameter dan kulit dijahit di atas dura yang diperbaiki. Jika celah besar, maka perlu digunakan kulit yang lebih besar untuk menutupi cacat. Pada bayi ini drain sedot diinsersikan dibawah flap.

• Perawatan pasca bedah.
a. Pemberian makan per oral dapat diberikan 4 jam setelah pembedahan.
b. Jika ada drain penyedotan luka maka harus diperiksa setiap jam untuk menjamin tidak adanya belitan atau tekukan pada saluran dan terjaganya tekanan negative dan wadah.
c. Lingkar kepala diukur dan dibuat grafik sekali atau dua kali seminggu. Seringkali terdapat peningkatan awal dalam pengukuran setelah penutupan cacat spinal dan jika peningkatan ini berlanjut dan terjadi perkembangan hidrosefalus maka harus diberikan terapi yang sesuai.

1.6 Penatalaksaan
Medik : Operasi
Keperawatan
Pasien dengan kelainan bawaan SSP memerlukan perawatan khusus segera setelah lahir karena biasanya bayi menderita berbagai kelainan tubuh sebagai akibat adanya kelainan persarafan seperti talipes, ekuinovarus, gangguan saraf pada sfingter urinae dan kelumpuhan tangan. Pasien ini harus dirawat ditempat tidur yang cukup hangat atau bila ada dalam inkubator. Sebelum dilakukan operasi perawat memegang peranan dalam mencegah infeksi.
Masalah pasien yang perlu diperhatikan adalah gangguan eliminasi, gangguan neurologik, resiko terjadi komplikasi ( meningitis, hidrosefalus, kelainan kulit), dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.
1. Gangguan Eliminasi
Gangguan eliminasi dapat ditemukan adanya enuresis ( keluar urine tidak sengaja ) yang dapat terjadi siang hari ( diurnal ) maupun malam hari ( nokturnal ) disebabkan adanya gangguan pada saraf sfingter urinae. Jika lebih berat terjadi inkontinensia urine / alvi. Akibat dari keadaan tersebut akan menimbulkan iritasi pada kulit dan dapat terjadi lecet. Untuk mencegahnya popok bayi harus sering diperiksa jika basah sering diganti. Kulit yang basah karena urine harus dilap dengan air setelah dilap kering kemudian di bedak. Jika telah terlihat merah oleskan minyak kelapa ( sayur ) atau cream tetapi jangan di bedak lagi. Untuk menghindari iritasi kulit pada pasien meningoensefalokel tidak mudah karena selalu berbaring tengkurap sedangkan pasien sering inkontinensia urine. Tetapi jika perawatan dilakukan dengan penuh perhatian iritasi dapat dihindarkan atau dikurangi. Bayi juga perlu dimiring-miringkan dengan diberi ganjal bantal dibelakang punggungnya.
2. Gangguan Neurologi
Pasien sering mengalami kelumpuhan anggota gerak. Jika mengangkat pasien tersebut misalnya memberi minum atau membersihkannya, memegang kepalanya harus kuat karena kepala tersebut akan lebih berat dari anggota badan lainnya. Walaupun tidak terdapat gangguan saraf pusat atau telan tetapi bayi juga sukar minum maka cara memberikan minum harus hati-hati dan sering istirahat. Sebaiknya pada memberikan minum bayi di pangku, jika tidak di pangku dalam posisi miring kepala hendaknya diangkat.
3. Resiko Terjadi Komplikasi
Berbagai jenis komplikasi dapat terjadi, termasuk meningitis purulenta, kantong mielokel terbuka, timbulnya hidrosefalus untuk menjadi infeksi kantong mielokel harus segera ditutup dengan kassa steril di basahi NaCl. Dapat juga dengan mengoleskan salep antibiotik secara tipis saja pada kassa penutup kemudian setelah ditutup dengan kassa steril lagi diplester. Perhatikan perubahan pada pasien terhadap kemungkinan meningitis ( kesadaran menurun, kejang) atau hidrosefalus, jika gejala tersebut ditemui segara hubungi dokter.
4. Kurangnya Pengetahuan Orangtua Mengenai Penyakit
Ibu bayi perlu diberi penjelasan bahwa kelainan pada bayi terjadi bukan karena kesalahan ibu dan keadaan demikian juga sering terjadi pada bayi lain. Jika keadaan bayi baik dapat diperbaiki dengan operasi. Bila kelainan berupa deformitas kaki dapat di perbaiki dibagian ortopedi. Semua tindakan perbaikan dapat dilakukan jika keadaan bayi tetap baik, oleh karena itu diharapkan oraangtua dapat merawat bayinya sesuai petunjuk dokter agar kesehatan bayi tetap baik. Bai harus cukup mendapat udara segar dan tidak terjadi gangguan pernafasan. Jika terjadi hydrosefalus jelaskan bukan karena kesalahan keperawatan atau pengobatan tetapi merupakan kelanjutan dari kelainannya.
IMPLIKASI KEPERAWATAN
- Orientasikan pada orang tua yang mempersiapkan kelahiran anak dengan defek tabung neural yang tidak diketahui tentang hasil kehamilan.
- Siapkan kelahiran sesar untuk melindungi pantum dan menghindari peningkatan tekanan dan potensi cidera.
- Bantu orang tua yang tidak mengharapkan kelahiran anak dengan defek tabung neural untuk menghadapi gangguan dan memahaminya.
- Kaji dengan cermat anak yang lahir dengan ensefalokel dan pantau sampai bayi yang berada pada kondisi beresiko tinggi stabil.
- Lindungi kantung dari cidera dengan memberikan posisi dan alat yang tepat.
- Jelaskan pada orang tua tentang pentingnya tindakan pembedahan untuk menutup defek terbuka untuk mengurangi resiko infeksi.
- Ingatkan pada orang tua bahwa pembedahan sangat beresiko dan tidak akan mengubah defek otak yang telah ada.
- Dukung orang tua selama prosedur bedah karena normalnya terjadi dalam 24 kelahiran.
- Bantu orang tua untuk memahami kenyataan tentang mempunyai anak berpotensi cacat.
- Berikan waktu pada orang tua untuk mengajukan pertanyyan dan berikan kesempatan pada mereka untuk berduka akibat kehilangan ” bayi sehat .”
- Siapkan orang tua untuk menghadapi potensi komplikasi hidrosefalus atau infeksi.
- Pastikan masukan nutrisi yang adekuat selama periode pasca operasi.
- Evaluasi terus menerus fungsi fisik dan mental pada anak.
- Dukung orang tua pada saat mulai merawat anak mereka.
- Rujuk orang tua pada organisasi terkait untuk memaksimalkan dukungan.
- Pastikan orang tua mempunyai nomer telepon darurat agar mereka dapat segera menghubungi jika terjadi kasus kedaruratan atau jika ada pertanyaan.

Monday, April 12, 2010

LIPID MEMPENGARUHI PENAMPILAN SESEORANG

LIPID MEMPENGARUHI PENAMPILAN SESEORANG
I.PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Di masa globalisasi ini banyak bermunculan makanan cepat saji yang semakin menjamur dimana-mana dari plosok-plosok desa sampai ke sudut-sudut kota, makanan tersebut kebayakan mengandung lemak yang mana banyak mengakibatkan pengaruh pada tubuh kita dan makan tersebut juga dapat menyebabkan banyak penyakit, disamping dari makanan cepat saji juga pola hidup yang kurang sehat yang mana banyak orang yang menyukai makanan berlemak dan kurangya kegiatan-kegiatan yang berbau keolahragaan dimana pola hidup tersebut pemicu terhadap kerusakan tubuh baik mempengaruhi penampilan maupun kesehatan. Dalam makalah ini penulis akan menjabarkan bagaimana pengaruh lemak dalam makan yang diseratai pola hidup yang kurang sehat yang dapat mempengaruhi penampilan serta kesehatan seseorang. Makalah ini juga akan menjelasakan obat- obat dan bagaimana terapi untuk hiperlipidemia ( kadar lemak yang berlebih).

I.2 Rumusan Masalah
1.Bagaimana lipid mempengaruhi penampilan seseorang?
2.Apa lipid itu?
3.Penyakit apa yang timbul akibat lipid?
4.Bagaiman terapi dari hiperlipidemia?

I.3 Tujuan
1.Mengetahui bagaimana lipid mempengaruhi penampilan
2.Menjelaskan peengertian lipid
3.Mengatahui penyakit yang timbul akaibat dari lipid
4.Mengetahui bagaimana terapi hiperlipidemia

II.PEMBAHASAN
II.1 Pengertian Lipid







Penggolongan lipid dilihat dari struktur dan fungsinya.
Berdasarkan strukturnya, lipid dapat dibagi menjadi 2 :
1. Lipid dengan rantai hidrokarbon terbuka.
Contonhnya : asam lemak, TAG, pingolipid, fosfoasilgliser ol, glikolipid
2. Lipid dengan rantai hidorkarbon siklis
Contohnya : steroid (kolesterol)
Berdasarkan fungsinya, lipid dapat dibagi menjadi :
1. Lipid simpanan (storage lipid)
2. Lipid struktural (penyusun membran)
3. Lipid fungsional (sebagai tanda / signal, kofaktor dan pigment)
Berikut ini pembagian lipid yang sering digunakan dalam menggolongkan Lipid :
1. Griserol
2. Asam lemak
3. Fospolipid
4. Lilin ( wax )
II.2 Pengaruh Penampilan
II.2.1 Berat Badan Berlebih (obesitas) Yang Mempengaruhi Pemukaan Tubuh Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.
Definisi obesitas menurut para dokter adalah sebagai berikut:
a. Suatu kondisi dimana lemak tubuh berada dalam jumlah yang berlebihan
b. Suatu penyakit kronik yang dapat diobati Suatu penyakit epidemik
c. Suatu kondisi yang berhubungan dengan penyakit-penyakit lain dan dapat menurunkan kualitas hidup

Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas.
rumus berat badan ideal
Berat badan ideal adalah : tinggi seseorang – 110 cm

Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.
Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:
a) Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
b) Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
c) Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk.
a. Faktor Penyebab Dan Gejala
Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Penyebab terjadinya ketidak seimbangan antara asupan dan pembakaran kalori ini masih belum jelas.
Terjadinya obesitas melibatkan beberapa faktor:
a) Faktor genetik. Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.
b) Faktor lingkungan. Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.
c) Faktor psikis. Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan.
Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif. Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial.
Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab obesitas yaitu makan dalam jumlah sangat banyak (binge) dan makan di malam hari (sindroma makan pada malam hari). Kedua pola makan ini biasanya dipicu oleh stres dan kekecewaan. Binge mirip dengan bulimia nervosa, dimana seseorang makan dalam jumlah sangat banyak, bedanya pada binge hal ini tidak diikuti dengan memuntahkan kembali apa yang telah dimakan. Sebagai akibatnya kalori yang dikonsumsi sangat banyak. Pada sindroma makan pada malam hari, adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan makan yang berlebihan, agitasi dan insomnia pada malam hari.
Faktor kesehatan. Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya:
a) Hipotiroidisme
b) Sindroma Cushing
c) Sindroma Prader-Willi
d) Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.
Obat-obatan.
Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan.
Faktor perkembangan. Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.
Aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas.
Obesitas mempunyai gejala Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki). Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit. Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.
Dari beberapa penggolongan obesitas diatas seseorang yang mengalami beberapa tingkatan obesitas akan diringi melarnya tubuh atau bertambahnya badsan semakin besar akibat penimbunaan lemak yang ada pada seluruh tubuh. Dari pewrmukaan tubuh yang besar dan tidak normal pastinya akan akan menggangu kesehatan dan penampilan seseorang.
( http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Obesitas&action=edit&section=1)
II.2.2 Kulit
a. Anatomi dan Fungsi kulit
Anatomi
Kulit merupakan pembungkus yang elastis yang melindungi tubuh dari pengaruh luar. Kulit juga merupakan alat yang terberat dan terluas ukurannya, yaitu 15 % dari berat tubuh.
Kulit terbagi atas tiga lapisan pokok, yaitu epidermis,dermis atau korium,dan jaringan subkutan.
1) Epidermis
Epidermis dibagi menjadi empat lapisan :
a ) Lapisan basal atau stratum germinativum
Lapisan basal terdiri dari satu lapis sel-sel yang koboid yang tegak lurus terhadap dermis. Lapisan basal merupakan lapisan paling bawah dari epidermis berbatas dengan dermis yang dida lamnya terdapat lapisan dendrite yang membentuk melanin yang berfungsi sebagai pelindung kulit dari sinar matahari.
b) Lapisan Malpighi atau stratum spinosum
Lapisan malpighi atau stratum spinosum merupakan lapisan epidermis yang paling tebal dan kuat, terdiri sel-sel poligonal.
c ) Lapisan granular atau stratum granilosum
Lapisan granular atau stratum granilosum terdiri dari satu sampai empat baris sel-sel berbentuk intan, berisi butir-butir keratohialin yang basofil.

d) Lapisan tanduk atau stratum korneum.
Lapisan tanduk atau stratum korneum terdiri dari 20-25 lapis sel-sel tanduk tanpa inti, gepeng, tipis dan mati. Pada permukaan ini sel-sel mati terus menerus, akan mengelupas tanpa terlihat.
2) Dermis
Dermis atau korium merupakan lapisan dibawah epidermis dan diatas jaringan subkutan. Dermis terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi atas pars papilaris, sedangkan dibagian bawah terjalin longgar pars reticolaris, jaringan pars reticolaris mengandung pembuluh darah, saraf, rambut kelenjar keringat, dan kelenjar sebaseus.
3) Jaringan subcutan
Jaringan subcutan merupakan lapisan yang langsung di bawah dermis. Batas antara jaringan subkutan dan dermis. Sel-sel yang terbanyak adalah liposit yang menghasilkan banyak lemak, jaringan subkutan mengandung saraf, pembuluh darah, dan limfe, kandungan rambut, dan di lapisan atas jaringan subkutan terdapat kelenjar keringat. Adapun fungsi dari jaringan subkutan adalah penyekat panas, bantalan terhadap trauma, dan tempat penumpukan Energi.

Fungsi Kulit
Sel kulit akan berganti setiap dua puluh haridengan sel kulit yang baru. Kesehatan kulit sangat dipengaruhi oleh makanan yang kita makan serta lingkungan dan bahan-bahan yang bersentuhan dengan kulit (seperti sabun, bedak, polusi, dan lain lain).
Seperti juga organ lainnya, kulit sangat dipengaruhi oleh apa yang kita makan. Berikut kita akan lihat apa saja nutrisi yang terlibat dalam pembentukan kulit:
1. Kolagen, yang terdapat pada lapisan bagian dalam kulit, terbentuk ketika vitamin C merubah asam amino proline menjadi Hydroxyproline. Tanpa vitamin C tidak akan terbentuk kolagen. Flexibilitas kolagen akan menurun oleh karena pengaruh radikal bebas, oleh karena itu antioksidan seperti vitamin A,C,E dan Selenium dapat mencegah kerusakan lebih lanjut.
2. Keratin, yaitu sejenis protein yang penting pada kulit, akan dikontrol akumulasinya pada kulit oleh kehadiran vitamin A. Oleh karena itu, kekurangan vitamin A dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan kasar.
3. Selaput/ membran sel kulit terbuat dari lemak esensial. Kekurangan lemak esensial juga akan membuat sel kulit terlalu cepat kering.
4. Kesehatan kulit juga sangat bergantung pada kecukupan Zinc/ seng yang akan mengatur akurasi produksi sel yang baru. Kekurangan mineral ini akan menyebabkan kulit memiliki garis-garis/ stretch mark, luka yang lebih lama sembuh, dan berbagai problem kulit seperti jerawatan dan eksim.
5. Kita juga tahu bahwa kulit akan memproduksi bahan kimia tertentu yang dengan bantuan sinar matahari akan diubah menjadi vitamin D.

Kulit mempunyai fungsi bermacam-macam untuk penyesuaian tubuh dengan lingkungannya. Fungsi kulit adalah sebagai berikut :
1) Sebagai pelindung
Jaringan tanduk sel-sel epidermis paling luar membatasi masuknya benda-benda dari luar dan keluarnya cairan yang berlebihan dari tubuh.dan melanin yang memberi warna pada kulit berguna melindungi kulit dari akibat buruk sinar ultra violet.
2) Sebagai pengatur suhu
Pada saat suhu dingin, peredaran darah di kulit berkurang guna mempertahankan suhu badan. Pada waktu suhu panas, peredaran darah di kulit meningkat dan terjadi penguapan keringat dari kelenjar keringat, sehingga suhu tubuh dapat dijaga agar tidak terlalu panas.
3) Sebagai penyerap
Kulit dapat menyerap bahan-bahan tertentu seperti gas dan zat yang larut dalam lemak, tetapi air dan elektrolit sukar masuk melalui kulit. Zat-zat yang larut dalam lemak lebih mudah masuk ke dalam kulit dan peredaran darah karena dapat bercampur dengan lemak yang menutupi permukaan kulit.
4) Sebagai indra perasa
Indra perasa di kulit terjadi karena rangsangan terhadap saraf sensorik dalam kulit. Fungsi indra perasa yang pokok yaitu merasakan nyeri, perabaan, panas dan dingin.

Gangguan kulit yang berhubungan denagn struktur dan fungsi kulit Pada struktur kulit yang mempuyai bagian tertentu yang mempunyai fungsi dan struktur yang berbeda mempunyai saling berhubungan, jika terjadi suatu kerusakan pada salah satu struktur atau bagian akan terjadi kerusakan kulit, berikut beberapa kerusakan kulit akibat gangguan fungsi dan struktur kulit:
1) Kerusakan kulit sub-akut
Kerusakan sub-akut adalah gangguan fungsi dan struktur kulit, yang telah terjadi antara 7 sampai 30 hari, dengan tanda-tanda antara lain bengkak yang makin parah dan sudah mempengaruhi lainnya.
2) Kerusakan kulit kronik
Kerusakan kulit kronik adalah gangguan fungsi dan struktur kulit yang telah lama terjadi dan hilang serta timbul kembali, dari beberapa bulan sampai bertahun-tahun. Biasanya kulit menjadi tebal, keras, dan retak-retak.
II.3 Penyakit
1. Hipertensi dan Obesitas
"Obesitas merupakan suatu faktor utama (bersifat fleksibel) yang mempengaruhi tekanan darah dan juga perkembangan hipertensi. Kurang lebih 46% pasien dengan (Body Mass Index) BMI 27 adalah penderita hipertensi. Framingham Studi telah menemukan bahwa peningkatan 15% BB dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 18%. Dibandingkan dengan mereka yang mempunyai berat badan normal, orang yang overweight dengan kelebihan berat badan sebesar 20% mempunyai resiko delapan kali lipat lebih besar terhadap hipertensi.
2. Hiperkolesterolemia dan Obesitas
Kadar abnormal lipid darah erat kaitannya dengan obesitas. Kurang lebih 38% pasien dengan (Body Mass Index) BMI 27 adalah penderita hiperkolesterolemia. Pada kondisi ini , perbandingan antara HDL (High Density Lipoprotein) dengan LDL (low Density Lipoprotein) cenderung menurun (dimana kadar trigliserida secara umum meningkat) sehingga memperbesar resiko Atherogenesis.
Framingham Studi memperlihatkan bahwa untuk setiap 10% kenaikan BB terjadi peningkatan plasma kolesterol sebesar 12 mg/dL.
Dari data NHANES II juga ditemukan bahwa resiko hiperkolesterolemia (serum kolesterol 250 mg/dL) pada orang Amerika yang overweight adalah 1.5 kali lebih besar dibandingkan pada individu normal usia 20 sampai 75 tahun.
3. Kolesterol
Kolesterol ialah molekul yang ditemukan dalam sel. Merupakan sejenis lipid yang merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang disebut steroid. Steroids ialah lipid yang memiliki struktur kimia khusus. Steroid / sterol banyak dimiliki oleh hewan, Gugus yg bsft hidrofilik C3 (gugus hidroksil) sehingga sangat hidrofobik. Steroid ini juga Sebagai penyusun membran pada Prekursor steroid yang lain dan juga pada vitamin D3. Steroid ini juga Dikenal mempunyai efek buruk utuk kesehatan manusia Terdiri dari 4 cincin hidrokarbon yang menyatu :
3 cincin mempunyai 6 karbon
1 cincin mempunyai 5 karbon
4. Penyakit Jantung Koroner (PKH):
Kurang lebih sebanyak 40% kejadian CHD terjadi pada seseorang dengan (Body Mass Index) BMI di atas 21, sehingga penyakit ini sebetulnya dapat dicegah.
5. Stroke
Overweight merupakan faktor resiko utama terhadap stroke. Kegemukan (terutama di sekitar perut/abdomen) dapat meningkatkan resiko stroke (kondisi ini tidak tergantung besarnya (Body Mass Index) BMI).
6. Penyakit Kantung Empedu
Orang obese cenderung lebih mudah terkena batu empedu.
7. Osteoarthritis (OA)
Overweight berhubungan dengan OA pada sendi tangan dan lutut. Bagaimanapun, keterbatasan kemampuan berolah raga pada pasien OA juga dapat peranan terhadap timbulnya overweight.
8. Kanker
Obesitas dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit kanker tertentu. Suatu studi yang dilakukan oleh American Cancer Society menjelaskan bahwa kematian yang diakibatkan oleh kanker prostat dan rektal-colon (colorectal) meningkat pada laki-laki obese, sedangkan kanker endometrium, uterus, mulut rahim (cervix), dan indung telur (ovarium) meningkat pada wanita obese. Dibandingkan wanita dengan berat normal pada masa post-menousal, wanita obese mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap kanker payudara.
9. Kelainan (gangguan) lain
Obesitas juga berhubungan dengan varieses vena, beberapa gangguan hormonal dan infertilitas.

II.4 Terapi Untuk Hiperlipidemika
a. Anti hiperlipidemika
Obat-obat Anti hiperlipidemika adalah obat yang digunakan untuk menurunkan kadar lipid dalam darah yang melebihi ambang batas normal. Lipida darah terdiri dari lemak-lemak netral (trigliserida), kolesterol (kolesterin) dan fosfolipida. Karena lipid tidak larut dalam air, zat tersebut dibawa dalam plasma dari jaringan ke jaringan dengan cara teikat pada protein. Lipid yang terikat dengan protein plasma ini disebut lipoprotein.
Farmakoterapi
Obat-obat yang digunakan dalam pengobatan kelebihan lipida darah (hiperlipidema) biasaya ditujukan untuk:
1. Menurunkan produksi lipoprotein oleh jaringan.
2. Meningkatkan perombakan (katabolisme) lipoprotein dalam plasma.
3. Mempercepat bersihan kolesterol dari tubuh. Obat-obat dapat digunakan tunggal atau kombinasi, tetapi harus disertai diet rendah lipid, terutama kolesterol dan lemak jenuh.
Obat-obat yang digunakan pada pengobatan pada hiperlipidemia meliputi:
1. Niasin atau nikotinat (vitamin B7)
Obat ini mempunyai kemapuan menurunkan lipid yang luas, tetapi penggunaan dalam klinik terbatas karena efek samping yang tidak menyenangkan.
Mekanisme kerja
Menghambat lipolisis trigiliserida menjadi asam lemak bebas. Di hati, asam lemak bebas digunakan sebagai bahan sintesis trigliserida yang selanjutnya senyawa ini yang diperlukan untuk sintesis VLDL. VLDL selanjutnya digunakan untuk sintesis LDL. Dengan demikian obat ini dapat menurunkan trigiliserida (dalam VLDL) dan kolesterol (dalam VLDL dan LDL)
Penggunaan
Berdasarkan atas kemampuanya menurunkan kadar pasma kolesterol dan trigliserida, maka digunakan pada hiperlipoproteinemia tipe IIb dan IV dengan VLDL dan LDL yang meningkat. Niasin juga merupakan obat anti hiperlipidemia paling poten untuk meningkatkan HDL plasma.
Efek samping
Kemerahan pada kulit (disertai perasaan panas) dan pruritus (rasa gatal pada kulit), pada sebagian pasien mengalami mual dan sakit pada abdomen, meninkat kadar asam urat dengan menghambat sekresi tubular asam urat, toleransi glukosa dan hepatotoksik.
2. Devirat asam fibrat
Termasuk golongan obat ini adalah fibrat-Klofibrat-Besafibrat dan gemfibrosil yang menurunkan kadar trigliserida darah. Obat ini sedikit menurunkan kadar kolesterol. Digunakan terutama untuk menurunkan VLDL pada hiperlipidemia tipe IIb, III, dan V.
Mekanisme kerja
Memacu aktifitas lipase lipoprotein, sehingga menghidrolisis trigliserida pada kilomikron dan VLDL.
Efek samping
Gangguan pencernaan ringan, pembentukan batu empedu, keganasan, peradangan otot (miositis). Berintrakasi dengan antikoagulan kumarin, sehingga meningkatkan anti koagulan.
3. Resin pengikat asam empedu
Termasuk golongan ini adalah kolesteramin dan kolestipon
Mekanisme kerja
Obat ini merupakan resin (damar) penukaran ion yang bersifat basa, yang mempunyai afinitas tinggi terhadap asam empedu. Asam empedu akan diikat oleh resin ini, membentuk senyawa yang tidak larut dan tidak dapat direabsorbsi untuk selanjutnya diekresikan melalui feses. Dengan demikian eskresi asam empedu yang biasaya sedikit akibat peredaran darah enterohepatik, dapat ditingkatkan hamper 10 kalinya. Kekurangan asam empedu didapat dari sentesis baru dari kolesterol (yang terdapat dalam LDL), dengan demikian kadar LDL dalam plasma turun.
Penggunaan
Obat ini (yang dikombinasikan dengan diet atau niasin) adalh obat-obat pilihan dalam mengobati hiperlipidemia tipe IIa dan IIb.
Efek samping
Efek gastrointestinal ( konstipasi, mual dan kembung), ganguan absorbs (menggangu absorbs vitamin larut lemak (A,D,E,K) pada resin dosis tinggi).

4. Probukol
Obat ini menurunkan kadar HDL dan LDL, maka obat ini tidak disuka, namun sifat antioksidanya penting dalam menghambat aterosklerosis.
5. Inhibitor HMG-CoA (hidroksimetilglutarin koenzim A) Reduktase
Termasuk golongan ini adalah lovastatin, prafastatin simfastatin dan fluvastatin.
Mekanisme kerja
Menghambat enzim HMG CoA reduktase dalam sintesis kolesterol, dengan demikian akan meningkatkan penguraian kolesterol, intrasel sehingga mengurangi simpanan kolesterol intrasel.
Penggunaan
Efektif untuk menurunkan kadar kolesterol pada palasma semua jenis hiperlipidema.
6. Minyak ikan
Sediaan minyak ikan yang kaya omega-3 bermanfaat dalam pengobatan hipertrigliseridema berat, meskipun demikian, kadang-kadang minyak ikan dapat memperburuk hiperkolesteromia.
7. Terapi kombinasi
kadang-kadang perlu memberikan dua antihiperlipidemia untuk mendapatkan kadar lipid plasma yang signifikan. Misalnya pada hipelipidemia tipe II, pasien sering diobati dengan kombinasi niasin dan renin pengikat empedu (kolestiramin) kombinasi ini efektif menurunkan kadar kolesterol LDL dan VLDL plasma. Dan contoh lainya adalah kombinasi HMG CoA reduktase dengan resin pengikat empedu juga efektif dalam menurunkan kolesterol LDL.

b. Diet
Diet merupakan terapi pemulaan bagi hiperlipidemia dan sebagian besar kasus hendakn ya dicoba beberapa bulan sebelum mempertimbangkan farmakoterapi. Pengaturan diet dilakukan dengan:
1. Pengurang konsumsi lemak jenuh terdapat pada daging hewani termasuk daging ikan. Juga terdapat pada dalam minyak tumbuhan (minyak kelapa dan minyak kelapa sawit) demikian juga dengan susu. Sebagai pengganti dapat diganti dengan susu rendah lemak mentega lunak dan minyak tumbuhan air.
2. Konsumsi lemak-lemak tak jenuh (poly dan mono unsaturated) sebagai pengganti minyak lemak jenuh. Terdapat pada minyak tumbuhan dan margarine serta minyak zaitun dan canola.
3. Pengurangan konsumsi kolesterol. Terdapat pada kuning telur, hati, ginjal, otak, dan roto tart.
4. Meningkatkan konsumsi buah-buahan segar, sayur dan produk biji-bijian utuh untuk menambah keragaman dan memberikan gizi dan serat.

III. PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Lemak atau Lipid tidak sama dengan minyak. Orang menyebut lemak secara khusus bagi minyak nabati atau hewani yang berwujud padat pada suhu ruang. Lemak juga biasanya disebutkan kepada berbagai minyak yang dihasilkan oleh hewan, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair.
Berat badan yang berlebih dikatakan juga obesitas dapat merusak penampilan seseorang yang dilihat dari fisik dan permukaan tubuh. Obesitas juga dapat menebabkan berbahgai penyakit seperti kanker, darah tinggi sakit jantung radang otot, kerusakan tulang dan lain-lain.
Kerusakan kulit dapat juga merupakan kelainaan yang dapat merusak penampilan dilihat dari fisik dan permukaan kulit.
Terapi hiperlipida di sebelum mempertimbangkan farmakoterpi hendaknya dilakukan terai diet.
III.2 Tips dan Pesan
15 langkah yang bisa diikuti untuk mengendalikan berat badan.
1. “Saya harus bisa!!!” Tanamkan tiga kata itu dalam diri anda sebagai langkah pertama. Walau banyak godaan datang menghadang, asal anda selalu ingat bahwa anda harus bisa menurunkan berat badan maka anda telah berada di jalur yang tepat. Jadikan orang orang yang telah berhasil menurunkan berat badan sebagai motivator anda untuk menundukan godaan yang datang.
2. Sarapan merupakan hal yang wajib dilakukan. Jangan pernah meninggalkan rumah di pagi hari tanpa menyentuh sesuatu untuk dimakan sebab makanan ini akan memberikan anda cukup tenaga untuk beraktifitas seharian. Tidak perlu sarapan makanan yang berat berat, cukup pisang, yogurt, sereal, roti dan lain lain sebab makanan ringan yang mengandung banyak serat dan protein akan memberikan anda rasa kenyang hingga tiba waktunya makan siang.
3. Sediakan waktu sejenak untuk membaca kandungan gizi pada kemasan makanan. Yang perlu diperhatikan disini adalah kalori sebab zat inilah yang sangat berperanan dalam menambah berat badan anda bila dikonsumsi secara berlebihan. Sesuaikan kebutuhan energi/kalori anda dalam sehari dengan catatan yang tertera dalam kemasan tersebut.
4. Jangan melakukan diet. Untuk jangka pendek memang diet akan menurunkan berat badan anda, namun bila diet anda hentikan maka berat badan anda akan bertambah kembali. Makan makanan yang aneh aneh untuk diet atau mengurangi beberapa jenis makanan tidak akan membuat berat badan anda turun. Yang penting dilakukan adalah memilih makanan yang seimbang nilai gizinya sesuai dengan kebutuhan tubuh anda sehingga kalori yang dimakan akan dimanfaatkan secara optimal.
5. Selalu makan secara teratur. Tubuh secara unik akan menurunkan metabolisme bila sedang lapar, hal ini tentu tidak bagus untuk proses penurunan berat badan. Untuk menghindari hal tersebut maka buatlah pola makan harian yang bisa dan rutin anda lakukan setiap hari. Pastikan jadual makan anda tersebut sedikitnya 3 kali sehari.
6. Perbanyak konsumsi serat. Serat sangat penting untuk menjaga agar tubuh tetap sehat. Serat yang kita makan sehari hari berfungsi untuk membantu menurunkan kolesterol dan memperlancar pengosongan saluran pencernaan. Serat juga bisa mempercepat rasa kenyang sehingga secara alami mengurangi porsi makanan yang tidak berguna. Sebagian besar serat mempunyai kandungan air yang tinggi dan kalori yang rendah sehingga sesuai dengan makanan yang kita butuhkan untuk menurunkan berat badan.
7. Makanan sehat selalu menjadi pilihan utama. Pilihlah makanan yang sedikit mengandung lemak jenuh. Perbanyak konsumsi buah buahan dan sayur sayuran. Pilih minyak sayur sebagai sumber lemak karena mengandung lemak tak jenuh dalam porsi tinggi. Makan makanan yang banyak mengandung Omega 3 seperti ikan.
8. Olah raga. Sesuaikan olah raga yang anda pilih dengan kondisi tubuh anda. Salah satu olah raga yang sehat, murah dan bisa dilakukan oleh semua orang adalah jalan kaki. Berjalanlah minimal 5 kilometer sehari. Usahakan selalu untuk menambah jarak anda berjalan. Ingat, olah raga tidak hanya menurunkan berat badan anda tetapi juga membuat tubuh anda lebih sehat.
9. Buang kebiasaan ngemil di malam hari. Ngemil di malam hari akan menghancurkan upaya anda menurunkan berat badan sebab kalori yang anda makan setelah makan malam akan tertimbun di dalam tubuh. Menggosok gigi setelah makan malam turut membantu anda untuk mengurangi keinginan untuk ngemil.
10. Perbanyak konsumsi protein. Memakan makanan yang mengandung protein dalam jumlah banyak akan membuat perut anda kenyang dalam beberapa jam sehingga mengurangi kebutuhan anda akan makanan yang mengandung kalori tinggi.
11. Buang kebiasan buruk yang membuat berat badan anda bertambah dan gantikan dengan kebiasaan yang lebih sehat. Misalnya mengganti gula yang anda gunakan membuat kopi dengan gula yang rendah kalori, menghindari makan gorengan dan lain lain.
12. Jadikan orang orang disekitar anda sebagai motivator. Mereka akan membantu anda memberikan dorongan bila suatu saat anda mengalami kejenuhan dengan program penurunan berat badan yang sedang anda lakukan.
13. Catat setiap perkembangan yang terjadi pada diri anda selama anda mengikuti program penurunan berat badan. Bila perlu bandingkan pencapaian anda dengan pencapaian teman anda yang melakukan program sejenis. Hal ini sekaligus menjadi motivator dalam mencapai tujuan anda menurunkan berat badan.
14. Minum yang cukup. Beberapa ahli gizi mengatakan dengan minum yang cukup maka anda akan terhindar dari makan yang berlebihan. Dianjurkan untuk minum air 6 sampai 8 gelas sehari.
15. Apakah anda ingin menurunkan berat badan sekaligus membuat tubuh sehat? Untuk itu, jangan pernah berpaling dari tujuan anda sebenarnya yaitu menurunkan berat badan. Ingat selalu untuk memotivasi diri sehingga tujuan yang anda inginkan segera tercapai.
Saran umum yang penting untuk kulit:
1. Hindari Alkohol, kafein, bahan additive/ tambahan makanan garam, gula, lemak jenuh dan hindari rokok.
2. Makan lebih banyak sayuran dan buah-buahan.
3. Makan secukupnya kacang-kacangan seperti Almond, walnut, biji-bijian seperti biji pumpkin, bunga matahari, flaxseed, wijen, setiap hari. Jika kesulitan mendapatkan bahan-bahan tadi, alternatif lainnya adalah menggunakan minyak zaitun yang cold press extra virgin.
4. Minum sedikitnya delapan gelas air putih setiap hari.
5. Batasi terkena sinar matahari, terutama sinar matahari diantara jam 9 pagi hingga jam 3 sore.
6. Cuci kulit dan wajah dengan sabun yang lembut, dalam kondisi tertentu gunakan pembersih dengan dasar minyak, bukan sabun biasa.
7. Biasakan gosok kulit dengan bersih.
8. Hindari sembarang menggunakan produk kulit tanpa mengetahui jenis kulit, problem, serta bahan pembuat produk kulit tersebut.
9. Olah raga dan tidur yang cukup sangat bermanfaat bagi kesehatan kulit.
10. Hindari stress dengan berdo’a

IV. DAFTAR PUSTAKA
1. http://clubsehat.com/index.php?option=com_banners&task=click&bid=4/november/2009
2. http://muhammadziaulhaq.blogspot.com/2008/08/definisi-kelebihan-berat-badan-dan.html
3. http://gajeboers.blogspot.com/2009/06/19-alasan-menjauhi-kelebihan-berat.html
4. TUBIANA, M., DUTREIX, J. and WAMBERSIE, A. Introduction to radiobiology. London: Taylor & Francis. 1990.
5. HOPEWLL, J.W. The skin: its structure and response to ionizing radiation. Int. J. Radiat. Biol. 57:751-773. 1990.
6. SCHOTTELIUS, B.A. and SCHOTTELIUS, D.D. Textbook of physiology. 7th ed. Saint Louis: The C.V. Mosby Company. 1973.
7. WALDEN, T.L. Long-term and low-level effects of ionizing radiation. In Medical consequences of Nuclear Welfare by Walker, R.I. and Cervery, T.J. (eds.). Maryland: Armed Forces Radiobiology Research Institute. 1989.
8. http://www.wartamedika.com/2007/11/rumus-untuk-menghitung-berat-badan.html
9. PERAWATAN KULIT (SKIN CARE) UNTUK MEMPERLAMBAT PROSES PENUAAN /Penyadur : Jaka Kristanta,Member of SynergyWorldwide Indonesia

Mau?

afferinte.com

MERAIH RUPIAH KLIK INI

Join in Here