RSS Feed
Showing posts with label sains. Show all posts
Showing posts with label sains. Show all posts

Thursday, April 14, 2011

FISIOLOGI TRACTUS DIGESTIVUS

FISIOLOGI TRACTUS DIGESTIVUS
Dr. Ratna Indriawati, M Kes

TIU :
o Mahasiswa dapat menjelaskan mekanisme pencernaan
o Mahasiswa dapat menjelaskan refleks terkait system pencernaan
o Mahasiswa dapat menjelaskan patofisiologi gejala-gejala gangguan/penyakit di system pencernaan
TIK :
o Mahasiswa dapat menjelaskan anatomi dan fungsi system pencernaan
o Mahasiswa dapat menjelaskan refleks menelan, refleks saliva, refleks sedak dan muntah
o Mahasiswa dapat menjelaskan mekanisme pengaturan cairan dan elektrolit di saluran pencernaan
o Mahasiswa dapat menjelaskan gejala-gejala gangguan/penyakit di system pencernaan


Anatomi dan fungsi sistem Pencernaan

MULUT
Bibir dan pipi: mengatur posisi makanan saat dikunyah.
Gigi : menghancurkan makanan sehingga mudah dicerna secara enzimatis
Lidah : merasa makanan, memposisikan makanan untuk dikunyah gigi, membentuk bolus, mendorong makanan ke pharynx.
Kelenjar ludah: sekresi saliva yang terdiri dari air, mukus, amilase (ptialin), Garam (bicarbonat dan phosphat menjaga pH, chlorid mengaktifkan amilase, urea, asam urat), IgA

Pharynx : melanjutkan penelanan dari mulut ke esophagus
Esophagus: sekresi mukus memudahkan menelan

REFLEKS SALIVA
Refleks terkondisi: membayangkan, melihat, mencium makanan → korteks serebri →Pusat salivasi medula → neuron parasimpatik → kel. Saliva →sekresi saliva
Refleks tak terkondisi : makanan dalam mulut, rangsangan lain → reseptor mulut dan lidah → Pusat saliva medula → dan seterusnya idem

Mekanisme menelan
Menelan adalah mekanisme yang kompleks, terutama karena faring pada hampir setiap saat melakukan fungsi lain di samping menelan dan hanya diubah dalam bebrapa detik ke dalam traktus digestivus utnuk mendorong makanan.

Yang terutama penting adalah bahwa respirasi tidak terganggu akibat menelan. Menelan merupakan rangkaian gerakan otot yang sangat terkoordinasi, mulai dari pergerakan volunteer lidah dan dilanjutkan serangkaian refleks dalam faring dan esophagus. Bagian aferen lengkung refleks ini merupakan serabut-serabut yang terdapat dalam saraf V, IX dan X. Pusat menelan (deglutisi) ada di medulla oblongata. Di bawah koordinasi pusat ini, impuls-impuls berjalan ke luar dalam rangkaian waktu yang sempurna melalui saraf cranial V,X dan XII menuju ke otot-otot lidah, faring, laring dan esophagus.

Pada umumnya menelan dapat dibagi menjadi :
1. Tahap volunter, yang mencetuskan proses menelan
2. Tahap faringeal, yang bersifat involunter dan membantu jalannya makanan melalui faring ke dalam esofagus
3. Tahap esofageal, fase involunter lain yang mempermudah jalannya makanan dari faring ke lambung.

Seluruh tahap faringeal dari penelanan terjadi dalam waktu kurang dari 2 detik, dengan demikian mengganggu respirasi hanya sekejap saja dalam siklus respirasi yang biasa. Pusat menelan secara khusus menghambat pusat respirasi medula selama waktu ini, menghentikan pernapasan pada titik tertentu dalam siklusnya untuk memungkinkan berlangsungnya penelanan.

Proses berbicara tidak hanya melibatkan system pernapasan saja tetapi juga (1) pusat pengatur saraf bicara spesifik dalam korteks cerebri (2) pusat pengatur pernapasan di otak (3) struktur artikulasi dan resonansi pada rongga mulut dan hidung. Berbicara diatur oleh 2 fungsi mekanis (1) fonasi, yang dilakukan oleh laring dan (2) artikulasi yang dilakukan oleh struktur pada mulut.

Fonasi
laring khususnya berperan sebagai penggetar (vibrator). Elemen yang bergetar adalah pita suara, yang umumnya disebut tali suara. Selama pernapasan normal, pita akan terbuka lebar sehingga aliran udara mudah lewat. Selama fonasi, pita menutup bersama-sama sehingga aliran udara di antara mereka akan menghasilkan getaran.

Bila proses menelan dan bersuara terjadi bersamaan, dimana proses respirasi dan menelan pada tahap faringeal terjadi dalam waktu yang sama, dapat menyebabkan masuknya makanan/minuman ke saluran pernapasan.

Bronkhus dan trachea sedemikian sensitifnya terhadap sentuhan halus, sehingga benda asing dalam jumlah berapapun atau penyebab iritasi lainnya akan menimbulkan refleks batuk. Laring dan karina (tempat percabangan trachea) adalah yang paling sensitive, dan bronkhiolus terminalis dan bahkan alveoli bersifat sensitive terhadap rangsang kimia yang korosif. Impuls aferen yang berasal dari saluran napas terutama berjalan melalui n. vagus ke medulla dan terjadilah refleks batuk.

Inhibisi pernapasan dan penutupan glottis merupakan bagian dari refleks menelan. Menelan sulit atau tidak dapat dilakukan apabila mulut terbuka. Seorang dewasa normal sering menelan selama makan juga di antara makan. Jumlah total menelan perhari sekitar 600 kali = 200 kali sewaktu makan dan minum, 350 kali sewaktu terjaga tanpa makan dan 50 kali sewaktu tidur.
Apabila inhibisi pernapasan tidak ada dan atau glottis tidak menutup atau tidak menutup sempurna selama proses menelan, maka akan terjadi refleks tersedak. Hal ini penting untuk melindungi selama pernapasan dari bolus dan bahan-bahan lainnya yang seharusnya melalui saluran pencernaan. Tersedak dapat terjadi antara lain saat makan sambil berbicara, makan terlalu cepat, dll.

Fungsi Motorik Lambung
x Menyimpan
x Mengaduk : gelombang konstriktor peristaltik lemah menuju antrum per 20 detik
x Mencerna : enzimatis
x Absorbsi: sangat sedikit, yaitu substansi sangat larut lemak seperti alkohol, obat-obat tertentu (aspirin) tapi secara umum absorbsi belum terjadi
x Pengosongan lambung

Sekresi Lambung
x Mukus: pelumas dan menjaga mukosa
x Gastrin : merangsang pembentukan HCl dan pepsin
x HCl
membunuh kuman, melarutkan mineral, membantu perubahan pepsinogen menjadi pepsin
x pepsin : mencerna protein
x lipase : mencerna lemak
x intrinsik faktor
membantu penyerapan Vit B12 untuk pembentukan eritrosit

Pengaturan Sekresi Lambung
1. Fase sefalik : sekresi terjadi bahkan sebelum makanan sampai lambung. Makin kuat nafsu makan makin banyak sekresinya

2. Fase Gastrik
Rangsang regangan dinding lambung dan kimiawi makanan merangsang nukleus motorik
dorsalis vagus dan sekresi gastrin
Kimiawi khusus merangsang gastrin : sekretagogue, alkohol, kafein
Rangsang vagus: sekresi pepsin, gastrin dan asam
Rangsang gastrin: meningkatkan sekresi asam lambung dan pepsin
Fase intestinal: keberadaan makanan pada bagian usus kecil merangsang sejumlah kecil gastrin

Pengosongan Lambung
Dirangsang oleh: n.vagus, penuruna simpatis, alkohol, kafein, protein yang tercerna sebagian, distensi dinding lambung →peningkatan kontraksi pompa pilorus → penurunan resistensi spingter pilorus → peningkatan pengosongan lambung
Dihambat oleh Penurunan vagus, peningkatan simpatis, distensi duodenum, adanya lemak, antikolinergik gastrointestinal, antasid, belladona →perlehahan kontraksi pompa pilorus → peningkatan resistensi sfingter pilorus →penurunan pengosongan lambung

Pergerakan Usus
Kontraksi mencampur: regangan satu bagian akan menyebabkan kontraksi konsentris. Panjang kontraksi 1 cm (segmentasi). Kontraksi segmen memotong chyme
Gerakan mendorong; gerakan segmentasi bendorong chyme ke tatub ileosekal dan mendorong melewati katub tsb
Fungsi katub ileosekal: mencegah kembalinya fecal dari kolon ke usus halus

Sekresi dan Pencernaan di Usus kecil
1. Sekresi:
peptidase, maltase, lactase, sukrase, amilase, lipase, garam, air, mukus , hormon kolesistokinin, GIP, sekretin Pencernaan enzimatis oleh enzim dari sekresi usus sendiri juga menerima sekresi dari pankreas (tripsin, kimotripsin, amilase, lipase, nuklease, carboxypeptidase, mukus) liver (empedu, bicarbonat)
2. Bicarbonat dari pankreas dan liver menetralkan asam lambung
3. Empedu mengubah lemak menjadi terlarut dalam air (water soluble)
4. Kolesistokinin : merangsang sekresi amilase pankreas dan kontraksi kantong empedu
5. Sekretin : merangsang sekresi bikarbonat pankreas

Absorbsi Usus
1. Asam amino: masuk p. darah dengan transport aktif
2. Glukosa, gal;aktosa, fruktosa : masuk p. darah dengan transport aktif
3. Lemak
60-70 % dalam emulsi dengan garam empedu, diabsorsi dalam bentuk asam lemak dan gliserol masuk ke dalam duktus limfatik

Absorbsi mineral di usus
1. Bicarbonat: diabsorsi oleh sel mucosal ketika kadar dalam lumen yang tinggi, dan disekresi dalam lumen ketika kadarnya tinggi dalam darah
2. Calcium: diabsorbsi secara transport aktif dengan stimulus Vit D
3. Chlorid: dengan difusi pasif mengikuti ion natrium
4. Copper: Transport aktif

5. Besi
Transport aktif. Dipercepat oleh Vit.C. disimpan sementara di sel usus sebelum ke plasma. Disimpan di hepar dalam bentuk feritin.

6. Phosphat: seluruh bagian intestin. Secara aktif dan pasif.
7. Kalium: Difusi pasif dan aktif
8. Natrium : difusi pasif dan aktif

Pengaturan sekresi pankreas
x Asam lambung melepaskan sekretin dari duodenum →peningkatan cairan pankreas dan bikarbonat
x Lemak dan makanan lain merangsang pelepasan kolesistokinin →peningkatan sekresi
x Rangsang Vagus →peningkatan sekresi enzim

Garam Empedu
x Dibuat di hepar 0,5 g per hari.
x Kolesterol (prekursor) →asam kolik, dikombinasi dengan glisin dan taurin →gliko/ tauro-asam empedu
x Fungsi emulsifikasi lemak dan membantu absorbsi lemak, mono gliserid, kolesterol, dan lipid lain
x Tidak ada garan empedu :40 % lemak tak diabsorbsi →menurunkan vitamin larut lemak
x 94% empedu diabsorbsi dan digunakan kembali



Komposisi empedu
Air 97,5 (%)
Garam empedu 1,1
Bilirubin 0,04
Kolesterol 0,1
Asam lemak 0,12
Lesitin 0,04
Mineral: Na, K, Ca, Cl, HCO3

Pengaturan sekresi empedu
Sekretin sedikit merangsang hepar.
Disimpan dan dikonsentrasikan sampai 12 kali di kantong empedu
Rangsang vagus: kontraksi lemah kantong empedu
Kolesistokinin menyebabkan kontraksi kandung empedu dan relaksasi kantong empedu

Pengaturan sekresi usus halus
Rangsang setempat: berupa taktil oleh kimus(utama) dan iritasi
Pengaturan hormonal : sekretin dan Kolesistokinin
Efek toksin kolera
meningkatkan kecepatan sekresi ion Cl dan diikuti sekresi cairan, terutana di jejunum


Hari pertama kolera dapat mengeluarkan 15 L cairan diare.
Toksin bacilus colon dan desentri meningkatkan sekresi cairan dengan cara sama
Respon rangsang selain hipersekresi juga terjadi hiperperistaltik

USUS BESAR
x Sekresi : mukus
x Aktifitas pencernaan tidak ada
x Absorbsi KH, protein, lemak, telah selesai. Absorbsi terjadi untuk air, elektrolit, dan vitamin. Glukosa dan obat dapat diabsorbsi jika diberikan melalui rektum
x Iritasi akan mengakibatkan peningkatan sekresi air dan elektrolit

Pergerakan kolon
x Gerakan mencampur dan mendorong
x Kontraksi sfingter ani internus menghalangi rangsangan feses ke anus secara terus menerus
x Sfingter ani eksternus dipersarafi n pudendus (saraf somatik) volumter
x Refleks defekasi terjasi oleh rangsang regang feses menimbulkan gelombang peristaltik kolon dan rektum memaksa feses menuju anus.

Penyerapan air dan elektrolit
Setiap hari usus halus terisi sekitar 2000 ml cairan dari makanan dan minuman, 7000 ml sekresi dari mukosa saluran cerna dan kelenjar-kelenjar yang berkaitan. 98% cairan diabsorbsi. Cairan yang diekskresi melalui feces adalah 200 ml. Hanya sejumlah kecil air bergerak melalui mukosa lambung, tetapi air bergerak dalam 2 arah melalui mukosa usus halus dan usus besar sebagai respon terhadap perbedaan osmotik.

Sebagian natrium berdifusi ke dalam atau ke luar usus halus tergantung pada beda konsentrasi. Oleh karena membran luminal eritrosit dalam usus halus dan kolon permeabel terhadap natrium dan membran basolateralnya mengandung Na, K ATP ase, Na juga diserap secara aktif sepanjang usus halus dan usus besar.

Di dalam usus halus, transport aktif sekunder Na penting untuk penyerapan glukosa , beberapa asam amino, dan zat-zat lain.Adanya glukosa di dalam usus akan mempermudah penyerapan kembali Na. Hal ini merupakan dasar fisiologis untuk pengobatan kehilangan Na dan air pada diare dengan pemberian larutan yang mengandungNaCl dan glukosa

Refleks lapar :
Istilah “lapar” berarti keinginan terhadap makanan, dan berkaitan dengan sejumlah perasaan obyektif. Misalnya, pada seseorang yang tidak makan selama berjam-jam, lambung mengalami kontraksi berirama yang kuat yang di sebut kontraksi lapar. Kontraksi ini menyebabkan rasa penuh atau perih di ulu hati dan kadang-kadang menyebabkan nyeri yang di sebut sebagai perih perut karena lapar (hunger pangs).

Faktor yang mempengaruhi jumlah asupan makanan :
1. Pengaturan energi (pengaturan jangka panjang, berkaitan dengan cadangan makanan dalam tubuh, kadar glukosa, asam amino dan lemak tubuh), yang berhubungan terutama dengan pemeliharaan jangka panjang jumlah normal energi yang disimpan dalam tubuh.

Jika cadangan energi tubuh jauh di bawah normal, maka pusat makan dipothalamus dan daerah lain di otak menjadi sangat aktif, dan orang tersebut memperlihatkan rasa lapar yang menigkat demikian juga dengan mencari makanan; sebaliknya jika cadangan energi (teritama cadangan lemak) sudah berlimpah, maka orang tersebut akan kehilangan rasa lapar dan menjadi kenyang.

2. Pengaturan pencernaan (pengaturan jangka pendek) yang berhubungan terutama dengan mencegah kelebihan makan pada setiap waktu makan, sehingga mekanisme pencernaan dan absorpsinya dapat bekerja pada kecepatan optimal dan tidak menjadi terlalu berat secara periodik. Dipengaruhi oleh peregangan dan pengkerutan saluran cerna/lambung, hormone saluran cerna gastrin dan kolesistokinin
3. Suhu
4. Palatabilitas (cita rasa)
5. Psikis


Refleks haus :
Asupan cairan diatur oleh mekanisme rasa haus, yang bersama dengan mekanisme osmoreseptor-ADH, mempertahankan kontrol osmolaritas cairan ekstra seluler dan konsentrasi natrium dengan tepat. Pusat rasa haus berada di sepanjang dinding anteroventral dari ventrikel ketiga (yang juga meningkatkan pelepasan ADH) dan di anterolateral dari nukleus preoptik.

Pengaturan rasa haus
Peningkatan rasa haus Penurunan rasa haus
Peningkatan osmolalitas Penurunan osmolalitas
Penurunan volume darah Peningkatan volume darah
penurunan tekanan darah Peningkatan tekanan darah
Peningkatan angiotensin II Penurunan angiotensin II
Kekeringan mulut Distensi lambung


Tersedak
Apabila inhibisa pernapasan tidak ada dan atau glottis tidak menutup atau tidak menutup sempurna selama proses menelan, maka akan terjadi refleks tersedak. Hal ini penting untuk melindungi selama pernapasan dari bolus dan bahan-bahan lainnya yang seharusnya melalui saluran pencernaan. Tersedak dapat terjadi antara lain saat makan sambil berbicara, makan terlalu cepat, dll.
o Muntah
Pengeluaran isi lambung secara ekspulsif melalui mulut dengan bantuan otot-otot perut
o Terjadi karena respon lambung berlawanan dengan normal :penurunan tonus esofagus bawah, fundus,dan korpus lambung dan peningkatan peristaltik antrun, tonus pilorus dan duodenum

MUNTAH
Penyebab muntah
x Gangguan saluran cerna
x Gangguan metabolik
x Hipoksia
x Bau-bauan
x Gangguan keseimbangan
x Keracunan
x Obat

Mekanisme muntah
1. Rangsangan reseptor labirin
2. Impuls ditransmisi terutama melalui inti-inti vestibuler ke serebellum
3. Menuju zona pencetus kemoreseptor
4. Akhirnya ke pusat muntah medula oblongata

Tanda-tanda penyakit gastrointestinal
1. Nyeri
2. Kesulitan makan (mual, muntah, gangguan makan)
3. Odyniphagia (nyeri sewaktu menelan)
4. Anorexia (kehilangan nafsu makan)
5. Gangguan pergerakan bolus makanan (diare, konstipasi)
6. Perdarahan

Kepustakaan
Ganong WF, 2003, Review of Med. Phys, 21sd Ed.,
Guyton AC and Hall JE, 2000, Textbook of Med. Phys, 10th Ed, Saunders Philadelphia

Price, SA and Wilson, LM., 1995, Patofisiologi Konsep klinis Proses-proses Penyakit, edisi 4 buku 1, EGC

Wednesday, December 15, 2010

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny “W” P1001 Ab000 24 JAM POST PARTUM Dengan HPP PRIMER

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masa nifas merupakan masa ynag membutuhkan pengawasan yang ketat terutama pada masa 2 jam post partum karena pada masa itu perdarahan sering terjadi yang menyebabkan ibu kehilangan darah sangat banyak. Sehingga angka kematian maternal sangat tinggi oleh akibat perdarahan.
Post partum / puerperium adalah masa dimana tubuh menyesuaikan, baik fisik maupun psikososial terhadap proses melahirkan. Dimulai segera setelah bersalin sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna dan kembali mendekati keadaan sebelum hamil ( 6 minggu ). Masa post partum dibagi dalam tiga tahap : Immediate post partum dalam 24 jam pertama, Early post partum period (minggu pertama) dan Late post partum period ( minggu kedua sampai minggu ke enam). Potensial bahaya yang sering terjadi adalah pada immediate dan early post partum period sedangkan perubahan secara bertahap kebanyakan terjadi pada late post partum period. Bahaya yang paling sering terjadi itu adalah perdarahan paska persalinan atau HPP. Menurut Willams & Wilkins (1988) perdarahan paska persalinan adalah perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang lebih dari 500 cc segera setelah bayi lahir. Tetapi menentukan jumlah perdarahan pada saat persalinan sulit karena bercampurnya darah dengan air ketuban serta rembesan dikain pada alas tidur. POGI, tahun 2000 mendefinisikan perdarahan paska persalinan adalah perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang menyebabkan perubahan tanda vital seperti klien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, dalam pemeriksaan fisik hiperpnea, sistolik < 90 mmHg, nadi > 100 x/menit dan kadar HB < 8 gr %.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menerapkan dan memahami pengetahuan secara teoritis dan praktis mengenai Asuhan Kebidanan sehingga dapat memperluas, memperbanyak pengetahuan dan ketrampilan mengenai asuhan kebidanan pada pasien kegawat daruratan obstetrik.



1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah pembuatan asuhan kebidanan ini diharapkan mahasiswa dapat :
• Mengumpulkan data sampai menganalisa data
• Mengidentifikasi diagnosa dan masalah
• Mengidantifikasi diagnosa dan masalah potensial
• Mengidentifikasi kebutuhan segera
• Merencanakn asuhan kebidanan
• Melaksanakan asuhan kebidanan yang telah direncanakan
• Dapat mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan

1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup asuhan kebidanan dalam makalah ini adalah masalah perdarahn post partum 2 jam PP (HPP).

1.4 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan penulis dalam membuat asuhan kebidanan pada Ny “W” P1001 Ab000 dengan perdarahan 24 jam PP menggunakan metode:
1. Studi Pustaka
Dari buku-buku penunjang
2. Studi Dokumentasi
Mempelajari dan mempelajari data dengan melihat catatan atau catatan perkembangan pasien dan hasilnya.
1.5 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Tujuan
1.3 Ruang lingkup
1.4 Sistematika penulisan



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Nifas
2.1.1 Pengertian
2.1.2 Periode-periode masa nifas
2.1.3 Perubahan fisiologis pada masa nifas
2.1.4 Perawatn Pasca Persalinan
2.1.5 Masalah Kompliakasi dan Penatalaksanaan
2.2 Konsep Dasar HPP
2.2.1 Pengertian
2.2.2 Etiologi
2.2.3 Macam-macam perdarahan post partum
2.2.4 Komplikasi
2.2.5 Diagnosa
2.2.6 Penatalaksanaan
2.3 Konsep manajemen kebidanan

BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian data
3.2 Identifikasi diagnosa dan masalah
3.3 Identifikasi diagnosa masalah potensial
3.4 Identifikasi kebutuhan segera
3.5 Intervensi
3.6 Implementasi
3.7 Evaluasi
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Nifas
2.1.1 Pengertian
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali sepeerti seperti pra hamil. Lama masa nifas yaitu 6-8 minggu.
(Sinopsis Obstetri, 1998:115)
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu.
(Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal, N-23)
Puerperium (nifas) berlangsung selama 6 minggu atau 24 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat-alat kandungan pada keadaan yang normal.
(Manuaba, 1998:190)
Masa nifas atau puerperium adalah periode waktu dan masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil.
(Perawatan Maternitas,1999:225)
Masa nifas atau puerperium adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu.
(Kapita Selekta Kedokteran I:316)
Masa puerperium (nifas) adalah waktu setelah partus selesai sampai kurang 6 minggu tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum hamil dalam waktu 3 bulan. (Hanifah, 2002)








2.1.2 Periode-Periode Masa Nifas
Nifas dibagi menjadi 3 periode :
a. Puerperium Dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
b. Puerperium Intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
c. Remote Puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat bagi semua ibu nifas terutama bila selama 1 hari atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.
(Mochtar Rustam, 1998)

2.1.3 Perubahan Fisiologi Masa Nifas
1. Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil sehingga akhirnya seperti sebelum kehamilan yang disebut dengan involusi.
Tinggi fundus uteri dan berat menurut masa involusi sebagai berikut :
Involusi TFU Berat Uterus
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari bawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat symphisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba di atas symphisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram

2. Bekas implantasi uri
Plasenta mengecil karena kontraksi dan menonjol ke cavum uteri dengan diameter 7,5 cm. Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm. Pada minggu ke enam 2,4 cm dan akhirnya pulih.
3. Luka-luka pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh sendiri dalam waktu 6-7 hari.
4. Rasa sakit yang disebut afterpain (mules) disebabkan kontraksi uterus biasanya berlangsung 2-4 hari pasca paersalinan.
5. Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Klasifikasi lochea sebagai berikut :
• Lochea rubra (cruenta) berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua-vernik kaseosa, lanugo dan mekonium selama 2 hari pasca persalinan.
• Lochea Sanguinolenta berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari 3-7 pasca persalinan.
• Lochea Serosa berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
• Lochea Alba berwarna putih setelah 2 minggu.
• Lochea statis adalah lochea yang tidak lancar keluarnya.
6. Serviks
Setelah persalinan, bentuk servik agak menganga seperti corong warna kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan kecil.
7. Ligamen-ligamen
Ligamen, fascia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan. Setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum retundum menjadi kendor.
( Sinopsis Obstetri, 1999:116)

2.1.4 Perawatn Pasca Persalinan
a. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, terlentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring kekeanan dan kekiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan trombo embolik. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk, hari ke-3 diperbolehkan jalan, hari ke-4dan ke-5 sudah diperbolehkan pulang.
b. Diet
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan-makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.
c. Miksi
Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-kadang wanita mengalami sulit kencing. Karena ureter ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi sfingter ani setelah persalinan, juga oleh karena oedem kandung kemih selama persalinan.
d. Defekasi
BAB harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan bila masih sulit BAB dan terjadi obstipasi apalagi berak keras tanpa diberikan obat per oral atau rektal. Jika belum bisa dilakukan klisma.
e. Perawatan payudara
Perawatan mammae telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas dan tidak kering supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik untukkesehatan bayinya.
f. Laktasi
Dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran ASI. ASI ini merupakan makanan pokok bayi, makanan yang terbaik bagi bayi, makanan yang bersifat alamia. Bila bayi mulai disusui isapan pada puting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mwngakibatkan oksitosin dikeluarkan oleh hipofise. Produksi ASI akan lebih banyak sebagai efak positif adalah involusi uterus akan lebih sempurna.
g. Cuti Hamil dan bersalin
Cuti hamil menurut UU selama 3 bulan. 1 bulan sebelum bersalin dan 2 bulan setelah bersalin.
h. Pemeriksaan Pasca Persalinan
Dilakukan 6 minggu stelah persalinan, terdiri dari :
• Pemeriksaan umum, TD, nadi, keluhan, dsb.
• Keadaan umum : suhu, selera makan, dll.
• Payudara : ASI, puting, susu.
• Dinding perut, perineum, kandung kemih, rektum.
• Sekret yang keluar lochea dan fluor albus.
• Keadaan kandungan
i. Nasehat untuk ibu post natal
• Fisioterapi post natal sangat baik diberikan.
• Sebaiknya bayi disusui.
• Kerjakan gymnastik sehabis bersalin.
• Untuk kesehatan ibu, ibu dan keluarga sebaiknya melakukan KB untuk menjarangkan anak.
• Bawalah bayi anda untuk di imunisasi.


2.1.5 Masalah Kompliakasi dan Penatalaksanaan
a. Puting lecet
Dapat disebabkan cara menyusui dan perawatan mammae yang salah menyebabkan infeksi nosokomial. Penatalaksanannya dengan teknik menyusui ynag benar. Puting harus kering saat menyusui, puting diberi laneorin, monolia terapi dan menyusu pada payudara yang tadi lecet.
b. Payudara bengkak
Disebabkan mammae ASI tidak lancar karena bayi tadi sering menyusu atau terlalu cepat disapih. Penatalaksaannya dengan menyusu lebih sering, kompres hangat. ASI dikeluarkan dengan pompa dan pemberian analgesik.
c. Mastitis
Payudara tampak oedem, kemerahan dan nyeri yang biasanya terjadi beberapa minggu setelah melahirkan. Penatalaksanaannya dengan kompres hangat atau dingin, pemberian antibiotik atau analgesik.
d. Abses payudara
ASI dipompa, abses diinsisi, diberikan antibiotik dan analgesik.
e. Perdarahan post partum sekunder
Terjadi 24 jam atau lebih setelah persalinan disebabkan oleh sub involusi, kelainan kongenital itu inversio uterus, mioma uteri, sub mukosum dan penghentian pengobatan denagn esterogen untuk menghentikan laktasi.
(Perawatn Maternitas, 1999:226)







2.2 Konsep Dasar HPP
2.2.1 Pengertian
Perdarahan post partum adalah perdarahan yang terjadi 24 jam setelah persalinan berlangsung.
(Manuaba, 1998)
Perdarahan post partum adalah hilangnya darah 500 ml atau lebih dari organ-organ reproduksi setelah selesainya kala III persalinan (ekspullsi atau ekstraksi plasenta dan ketuban.
(Melfia Wati S.dr, 2000)
Perdarahan post partum adalah perdarahan pervaginam yang lebih 500 ml setelah bersalin.
(Buku Panduan Praktis Ppelayanan Kesehatan Maternal Neonatal:N-23)
Perdarahan post partum adalah keadaan hilangnya darah lebih dari 500ml selama 24jam pertama sesudah kelahiran.
(Obstetri william, 1995:479)
Perdarahan post partum adalah perdarahan yang terjadi 24 jam setelah perslinaan berlangsung.
(Ilmu kebidanan, 1998:296)
Perddarahan post partum yang dimaksud disini adalah perdarahan dalam kelas IV yang
(Sinopsis Obstetri, 1998:300)
2.2.2 Etiologi
a. Atonia uteri
Faktor predisposisi terjadinya atonia uteri
- Umur, umur yang terlalu muda
- Parietas, sering dijumpai pada multipara dan Grandmultipara
- Partus lama
- Obstetri operatif dan narkoba
- Uterus terlalu tegang dan besar (Gemeli, Hidramnion, Makrosomi)
- Kelainan Uterus (Mioma Uteri, Uterus Couvelain pada solusio plasenta)
-Faktor sosio ekonomi yaitu malnutrisi
b. Sisa plasenta dan selaput ketuban
c. Jalan lahir, robekan perinium, vagina, servik, fornik, uterus

d. Penyakit darah
Kelainan pembekuan darah misalnya Hipofibrinogenemia yang sering dijumpai pada:
• Perdarahan yang banyak
• Solusio plasenta
• Kematian janin yang lama dalam kandungan
• Pre eklamsi dan Eklamsi
• Infeksi, Hepatitis dan septik syok

2.2.3 Macam-macam perdarahan post partum
a. Perdarahan post partum dini atau primer
Merupakan perdarahan yang berlebihan terjadi selama 24jam pertama setelah kala IV persalinan selesai. Penyebab utamanya adalah Atonia uteri,retensio plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir, terbanyak dalam 2 jam pertama.
b. Perdarahan post partum lanjut atau sekunder
Adalah perdarahan yang berlebihan terjadi selama masa nifas, termasuk periode 24 jam pertama setelah kala III persalinan selesai. Penyebab utamanya adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta/membran.

2.2.4 Komplikasi
Komplikasi kehilangan darah yang banyak adalah syok hipovelemik disertai dengan perfusi jaringan yang tidak adekuat. Perdarahan memerlukan 2 softek dalam 30 menit, uterus lembek, kontraksi uterus jelek.

2.2.5 Diagnosa
1. Palpasi uterus, bagaimana kontraksi uterus dan TFU.
2. Memeriksa plasenta dan ketuban lengkap atau tidak.
3. Lakukan explorasi cavum uteri untuk mencari :
- Sisa Plasenta dan ketuban
- Robekan uterus
- Plasenta sukrenturianta
4. Inspekulo, untuk melihat robekan pada serviks, vagina dan varises yang pecah.

5. Pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan darah, Hb, COS dll.
(Sinopsis Obstetri, 1998: 301)

2.2.6 Penatalaksanaan
1. Mintalah bantuan
2. Lakukan pemeriksaan secara tepat keadaan umum ibu termsuk TTV.
3. Jika dicurigai adanya syok, segera lakukan tindakan jika tanda-tanda syok tidak terlihat.Ingatlah pada saat melakukan evaluasi lanjut karena status wanita tersebut dapat
4. Pastikan kontraksi uterus baik
5.Pasang infus cairan IV
6. Lakukan kateterisasi dan pantau cairan keluar masuk.
7. Periksa kelengkapan plasenta
8. Periksa kemungkinan robekan serviks, vagina dan perinium.
9. Jika perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah.
10. Setelah teratasi (24 jam setelah perdarahan berhenti) Periksa kadar Hb:
- Jika Hb <7gr% atau hematokrit <20 % (anemia berat) beerilah sulfas ferrosus 600mg atau ferosus 120 mg ditambah asam folat 400mg peroral/hari selama 6 bulan.
- Jika Hb7-11 gr % berisulfas ferrosus fumarat 60 mg+asam folat 400mg peroral IX/hari selam 6bulan.
- Pada daerah cacing gelang (prevalensi sama atau > 20 %) Berikan terapi albendasol 400 mg peroral sekali perhari atau membendasol 500mg peroral sekali atau100mg 2 kali sehari selama 3 hari.
- Pada daerah edemik tinggi cacing gelang (prevalensi sama atau >50%) berikan terapi dosis tersebut selama 12 minggu setelah dosis pertama.








2.3 Konsep Manajemen Kebidanan
I. PENGKAJIAN DATA
Tanggal :
Jam :
Tempat :
A. Data Subyektif
1. Biodata
Nama Ibu : Identitas ibu
Umur :Primi muda / tua
Agama :
Pendidikan :Tingkat pengetahuan
Perkerjaan : tingkat ekonomi
Alamat : Identitas tempat tinggal
Nama suami :Identitas keluarga
2. Alasan Datang
Ibu mengatakan ingin memeriksakan keadaanya saat ini
3. Keluhan Utama
Ibu mengatakan telah melahirkan bayinya dengan normal, BB/PB lahir.....kg/.......cm.Jenis Kelamin...............dan mengeluh mengeluarkan darah dari alat kelaminnya
4. Riwayat haid
Menarce : pertama kali menstruasi
Siklus : periode dalam menstruasi
Lama : lama menstruasi
Keluhan : dismenorea / tidak
Flour albus : pernah atau tidak
HPHT : hari pertama haid terakhir
TP : prematur, aterm, atau post date
5. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu pernah mengalami perdarahan setelah persalinan sebelumnya, dan pernahkah ibu menderita panyakit menurun, menahun dan menular seperti jantung, darah tinggi, asma yang dapat mengganggu kehamilan dan persalinan.

6. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah dalam keluarga yang menderita penyakkit menular menurun dan menahun seperti diabetes, hepatitis, TBC, jantung
7. Riwayat perkawinan
Untuk mengetahui status pernikahan.
8. Riwayat pre natal, natal, post natal
a. Riwayat prenatal
• ANC minimal 4 kali selama kehamilan
• Imunisasi TT 2 kali selma hamil
• Grand multi
• Hidramnion
• Gemeli
• Bayi besar
b. Riwayat natal
Ibu melahirkan tanggal...jam...secara spontan, jenis kelamin...BB/PB...retensio plasenta, plasenta rest, trauma persalinan (ruptur uteri, robekan vagina, servik, perineum) perdarahan lebih dari 500 ml.
c. Riwayat post natal
Ibu lemah, atonia uteri, perdarahan lebih dari 500 ml.
9. Riwayat KB
Selama sebelum hamil ibu memakai KB...dan rencanya setelah melahirkan sekarang ibu ingin memakai KB...
10. Pola kebiasaan sehari-hari
1. Pola nutrisi
Ibu tidak pernah berpantangan dalam hal makanan.
2. Pola istirahat
Ibu tidur siang ±...... jam,malam ±....jam
3. Pola aktifitas
Ibu melakukan perkerjaan rumah (IRT)


4. Pola eliminasi
BAK : hendaknya dapat dilakukan sedini mungkin karena kandung kemih yan gpenuh dapat menyebabkan perdarahan.
BAB : harus dapat dilakukan 2-3 hari pasca persalinan bila tidak bisa maka diberi obat per oral atau per rectal atau klisma.
5. Pola kebiasaan lain
Ibu tidak pernah mengkonsumsi minum-minuman beralkohol, jamu-jamuan Dan tidak merokok

11. Psikologi
Keadaan mental ibu nifas, tanda-tanda taking in.

B.Data Subyektif
1. Pemeriksaan Umum
KU :Baik atau lemah
Kesadaran :Composmentis sampai somnolens
TD :Hipotensi atau hipertensi
Nadi :bradykardi atau takikardi
RR :cepat atau lambat
Suhu :hipotermi atau febris
2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi, palpasi, auskultalsi dan perkusi.
Kepala : adakah benjolan abnormal
Muka : pucat atau tidak
Mata : konjungtiva pucat atau tidak
Hidung : adakah pernafasan cuping hidung
mulut : pucat/tidak, adakah stomatitis
Dada &payu dara : Payudara membesar, puting menonjol tidak ada ronkhi
atau wezing.
Genetalia : ada pengeluaran darah
Perut : tidak ada nyeri tekan pada perut bagian bawah



3. Pemeriksaan laboratorium
Hb :9-13%


II. Identifikasi Diagnosa dan Masalah
Dx : Ny.......P.....Ab... 24 jam Post partum dengan HPP Primer
Ds : Ibu mengatakan pusing dan lemas
Do : Keadaan umum
Kesadaran :composmentis sampai somnolens
TD : hipotensi sampai hipertensi
Nadi : bradykardi sampai takikardi
RR : cepat atau lambat
Suhu : Hipotermi atau febris
UC : baik
Mata :konjungtiva pucat, sklera tidak ikterus
Mulut :bibir tidak pucat, tidak kering
TFU :......jari...pusat......
Genetalia :vulva vagina terdapat perdarahan lebih dari 500 ml
Lochea : rubra

III. Identifikasi Diagnosa dan Masalah potensial
Potensi terjadi : -Anemia
-Insfeksi post partum
-Syok hemoragik
-HPP sekunder


IV. Identifikasi kebutuhan segera
• Cari penyebab
• Mesase fundus uteri
• Pemasangan nfus dan uterotonika
• Pemberian antibiotika

V. Intervensi
Dx : Ny...... P.....Ab......24 jam post partum dengan HPP Primer
Tujuan :Setelah diberi asuhan kebidanan diharapkan masalah dapat teratasi, perdarahan terhenti dan tidak terjadi komplikasi.
Kriteria hasil : TTVnormal
Involusi baik dan UC baik
Perdarahan berkurang
Tidak terjadi infeksi
Hb dalam batas normal
Intervensi :
1. Beri infrmed concent pada ibu dan keluarga
R/ Ibu dan keluarga lebih kooperatif dan persetujuan semua tindakan yang dilakukan
2. Berikan terapi infus, antibiotik, uterotonika
R/ merangsang kontraksi otot rahim sehingga dapat menghentikan perdarahan dan memperbaiki keadaan umum
3. Observasi TTV,TFU,Lochea dan UC
R/ Deteksi dini adanya komplikasi
4. Lakukan antiseptik pada daerah genetalia
R/ mencegah terjadinya infeksi
5. Cari penyebab perdarahan
R/ dengan mengetahui penyabab maka dapat dilakukan penanganan sesuai penyebab
6. Lakukan observasi perdarahan
R/ parameter terjadinya perdarahan lanjut


VI. Implementasi
Tanggal :
Jam :
Dx : Ny...... P.....Ab......24 jam post partum dengan HPP Primer

1. Memberi penjelasan pada ibu dan keluarga tentang keadaan dan hasil
pemeriksaan.
2. Memberikan terapi infus dan memasukkan anakgetik untuk memperbaiki keadaan umum ibu
3. Mengobservasi TTV,TFU, lochea, dan UC ibu untuk mendeteksi dini adanya
komplikasi dan kelainan.
4. Melakukan antiseptik pada genetalia luar yang dimulai dari lipatan paha kanan-kiri, sympisis dari luar kedalam, labia mayor kanan dan kiri, labia minor kanan dan kiri dengan menggunakan kasa yang dibubuhi betadhine
5. Mencari penyebab perdarahan dan mencari apakah ada perdarahan aktif yang disebabkan perlukaan jalan lahir.
6. Melakukan observasi perdarahan denagn melihat jumlah darah yang keluar di softek

VII. Evaluasi
Tanggal :.....
Jam :
Dx : Ny....P....Ab..... 24 jam post partum dengan HPP primer
S : keluhan yang diungkapkan oleh pasien
O : hasil pemeriksaan petugas
A : kesimpulan dari Ds dan Do dari evaluasi
P : melanjutkan intervensi pada no....














BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1Pengkajian Data
Tanggal pengkajian :11 November 2008 jam : 17.15WIB
Tanggal MKB : 10 November 2008 jam :15.10 WIB
Tempat pengkajian :
No. Registrasi :24356
A. Data subyetif
1. Biodata
Nama Ibu :Ny “W” Nama Suami : Tn “H”
Umur : 37 Th Umur : 38 th
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan :SMU Pendidikan : SMU
Perkerjaan :Karyawati Perkerjaan : Swasta
Alamat :Sudimoro 07 Alamat : Sudimoro 07
2. Alasan datang
Ibu mengatakan ingin memeriksakan keadaanya saat ini
3. Keluhan Utama
Ibu mengatakan mengeluarkan darah banyak dan bergumpal-gumpal setelah melahirkan.
4. Riwayat Menstruasi
Menarce : 13 tahun
Siklus :30 hari
Lama :7hari
Flour albus :sebelum/sesudah
Dismenore :ya (pada hari pertma mensttruasi)
HPHT :3 februari 2008
TP :
5. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti TBC, hipertensi, jantung, asma, dan lain-lain yang dapat mempengaruhi kehamilan, persalinan dan nifas.
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarganya dan keluarga suaminya tidak ada yang menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti TBC, hipertensi, jantung, asma dan lain –lain dan keturunan kembar.
7. Riwayat perkawinan
Menikah : 1 Kali
Usia menikah : 32 Tahun
Lama : 5 Tahun
8. . Riwayat kehamilan, persalinan dan Nifas sekarang
- Kehamilan
Ibu mengatakan hamil 9 bulan, ini kehamilan yang pertama. Ibu memeriksakan kehamilannya kebidan 8x, setiap periksa ibu mendapatkan obat tambah darah dan vitamin. Ibu juga mendapat imunisasi TT 2kali. Tanggal 10 – 11 – 2008 merasa kenceng – kenceng dan mengeluarkan cairan.
- Persalinan
Ibu mengatakan anak pertamanya lahir tanggal 10 November 2008 jam 03.15 WIB dengan jenis kelamin perempuan BB/PB adalah 3500 gr / 51 cm. Bayi langsung menangis, plasenta lahir secara manual lengkap oleh dokter pada jam WIB dan terdapat jahitan pada perineum. Perdarahan kurang lebih 500 ml.
- Nifas
Ibu mengatakan setelah melahirkan mengeluarkan darah banyak dan bergumpal – gumpal. Ibu agak lemas setelah melahirkan, serta pusing.
9. Riwayat KB
Ibu mengatakan sebelum hamil ibu tidak memakai KB dan setelah ini ibu tidak berencana memakai KB karena ibu ingin segera memiliki anak lagi
10. Pola kebiasaan sehari – hari
a. Pola nutrisi
Saat Hamil : Makan 3x sehari dengan menu nasi, sayur, lauk pauk, minum 8 gelas/hari.
Setelah melahirkan : Makan dari RS 3X sehari, nasi, sayur, lauk, minum 6-8
gelas / hari.
b.Pola eliminasi
Saat Hamil : BAK : 7-8 x/hari
BAB : 1 x/hari
Setelah melahikan :BAK : saat dikaji ibu belum BAK
BAB : belum saat dikaji
c. Pola istirahat
Saat hamil : malam 8 jam, siang 2 jam
Setelah melahirkan : ibu tidak bias tidur nyenyak
d. Pola aktivitas
Saat Hamil : Ibu bekerja sebagai kariawan mulai jam 07.00 WIB
sampai 14.00 WIB, setelah pulang ibu mengerjakan
pekerjaan sebagai ibu rumah tangga
Setelah melahirkan : Aktifitas dilakukan ditempat tidur
f. Pola kebiasaan lain
Ibu tidak pernah minum –minuman yang mengandung alcohol, jamu- jamuan dan ibu tidak merokok.
11. Data Psikososial
Ibu merasa bangga atas kelahiran putra pertamanya. Dan ibu bisa menerima keadaannya dan mau berusaha menahan rasa sakit waktu perut kontraksi.


B. DATA OBYEKTIF
1.Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TD : 100/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR : 16 x/menit
BB : 62 kg
TB : 160 cm
Suhu : 37 C

2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Kepala : bentuk lonjong, rambut lurus, warna hitam, bersih, dan tidak berketombe.
Muka : Cyanosis, tidak ada odema, tidak ada kloasma
Mata : Simetris, Konjungtiva pucat
Hidung : Simetris, tidak ada pernafasan cuping hidung, bersih, tidak keluar serumen
Mulut : Bibir pucat, tidak ada stomatitis, tidak ada karies gigi, mukosa bibir pucat
Telinga : Simetris, tidak keluar serume, bersih
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, dan tidak ada bendungan vena jugularis
Dada :Simetris, payudara membesar, putting susu menonjol, terdapat hiperpigmentasi
Payudara:aerola mamae, tidak ada retraksi dinding dada, putting menonjol dan bersih, colostrums belum keluar
Abdomen: Terdapat strie ablican, terdapat linea nigra, tidak ada luka bekas oprasi, UC baik,
TFU 2 jari bawah pusat
Genetalia: Tidak odema, tidak ada varises, terdapat locea rubra, terdapat luka bekas jahitan, clitoris berdarah dan membelah
Ekstremitas: Simetris, tidak ada odema, tidak ada varises, tangan kiri terdapat infuse

Auskultasi
Dada : Tidak ada pernafasan ronchi dan wheezing

Perkusi
Abdomen : Ada bunyi timpani
Reflek Hamer : Kaki kanan/kiri : +/+

3. Pemeriksaan Penunjang
Hb : 7,7 gr %

4. Terapi yang telah diberikan
Jam 15.20 WIB : Infus RL I digerojok + ampicilin
Jam 16.00 WIB : Infus RL II digerojok
Jam 16.30 WIB : Infus RL III 16 tetes / menit
Cytotex 4 tab / rectal



3.2 Identifikasi diagnosa dan masalah
Dx : NY “ W “ P1001 Ab000 24 jam Post Partum dengan HPP primer
Ds : - Ibu mengatakan telah melahirkan anak pertama secara normal pada tanggal 10 November 2008 jam 03.15 WIB
-Ibu mengatakan BB/PB bainya 3500 gr/ 51 cm
-Ibu mengatakan keluar darah banyak dan bergumpal – gumpal setelah melahirkan
Do : Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TD : 100/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR : 16 x/menit
BB : 62 kg
TB : 160 cm
Suhu : 37 C

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Muka : Cyanosis, tidak ada odema, tidak ada cloasma
Mata : Simetris, konjungtiva pucat
Mulut : Bibir pucat, tidak ada stomatitis, tidak ada karies gig, mukosa bibir pucat
Dada : Simetris, payudara membesar, putting susu menonjol, terdapat
hiperpigmentasi aerola mamae, tidakada kontraksi dinding dada, putting menonjol dan bersih, kolostrum belum keluar
Abdomen :Terdapat strie ablican, terdapat linea nigra, tidak ada luka bekas oprasi, UC baik, TFU 2 jari bawah pusat
Genetalia :Tidak odema, tidak ada varises, terdapat lucea rubra, terdapat luka bekas jahitan,
Ekstremitas :Simetris, tidak odema, tiadak ada varises, tangan kiri terdapat infuse




Auskultasi
Dada : Tidak ada pernafasan ronkhi dan weezing
Perkusi
Abdomen : Ada bumyi timpani
Reflek hammer : Kaki kanan/ kiri : +/+

Pemeriksaan penunjang
Hb : 7,7 gr %
Terapi yang telah diberikan
Jam 15.20 WIB : Infus RL I digerojok + ampicilin
Jam 16.00 WIB : Infus RL II digerojok
Jam 16.30 WIB : Infus RL III 16 tetes / menit
Cytotex 4 tab / rectal

Masalah
1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan luka jahitan
Ds : Ibu merasakan nyeri pada luka jahitan
Do :- Ibu terlihat meringis kesaktan dan merintih
- Pada perineum terdapat luka jahitan
- Keadaan luka masih basah
- Genetalia : tidak odema, tidak ada varises, terdapat lucea rubra, terdapat luka bekas jahitan
2. Ibu mengalami anemia sedang sehubungan dengan banyaknya darah yang keluar
Ds : Ibu mengatakan kepalanya pusing dan mata kunang
Do :
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TD : 100/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR : 16 x/menit
BB : 62 kg
TB : 160 cm
Suhu : 37 c


Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Muka : Cyanosis, tidak ada odema, tidak ada cloasma
Mata : Simetris, konjungtiva pucat
Mulut : Bibir pucat, tidak ada stomatitis, tidak ada karies gigi, mukosa bibir pucat
Ekstremitas : Simetris, tidak odema, tiadak ada varises, tangan kiri terdapat infuse

Pemeriksaan penunjang
Hb : 7,7 gr %

3.3 Identifikasi Diagnosa Dan Masalah Potensial
- Anemia
- Syok hemoragik
- Infeksi post partum
- HPP sekunder

3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
• Cari penyebab
• Mesase fundus uteri
• Pemasangan nfus dan uterotonika
• Pemberian antibiotika
• Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi

3.5 Intervensi
Dx : NY “ W “ P1001 Ab000 24 jam Post Partum dengan HPP primer
Tujuan : Nifas berjalan normal tanpa adanya komplikasi



Kriteria Hasil : - TTV
- Keadaan Umum Baik
TD : 120/90 mmHg
Nadi : 70-90 x/menit
RR : 16-24 x/menit
- Perdarahan berhenti
- Involusi UC baik
- Pengeluaran lucea rubra sesuai dengan hari massa nifas


Intervensi
1. Beri infrmed concent pada ibu dan keluarga
R/ Ibu dan keluarga lebih kooperatif dan persetujuan semua tindakan yang dilakukan
2. Berikan terapi infus, antibiotik, uterotonika
R/ merangsang kontraksi otot rahim sehingga dapat menghentikan perdarahan dan memperbaiki keadaan umum
3. Observasi TTV,TFU,Lochea dan UC
R/ Deteksi dini adanya komplikasi
4. Lakukan antiseptik pada daerah genetalia
R/ mencegah terjadinya infeksi
5. Cari penyebab perdarahan
R/ dengan mengetahui penyabab maka dapat dilakukan penanganan sesuai penyebab
6. Lakukan observasi perdarahan
R/ parameter terjadinya perdarahan lanjut
7. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi
R/ Dokter lebih tahu dengan tindakan yang lebih lanjut






1.6 Implementasi
Dx : NY “ W “ P1001 Ab000 24 jam Post Partum dengan HPP primer
Tanggal : 11-11-2008
Jam : 17.40 WIB
Implementasi
1. Memberi penjelasan pada ibu dan keluarga tentang keadaan dan hasil pemeriksaan.
2. Memberikan terapi infus dan memasukkan anakgetik untuk memperbaiki keadaan umum ibu
3. Mengobservasi TTV,TFU, lochea, dan UC ibu untuk mendeteksi dini adanya
komplikasi dan kelainan.
Memberi penjelasan tentang keadaan dan hasil pemeriksaan yaitu :
Keadaan umum : lemah
TD : 90/70 mmHg
Nadi : 76x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,7˚C
4. Melakukan antiseptik pada genetalia luar yang dimulai dari lipatan paha kanan-kiri, sympisis dari luar kedalam, labia mayor kanan dan kiri, labia minor kanan dan kiri dengan menggunakan kasa yang dibubuhi betadhine
5. Mencari penyebab perdarahan dan mencari apakah ada perdarahan aktif yang disebabkan perlukaan jalan lahir.
6. Melakukan observasi perdarahan denagn melihat jumlah darah yang keluar di softek ±500 cc.
7. Melakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi :
o Amoxicilin 3x1 tablet per oral
o Lactacyt 1x1 per rectal
o Injeksi methergin






1.7 Evaluasi
Tanggal : 11-11-2008 jam : 19.00 WIB
Dx : NY “ W “ P1001 Ab000 24 jam Post Partum dengan HPP primer
S : -ibu mengatakan sudah merasa sudah sehat dan kuat meneteki bayi
- ibu masih merasa nyeri pada luka bekas jahitan
O : Ibu sudah tidak merasa cemas dan tampak lebih tenang setelah ditangani
KU ibu : baik
TD : 120/90 mmHg
Nadi : 70-90 x/menit
RR : 16-24 x/menit
Klien tampak mengerti dan mau melakukan anjuran petugas kesehatan
A : NY “ W “ P1001 Ab000 24 jam Post Partum dengan HPP primer
P : - observasi terus TTV ibu
- berikan transfusi darah lagi jika Hb masih rendah
- lanjutkan rencana tindakan dengan memberikan KIE :
• Personal hygiene
• Nutrisi
• Perawatan payudara
• Terapi lanjutan
















BAB IV
PEMBAHASAN


1.1. Pengkajian
Dari hasil pengkajian data pada NY “ W “ P1001 Ab000 24 jam Post Partum dengan HPP primer ditekankan data tentang keluhan utama ibu saat dikaji, yaitu ibu mengatakan mengelurkan banyak darah dan bergumpal-gumpal setelah melahirkan. Hal ini sesuai dengan landasan teori pada buku “Manuaba, 1998” yang menjelaskan bahwa HPP adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung. Jadi pada pengkajian data tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.
1.2. Diagnosa
Gejala dari diagnosa pada kasus ini adalah ibu mengalami perdarahan banyak setelah melahirkan, jadi pada kasus ini sesuai dengan teori pada buku “Sinopsis Obstetri, 1998” yaitu post partum dengan HPP.
1.3. Intervensi
Intervensi pada asuhan kebidanan ini rencana tindakan yang akan dilakukan yaitu perawatan ibu nifas dengan perdarahan primer dengan cara memberikan infus dan trnsfusi darah jika ibu mengalami anemia. Pada buku “Manuaba, 1998” menjelaskan bahwa penanganan pada ibu dengan HPP adalah dengan pemberian infus terlebih dahulu. Sehingga pada intervensi tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.
1.4. Implementasi
Tindakan pertama setelah diketahui ibu mengalami perdarahan primer adalah dengan pemberian infus, kemudian ibu diberi transfuse darah yang sebelumnya diambil sampel darahnya dahulu untuk contoh pengambilan darah di bank darah. Hal ini sesuai dengan teori pada buku “





BAB V
PENUTUP


5.1. Kesimpulan
Perdarahan post partum adalah hilangnya darah 500 ml atau lebih dari organ reproduksi setelah selesainya kala III persalinan. Dalam kasus ini HPP disebabkan retensio plasenta dan robekan jalan lahir. Ny “D” mendapat penanganan yang tidak jauh beda dengan buku panduan yang penulis baca. Dalam hal ini antara kasus dan teori memang sama.
5.2. Saran
Harapan kami agar lebih hati-hati dalam menangani pasien kegawatdaruratan obstetric, sehingga pasien tidak sampai mengalami anemia sedang karena kehilangan darah yang banyak.






DAFTAR PUSTAKA


Hamid, Maryati. 2004. Makalah ASKEB Ibu Hamil. Malang : AKBID Widyagama Husada Malang
Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam. 1998. Synopsis Obstetri Jilid I dan Jilid II. Jakarta : EGC
Warney, Hellen. 1998. Varney Midwifery. Jakarta : EGC
Wikjosastro Hanifa. 1999. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP

Saturday, November 27, 2010

Pengaruh Ekstrak Biji Buah Rambutan (Nephelium lappaceum) dalam Menurunkan Kadar Kolesterol Darah pada Mencit Putih (Mus musculus)

A. JUDUL PROGRAM

-Pengaruh Ekstrak Biji Buah Rambutan (Nephelium lappaceum) dalam Menurunkan Kadar Kolesterol Darah pada Mencit Putih (Mus musculus)

-Pemanfaatan Sampah Organik Biji Buah Rambutan sebagai Antikolesterol

B. LATAR BELAKANG

Setiap tahunnya sekitar 500.000 penduduk Indonesia menderita penyakit stroke yang diakibatkan oleh tersumbatnya pembuluh darah akibat tingginya kadar kolesterol darah. Dari 2,5 % penderita stroke atau sekitar 12.500 penduduk mengalami kematian, dan sisanya cacat ringan dan berat. Menurut dr. Herman samsudin, Sp.S, seorang ahli saraf sekaligus Ketua Yayasan Stroke Indonesia cabang DKI Jakarta ketika menyampaikan sambutan di Rumah Sakit Global Awal Bekasi bahwa Indonesia menempati urutan pertama di dunia dalam jumlah terbanyak penderita stroke.

Banyaknya konsumsi makanan yang menyebabkan terjadinya penumpukan kolesterol dapat menimbulkan beragam penyakit. Menurut penelitian Yamanashi et al, 2006 penyakit yang diakibatkan perubahan life style masyarakat dalam mengonsumsi makanan high cholesterol dapat mencetuskan pengapuran akibat tingginya penumpukan kolesterol pada pembuluh darah dan selanjutnya membentuk “sarang” kolesterol yang pada akhirnya mampu menyempitkan liangnya dan bahkan menyumbat aliran darah menuju organ tertentu. Terhambatnya aliran darah menuju otak inilah yang mampu menimbulkan gejala stroke, sehingga salah satu cara untuk mengatasi penyakit stroke tersebut adalah dengan mengurangi asupan kolesterol. Pengobatan antikolesterol termasuk salah satu pengobatan penyakit stroke tersebut.

Selama ini pengobatan antikolesterol yang lazim digunakan di Indonesia ialah melalui pengobatan sintetis. Beberapa obat sintetis antilipemika (obat yang dapat menurunkan kadar kolesterol) tersebut antara lain Gemfibrozil 300 mg, Simvastatin 10 mg, Lovastatin 20 mg, Klofibrat 250 mg, dll. Namun karena cukup mahalnya harga obat sintetis modern apabila digunakan secara berkesinambungan disertai efek samping yang ditimbulkan. Efek samping obat antikolesterol sintetis tersebut antara lain gangguan saluran cerna, nyeri dada, iritasi mata, hepatitis dan pada lovastatin mampu menimbulkan gangguan penglihatan di awal terapi.

Hal ini memotivasi berbagai tindakan untuk mencari alternatif pengobatan yang berasal dari tumbuhan obat. Efek samping yang ditimbulkan tanaman obat nyaris tidak ada, justru dapat memberikan beragam efek terapi selain efek terapi utama yang diberikan.

Tingginya tingkat konsumsi masyarakat terhadap buah rambutan terutama pada musim rambutan, menyumbang begitu banyak sampah organik seperti kulit dan biji buah rambutan. Pemanfaatan sampah organik merupakan solusi pemecahan problematika sampah. Salah satu pemanfaatan sampah organik sebagai eksplorasi potensi tanaman obat Indonesia adalah dengan menggunakan biji buah rambutan sebagai alternatif pengobatan.

Dalam sebuah penelitian ilmiah “Telaah Fitokimia Biji Rambutan (Nephellium lappaceum L.)” menyatakan bahwa dalam biji rambutan tersebut ternyata mengandung flavonoid (Melisa dkk. 2006) dan berdasarkan penelitian Huige Li et al. 2004, menyimpulkan bahwa flavonoid yang terkandung dalam ekstrak daun tanaman Artichoke (Cyanara scolmus L.) mampu memberikan respon farmakologi terhadap pencegahan penyakit kardiovaskuler, dengan prinsip penurunan kolesterol pada pembuluh darah. Dari pernyataan penelitian tersebut, biji buah rambutan dianggap mampu memberikan respon menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

Penandatanganan FTA (Free Trade Area) ASEAN-CHINA pada tanggal 4 November 2002 di Phnom Penh, Kamboja dengan tujuan untuk menciptakan perdagangan bebas negara-negara anggota cukup memberikan pukulan keras pada berbagai produk lokal, tidak terkecuali industri obat herbal. Pemberlakuan perdagangan bebas ini mengakibatkan membanjirnya produk herbal khususnya obat herbal dari China. Untuk itu pemerintah melalui Kementrian Kesehatan bertekad menjadikan “Jamu” sebagai tuan rumah di negeri sendiri (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementrian kesehatan, Prof. Dr. Agus Purwadianto, SH, M.Si, Sp.FF (K) (3/9/2010) di Jakarta).

Pemerintah oleh Kementrian Kesehatan mempersiapkan strategi untuk menghadapi perdagangan bebas dengan menyusun Grand Strategy Pengembangan Jamu. Peneliti berupaya mendukung program Departemen Kesehatan RI dalam saintifikasi jamu dengan meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam yang terdapat di Indonesia, termasuk di dalamnya memanfaatkan kembali sampah organik yang seringkali dianggap sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Dan penelitian mengenai pengaruh biji buah rambutan terhadap penurunan kadar kolesterol darah mencit putih merupakan alternatif lain dalam memajukan ilmu pengobatan tradisional ala Indonesia.

Berdasarkan latar belakang pembuatan proposal ini, peneliti selaku mahasiswa berupaya aktif memberikan kontribusi nyata pada pemerintah dalam saintifikasi jamu melalui proposal peneliti dengan judul Pengaruh Ekstrak Biji Buah Rambutan (Nephelium lappaceum) dalam Menurunkan Kadar Kolesterol Darah pada Mencit Putih (Mus musculus). Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi kajian lanjutan tentang pengaruh ekstrak biji buah rambutan terhadap penurunan kadar kolesterol pada penderita hiperkolesterolemia.

C. RUMUSAN MASALAH

Pengobatan Hiperkolesterolemia (kadar kolesterol tinggi) yang lazim digunakan melalui obat sintetis modern ternyata memiliki beberapa kekurangan bagi mayoritas penderita, diantaranya :

1. Mahalnya harga obat bagi penderita hiperkolesterolemia menyebabkan penderita berasal dari kalangan ekonomi bawah tidak mampu menjangkau harga obat tersebut, sehingga pada akhirnya penderita tersebut tidak tuntas mengobati penyakit hiperkolesterolemia yang di deritanya.

2. Side effect yang diberikan obat sintetis modern ini mampu menimbulkan penyakit baru, seperti kerusakan pada ginjal, hati maupun gangguan pada pencernaan. Sehingga nantinya akan memperberat penyakit yang diderita oleh penderita hiperkolesterolemia.

Dalam mengatasi permasalahan tersebut, penawaran penggunaan kembali obat tradisional Indonesia merupakan solusi tepat, sebab keuntungan yang akan didapatkan antara lain :

1. Harga yang diperoleh relatif lebih murah karena potensi tanaman obat di Indonesia sangat beragam sehingga ketersediaan bahan baku bukan menjadi hambatan. Terutama pada penggunaan biji buah rambutan yang notabene dianggap sebelah mata hanya sekadar sampah organik. Namun kenyataannnya biji buah rambutan memiliki salah satu kandungan zat yang mampu bekerja dengan menurunkan kadar kolesterol yang terlampau tinggi.

2. Tidak adanya side effect (gangguan saluran cerna, nyeri dada, iritasi mata, hepatitis, serta gangguan penglihatan di awal terapi) yang didapatkan seperti pada pengobatan sintetis modern, bahkan justru memberikan banyak efek terapi selain memberikan terapi utama yang diinginkan. Oleh sebab itu penggunaan obat tradisional ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

3. Ikut serta dalam penguatan produk herbal lokal dalam menghadapi persaingan kawasan perdagangan bebas ASEAN-CHINA terutama yang berasal dari obat herbal China.

D. TUJUAN PROGRAM

Tujuan kami mengikuti kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian ini antara lain :

1. Menjadikan Program Kreativitas Mahasiswa ini merupakan wadah yang dapat membantu mengaplikasikan teori yang diperoleh mahasiswa selama pembelajaran perkuliahan, sehingga ke depannya mampu memberikan manfaat positif bagi masyarakat.

2. Mendukung upaya pemerintah dalam saintifikasi jamu untuk mampu menghadapi kawasan perdagangan bebas ASEAN-China.

3. Meningkatkan eksplorasi tanaman obat Indonesia dengan mengintegrasikan obat tradisional dalam pelayanan kesehatan.

4. Mengupayakan dan memberikan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu, khususnya biji buah rambutan secara empiris sebagai penurun kadar kolesterol darah.

5. Meneliti pengaruh ekstrak etanol biji buah rambutan terhadap penurunan kadar kolesterol darah pada mencit putih (Mus musculus).

6. Memberikan kontribusi bahan kajian lanjutan apabila hasil yang diperoleh menunjukkan nilai positif.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa, diharapkan program ini mampu membantu terwujudnya tujuan dari proposal ini. Adanya penelitian mengenai khasiat dari ekstrak etanol biji buah rambutan terhadap penurunan kadar kolesterol darah pada penderita hiperkolesterolemia yang diproyeksikan pada penurunan kadar kolesterol darah mencit putih, maka harapan kami obat tradisional Indonesia mampu bersaing dengan obat herbal impor. Tahapan ini diharapkan mampu mendukung program pemerintah melalui Kementrian Kesehatan untuk menjadikan Jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Selain itu kami berharap produk herbal lokal mampu bersaing dan mengungguli produk herbal import terutama yang berasal dari China, sebagai dampak dari adanya kawasan perdagangan bebas.

F. KEGUNAAN PROGRAM

Kegunaan yang diperoleh dengan adanya Program Kreativitas Mahasiswa ini, yaitu:

1. Aspek Kesehatan

a. Mahasiswa

Mahasiswa lebih aktif turut serta mengembangkan potensi obat tradisional dalam pengobatan hiperkolesterolemia di masyarakat.

b. Masyarakat

Masyarakat mengetahui penyebab penyakit, pengobatan secara tradisional dan modern, serta pencegahan timbulnya penyakit hiperkolesterolemia.

c. Instansi Kesehatan

Instansi kesehatan mampu mengetahui bagaimana perkembangan pengobatan tradisional di Indonesia dalam rangka ikut serta membangun saintifikasi jamu yang digalang oleh pemerintah.

2. Aspek Sosial

a. Mahasiswa

Mahasiswa sebagai agent sociality control mampu memberikan kontribusi nyata untuk ikut membantu menyejahterakan kesehatan masyarakat.

b. Masyarakat

Masyarakat dapat lebih aktif lagi untuk mengetahui manfaat tanaman obat di Indonesia yang ternyata juga lebih ampuh dalam memberantas penyakit yang sering dihadapi oleh masyarakat.

c. Instansi Kesehatan

Instansi kesehatan dapat mengetahui bagaimana mengendalikan pengobatan penyakit pada masyarakat dengan penggunaan potensi tanaman obat Indonesia

3. Aspek Ekonomi

a. Mahasiswa

Mahasiswa ikut mengembangkan tanaman obat yang memiliki harga relatif murah dibandingkan dengan harga obat sintetis modern, yang pada akhirnya akan berguna dalam peningkatan kesehatan masyarakat.

b. Masyarakat

Masyarakat lebih mengetahui pengobatan tradisional Indonesia yang lebih murah daripada penggunaan obat sintetis modern. Bagi industri obat tradisional mampu mengembangkan usahanya dalam eksplorasi tanaman obat di Indonesia, sehingga dapat bersaing dengan industri obat herbal impor terutama yang berasal dari China dalam era perdagangan bebas.

c. Instansi kesehatan

Adanya banyak pengembangan tanaman obat Indonesia akan memotivasi instansi kesehatan terkait dalam kemajuan industri obat herbal terstandart sebagai pilihan pengobatan untuk mengejar ketertinggalan ekonomi Indonesia, mengingat Indonesia merupakan negara kedua setelah Brazil yang memiliki 40 ribu spesies tanaman.

4. Aspek Teknologi Informatika

a. Mahasiswa

Dalam program ini mahasiswa dapat melatih keahlian penggunaan teknologi ekstraksi tumbuhan obat yang dimiliki dalam mengembangkan teknologi pengolahan tanaman obat.

b. Masyarakat

Keahlian pengolahan tanaman obat yang dimiliki mahasiswa mampu bermanfaat bagi masyarakat dalam mengolah tanaman obat agar memiliki nilai ekonomi tinggi.

c. Instansi kesehatan

Instansi kesehatan dapat mengembangkan potensi obat tradisional Indonesia dalam sediaan yang lebih baik, sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan diharapkan mampu menembus pasar global dimasa yang akan datang.

G. TINJAUAN PUSTAKA

1. Tinjauan Telaah Fitokimia Biji Rambutan

Telaah Fitokimia Biji Rambutan (Nephelium lappaceum L.)

Peneliti : Melisa Asrianti, Komar Ruslan, As’ari Nawawi

Abstrak

Biji rambutan (Nephelium lappaceum L., Sapindaceae) digunakan secara tradisional untuk menurunkan kadar gula dalam darah, maka dalam penelitian ini ditelaah kandungan kimianya. Penapisan fitokimia menunjukkan adanya senyawa golongan flavonoid. Biji diekstraksi secara maserasi-perkolasi menggunakan pelarut n-heksan dan etanol. Ekstrak etanol difraksinasi secara ekstraksi cair-cair dan difraksinasi lebih lanjut secara kromatografi kertas preparatif. Dari ekstrak etanol diisolasi tiga senyawa flavonoid dan dikarakterisasi lebih lanjut secara spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak. Isolat pertama merupakan flavonol tersubstitusi gula pada posisi 7-O dan memiliki gugus hidroksi pada posisi 3, 5, dan 4’. Isolat kedua diduga merupakan flavonol tersubstitusi pad aposisi 3-O dan 7-O demgam gugus hidroksil pada posisi 5 dan 4’. Isolat ketiga diduga merupakan flavonoid tersubstitusi pada posisi 5-O.

2. Tinjauan Flavonoids sebagai Antikolesterol

Oksida Nitrat (NO) yang dihasilkan oleh Endhotel Nitric Oxide Synthase (Enos) atau yang biasa disebut dengan sintesis nitrooksida endotel. Enos merupakan sebuah prinsip antithrombotic dan anti-aterosklerotik di pembuluh darah tersebut yang mampu bertindak sebagai antikolesterol. Oleh karena itu, ekspresi yang disempurnakan Enos dalam menanggapi intervensi farmakologis dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit kardiovaskuler. Dalam baris sel yang berasal dari vena umbilikalis manusia sel endotel (HUVECs), ekstrak daun artichoke meningkatkan aktivitas promotor Enos manusia (ditentukan oleh assay luciferase reporter gen). Sebuah subfraksi organik dari ekstrak daun artichoke selain mentah ekstrak memiliki aktivitas promotor Enos yang lebih kuat dibandingkan sebuah subfraksi mengandung air dari ekstrak daun artichoke itu tanpa efek (Huigei Li, et al. 2004).

Dalam percobaan ruang organ, ex vivo inkubasi (18 jam) cincin aorta tikus dengan subfraksi organik ekstrak daun artichoke meningkatkan respon vasodilator NO (nitrogenoksida) dari sel-sel endotel dinding pembuluh (Enos), menunjukkan bahwa Enos up-diatur tetap fungsional oleh asam caffeoylquinic dan flavonoid adalah dua kelompok besar dari unsur ekstrak daun artichoke. Menariknya, flavonoid dan cynaroside luteolin meningkatkan Enos sebagai aktivitas promotor dan ekspresi mRNA, sedangkan asam cynarin caffeoylquinic dan asam klorogenat yang tidak memberikan efek apapun. Dengan demikian, di samping sifat-menurunkan lipid dan antioksidan dari tanaman artichoke, peningkatan Enos transkripsi gen juga dapat berkontribusi ke profil kardiovaskular yang menguntungkan. Flavonoid Artichoke kemungkinan mewakili bahan-bahan aktif yang dapat meningkatkan aktivitas Enos untuk membentuk NO (nitrogenoksida), sehingga terjadi vasodilatasi pada pembuluh darah (Huigei Li, et al. 2004).

3. Tinjauan Kolesterol

Kolesterol merupakan zat yang berguna untuk menjalankan fungsi tubuh. Kolesterol berasal dari lemak yang menghasilkan 9 kalori. Lemak di dalam darah terdiri atas beberapa jenis, yaitu kolesterol trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak bebas. Tiga jenis pertama disebut lipoprotein yang terbagi menjadi lima bagian kilomikron, yakni Very Low Density Lipoprotein (VLDL), Intermediate Density Lipoprotein (IDL), Llow Density Lipoprotein (LDL), dan High Density Lipoprotein (HDL). Dari kelimanya, yang penting untuk diketahui adalah LDL dan HDL

1. Low Density Lipoprotein (LDL), merupakan lipoprotein yang mengangkut kolesterol terbesar untuk disebarkan ke seluruh jaringan tubuh dan pembuluh nadi. LDL sering disebut kolesterol jahat karena efeknya yang arterogenik (mudah melekat pada dinding pembuluh darah), sehingga dapat menyebabkan penumpukan lemak dan penyempitan pembuluh darah (arterosclerosis). Semakin banyak lemak yang masuk, semakin menumpuk pula LDL. Hal ini disebabkan LDL merupakan lemak jenuh yang tidak mudah larut.

2. High Density Lipoprotein (HDL) merupakan lipoprotein yang mengandung Apo A, yang memiliki efek anti-arterogenik, sehingga disebut kolesterol baik. Fungsi utamanya adalah membawa kolesterol bebas dari dalam endotel dan mengirimkannya ke pembuluh darah perifer, lalu keluar tubuh lewat empedu. Dengan demikian, penimbunan kolesterol di perifer menjadi berkurang. Jumlah kadar HDL dalam tubuh diharapkan banyak, tetapi pada orang gemuk, perokok berat, penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol, pada pemakai alat KB, dan pada orang yang kurang gerak, kadar kolesterol ini jumlahnya sangat sedikit.

4. Tinjauan Biji Buah Rambutan

a. Taksonomi

Dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan, tanaman rambutan diklasifikasikan sebagai berikut.

Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisi : Spermatophyte (tumbuhan berbiji)

Subdivisi : Angiospermae (berbiji tertutup)

Kelas : Dicotyledonae (biji berkeping dua)

Ordo : Sapindales

Famili : Sapindaceae

Genus : Nephellium

Spesies : Nephellium lappaceum Linn.

(Rahmat & Yuyun. 2002)

b. Morfologi

Kerabat dekat rambutan antara lain kepulasan (N. mutabile BI.) dan leci (N. litchi Camb. = Litchi chinensis Sonn.). Rambutan merupakan tanaman tahunan (perennial). Secara alami, pohon rambutan dapat mencapai ketinggian 25 m atau lebih, namun bila dibudidayakan pada umumnya hanya dapat mencapai ketinggian 5 m - 9 m. Habitus tanaman berbentuk seperti payung, dengan tajuk pohon antara 5 m – 10 m, dan memiliki sistem perakaran yang cukup dalam.

Batang : Berkayu keras, berbentuk gilig, tumbuh tegak (kokoh), dan berwarna kecoklat-coklatan sampai putih kecoklatan.

Daun : Bulat panjang dengan ujung tumpul atau meruncing dan umumnya berwarna hijau tua sampai hijau muda.

Bunga : Muncul dari ketiak daun atau di ujung cabang, tersusun dalam malai (tandan). Berukuran kecil, berwarna agak kekuning-kuningan dan bertangkai pendek.

Buah : Bulat agak lonjong ataupun lonjong bahkan kadang-kadang pipih. Berat per buah antara 33,80 g – 68,15 g.

Kulit buah : Terdapat rambut dengan ukuran, struktur, dan warna yang bervariasi.

Daging buah : Berwarna putih, memiliki rasa manis berair dan agak berair sampai manis agak kering serta kadang-kadang agak harum.

Biji buah : Bulat sampai bulat panjang atau lonjong, kadang-kadang agak bengkok pada bagian ujungnya. Berat biji berkisar antara 1,0 g – 2,6 g (Rahmat & Yuyun. 2002).

c. Kandungan Kimia

Buah mengandung karbohidrat, protein, lemak, fosfor, besi, kalsium dan vitamin c. Kulit buah mengandung tanin dan saponin. Biji mengandung lemak dan polifenol. Daun mengandung tanin dan saponin. Kulit batang mengandung tanin, saponin, flavonoid, pectic substances, dan zat besi (Setiawan. 2003).

5. Tinjauan Hewan Uji Mencit Putih

Mencit termasuk dalam genus Mus, subfamily Murinae, family Muridae, order Rodentia. Mencit yang sudah diperlihara di laboratorium sebenarnya masih satu family dengan mencit liar. Sedangkan mencit yang paling sering dipakai untuk penelitian biomedis adalah Mus musculus. Berbeda dengan hewan-hewan lainnya, mencit tidak memiliki kelenjar keringat. Pada umur 4 minggu berat badannya mencapai 18-20 gram. Jantung terdiri dari empat ruangan dengan dinding atrium yang tipis dan dinding ventrikel yang lebih tebal. Peningkatan temperature tubuh tidak mempengaruhi tekanan darah, sedangkan frekuensi jantung, cardiac output berkaitan dengan ukuran tubuhnya. Hewan ini memiliki karakter yang lebih aktif pada malam hari daripada siang hari dan memiliki kadar kolesterol normal sebesar 26,0-82,4 mg/dl (Diah. 2004). Di antara spesies-spesies hewan lainnya, mencitlah yang paling banyak digunakan untuk tujuan penelitian medis (60-80%) karena murah dan mudah berkembang biak.

Data biologi mencit (Diah. 2004)

Berat badan (gram)

Keterangan

Jantan (gram)

20-40

Betina (gram)

18-35

Lama hidup (tahun)

1-3

Temperature tubuh (0C)

36,5

Kebutuhan air

Ad libitum

Kebutuhan makanan (g/hari)

4-5

Pubertas (hari)

28-49

Lama kebuntingan (hari)

17-21

Mata membuka (hari)

12-13

Tekanan darah


Sistolik (mmHg)

133-160

Diastolik (mmHg)

102-110

Kolesterol (mg/dl)

26,0-82,4

H. METODE PELAKSANAAN

1. Rancangan penelitian

Pelaksanaan program menggunakan rancangan penelitian secara umum yaitu persiapan, pelaksanaan teknis dan tahap akhir. Tahap persiapan meliputi penentuan obyek penelitian, mempersiapkan program kerja serta persiapan pembelian alat dan bahan. Tahap teknis pelaksanaan meliputi pembuatan ekstrak sebagai sampel, pemberian sampel kepada hewan uji, dalam hal ini mencit putih satu galur yang sebelumnya telah dijadikan hiperkolesterolemia yaitu kondisi dimana kadar kolesterol mencit melebihi kadar normal, dengan memberikan kuning telur ayam pedaging selama 7 hari berturut-turut, namun sebelum diberikan induksi kolesterol, mencit harus diukur terlebih dahulu kadar kolesterol normalnya. Kadar kolesterol mencit akan diperiksa dengan menggunakan cholesterol test, selanjutnya dipantau pada pemberian ekstrak dan obat antikolesterol sintetis.

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan hasil ekstraksi etanol biji buah rambutan. Hasil ekstrak diperoleh dengan menggunakan metode soxhletasi dan hasilnya akan dibagi menjadi 3 dosis. Menurut Setiawan Dalimartha, 2003, 5 biji buah rambutan mampu mengatasi hiperglikemi, namun karena biji buah rambutan ini akan digunakan pada mencit yang hiperkolesterolemia, maka kami menggunakan dosis yang lebih tinggi yaitu sebanyak 10 biji buah rambutan seberat 2 gram tiap bijinya. Dosis untuk manusia yang diberikan sebesar 20 gram biji buah rambutan.

Dosis tersebut dikonversi untuk dosis mencit menjadi 0,052 g/ 20 g BB atau sebanyak 52 mg/mencit. Tiga dosis terbagi yang akan diberikan pada mencit antara lain : 26 mg/mencit, 52 mg/mencit dan 104 mg/mencit.

Prosedur selanjutnya, kadar kolesterol akan diukur pada hari ke-8. Mulai hari ke-8 kelompok dosis diberi ekstrak biji buah rambutan, sedangkan kelompok kontrol positif diberikan Gemfibrozil dan pada kontrol negatif hanya diberikan aquadest. Pemberian ekstrak biji buah rambutan, obat Gemfibrozil serta aquadest dilakukan selama 7 hari berturut-turut diberikan secara oral. Kemudian pada hari ke-15 kadar kolesterol darah mencit diukur menggunakan choleseterol test.

2. Lokasi dan waktu penelitian

a. Lokasi Penelitian

Program PKMP yang akan dilakukan melalui beberapa tahapan prosedur, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap akhir. Tahap persiapan mencakup penentuan dosis mencit yang memiliki berat badan yang berbeda dengan penimbangan berat mencit, lalu tahap pelaksanaan meliputi pelaksanaan penelitian dilakukan di dalam laboratorium farmakologi Akademi Farmasi Putra Indonesia.

Pembuatan ekstrak etanol biji buah rambutan dengan metode ekstraksi soxhletasi akan dilakukan di laboratorium famakognosi Akademi Farmasi Putra Indonesia.

b. Waktu Penelitian

Pelaksanaan program penelitian yang meliputi tahapan persiapan, pelaksanaan dan tahap akhir termasuk di dalamnya tahapan analisa akan dilaksanakan selama 4 bulan, setelah program disetujui.

3. Definisi operasional variabel

Pada penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan variable terikat. Variable bebas dalam penelitian ini adalah ekstrak etanol biji buah rambutan (Nephelium lappaceum) dan variable terikat dalam penelitian ini adalah kadar kolesterol darah pada mencit.

4. Instrumen penelitian

Untuk mengetahui pengaruh senyawa flavonoid, polifenol dan lemak pada biji buah rambutan (Nephelium lappaceum semen) terhadap penurunan kadar kolesterol darah pada mencit putih jantan digunakan instrument penelitian yaitu metode eksperimental. Untuk memperlancar penelitian dibutuhkan peralatan dan bahan, antara lain:

Alat yang digunakan antara lain : Perangkat soxhletasi, Blood lancet, Jarum suntik oral (sonde), Cholesterol test, Streep test cholesterol test, Kandang mencit, Kapas.

Bahan yang dibutuhkan antara lain : Kuning telur ayam, Serbuk biji buah rambutan, Pelarut biji buah rambutan (etanol), Makanan mencit, Gemfibrozil, Suspending agent, Aquadest.

5. Pengumpulan Data

a. Penentuan objek penelitian

Objek penelitian adalah mencit putih (Mus musculus) jantan, sehat, belum pernah digunakan dalam penelitian serta telah dikondisikan untuk perlakuan uji dengan bobot berkisar 22-25 gram. Pemilihan diambil dalam keturunan yang sama, sehingga mampu mengurangi kesalahan analisa.

b. Persiapan sampel

Sampel yang digunakan dalam program penelitian ini adalah ekstrak etanol biji buah rambutan (Nephelium lappaceum). Biji buah rambutan yang digunakan adalah yang berasal dari varietas binjei dan warna buah merah (masak) berumur sekitar 1-2 bulan. Ekstrak akan dibagi menjadi 3 dosis yaitu 26 mg/mencit (dosis I), 52 mg/mencit (dosis II), dan 104 mg/mencit (dosis III). Tiap hari dimulai pada hari ke-9 selama 7 hari berturut-turut akan selalu dilakukan kontrol kolesterol darah mencit pada masing-masing kelompok beserta replikasinya. Prosedur pembuatan sampel yang akan dilakukan yaitu :

1. Mempersiapkan alat dan bahan

2. Mengumpulkan biji buah rambutan dan dilakukan sortasi

3. Merajang biji buah rambutan hingga menjadi serbuk

4. Menyiapkan pelarut etanol sebagai pelarut zat aktif pada serbuk biji buah rambutan

5. Merangkai perangkat soxhletasi

6. Menyiapkan hasil ekstrak untuk diujikan pada hewan

6. Prosedur Penelitian

1. Dipilih 17 mencit yang memenuhi persyaratan untuk dibagi menjadi 3 kelompok dosis dengan masing-masing memiliki 5 replikasi dan dua mencit lainnya sebagai kontrol positif dan kontrol negative

2. Kelompok kontrol hanya diberikan satu replikasi pada masing –masing kelompok kontrol.

Kelompok kontrol positif diberikan obat sintetis penurun kolesterol secara oral

Kelompok kontrol negatif diberikan eksudan yaitu obat yang tidak menimbulkan reaksi hanya sebagai placebo saja.

Tabel Perhitungan Kadar Kolesterol pada t = 0,1,2,3

Data Perlakuan Analisa Mencit (Σ Kolesterol Total Darah)

Mencit

0

1

2

3

4

Kelompok Uji Ekstrak etanol Biji Buah Rambutan

Dosis 26 mg/mencit






Dosis 52 mg/mencit






Dosis 104 mg/mencit






Kelompok Kontrol

Kontrol (+) Gemfibrozil






Kontrol (-) Aquadest






3. Flowchart: Punched Tape: Uji Kolesterol (t = 0)Diagram Alir Prosedur Penelitian

Up Arrow Callout: Analisa Hasil Hewan UJi

7. Analisa Data

Data hasil pengujian ekstrak yang diperoleh selanjutnya dibuat dalam bentuk grafik penurunan kolesterol. Hasil akhir dari analisa itu akan menunjukkan dosis perbedaan yang terbaik dari ekstrak tersebut. Semakin kecil dosis yang diperlukan, aktivitas yang ditunjukkan semakin baik.

I. JADWAL KEGIATAN

NO

KEGIATAN

BULAN ke-I

BULAN ke-II

BULAN ke-III

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

I

Persiapan













1

Persiapan literature













2

Koordinasi program kerja













3

Pembelian alat dan bahan













4

Pembelian hewan uji filial













5

Adaptasi hewan uji













6

Evaluasi akhir persiapan













II

Pelaksanaan













1

Briefing tim pelaksana kegiatan













2

Pelaksanaan penelitian













3

Penulisan tiap data pengamatan













4

Koordinasi data pengamatan pada pembimbing













5

Evaluasi akhir pelaksanaan













III

Penyusunan Laporan













1

Pengumpulan data













2

Analisa data













3

Koordinasi hasil analisa pada pembimbing













4

Evaluasi akhir pelaporan













5

Penyusunan laporan akhir













J. RANCANGAN BIAYA

NO

ITEM

HARGA PER UNIT

JUMLAH

TOTAL

I

Alat





Cholesterol test

Rp 680,000

1 unit

Rp 680,000


Test strip cholesterol

Rp 150,000

3 unit

Rp 450,000


Blood lancet

Rp 3,000

10

Rp 30,000


Jarum suntik tumpul (sonde)

Rp 20,000

7 unit

Rp 140,000


Kapas

Rp 5,000

5 pack

Rp 25,000


Kandang mencit

Rp 60,000

5 unit

Rp 300,000


Tempat minum mencit

Rp 10,000

6 unit

Rp 60,000


Masker

Rp 3,000

1 pack

Rp 36,000


Penutup kepala

Rp 5,000

5 unit

Rp 25,000


Handskun

Rp 6,000

10 unit

Rp 60,000


Penahan mulut mencit

Rp 8,000

5 unit

Rp 40,000

II

Bahan





Kuning telur ayam pedaging

Rp 20,000

2 kg

Rp 40,000


Biji buah rambutan

-

-

Rp 400,000


Obat sintetis antikolesterol (Gemfibrozil) merk Hypofil

Rp 10,000

3

Rp 30,000


Aquadest

Rp 5,000

5 liter

Rp. 25,000


Suspending agent

Rp 85,000

500 gr

Rp 85,000


Hewan mencit filial

Rp 25,000

25

Rp 625,000


Makanan mencit

Rp 5,000

10

Rp 50,000

III

Pelaksanaan





Sewa laboratorium farmakologi

Rp 200,000

4 bulan

Rp 800,000


Sewa laboratorium farmakognosi

Rp 200,000

4 bulan

Rp 800,000


Sewa alat soxhletasi

Rp 100,000

2

Rp 200,000


Komunikasi

Rp 30,000

5

Rp 150,000


Transportasi

Rp 50,000

5

Rp 250,000

IV

Analisa





Uji analisa Anova dan uji t

Rp 500,000

-

Rp 500,000

V

Administrasi





Tinta Epson T27

Rp 130,000

2

Rp 260,000


Kertas A4

Rp 40,000

2

Rp 80,000


ATK

Rp 50,000

1

Rp 50,000


Penulisan laporan

Rp 150,000

1

Rp 150,000

VI

Dokumentasi





Sewa handycam

Rp 500,000

4 bulan

Rp 500.000

Total



Rp 6,841,000

K. DAFTAR PUSTAKA

Yoshihide Yamanashi, Tappei Takada and Hiroshi Suzuki. (Japan: November 2006 ) Niemann-Pick C1-Like 1 Overexpression Facilitates Ezetimibe-Sensitive Cholesterol and β-Sitosterol Uptake in CaCo-2 Cells. JPET(The Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics) February 2007 vol. 320 no. 2 559-564

Huige Li, Ning Xia, Isolde Brausch, Ying Yao and Ulrich Förstermann (Germany: 2004). ‘Flavonoids from Artichoke (Cynara scolymus L.) Up-Regulate Endothelial-Type Nitric-Oxide Synthase Gene Expression in Human Endothelial Cells’, JPET(The Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics)vol. 310 no. 3 926-932

Asrianti, M., Ruslan, K.& Nawawi, A. (2006). ‘Telaah Fitokimia Biji Rambutan (Nephelium lappaceum L.), http://bahan-alam.fa.itb.ac.id

Rukmana, H. Rahmat & Yuyun Yuniarsih O, S.P., M.B.A.,M.M. Rambutan : Komoditas Unggulan dan Prospek Agribisnis. 2002. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Dalimartha ,Setiawan, Dr. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3. 2003. Jakarta: Puspa Sehat

Kusumawati, Diah, Bersahabat dengan Hewan Coba, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2004

Kalie, Moehd Baga. Budidaya Rambutan Varietas Unggul. 1994. Yogyakarta: Kanisius

L. Lampiran 1. Biodata Ketua Kelompok, Anggota dan Dosen Pendamping

Ketua Kelompok

1. Nama : Alin Diliyanti

Nim : 08.003

Tempat, tanggal lahir : Dili, 27 Juni 1990

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jalan Kalimasada II no 18, Malang

Anggota

1. Nama : Aidha Nur Fanany

Nim : 08.001

Tempat, tanggal lahir : Sidoarjo, 6 Mei 1989

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jalan Kapuas no 09, Malang

2. Nama : Endah Sih Wulandari

Nim : 08.025

Tempat, tanggal lahir : Malang, 12 Desember 1989

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jalan Mangga 1 no 05, Pandaan

3. Nama : Evy Octafiana

Nim : 09.010

Tempat, tanggal lahir : Malang, 31 Oktober 1990

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jalan Raya Poncokusumo No 514, Poncokusumo-Malang

4. Nama : Widari Wahyuning Tyas

Nim : 09.032

Tempat, tanggal lahir : Malang, 18 Mei 1991

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jalan Adiwijaya Rt 02 Rw 03 Bangsri, Malang

Dosen Pendamping

Nama : Lailiiyatus Syafah

Nim :

Tempat, tanggal lahir :

Jenis Kelamin :

Agama :

Alamat :

PENELITIAN

Mau?

afferinte.com

MERAIH RUPIAH KLIK INI

Join in Here