BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan kebutuhan pokok bagi seluruh rakyat Indonesia dimana kesehatan adalah kebutuhan yang harus dimiliki seluruh bangsa tujuan dan cita-cita sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Pembangunan Kesehatan diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
Dalam penyelenggaraan upaya kesehatan diatur sedemikian rupa oleh pemerintah namun pelaksaannya dilakukan bersama-sama oleh pemerintah dan masyarakat secara serasi dan seimbang, terutama melalui upaya peningkatan dan pencegahan yang dilakukan secara terpadu dengan upaya penyembuhan dan pemulihan yang diperlukan. Dengan demikian upaya kesehatan diselenggarakan dalam suatu tatanan terbuka dan bersifat dinamis, dengan tujuan tercapainya kemampuan setiap penduduk untuk hidup sehat.
Masyarakat diarahkan untuk dapat hidup sehat yang optimal hal tersebut dimaksudkan dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang diselenggarakan dengan menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Penyelenggaraan upaya kesehatan tersebut harus dilakukan bersama antara pemerintah, swasta dan masyarakat secara serasi dan seimbang. Kemampuan setiap penduduk untuk hidup sehat membawa pengertian masyarakat sebagai subyek dan bukan hanya sebagai obyek. Dengan demikian upaya kesehatan merupakan upaya yang berorientasi kepada kesehatan masyarakat yang bersifat menyeluruh dengan peran serta aktif masyarakat.
Sudah ratusan tahun lalu, manusia mengetahui adanya”quinta essentia” yang terdapat dalam tumbuhan, hewan dan mineral. Disamping quinta essentia yang bermanfaat bagi manusia, terdapat banyak zat-zat yang hanya diperlukan bagi kehidupan tumbuhan dan hewan sendiri. Manusia hanya memerlukan quinta essentia, mereka berusaha untuk memisahkannya dari tumbuhan dan hewan tersebut.
Pada tahun 1300 Raymundus Lullius menarik quinta essentia dengan anggur yang dimasukkan dalam botol, dan dibiarkan diluar rumah agar memperoleh panas atau cahaya matahari. Karena cahaya matahari mengandung ultra violet yang dapat merusak quinta essentia tersebut, maka pada perbaikan selanjutnya penarikan dijaga jangan sampai dipengaruhi oleh sinar matahari langsung. Di Indonesia penarikan sari tersebut dilakukan dengan cara ”memipis” yaitu melumatkan bahan dengan bantuan air, pada alat yang disebut pipisan kemudian diperas dan ampasnya di buang.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan ekstraksi?
1.2.2 Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi ekstraksi?
1.2.3 Apa saja macam-macam ekstraksi?
1.2.4 Bagaimana tahap-tahap melakukan ekstraksi?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui tentang ekstraksi
1.3.2 Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi ekstraksi
1.3.3 Untuk mengetahui macam-macam ekstraksi
1.3.4 Untuk mengetahui tahapan dalam melakukan ekstraksi
BAB II
DASAR TEORI
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan padat dan cair (misalnyabahan alami)tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis atau termis yang telah dibicarakan. Misalnya saja,karena komponennya saling bercampur secara sangat erat, peka terhadap panas,beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah.
Dalam hal semacam. itu, seringkali ekstraksi adalah satu-satunya proses yang dapat digunakan atau yang mungkin paling ekonomis. Sebagai contoh pembuatan ester (essence) untuk bau-bauan dalam pembuatan sirup atau minyak wangi, pengambilan kafein dari daun teh, biji kopi atau biji coklat dan yang dapat dilihat sehari-hari ialah pelarutan komponen-komponen kopi dengan menggunakan air panas dari biji kopi yang telah dibakar atau digiling.
Factor yang mempengaruhi kecepatan penyarian adalah kecepatan difusi zat yang larut melalui lapisan-lapisan batas antara cairan penyari dengan bahan yang mengandung zat tersebut.
Penyiapan bahan yang akan diekstrak dan pelarut
Pelarut/Cairan penyari
Pelarut merupakan senyawa yang bisa melarutkan zat sehingga bisa menjadi sebuah larutan yang bisa diambil sarinya.Pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi antara lain sebagai berikut:
a. Pelarut polar : Pelarut yang larut dalam air
Untuk melarutkan garamnya alkaloid,glikosida,dan bahan penyamak
Tabel Pelarut Polar
Pelarut Rumus Kimia Titik didih Konstanta Dielektrik Massa jenis
1,4-Dioksana
/-CH2-CH2-O-CH2-CH2-O-\ 101 °C 2.3 1.033 g/ml
Tetrahidrofuran (THF)
/-CH2-CH2-O-CH2-CH2-\ 66 °C 7.5 0.886 g/ml
Diklorometana (DCM)
CH2Cl2 40 °C 9.1 1.326 g/ml
Asetona
CH3-C(=O)-CH3 56 °C 21 0.786 g/ml
Asetonitril (MeCN) CH3-C≡N 82 °C 37 0.786 g/ml
Dimetilformamida (DMF)
H-C(=O)N(CH3)2 153 °C 38 0.944 g/ml
Dimetil sulfoksida (DMSO) CH3-S(=O)-CH3 189 °C 47 1.092 g/ml
Asam asetat
CH3-C(=O)OH 118 °C 6.2 1.049 g/ml
n-Butanol
CH3-CH2-CH2-CH2-OH 118 °C 18 0.810 g/ml
Isopropanol (IPA) CH3-CH(-OH)-CH3 82 °C 18 0.785 g/ml
n-Propanol
CH3-CH2-CH2-OH 97 °C 20 0.803 g/ml
Etanol
CH3-CH2-OH 79 °C 30 0.789 g/ml
Metanol
CH3-OH 65 °C 33 0.791 g/ml
Asam format
H-C(=O)OH 100 °C 58 1.21 g/ml
Air
H-O-H 100 °C 80 1.000 g/ml
b. Pelarut non polar : Pelarut yang tidak larut dalam air
Untuk melarutkan minyak atsiri
Pelarut Non-Polar
Pelarut Rumus kimia
Titik didih
Konstanta Dielektrik
Massa jenis
Heksana
CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3 69 °C 2.0 0.655 g/ml
Benzena
C6H6 80 °C 2.3 0.879 g/ml
Toluena
C6H5-CH3 111 °C 2.4 0.867 g/ml
Dietil eter
CH3CH2-O-CH2-CH3 35 °C 4.3 0.713 g/ml
Kloroform
CHCl3 61 °C 4.8 1.498 g/ml
Etil asetat
CH3-C(=O)-O-CH2-CH3 77 °C 6.0 0.894 g/ml
Pemilihan pelarut atau cairan penyari harus mempertimbangkan banyak faktor. Cairan penyari yang baik harus memenuhi criteria berikut ini:
a.Murah dan mudah diperoleh
b.Stabil secara fisika dan kimia
c.Bereaksi netral
d.Tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar
e.Selektif yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki
f.Tidak mempengaruhi zat berkhasiat
Untuk ekstraksi ini Farmakope Indonesia menetapkan bahwa sebagai cairan penyari adalah air,etanol,etanol – air atau eter.Pengekstraksian pada perusahaan obat tradisional masih terbatas pada penggunaan cairan penyari air, etanol atau etanol – air.
1. Air
Air dipertimbangkan sebagai penyari karena:
1. Murah dan mudah diperoleh
2. Stabil
3. Tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar
4. Tidak beracun
5. Alamiah
Kerugian penggunaan air sebagai penyari:
1. Tidak selektif
2. Sari dapat ditumbuhi kapang dan kuman serta cepat rusak
3. Untuk pengeringan diperlukan waktu lama
Air disamping melarutkan garam alkaloid, minyak menguap, glikosida, tanin dan gula, juga melarutkan gom, pati, protein, lendir, enzim, lilin, lemak, pectin, zat warna dan asam organic. Dengan demikian penggunaan air sebagai cairan penyari kurang menguntungkan. Disamping zat aktif ikut tersari juga zat lain yang tidak diperlukan atau malah mengganggu proses pembuatan sari seperti gom, pati, protein, lemak, enzim, lendir dan lain-lain.
Air merupakan tempat tumbuh bagi kuman, kapang dan khamir, karena itu pada pembuatan sari dengan air harus ditambah zat pengawet. Air dapat melarutkan enzim. Enzim yang terlarut dengannya air akan menyebabkan reaksi enzimatis, yang mengakibatkan penurunan mutu. Disamping itu adanya air akan mempercepat proses hidrolisa.Untuk memekatkan sari air dibutuhkan waktu dan bahan bakar lebih banyak bila dibandingkan dengan etanol.
2. Etanol
Etanol dipertimbangkan sebagai penyari karena:
1. Lebih selektif
2. Kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol 20% keatas
3. Tidak beracun
4. Netral
5. Absorbsinya baik
6. Etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan
7. Panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit.
Sedang kerugiannya adalah bahwa etanol mahal harganya.Etanol dapat melarutkan alkaloida basa, minyak menguap, glikosida, kurkumin, kumarin, antrakinon, flavonoid, steroid, dammar dan klorofil. Lemak, malam, tannin, dan saponin hanya sedikit larut hanya terbatas.
Untuk meningkatkan penyarian biasanya digunakan campuran antara etanol dan air. Perbandingan jumlah etanol dan air tergantung pada bahan yang akan disari. Dari pustaka akan dapat ditelusuri kandungannya baik zat aktif maupun zat lainnya. Dengan diketahuinya kandungan tersebut dapat dilakukan beberapa percobaan untuk mencari perbandingan pelarut yang tepat.
Selektivitas
Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan komponen-komponen lain dari bahan ekstraksi. Dalam praktek,terutama pada ekstraksi bahan-bahan alami, sering juga bahan lain (misalnya lemak, resin) ikut dibebaskan bersama-sama dengan ekstrak yang diinginkan. Dalam hal itu larutan ekstrak tercemar yang diperoleh harus dibersihkan, yaitu misalnya diekstraksi lagi dengan menggunakan pelarut kedua.
Kelarutan
Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang besar (kebutuhan pelarut lebih sedikit).
Kemampuan tidak saling bercampur
Pada ekstraksi cair-cair, pelarut tidak boleh (atau hanya secara terbatas) larut dalam bahan ekstraksi.
Kerapatan
Terutama pada ekstraksi cair-cair, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dan bahan ekstraksi. Hal ini dimaksudkan agar kedua fasa dapat dengan mudah dipisahkan kembali setelah pencampuran (pemisahan dengan gaya berat). Bila beda kerapatannya kecil, seringkali pemisahan harus dilakukan dengan
menggunakan gaya sentrifugal (misalnya dalam ekstraktor sentrifugal).
Reaktivitas
Pada umumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada komponenkornponen bahan ekstarksi. Sebaliknya, dalam hal-hal tertentu diperlukan adanya reaksi kimia (misalnya pembentukan garam) untuk mendapatkan selektivitas yang tinggi. Seringkali Ekstraksi juga disertai dengan reaksi kimia. Dalam hal ini bahan yang akan dipisahkan mutlak harus berada dalam bentuk larutan.
Titik didih
Karena ekstrak dan pelarut biasanya harus dipisahkan dengan cara penguapan, destilasi atau rektifikasi, maka titik didit kedua bahan itu tidak boleh terlalu dekat, dan keduanya tidak membentuk ascotrop.Ditinjau dari segi ekonomi, akan menguntungkan jika pada proses ekstraksi titik didih pelarut tidak terlalu tinggi (seperti juga halnya dengan panas penguapan yang rendah).
MACAM-MACAM EKSTRAKSI
A. Ekstraksi Cair-Cair
Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala besar misalnya untuk memperoleh vitamin, antibiotika, bahan-bahan penyedap, produk-produk minyak bumi dan garam-garam. logam. Proses inipun digunakan untuk membersihkan air limbah dan larutan ekstrak hasil ekstraksi padat cair.
Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara destilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaltu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut, dan pemisahan kedua fasa cair itu sesempurna mungkin.
Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu ekstrak meninggalkan pelarut yang pertarna (media pembawa) dan masuk ke dalam pelarut kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi dan pelarut tidak. saling melarut (atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar terjadi perpindahan masa yang baik yang berarti performansi ekstraksi yang besar haruslah diusahakan agar terjadi bidang kontak yang seluas mungkin di antara kedua cairan tersebut. Untuk itu salah satu cairan distribusikan menjadi tetes-tetes kecil (misalnya dengan bantuan perkakas pengaduk).
Tentu saja pendistribusian ini tidak boleh terlalu jauh, karena akan menyebabkan terbentuknya emulsi yang tidak dapat lagi atau sukar sekali dipisah. Turbulensi pada saat mencampur tidak perlu terlalu besar. Yang penting perbedaan konsentrasi sebagai gaya penggerak pada bidang batas tetap ada. Hal ini berarti bahwa bahan yang telah terlarutkan sedapat mungkin segera disingkirkan dari bidang batas. Pada saat pemisahan, cairan yang telah terdistribusi menjadi tetes-tetes hanis menyatu kembali menjadi sebuah fasa homogen dan berdasarkan perbedaan kerapatan yang cukup besar dapat dipisahkan dari cairan yang lain.
Kecepa tan Pembentukan fasa homogen ikut menentukan output sebuah ekstraktor cair-cair. Kuantitas pemisahan persatuan waktu dalam hal ini semakin besar jika permukaan lapisan antar fasa di dalam alat semakin luas. Sama haInya seperti pada ekstraksi padat-cair, alat ekstraksi tak kontinu dan kontinu yang akan dibahas berikut ini seringkali merupakan bagian dari suatu instalasi lengkap.
Instalasi tersebut biasanya terdiri atas ekstraktor yang sebenarnya (dengan zone-zone pencampuran dan pemisahan) dan sebuah peralatan yang dihubungkan di belakangnya (misalnya alat penguap, kolom rektifikasi) untuk mengisolasi ekstrak atau memekatkan larutan ekstrak dan mengambil kembali pelarut.
B.EKSTRAKSI PADAT-CAIR
Ekstraksi padat-cair tak kontinu
Dalam hal yang paling sederhana bahan ekstraksi padat dicampur beberapa kali dengan pelarut segar di dalam sebuah tangki pengaduk. Larutan ekstrak yang terbentuk setiap kali dipisahkan dengan cara penjernihan (pengaruh gaya berat) atau penyaringan (dalam sebuag alat yang dihubungkan dengan ekstraktor). Proses ini tidak begitu ekonomis,digunakan misalnya di tempat yang tidak tersedia ekstraktor khusus atau bahan ekstraksi tersedia dalam bentuk serbuk sangat halus,sehingga karena bahaya penyumbatan,ekstraktor lain tidak mungkin digunakan.
Ekstraktor yang sebenamya adalah tangki-tangki dengan pelat ayak yang dipasang di dalamnya. Pada alat ini bahan ekstraksi diletakkan diatas pelat ayak horisontal. Dengan bantuan suatu distributor, pelarut dialirkan dari atas ke bawah. Dengan perkakas pengaduk (di atas pelat ayak) yang dapat dinaikturunkan, pencampuran seringkali dapat disempurnakan,atau rafinat dapat dikeluarkan dari tangki setelah berakhirnya ekstraksi. Ekstraktor semacarn ini hanya sesuai untuk bahan padat dengan partikel yang tidak terlalu halus.
Yang lebih ekonomis lagi adalah penggabungan beberapa ekstraktor yang dipasang seri dan aliran bahan ekstraksi berlawanan dengan aliran pelarut.Dalam hal ini pelarut dimasukkan kedalam ekstraktor yang berisi campuran yang telah mengalami proses ekstraksi paling banyak. Pada setiap ekstraktor yang dilewati, pelarut semakin diperkaya oleh ekstrak.Pelarut akan dikeluarkan dalam konsentrasi tinggi dari ekstraktor yang berisi campuran yang mengalami proses ekstraksi paling sedikit. Dengan operasi ini pemakaian pelarut lebih sedikit dan konsentrasi akhir dari larutan ekstrak lebih tinggi.
Cara lain ialah dengan mengalirkan larutan ekstrak yang keluar dari pelat ayak ke sebuah ketel destilasi, menguapkan pelarut di situ, menggabungkannya dalam sebuah kondenser dan segera mengalirkannya kembali ke ekstraktor untuk dicampur dengan bahan ekstraksi.Dalam ketel destilasi konsentrasi larutan ekstrak terus menerus meningkat.Dengan metode ini jumlah total pelarut yang diperlukan relatif kecil.Meskipun demikian, selalu terdapat perbedaan konsentrasi ekstrak yang maksimal antara bahan ekstraksi dan pelarut. Kerugiannya adalah pemakaian banyak energi karena pelarut harus diuapkan secara terus menerus.
Pada ekstraksi bahan-bahan yang peka terhadap suhu terdapat sebuah bak penampung sebagai pengganti ketel destilasi.Dari bak tersebut larutan ekstrak dialirkan ke dalam alat penguap vakum (misalnya alat penguap pipa atau film). Uap pelarut yang terbentuk kemudian dikondensasikan,pelarut didinginkan dan dialirkan kem bali ke dalam ekstraktor dalam keadaan dingin.
Ekstraksi padat-cair kontinyu
Cara kedua ekstraktor ini serupa dengan ekstraktor-ekstraktor yang dipasang seri, tetapi pengisian, pengumpanan pelarut dan juga pengosongan berlangsung secara otomatik penuh dan terjadi dalam sebuah alat yang sama. Oleh Pengumpanan karena itu dapat diperoleh output yang lebih besar dengan jumlah kerepotan yang lebih sedikit. Tetapi karena biaya untuk peralatannya besar,ekstraktor semacam itu
kebanyakan hanya digunakan untuk bahan ekstraksi yang tersedia dalam kuantitas besar (misalnya biji-bijian minyak, tumbuhan). Dari beraneka ragarn konstruksi alat ini, berikut akan di bahas ekstraktor keranjang (bucket-wheel extractor) dan ekstraktor sabuk (belt extractor).
Ekstraktor keranjang
Pada ekstraktor keranjang (keranjang putar rotary extractor), bahan ekstraksi terus menerus dimasukkan ke dalam sel-sel yang berbentuk juring (sektor) dari sebuah rotor yang berputar lambat mengelilingi poros.Bagian bawah sel-sel ditutup oleh sebuah pelat ayak. Selama satu putaran, bahan padat dibasahi dari arah berlawanan oleh pelarut atau larutan ekstrak yang konsentrasinya meningkat. Pelarut atau larutan 287 tersebut dipompa dari sel ke sel dan disiramkan ke atas bahan padat. Akhirnya, bahan dikeluarkan dan keseluruhan proses ini berlangsung secara otomatik.
INFUDASI
Infuse adalah sediaan cair yang di buat dengan menyari simplisia dengan air pada suhu 900 selama 15 menit.
Infudasi adalah proses penyarian yang umumnya digunakan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dan bahan-bahan nabati. Penyarian dengan cara ini menghasikan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu, sari yang diperoleh dengan cara ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam.
Cara ini sangat sederhana dan sering digunakan oleh perusahaan obat tradisional. Dengan beberapa modifikasi, cara ini sering digunakan untuk membuat ekstrak.
Infus dibuat dengan cara :
1. Membasahi bahan bakunya, biasanya dengan air 2 kali bobot bahan, untuk bunga 4 kali bobot bahan dan untuk karagen 10 kali bobot bahan.
2. Bahan baku ditambah dengan air dan dipanaskan selama 15 menit pada suhu 900 – 980C. Umumnya untuk 100 bagian sari diperlukan 10 bagian bahan. Pada simplisia tertentu tidak diambilo 10 bagian bahan. Hal ini di sebabkan karena:
a. Kandungan simplisia kelarutannya terbatas, misalnya kulit kina digunakan 6 bagian.
b. Disesuaikan dengan cara penggunaannya dalam pengobatan, misalnya daun kumis kucing, sekali minum infuse 100cc karena itu diambil 1/2 bagian.
c. Berlendir, misalnya karagen digunakan 11/2 bagian
d. Daya kerjanya keras, misalnya digitalis digunakan 1/2 bagian.
3. Untuk memindahkan penyarian kadang-kadang perlu ditambah bahan kimia misalnya:
a. Asam sitrat untuk infuse kina
b. Kalium atau Natrium karbonat untuk infuse kelembak
4. Penyaringan dilakukan pada saat cairan masih panas, kecuali bahan yang mengandung bahan yang mudah menguap.
Simplisia yang digunakan untuk pembuatan infuse harus mempunyai derajat kehalusan tertentu.
a. Derajat kahalusan (2/3), misalnya :
Daun kumis kucing
Daun sirih
Akar manis
b. Derajat kehalusan (3/6), misalnya :
Rimpang jeringau
Akar kelembak
c. Derajat kehalusan (6/8), misalnya :
Rimpang lengkuas
Rimpang temulawak
Rimpang jahe
d. Derajat kehalusan (8/24), misalnya :
Kulit kina
MASERASI
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding seldan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dank arena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dsalam sel dengan yang diluar sel,maka larutan yang terpekat didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan diluar sel dengan larutan di dalam sel.
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dan lain-lain.
Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencegah timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada awal penyarian.
Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan sederhana dan mudah diusahakan.
Kerugian cara maserasi adalah pengerjaanya lama,dan penyariannya kurang sempurna.
Maserasi dapat dilakukan modifikasi misalnya :
1. Digesti
Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu 400 - 500C. Cara maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap pemanasan. Dengan pemnasan diperoleh keuntungan antara lain:
a. Kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya lapisan-lapisan batas.
b. Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga pemanasan tersebut mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan.
c. Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolute dan berbanding terbalik dengan kekentalan, sehingga kenaikan suhu akan berpengaruhpada kecepatan difusi. Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan.
d. Jika cairan penyari mudah menguap pada suhu yang digunakan, maka perlu dilengkapi dengan pendingin balik, sehingga cairan akan menguap kembali ke dalam bejana.
2. Maserasi dengan Mesin Pengaduk
Penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus-menerus, waktu proses maserasi dapat dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam.
3. Remaserasi
Cairan penyari dibagi menjadi 2. Seluruh serbuk simplisia di maserasi dengan cairan penyari pertama, sesudah dienap tuangkan dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan penyari yang kedua.
4. Maserasi Melingkar
Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan penyari selalu bergerak dan menyebar. Dengan cara ini penyari selalu mengalir kembali secara berkesinambungan melalui sebuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya.
5.Maserasi Melingkar Bertingkat
Pada maserasi melingkar, penyarian tidak dapat dilaksanakan secara sempurna, karena pemindahan massa akan berhenti bila keseimbangan telah terjadi masalah ini dapat diatasi dengan maserasi melingkar bertingkat (M.M.B), yang akan didapatkan :
a.Serbuk simplisia mengalami proses penyarian beberapa kali, sesuai dengan bejana penampung. Pada contoh di atas dilakukan 3 kali, jumlah tersebut dapat diperbanyak sesuai dengan keperluan.
b.Serbuk simplisia sebelum dikeluarkan dari bejana penyari, dilakukan penyarian dengan cairan penyari baru. Dengan ini diharapkan agar memberikan hasil penyarian yang maksimal
c.Hasil penyarian sebelum diuapkan digunakan dulu untuk menyari serbuk simplisia yang baru,hingga memberikan sari dengan kepekatan yang maksimal.
d.Penyarian yang dilakukan berulang-ulang akan mendapatkan hasil yang lebih baek daripada yang dilakukan sekalidengan jimlah pelarut yang sama.
PERKOLASI
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain: gaya berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adesi, daya kapiler dan daya geseran (friksi). Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi karena:
a.Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.
b.Ruangan diantara serbuk-serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari.karena kecilnya saluran kapiler tersebut,maka kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan batas,sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.
Reperkolasi
Untuk menghindari kehilangan minyak atsiri pada pembuatan sari,maka cara perkolasi diganti dengan cara reperkolasi. Pada perkolasi dilakukan pemekatan sari dengan pemanasan pada reperkolaso tidak dilakukan pemekatan. Reperkolasi dilakukan dengan cara sinplisia dibagi dalam beberapa percolator.
Perkolasi Bertingkat
Dalam proses perkolasi biasa,perkolat yang dihasilkan tidak dalam kadar yang maksimal. Selama cairan penyari melakukan penyarian serbuk simplisia , maka terjaji aliran melalui lapisan serbuk dari atas sampai ke bawah disertai pelarutan zat aktifnya. Proses poenyaringan tersebut aakan menghasilkan perkolat yang pekat pada tetesanm pertama dan terakhir akan diperoleh perkolat yang encer.
Untuk memperbaiki cara perkolasi tersebut dialkukan cara perkolasi bertingkat. Serbuk simplisia yang hampir tersari sempurna sebelum dibuang ,disari dengan cairan penyari ang baru. Hal ini diharapkan gar serbuk simplisia tersebut dapat tersari sempurna. Sebaliknya sewrbuk simplisia yang baru disari dengan perkolat yang hampir jenuh, dengan denikian akan diperoleh perkolat akhir yang jernih. Perkolat dipisahkan dan dipekatkan.
Cara ini cocok bila digunakan untuk perusahaan obat tradisional,termasuk perusahaan yang memproduksi sediaan galenik. Agar dioperoleh cara yang tepat, perlu dilakukan percobaan pendahuluan. Dengan percobaan tersebut dapat ditetapkan :
1.Jumlah percolator yang diperlukan
2.Bobot serbuk simplisia untuk tiap kali perkolasi
3.Jenis cairan penyari
4.Jumlah cairan penyari untuk tiap kali perkolasi
5.Besarnya tetesan dan lain-lain.
Percolator yang digunakan untuk cara perkolasi ini agak berlainan dengan percolator biasa. Percolator ini harus dapat diatur, sehingga:
1.Perkolat dari suatu percolator dapat dialirkan ke percolator lainnya
2.Ampus dengan mudah dapat dikeluarkan.
Percolator diatur dalam suatu deretan dan tiap percolator berlaku sebagai percolator pertama.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 ALAT DAN BAHAN
3.1.1 Alat
Infudasi:
•Gelas ukur
•Tangas air
•Panci
Maserasi:
•Bejana
•Gelas ukur
•Alumunium foil
Perkolasi:
•Bejana silinder
•Sekat berpori
3.1.2 Bahan
•Serbuk simplisia
•Air
•Cairan penyari
3.2 CARA KERJA
Infudasi:
Simplisia yang telah dihaluskan sesuai dengan derajat kehalusan yang telah ditetapkan dicampur dengan air secukupnya dalam sebuah panci. Kemudian dipanaskan dalam tangas air selama 15 menit, dihitung mulai suhu dalam panci mencapai 900C, sambil sekali-sekali diaduk. Infuse diserkai sewaktu masih panas melalui kain flannel. Untuk mencukupi kekurangan air, ditambahkan air mendidih melalui ampasnya. Infuse simplisia yang mengandung minyak atsiri harus diserkai setelah dingin. Infuse asam jawa dan simplisia yang berlendir tidak boleh diperas. Infuse kulit kina biasanya ditambah dengan asam sitrat sepersepuluh dari bobot simplisia. Asam jawa sebelum dipakai dibuang bijinya dan sebelum direbus dibuat massaseperti bubur. Buah adas dan dan buah adas manis dipecah terlebih dahulu.
Maserasi:
Maserasi pada umumnya dilakukan dengan cara: 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan ke dalam bejana, kemudian dituangi dengan 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya, sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 5 hari sari diserkai, ampas diperas. Ampas ditambah cairan penyari secukupnya diaduk dan diserkai, sehingga diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian. Bejana ditutup, biarkan ditempat sejuk, terlindung dari cahaya, selama 2 hari. Kemudian endapan dipisahkan.
Perkolasi:
Prinsip perkolasi adalah sebagai berikut: serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak kebawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan diatasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan:
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan padat dan cair (misalnyabahan alami)tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis atau termis yang telah dibicarakan. Misalnya saja,karena komponennya saling bercampur secara sangat erat, peka terhadap panas,beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah.
Infudasi adalah proses penyarian yang umumnya digunakan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dan bahan-bahan nabati. Penyarian dengan cara ini menghasikan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu, sari yang diperoleh dengan cara ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam.
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding seldan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dank arena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dsalam sel dengan yang diluar sel,maka larutan yang terpekat didesak keluar.
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain: gaya berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adesi, daya kapiler dan daya geseran (friksi).
CARA KERJA
Infudasi:
Simplisia yang telah dihaluskan sesuai dengan derajat kehalusan yang telah ditetapkan dicampur dengan air secukupnya dalam sebuah panci. Kemudian dipanaskan dalam tangas air selama 15 menit, dihitung mulai suhu dalam panci mencapai 900C, sambil sekali-sekali diaduk. Infuse diserkai sewaktu masih panas melalui kain flannel. Untuk mencukupi kekurangan air, ditambahkan air mendidih melalui ampasnya. Infuse simplisia yang mengandung minyak atsiri harus diserkai setelah dingin. Infuse asam jawa dan simplisia yang berlendir tidak boleh diperas. Infuse kulit kina biasanya ditambah dengan asam sitrat sepersepuluh dari bobot simplisia. Asam jawa sebelum dipakai dibuang bijinya dan sebelum direbus dibuat massaseperti bubur. Buah adas dan dan buah adas manis dipecah terlebih dahulu.
Maserasi:
Maserasi pada umumnya dilakukan dengan cara: 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan ke dalam bejana, kemudian dituangi dengan 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya, sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 5 hari sari diserkai, ampas diperas. Ampas ditambah cairan penyari secukupnya diaduk dan diserkai, sehingga diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian. Bejana ditutup, biarkan ditempat sejuk, terlindung dari cahaya, selama 2 hari. Kemudian endapan dipisahkan.
Perkolasi:
Prinsip perkolasi adalah sebagai berikut: serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak kebawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan diatasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan.
Saran
Dari pembahasan diatas diharapkan dapat mengaplikasikan prosedur-prosedur dari ekstraksi, serta diharapkan juga bagi penulis maupun pembaca dapat mengembangkan metode ekstraksi yang lebih baik ditinjau dari segi ekonomi serta kepraktisan dalam pembuatan serta pemakaian alat tanpa menghilangkan factor kualitas hasil dari ekstraksi.
Klik Here
Labels
- Alat Penelitian (1)
- Farmakogi (1)
- Formalin (1)
- healt (12)
- informasi (1)
- informasi kesehatan (24)
- Kosmetika (2)
- Medical (10)
- Obat Alami (1)
- Pharmacy (12)
- sains (33)
Blog Archive
-
▼
2012
(13)
- ► 07/15 - 07/22 (1)
- ► 07/01 - 07/08 (3)
- ► 06/10 - 06/17 (1)
- ► 06/03 - 06/10 (6)
-
►
2011
(18)
- ► 10/30 - 11/06 (1)
- ► 10/23 - 10/30 (9)
- ► 04/10 - 04/17 (8)
-
►
2010
(35)
- ► 12/12 - 12/19 (18)
- ► 11/21 - 11/28 (1)
- ► 09/26 - 10/03 (1)
- ► 05/02 - 05/09 (2)
- ► 04/25 - 05/02 (3)
- ► 04/18 - 04/25 (2)
- ► 04/11 - 04/18 (3)
- ► 04/04 - 04/11 (2)
- ► 03/28 - 04/04 (3)
-
►
2009
(40)
- ► 12/20 - 12/27 (1)
- ► 11/15 - 11/22 (1)
- ► 10/18 - 10/25 (1)
- ► 09/20 - 09/27 (1)
- ► 08/16 - 08/23 (1)
- ► 07/05 - 07/12 (9)
- ► 06/28 - 07/05 (1)
- ► 06/21 - 06/28 (1)
- ► 06/14 - 06/21 (3)
- ► 06/07 - 06/14 (5)
- ► 05/31 - 06/07 (1)
- ► 05/24 - 05/31 (15)
Makalah
Iodoform dan Kloroform Download
Rhodamin B Download
K3 Download
Anion Download
Kation Download
Pemanfaatan Tanaman Obat Download
Tablet Download
Toxoplasmagondii Download
Struktur Sel Download
Vibriocholerae Download
Sistem Saraf Pusat Download
Tablet in English Download
Farmasetika Makalah Download
Manfaat Cabe Download
Proses Riaksi Terang Download
Makalah Farmasetika Dasar Download
Metode Perkembangan Manusia Download
Metabolisme Downlaod
Sediaan Serbuk Download
Asam Salisilat Download
KTI tentang Bawang Download
kindof Antibiotics Download
Antelmentik Download
Fotosintesis Download
Otot Download
Berfikir Kritis Dan Ilmiah Download
Bahaya Abes Download
Anion Download
Reaksi Pada Pewarna Rambut Download
Bahan Kimia Dasar Download
Minyak Goreng Download
Listrik Download
Toksoplasmosis Pada kehamilan Download
Rhodamin B Download
K3 Download
Anion Download
Kation Download
Pemanfaatan Tanaman Obat Download
Tablet Download
Toxoplasmagondii Download
Struktur Sel Download
Vibriocholerae Download
Sistem Saraf Pusat Download
Tablet in English Download
Farmasetika Makalah Download
Manfaat Cabe Download
Proses Riaksi Terang Download
Makalah Farmasetika Dasar Download
Metode Perkembangan Manusia Download
Metabolisme Downlaod
Sediaan Serbuk Download
Asam Salisilat Download
KTI tentang Bawang Download
kindof Antibiotics Download
Antelmentik Download
Fotosintesis Download
Otot Download
Berfikir Kritis Dan Ilmiah Download
Bahaya Abes Download
Anion Download
Reaksi Pada Pewarna Rambut Download
Bahan Kimia Dasar Download
Minyak Goreng Download
Listrik Download
Toksoplasmosis Pada kehamilan Download
Biologi
Struktur Hewan Download
Struktur Sel Download
Fisiologi Tumbuhan Download
Hormon Download
Macam macam Tumbuhan Download
Fotosintesis Download
Stuktur Hewan Download
Pendahuluan Biofarmasi Download
Fotosintesis dan Respirasi Download
Alamiah Download
Presentasi Mikrobiologi Download
Presentasi Metabolisme Download
Kanker Download
Biologi Bakteri dan Mikroba download
Biologi Bakteri Download
Morfologi dan Parasitologi Bakteri Download
Pewarnaan Bakteri
Mikrobiologi Semester Lanjut Download
Mikroskop _Polarisasi Download
Struktur Sel Download
Fisiologi Tumbuhan Download
Hormon Download
Macam macam Tumbuhan Download
Fotosintesis Download
Stuktur Hewan Download
Pendahuluan Biofarmasi Download
Fotosintesis dan Respirasi Download
Alamiah Download
Presentasi Mikrobiologi Download
Presentasi Metabolisme Download
Kanker Download
Biologi Bakteri dan Mikroba download
Biologi Bakteri Download
Morfologi dan Parasitologi Bakteri Download
Pewarnaan Bakteri
Mikrobiologi Semester Lanjut Download
Mikroskop _Polarisasi Download
Other
Safety First Download
Kebijakan Pengelolaan Obat Download
Pembiayaan Obat Daerah Download
Pengadaan Farmasi Download
Pengelolaan Obat Download
Pengaturan Pengadaan Jawa Timur Download
Perencanaan Obat Terpadu Download
Sekilas Obat-Obat KSR Download
Kebikjasanaan Pengelolaan Obat Download
Perturan per Undang-undang1 Download
Perturan per Undang-undang2 Download
Perturan per Undang-undang3 Download
Perturan per Undang-undang4 Download
Perturan per Undang-undang5 Download
Tata Cara pembuatan Apotek Download
Pengelolaan Obat Administrasi Apotik Download
Stuktur Organisasi Kebersihan Apotik Download
Menyimpan Obat Di Apotik Download
Antisipasi Penjualan Obat Download
Suplemen makanan Download
Kosmetik Download
Kebijakan Pengelolaan Obat Download
Pembiayaan Obat Daerah Download
Pengadaan Farmasi Download
Pengelolaan Obat Download
Pengaturan Pengadaan Jawa Timur Download
Perencanaan Obat Terpadu Download
Sekilas Obat-Obat KSR Download
Kebikjasanaan Pengelolaan Obat Download
Perturan per Undang-undang1 Download
Perturan per Undang-undang2 Download
Perturan per Undang-undang3 Download
Perturan per Undang-undang4 Download
Perturan per Undang-undang5 Download
Tata Cara pembuatan Apotek Download
Pengelolaan Obat Administrasi Apotik Download
Stuktur Organisasi Kebersihan Apotik Download
Menyimpan Obat Di Apotik Download
Antisipasi Penjualan Obat Download
Suplemen makanan Download
Kosmetik Download
Farmakologi
Psikotropik Download
Antibiotik Penisilin Download
Antibiotik Makrilida Download
Anestestika Download
Diabetes Download
Farmakodinamik Download
Saluran Pernafasan Download
Diare Download
Intraksi Obat Download
Amina Dan Glikosida Download
Infus Download
Injeksi Download
Evaluasi Sediaan Parental Download
Farmakologi Dasar Download
Farmakognosi Download
Anti Fungi Download
Farmakologi Keperawatan Download
Psikotropik Farmakologi Download
Interaksi Obat Download
Konsep Dasar Farmakologi Download
Gangguan saluran Pernafasan Download
Ambicid Download
anti Cancer Drugs Download
Think_B2JC Download
Interaksi Obat Download
Antibiotik Penisilin Download
Antibiotik Makrilida Download
Anestestika Download
Diabetes Download
Farmakodinamik Download
Saluran Pernafasan Download
Diare Download
Intraksi Obat Download
Amina Dan Glikosida Download
Infus Download
Injeksi Download
Farmakologi Dasar Download
Farmakognosi Download
Anti Fungi Download
Farmakologi Keperawatan Download
Psikotropik Farmakologi Download
Interaksi Obat Download
Konsep Dasar Farmakologi Download
Gangguan saluran Pernafasan Download
Ambicid Download
anti Cancer Drugs Download
Think_B2JC Download
Interaksi Obat Download
Powered by Blogger.
SUKSES
Thursday, April 8, 2010
Tuesday, March 30, 2010
Tear and Avoid sex in water
Tear
For many tears are a sign of strong emotion but can also as a lubricant so that the eyes do not dry. Tears signaled whether in good condition or a sign of a disease.
Air eyes are glands that are produced by the process lakrimasi to membersikan eye. Tears contain Lyzosime that can kill many kinds of microbes.
Lyzosime fluid can kill around 90-95 percent of bacteria left over from the computer keyboard, railing, sneeze and the places that contain bacteria, only in 5 minutes.
As quoted from the body of sign, Saturday (27/2/2010), scientists recently found a really emotional tears contain more protein and certain hormones associated with tears of emotion from the usually wet eyes.
Tears are made of three layers namely, a layer of sticky mucus that helps protect the cornea. Aqueous coating moisturizes and maintain eye. Oily layer that helps slow the epavorasinya.
In some people, the tears are not available in sufficient quantities to keep the eye moist and comfortable.
If tears are not enough, will give cues such as eye heat, pain, mucus, and easily irritated skin. Watery eyes continue to indicate deficiency of vitamin B2 (riboflavin). Vitamin B2 is important for healthy eyes and skin.
Watery eyes can also be a sign of rosacea condition that causes eye and skin to turn red. Watery eyes also indicate the conditions of a more serious sort of blocked tear duct, nasal polyps or Graves' disease (protruding eyes).
In some extreme cases, even a person did not shed tears because it should not be crying so-called Reflex Anoxic seizures.
Reflex Anoxic seizures usually occur because of obstructed blood supply to the brain. If the patient until the crying can cause the heart stops beating or dramatically slowed.
As quoted Beliefnet, tears could be a miracle drug proved useful for the health of body and mind. Tears help eyesight, kill bacteria, improve mood, remove toxins, reduce stress, build communities, comforting feeling.
Although you are bothered by various kinds of problems and trials, but after crying usually will appear a sense of relief. After crying, the limbic system, brain and heart will become fluent, and it makes a person feel better and relieved.
Avoid sex in water
The word 'sex' it may have aroused sexual desire, let alone plus 'sex in the water'. But be careful, though having sex in the water sounds exciting, there are dangerous things to be avoided.
Sex in water is not as easy as jumping into the water and then directly into the core event. As quoted from eHow, Thursday (25/2/2010), there are some things you should know and be prepared if you want to do a 'sex water' safe.
1. Bring additional condom
If planning to use condoms, condoms should carry more inventory. Condoms and water will not get along, the duration of condoms would be less because the condom will be easily separated when exposed to water. Water will make condoms became slippery and finally despite the risk of falling or even higher.
2. Bring the liquid lubrication
If you think the water will add to the liquid lubrication for women, you're wrong. Conversely, the water will only remove and wash lubricating fluid released women just before and during sex.
These conditions will produce a taste that is less comfortable and slightly ill for women. For that, make sure to bring silicone lubricating fluid that is not water soluble so that penetration can run smoothly without pain.
3. Do not do 'sex water' in the pool or beach
There are many places that can become an area to do a 'sex water', but should avoid places like swimming pools and beaches. Swimming pools contain chlorine which can adversely affect health, especially women.
Chlorine that enters via the vagina can cause a bladder infection and the risk of other diseases caused by bacteria that enter from the water. To be more safe, you should just do oral sex.
Meanwhile, the beach is also not a good place to have sex. High salt content in sea water will endanger the woman's reproductive organs. Besides having sex on the beach is not a legal activity, so you should not try to do it.
4. Find and install anti-slip grip in the bathtub
The tub is the place to do a 'sex water' the most secure, as long as do not forget to put anti-slip material (slip) on the surface of the tub. Do not forget to also find a place to grip in order not to fall easily when having sex.
Sex in the bath or tub best done in a state of standing because the body is more stable and balanced in action.
So if you want to have sex in the water, you should think about and prepare thoroughly so that everything is running smoothly and keep sex safe. be
For many tears are a sign of strong emotion but can also as a lubricant so that the eyes do not dry. Tears signaled whether in good condition or a sign of a disease.
Air eyes are glands that are produced by the process lakrimasi to membersikan eye. Tears contain Lyzosime that can kill many kinds of microbes.
Lyzosime fluid can kill around 90-95 percent of bacteria left over from the computer keyboard, railing, sneeze and the places that contain bacteria, only in 5 minutes.
As quoted from the body of sign, Saturday (27/2/2010), scientists recently found a really emotional tears contain more protein and certain hormones associated with tears of emotion from the usually wet eyes.
Tears are made of three layers namely, a layer of sticky mucus that helps protect the cornea. Aqueous coating moisturizes and maintain eye. Oily layer that helps slow the epavorasinya.
In some people, the tears are not available in sufficient quantities to keep the eye moist and comfortable.
If tears are not enough, will give cues such as eye heat, pain, mucus, and easily irritated skin. Watery eyes continue to indicate deficiency of vitamin B2 (riboflavin). Vitamin B2 is important for healthy eyes and skin.
Watery eyes can also be a sign of rosacea condition that causes eye and skin to turn red. Watery eyes also indicate the conditions of a more serious sort of blocked tear duct, nasal polyps or Graves' disease (protruding eyes).
In some extreme cases, even a person did not shed tears because it should not be crying so-called Reflex Anoxic seizures.
Reflex Anoxic seizures usually occur because of obstructed blood supply to the brain. If the patient until the crying can cause the heart stops beating or dramatically slowed.
As quoted Beliefnet, tears could be a miracle drug proved useful for the health of body and mind. Tears help eyesight, kill bacteria, improve mood, remove toxins, reduce stress, build communities, comforting feeling.
Although you are bothered by various kinds of problems and trials, but after crying usually will appear a sense of relief. After crying, the limbic system, brain and heart will become fluent, and it makes a person feel better and relieved.
Avoid sex in water
The word 'sex' it may have aroused sexual desire, let alone plus 'sex in the water'. But be careful, though having sex in the water sounds exciting, there are dangerous things to be avoided.
Sex in water is not as easy as jumping into the water and then directly into the core event. As quoted from eHow, Thursday (25/2/2010), there are some things you should know and be prepared if you want to do a 'sex water' safe.
1. Bring additional condom
If planning to use condoms, condoms should carry more inventory. Condoms and water will not get along, the duration of condoms would be less because the condom will be easily separated when exposed to water. Water will make condoms became slippery and finally despite the risk of falling or even higher.
2. Bring the liquid lubrication
If you think the water will add to the liquid lubrication for women, you're wrong. Conversely, the water will only remove and wash lubricating fluid released women just before and during sex.
These conditions will produce a taste that is less comfortable and slightly ill for women. For that, make sure to bring silicone lubricating fluid that is not water soluble so that penetration can run smoothly without pain.
3. Do not do 'sex water' in the pool or beach
There are many places that can become an area to do a 'sex water', but should avoid places like swimming pools and beaches. Swimming pools contain chlorine which can adversely affect health, especially women.
Chlorine that enters via the vagina can cause a bladder infection and the risk of other diseases caused by bacteria that enter from the water. To be more safe, you should just do oral sex.
Meanwhile, the beach is also not a good place to have sex. High salt content in sea water will endanger the woman's reproductive organs. Besides having sex on the beach is not a legal activity, so you should not try to do it.
4. Find and install anti-slip grip in the bathtub
The tub is the place to do a 'sex water' the most secure, as long as do not forget to put anti-slip material (slip) on the surface of the tub. Do not forget to also find a place to grip in order not to fall easily when having sex.
Sex in the bath or tub best done in a state of standing because the body is more stable and balanced in action.
So if you want to have sex in the water, you should think about and prepare thoroughly so that everything is running smoothly and keep sex safe. be
Monday, March 29, 2010
Cara Pemberian Obat
Pemberian Obat per Oral
Merupakan cara pemberian obat melalui mulut dengan tujuan mencegah, mengobati, mengurangi rasa sakit sesuai dengan efek terapi dari jenis obat.
Alat dan bahan :
1.Daftar buku obat
2.Obat dan tempatnya
3. Air minum ditempatnya
Prosedur kerja :
1.Cuci tangan
2.Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.Baca obat, dengna berprinsip tepat obat, tepat pasien, tepat dosis, tepat waktu,
tepat kerja, dan tepat pendokumentasian.
4.Bantu untuk meminumnya:
a.Apabila memberikan obat berbentuk tablet atau kapsul dari botol,
maka tuangkan jumlah yang dibutuhkan ke dalam tutup botol dan pindahkan ketempat obat. Jangan sentuh obat dengan tangan. Untuk obat berupa kapsul jangan dilepaskan pembungkusnya.
b.Kaji kesulitan menelan, bila ada jadikan tablet dalam bentuk bubuk dan campur dengan minuman
c.Kaji denyut nadi dna tekanan darah sebelum pemberian obat yang membutuhkan pengkajian.
5.Catat perubahan, reaksi terhadap pemberian obat dan evaluasi respon terhadap obat
dengan mencatat hasilpemberian obat
6.Cuci tangan
Pemberian Obat via Jaringan Subkutan
Merupakan cara memberikan obat melalui suntikan dibawah kulit yang dapat dilakukan pada daerah lengan atas sebelah luar atau 1/3 bagian dari bahu, paha sebelah luar, daerah dada, dan daerah sekitar umbilicus ( abdomen ). Pemberian obat melalui subkutan ini biasanya dilakukan dalam program pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah. Pemberian insulin terdapat 2 tipe larutan : yaitu jernih dan keruh. Larutan jernih dimaksudkan sebagai insulin tipe reaksi cepat ( insulin regular ) dan larutan yang keruh karena adanya penambahan protein sehingga memperlambat absorbs obat atau juga termasuk tipe lambat.
Alat dan bahan :
1.Daftar buku obat / catatan, jadual pemberian obat
2.Obat dalam tempatnya
3.Spuit insulin
4.Kapas alcohol dalam tempatnya
5.Cairan pelarut
6.Bak injeksi
7.Bengkok
8.Perlak dan alasnya
Prosedur Kerja:
1.Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2.Bebaskan daerah yang akan disuntik, bila menggunakan bau lengan panjang buka dan ke ataskan
3.Pasang perlak atau pengalas di bawah bagian yang akan disuntik
4.Ambil obat untuk dalam tempatnya sesuai dosis yang akan diberikan setelah itu tempatka pada bak injeksi.
5.Desinfeksi dengan kapas alcohol pada daerah yang akan dilakukan suntikan
6.Tegangkan dengan tangan kiri ( daerah yang akan dilakukan suntikan subkutan)
7.Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan sudut 45 derajat dengan permukaan kulit.
8.Lakukan aspirasi, bila tidak ada darah semprotkan obat perlahan-lahan hingga habis.
9.Tarik spuit dan tahan dengan kapas alcohol dan spuit yang telah dipakai masukkan kedalam bengkok.
10.Catat reaksi pemberian dan catat hasil pemberina obat / test obat, tanggal, waktu, dan jenis obat.
11.Cuci tangan
Pemberian Obat per Intramuskuler
Merupakan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Lokasi penyuntikan dapat pada daerah paha ( vastus lateralis ), ventrogluteal ( dengan posisi berbaring ), dorsogluteal ( posisi tengkurap ), atau lengan atas ( deltoid). Tujuannya agar absorbs lebih cepat.
Alat dan bahan :
1.Daftar buku obat/ catatan, jadual pemberian obat
2.Obat dalam tempatnya
3.Spuit sesuai dengan ukuran, jarum sesuai dengan ukuran : dewasa panjang 2,5-3,75 cm, anak panjang : 1,25-2,5cm.
4.Kapas alcohol dalam tempatnya
5.Cairan pelarut
6.Bak injeksi
7.Bengkok
Prosedur Kerja:
1.Cuci tangan
2.Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.Ambil obat kemudian masukkan kedalam spuit sesuai dengan dosis setelah itu letakkan pada bak injeksi
4.Periksa tempat yang akan dilakukan penyuntikan ( lihat lokasi penyuntikan ).
5.Desinfeksi dengan kapas alcohol pada tempat yang akan dilakukan penyuntikan
6.Lakukan penyuntikan:
a.Pada daerah paha ( vastus lateralis ) dengan cara anjurkan pasien untuk berbaring terlentang dengan lutut sedikit fleksi
b.Pada ventrogluteal dengan cara anjurkan pasien utnuk miring, tengkurap atau terlentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan dilakukan penyuntikan dalam keadaan fleksi
c.Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk tengkurap dengan lutut di putar kearah dalam atau miring dengan lutut bagian atats pinggul fleksi dan diletakkan di depan tungkai bawah
d.Pada daerah deltoid ( lengan atas ) dengan cara anjurkan pasien untuk duduk atau berbaring mendatar lengan atas fleksi.
7.Lakukan penusukkan dengan posisi jarum tegak lurus
8.Setelah jarum masuk lakukan aspirasi spuit bila tidak ada darah semprotkan obat secara perlahan-lahan hingga habis
9.Setelah selesai ambil spuit dengan menarik spuit dan tekan daerah penyuntikan dengan kapas alcohol, kemudian spuit yang telah digunakan letakkan pada bengkok.
10.Catat reaksi pemberian, jumlah dosis, dan waktu pemberian
11.Cuci tangan
Pemberian Obat Intravena Langsung
Cara Pemberian obat melalui vena secara langsung, diantaranya vena mediana cubiti / cephalika ( lengan ), vena saphenosus ( tungkai ), vena jugularis ( leher ), vena frontalis / temporalis ( kepala ), yang bertujuan agar reaksi cepat dan langsung masuk pada pembuluh darah.
Alat dan bahan :
1.Daftar buku obat / catatan, jadual pemberian obat
2.Obat dalam tempatnya
3.Spuit 1 cc / spuit insulin
4.Kapas alcohol dalam tempatnya
5.Cairan pelarut
6.Bak steril dilapisi kasa steril ( tempat spuit )
7.Bengkok
8.Perlak dan alasnya
9.Karet pembendung
Prosedur Kerja:
1.Cuci tangan
2.Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.Bebaskan daerah yang akan disuntik, bila menggunakan bau lengan panjang buka dan ke ataskan
4.Ambil obat dalam tempatnya dengna spuit sesuai dengan dosis yang akan disuntikan. Apabila obat berada dalam sediaan bubuk, maka larutkan dengna larutan pelarut ( aquades)
5.Pasang perlak atau pengalas di bawah bagian vena yang akan disuntik
6.Kemudian tampatkan obat yang telah diambil pada bak injeksi
7.Desinfeksi dengan kapas alcohol
8.Lakukan pengikatan dengan karet pembendung ( tourniquet ) pada bagian atas daerah yang akan dilakukan pemberian obat atau tegangkan dengan tangan / minta bantuan atau membendung diatas vena yang akan dilakukan penyuntikan
9.Ambil spuit yang berisi obat
10.Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan memasukkan ke pembuluh darah
11.Lakukan aspirasi bila sudah ada darah lepaskan karet pembendung dan langsung semprotkan obat hingga habis
12.Setelah selesai ambil spuit dengan menarik dan lakukan penekanan pada daerah penusukan dengan kapas alcohol , dan spuit yang telah digunakan letakkan ke dalam bengkok.
13.Catat reaksi pemberian, tanggal, waktu, dan dosis pemberian obat
14.Cuci tangan.
Merupakan cara pemberian obat melalui mulut dengan tujuan mencegah, mengobati, mengurangi rasa sakit sesuai dengan efek terapi dari jenis obat.
Alat dan bahan :
1.Daftar buku obat
2.Obat dan tempatnya
3. Air minum ditempatnya
Prosedur kerja :
1.Cuci tangan
2.Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.Baca obat, dengna berprinsip tepat obat, tepat pasien, tepat dosis, tepat waktu,
tepat kerja, dan tepat pendokumentasian.
4.Bantu untuk meminumnya:
a.Apabila memberikan obat berbentuk tablet atau kapsul dari botol,
maka tuangkan jumlah yang dibutuhkan ke dalam tutup botol dan pindahkan ketempat obat. Jangan sentuh obat dengan tangan. Untuk obat berupa kapsul jangan dilepaskan pembungkusnya.
b.Kaji kesulitan menelan, bila ada jadikan tablet dalam bentuk bubuk dan campur dengan minuman
c.Kaji denyut nadi dna tekanan darah sebelum pemberian obat yang membutuhkan pengkajian.
5.Catat perubahan, reaksi terhadap pemberian obat dan evaluasi respon terhadap obat
dengan mencatat hasilpemberian obat
6.Cuci tangan
Pemberian Obat via Jaringan Subkutan
Merupakan cara memberikan obat melalui suntikan dibawah kulit yang dapat dilakukan pada daerah lengan atas sebelah luar atau 1/3 bagian dari bahu, paha sebelah luar, daerah dada, dan daerah sekitar umbilicus ( abdomen ). Pemberian obat melalui subkutan ini biasanya dilakukan dalam program pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah. Pemberian insulin terdapat 2 tipe larutan : yaitu jernih dan keruh. Larutan jernih dimaksudkan sebagai insulin tipe reaksi cepat ( insulin regular ) dan larutan yang keruh karena adanya penambahan protein sehingga memperlambat absorbs obat atau juga termasuk tipe lambat.
Alat dan bahan :
1.Daftar buku obat / catatan, jadual pemberian obat
2.Obat dalam tempatnya
3.Spuit insulin
4.Kapas alcohol dalam tempatnya
5.Cairan pelarut
6.Bak injeksi
7.Bengkok
8.Perlak dan alasnya
Prosedur Kerja:
1.Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2.Bebaskan daerah yang akan disuntik, bila menggunakan bau lengan panjang buka dan ke ataskan
3.Pasang perlak atau pengalas di bawah bagian yang akan disuntik
4.Ambil obat untuk dalam tempatnya sesuai dosis yang akan diberikan setelah itu tempatka pada bak injeksi.
5.Desinfeksi dengan kapas alcohol pada daerah yang akan dilakukan suntikan
6.Tegangkan dengan tangan kiri ( daerah yang akan dilakukan suntikan subkutan)
7.Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan sudut 45 derajat dengan permukaan kulit.
8.Lakukan aspirasi, bila tidak ada darah semprotkan obat perlahan-lahan hingga habis.
9.Tarik spuit dan tahan dengan kapas alcohol dan spuit yang telah dipakai masukkan kedalam bengkok.
10.Catat reaksi pemberian dan catat hasil pemberina obat / test obat, tanggal, waktu, dan jenis obat.
11.Cuci tangan
Pemberian Obat per Intramuskuler
Merupakan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Lokasi penyuntikan dapat pada daerah paha ( vastus lateralis ), ventrogluteal ( dengan posisi berbaring ), dorsogluteal ( posisi tengkurap ), atau lengan atas ( deltoid). Tujuannya agar absorbs lebih cepat.
Alat dan bahan :
1.Daftar buku obat/ catatan, jadual pemberian obat
2.Obat dalam tempatnya
3.Spuit sesuai dengan ukuran, jarum sesuai dengan ukuran : dewasa panjang 2,5-3,75 cm, anak panjang : 1,25-2,5cm.
4.Kapas alcohol dalam tempatnya
5.Cairan pelarut
6.Bak injeksi
7.Bengkok
Prosedur Kerja:
1.Cuci tangan
2.Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.Ambil obat kemudian masukkan kedalam spuit sesuai dengan dosis setelah itu letakkan pada bak injeksi
4.Periksa tempat yang akan dilakukan penyuntikan ( lihat lokasi penyuntikan ).
5.Desinfeksi dengan kapas alcohol pada tempat yang akan dilakukan penyuntikan
6.Lakukan penyuntikan:
a.Pada daerah paha ( vastus lateralis ) dengan cara anjurkan pasien untuk berbaring terlentang dengan lutut sedikit fleksi
b.Pada ventrogluteal dengan cara anjurkan pasien utnuk miring, tengkurap atau terlentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan dilakukan penyuntikan dalam keadaan fleksi
c.Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk tengkurap dengan lutut di putar kearah dalam atau miring dengan lutut bagian atats pinggul fleksi dan diletakkan di depan tungkai bawah
d.Pada daerah deltoid ( lengan atas ) dengan cara anjurkan pasien untuk duduk atau berbaring mendatar lengan atas fleksi.
7.Lakukan penusukkan dengan posisi jarum tegak lurus
8.Setelah jarum masuk lakukan aspirasi spuit bila tidak ada darah semprotkan obat secara perlahan-lahan hingga habis
9.Setelah selesai ambil spuit dengan menarik spuit dan tekan daerah penyuntikan dengan kapas alcohol, kemudian spuit yang telah digunakan letakkan pada bengkok.
10.Catat reaksi pemberian, jumlah dosis, dan waktu pemberian
11.Cuci tangan
Pemberian Obat Intravena Langsung
Cara Pemberian obat melalui vena secara langsung, diantaranya vena mediana cubiti / cephalika ( lengan ), vena saphenosus ( tungkai ), vena jugularis ( leher ), vena frontalis / temporalis ( kepala ), yang bertujuan agar reaksi cepat dan langsung masuk pada pembuluh darah.
Alat dan bahan :
1.Daftar buku obat / catatan, jadual pemberian obat
2.Obat dalam tempatnya
3.Spuit 1 cc / spuit insulin
4.Kapas alcohol dalam tempatnya
5.Cairan pelarut
6.Bak steril dilapisi kasa steril ( tempat spuit )
7.Bengkok
8.Perlak dan alasnya
9.Karet pembendung
Prosedur Kerja:
1.Cuci tangan
2.Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.Bebaskan daerah yang akan disuntik, bila menggunakan bau lengan panjang buka dan ke ataskan
4.Ambil obat dalam tempatnya dengna spuit sesuai dengan dosis yang akan disuntikan. Apabila obat berada dalam sediaan bubuk, maka larutkan dengna larutan pelarut ( aquades)
5.Pasang perlak atau pengalas di bawah bagian vena yang akan disuntik
6.Kemudian tampatkan obat yang telah diambil pada bak injeksi
7.Desinfeksi dengan kapas alcohol
8.Lakukan pengikatan dengan karet pembendung ( tourniquet ) pada bagian atas daerah yang akan dilakukan pemberian obat atau tegangkan dengan tangan / minta bantuan atau membendung diatas vena yang akan dilakukan penyuntikan
9.Ambil spuit yang berisi obat
10.Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan memasukkan ke pembuluh darah
11.Lakukan aspirasi bila sudah ada darah lepaskan karet pembendung dan langsung semprotkan obat hingga habis
12.Setelah selesai ambil spuit dengan menarik dan lakukan penekanan pada daerah penusukan dengan kapas alcohol , dan spuit yang telah digunakan letakkan ke dalam bengkok.
13.Catat reaksi pemberian, tanggal, waktu, dan dosis pemberian obat
14.Cuci tangan.
Materi tentang APOTEK
APOTEK
A.Pengertian
PP No 26 tahun 1965
Apotek = tempat ttt dimana dilakukan usaha dan pekerjaan kefarmasian.
PP No 25 tahun 1980
Apotek = suatu tempat ttt, tempat diadakan pekerjaan kefarmasian & penyaluran obat kpd masyarakat.
KepMenKes No.1332(2002)
Apotek = tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.
KepMenKes No.1027/2004
Apotek = tempat ttt, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.
Pekerjaan kefarmasian (UU Kes No.23 tahun 1992)\
Adalah pembuatan, pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional.
KepMenKes No.1027/2004
Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Sedangkan yang dimaksud dengan perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat & peralatan yang diperlukan utk menyelenggarakan upaya kesehatan.
B.Tugas dan Fungsi Apotek
Menurut PP No.25 tahun 1980 pasal 2, adalah:
a.Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.
b.Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat.
c.Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan secara luas dan merata.
C.Peraturan PerUU-an Apotek
Undang-undang Tentang
UU RI No. 23 th 1992 Kesehatan
UU RI No. 5 th 1997 Psikotropika
UU RI No. 22 th 1997 Narkotika
Permenkes No.922 th 1993 Tata cara pemberian ijin apotek
Kepmenkes No. 1027 th 2004 Standar pelayanan kefarmasian di apotek
Hal-hal yang terkait dengan Kepmenkes 1027
Alat kesehatan : bahan, instrument apparatus, mesin, implant yg tidak mengandung obat yg digunakan utk mnecegah, mendiagnosis, menyembuhkan & meringankan penyakit, merawat org sakit serta memulihkan kesehatan pd manusia dan/atau membentuk struktur & memperbaiki fungsi tubuh.
R/ = permintaan tertulis dari dr, drg, drh, kpd Apt utk menyediakan dan menyerahkan obat bagi Px sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
Perlengkapan Apotek = semua peralatan yg dipergunakan utk melaksanakan keg pelayanan kefarmasian diApotek.
Pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical Care/ PC) = bentuk pelayanan & tanggung jawab langsung profesi Apt. dalam pekerjaan kefarmasian utk mneiungkatkan kualitas hidup px.
Medication error (ME) = kejadian yg merugikan Px akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan yg sebetulnya dapat dicegah.
Konseling = suatu proses komunikasi 2 arah yg sistematik antara Apt dan Px utk mnegidentifikasi dan memecahkan masalah yg berkaitan dg obat dan pengobatan.
Pelayanan residensial (home care) = pelayanan Apt sbg care giver dlm pelayanan kefarmasian dirumah2 khususnya unt lansia & Px dg pengobatan kronis.
D.Sarana dan Prasarana
Menurut KepMenKese No.1027/2004, bahwa apotek
1.Berlokasi pada daerah yg mudah dikenali oleh masyarakat
2.Terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek
3.Mudah diakses oleh masyarakat
4.Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi resiko kesalahan pelayanan.
5.Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling.
6.Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya.
7.Apotek harus bebas dari hewan pengerat, serangga
8.Memiliki supply listrik yang konstan terutama untuk lemari pendingin.
Apotek harus memiliki :
1.Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien
2.Tempat unt memberi informasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur/materi informasi.
3.Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien.
4.Ruang racikan
5.Keranjang sampah yang tersedia untuk staf maupun pasien.
6.Perabotan harus tertata rapi, lengkap dgn rak-rak penyimpanan obat & barang2 lain yg tersusun rapi, terlindung dari debu, kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi ruangan dengan temperatur yang telah ditetapkan.
E.Aspek Pengelolaan Apotek
Pengelolaan Sumber Daya
Apoteker Pengelola Apotek (APA)
Tugas dan tanggung jawab Apoteker yaitu:
1.Bidang Pengabdian Profesi
a.Meneliti semua jenis obat & bhn obat yang dibeli secara kualitatif dan kuantitatif.
b.Mengadakan pengontrolan terhadap bagian pembuatan.
c.Mengontrol pelayanan atas resep yg telah dibuat dan diserahkan kepada pasien.
d.Memberikan informasi tentang obat pada Px, dr, dsb.
e.Menyelenggarakan komunikasi dengan pihak luar.
2.Bidang Administrasi
a.Memimpin, mengatur, serta mengawasi pekerjaan tata usaha, keuangan, dan perdagangan.
b.Membuat laporan-laporan keuangan dan surat menyurat.
c.Mengadakan pengawasan, penggunaan, dan pemeliharaan akte perusahaan.
3.Bidang Komersial
a.Merencanakan dan mengatur kebutuhan barang (obat, alat kesehatan, dll) untuk suatu periode tertentu sesuai aturan yang berlaku.
b.Mengatur & mengawasi penjualan R/, bebas, langganan dsb.
c.Menentukan kalkulasi harga dan kebijakan harga.
d.Berusaha meningkatkan penjualan.
e.Memupuk hubungan baik dengan para pelanggan.
f.Menentukan kpd siapa dpt dilayani kredit atas pembelian obat.
g.Mengadakan efisiensi dalam segala hal.
4.Bidang Tanggungjawab dan Wewenang
a.Internal, bertanggung jawab mengenai segala aktivitas perusahaan kepada PSA. Eksternal bertanggungjawab kepada Departemen Kesehatan.
b.Memimpin dan menggelola karyawan dalam melakukan pengabdian profesinya.
c.Mengatur sistem penerimaan pegawai dan sistem penggajian
Asisten Apoteker (AA)
Tugas :
1.Membantu Apt dalam hal pelayanan R/, OTC (over the counter), pembuatan sediaan obat,
2.Mencatat dan memeriksa keluar masuknya obat
3.Menyusun buku defekta
4.Pembuatan laporan narkotika & psikotropika
5.Pengarsipan R/
Tanggung Jawab : AA bertanggung jawab kepada APA
Reseptir
Tugas :
1.Membuat sediaan dibawah pengawasan Apt dan AA
2.Membantu membuat R/ racikan yg bahan2nya telah disiapkan oleh Apt / AA
3.Membantu mneyelesaikan racikan obat seperti tinggal menggerus dan membungkus
Kasir
Tugas : Mencatat penerimaan uang setelah dihitung (dilengkapi kuitansi, nota, tanda setoran yg sudah diparaf Apt atau petugas yg ditunjuk.
Tenaga Administrasi
Tugas :
1.Membuat laporan harian (catatan penjualan, pembelian, hasil penjualan, tagihan, pengeluaran harian
2.Membuat laporan bulanan seperti daftar gaji dan pajak
Tanggung Jawab bertangggung jawab kepada APA
PENGELOLAAN OBAT
A.PERENCANAAN
Tujuan agar proses pengadaan perbekalan farmasi/ obat yang ada di apotek menjadi lebih efektif dan efisien dan sesuai dengan anggaran yang tersedia.
Faktor2 yg harus dipertimbangkan dalam menyusun perencanaan :
1)Pemilihan pemasok, yg perlu diperhatikan antara lain:
a)Legalitas pemasok(PBF)
b)Service, meliputi ketepatan waktu, barang yang dikirim, ada tidaknya diskon/bonus, layanan obat ED dan tenggang waktu penagihan.
c)Kualitas obat, perbekalan farmasi lain
d)Ketersediaan obat yang dibutuhkan.
e)Harga
2)Ketersediaan barang/perbekalan farmasi
Beberapa hal yg harus diperhatikan :
sisa stok, rata-rata pemakaian obat dalam satu periode pemesanan, frekuensi pemakaian dan waktu tunggu pemesanan, pemilihan metode perencanaan
Adapun metode perencanaan yaitu :
a)metode konsumsi
memperkirakan penggunaan obat berdasarkan pemakaina sebelumnya sbg dasar perencanaan yg akan datang.
b)metode epidemiologi
berdasarkan penyebaran penyakit yg paling banyak terdapat didaerah sekitar apotek
c)metode kombinasi
mengkombinasikan antara metode konsumsi epidemiolog
d)JIT (Just In Time)
Membeli obat pada saat dibutuhkan
B.PENGADAAN
Dapat dilakukan dg cara :
1.Pembelian membeli obat ke PBF
2.Konsinyasi PBF menitipkan barang di apotek dan dibayar setelah laku terjual
Proses pengadaan barang dengan cara pembelian dilakukan melalui beberapa tahapan berikut:
1)Persiapan
untuk mengetahui persediaan yang dibutuhkan apotek untuk melayani pasien. Persediaan yang habis dapat dilihat di gudang atau di kartu stok gudang sehingga jika barang habis dapat dilakukan pemesanan. Persiapan dilakukan dengan cara mengumpulkan data barang-barang yang akan dipesan dari buku defecta, termasuk obat2 baru yg ditawarkan supplier.
2)Pemesanan
Pemesanan dapat dilakukan jika persediaan barang habis, yang dapat dilihat dalam buku defecta. Pemesanan dapat dilakukan langsung ke PBF melalui telepon maupun pesan melalui salesman yang datang ke apotek.
3)Pemesanan dilakukan dgn menggunakan Surat Pesanan (SP). SP minimal dibuat 2 lembar (untuk supplier dan arsip apotek) dan dittd oleh Apt. Biasanya SP dibuat 3 lembar.
SP pembelian narkotika dibuat 5 lembar. (utk KF pusat, KF kota, Dinkes kab, BPOM, Arsip apt)
Narkotika (1 sp utk 1 jenis obat) Psikotropika (1 sp bisa utk lebih dari 1 macam obat)
4)Penerimaan
Dilakukan oleh AA yg mempy SIK setelah menerima barang kiriman harus mencocokkan barang dengan DO/faktur dan SP lembar ke-2 mengenai jumlah, nama obat, harga satuan, perhitungan harga. Bila ada obat dengan ED, dicatat dalam buku tersendiri dn urutan tanggalnya.
5)Pencatatan.
a)Dari faktur yang diterima catat dlm buku penerimaan barang, ditulis nama PBF, nama obat, nomor batch, tgl ED, jumlah harga satuan, potongan harga, jumlah harga, nomor urut dan tanggal penerimaan.
b)Satu hari sekali dilakukan pencatatan penerimaan barang shg dapat diketahui jmlh barang yg dibeli & untuk menjaga agar barang yang dibeli tidak melebihi anggaran pembelian obat.
c)Faktur yang diterima kemudian disimpan untuk diperiksa lagi dan digunakan untuk mencocokkan jika barang harus dilunasi.
6)Pembayaran
a)dilakukan jika sudah jatuh tempo & faktur dikump tiap debitur
b)masing-masing dibuatkan bukti kas keluar serta cek dan giro,
c)kemudian diserahkan ke bagian keuangan utk dittd sebelum dibayarkan kepada supplier.
d)Pembayaran dapat dilakukan secara cash atau kredit, tergantung dari jenis obat, serta perjanjian dengan pihak distributor.
e)utk obat narkotika hrs secara COD (Cash On Delivery).
C.PENYIMPANAN
apotek hrs memiliki perlengkapan & alat penyimpanan perbekalan farmasi : botol dgn ukuran tertentu, jenis & jumlah sesuai dgn kebutuhan, lemari dan rak penyimpanan obat, lemari pendingin untuk menjamin mutu perbekalan farmasi tersebut.
Penyusunan dan penyimpanan obat/barang dpt dilakukan berdasarkan kelas terapeutik, alfabetis, / bentuk sediaannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu :
1)Bahan yg mudah terbakar sebaiknya disimpan terpisah dari bahan yang lainnya.
2)Narkotika disimpan dalam lemari khusus.
3)Obat-obatan yang memerlukan kondisi tertentu seperti insulin, vaksin atau serum perlu disimpan dalam lemari pendingin.
D.PELAYANAN
Menurut Kepmenkes No 1027 th 2004, yg termasuk dlm pelayanan yaitu : pelayanan R/, promosi dan edukasi, pelayanan residential (Home Care) pelayanan farmasi yg bersifat kunjungan rumah khususnya utk kelompok lansia den pasien dengan penyakit kronis.
PENGELOLAAN R/
PENGELOLAAN OBAT WAJIB APOTEK (OWA)
Apoteker dapat menyerahkan Obat Keras tanpa resep dokter kepada pasien. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No.347/MENKES/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek. Adapun latar belakang dari keputusan Menteri Kesehatan tersebut adalah :
1)Meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman, dan rasional.
2)Meningkatkan peran apoteker dalam KIE.
Oleh karena itu perlu ditetapkan keputusan menteri kesehatan tentang obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter di apotek. Hal ini tercantum dalam Permenkes No. 919/Menkes/Per/1993 tentang kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep, yaitu :
1)Tidak dikontraindikasikan untuk wanita hamil, anak dibawah 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
2)Tidak memberikan resiko pada kelanjutan penyakit.
3)Penggunaan tidak memerlukan cara/alat khusus yang harus dilakukan oleh/bantuan tenaga kesehatan.
4)Untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia
5)Memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam keputusan ini, pelayanan OWA yang dilakukan oleh apoteker harus memenuhi cara dan ketentuan, diantaranya sebagai berikut :
1)Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien
2)Membuat catatan pasien dan obat yang diberikan
Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pakai, kontra indikasi, efek samping, dan lain-lain yang perlu diperhatikan pasien.
PENGELOLAAN NARKOTIKA dan PSIKOTROPIKA
Tujuan diadakannya pengelolaan narkotika dan psikotropika adalah untuk mencegah penyalahgunaan obat narkotika dan psikotropika. Sehingga obat-obat narkotika dan psikotropika harus ditangani secara khusus.
1)Narkotika
Narkotika berdasarkan UU Kesehatan No. 2 tahun 1997 pasal 1, adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
a)Pengeluaran Narkotika
Narkotika hanya diberikan kepada pasien yang membawa resep dokter. Resep yang terdapat narkotika diberi tanda garis bawah berwarna merah kemudian dipisahkan untuk dicatat dalam buku register narkotika. Pencatatan meliputi tanggal, nomor resep, tanggal pengeluaran, jumlah obat, nama pasien, alamat pasien, dan nama dokter. Dilakukan pencatatan tersendiri untuk masing-masing nama obat narkotika. Untuk setiap pengeluaran narkotika dicatat dalam kartu stelling, kemudian dicatat pada buku narkotika yang digunakan sebagai pedoman dalam pembuatan laporan bulanan yang dikirim ke Dinas Kesehatan Propinsi, Balai Besar POM Propinsi, Dinas Kesejahteraan Sosial Propinsi dan sebagai arsip yang dilaporkan setiap tanggal 10 tiap bulan. Untuk setiap penggunaan obat tersebut dicatat jumlah pengeluaran dan sisa yang ada, jika ada perbedaan dilakukan pengontrolan lebih lanjut. Hal ini untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan obat.
b)Pemusnahan Narkotika
Sesuai dengan pasal 60 dan 61 UU No. 22 tahun 1997 pemusnahan narkotika harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
(1)Dikarenakan obat kadaluwarsa
(2)Tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan untuk pelayanan kesehatan
(3)Dilakukan dengan menggunakan berita acara yang memuat:
(a)Nama, jenis, sifat dan jumlah
(b)Keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun.
(c)Tanda tangan dan identitas pelaksana dan pejabat yang menyaksikan (ditunjuk oleh MenKes).
(4)Ketentuan lebih lanjut syarat dan tata cara pemusnahan diatur dengan Keputusan Menteri Kesehatan.
c)Pelaporan
Laporan penggunaan narkotika setiap bulannya dikirim ke Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial kabupaten/kota dan dibuat tembusan ke Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial propinsi, Balai Besar POM DIY dan untuk arsip apotek. Pelaporan selambat-lambatnya tanggal 10 tiap bulannya. Laporan bulanan narkotika berisi nomor urut, nama sediaan, satuan, jumlah pada awal bulan, pemasukan, pengeluaran, dan persediaan akhir bulan serta keterangan. Khusus untuk penggunaan morphin, pethidin, dan derivatnya dilaporkan dalam lembar tersendiri disertai dengan nama dan alamat pasien serta nama dan alamat dokter.
2)Psikotropika
UU No.5 tahun 1997 tentang psikotropika menyatakan bahwa psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah maupun sintesa yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Berdasarkan UU No.5 Tahun 1997, pasal 3 tentang Psikotropika, tujuan pengaturan di bidang psikotropika adalah:
a)Menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan.
b)Mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropik.
c)Memberantas peredaran gelap psikotropik
(1)Pengadaan
Menurut UU No.5 tahun 1997 pemesanan psikotropika menggunakan surat pesanan yang telah ditandatangani oleh apoteker kepada PBF atau pabrik obat. Penyerahan psikotropika oleh apoteker hanya dapat dilakukan untuk apotek lain, Rumah Sakit, Puskesmas, Balai Pengobatan, dokter dan pelayanan resep dokter
(2)Penyimpanan
Penyimpanan obat golongan psikotropika belum diatur oleh peraturan perundang-undangan. Obat-obat psikotropik cenderung disalahgunakan, maka disarankan penyimpanan obat-obat golongan psikotropika diletakan tersendiri dalam rak atau lemari khusus.
(3)Pengeluaran
Penggunan psikotropika perlu dilakukan monitoring dengan mencatat resep-resep yang berisi psikotropika dalam buku register psikotropika yang berisi nomor, nama sediaan, satuan, persediaan awal, jumlah pemasukan, nama PBF, nomor faktur PBF, jumlah pengeluaran, persediaan akhir, nama pasien dan nama dokter.
Penyerahan psikotropika menurut pasal 14 UU No. 5 tahun 1997:
a)Penyerahan psikotropika dalam rangka peredaran hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan dan dokter.
b)Penyerahan psikotropik oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan kepada pengguna/pasien.
c)Penyerahan psikotropika oleh rumah sakit, balai pengobatan, puskesmas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan kepada pengguna/pasien.
d)Penyerahan psikotropika oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, dan balai pengobatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan resep dokter.
e)Penyerahan psikotropika oleh dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam hal:
(1)Menjalankan praktek terapi dan diberikan melalui suntikan.
(2)Menolong orang sakit dalam keadaan darurat.
(3)Menjalankan tugas di daerah terpencil.
f)Psikotropika yang diserahkan dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (5) hanya dapat diperoleh dari apotek.
(4)Pemusnahan
Pemusnahan psikotropika dilakukan karena:
(a)Kadaluarsa
(b)Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan.
(c)Dilakukan dengan pembuatan berita acara yang memuat: nama, jenis, sifat dan jumlah, keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun, tanda tangan dan identitas pelaksana dan pejabat yang menyaksikan (ditunjuk MenKes).
(5)Laporan
Laporan penggunaan psikotropika dikirim kepada Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial DIY, Balai Besar POM DIY, dan untuk arsip apotek. Pelaporan selambat-lambatnya tanggal 10 tiap bulannya. Laporan bulanan psikotropika berisi nomor urut, nama sediaan jadi (paten), satuan, jumlah awal bulan, pemasukan, pengeluaran, persediaan akhir bulan serta keterangan.
PENGELOLAAN OBAT ED
Obat-obat yang rusak dan kadaluarsa merupakan kerugian bagi apotek, oleh karenanya diperlukan pengelolaan agar jumlahnya tidak terlalu besar. Obat-obat yang rusak akan dimusnahkan karena tidak dapat digunakan dan tidak dapat dikembalikan lagi ke PBF.
Obat kadaluarsa yang dibeli oleh apotek dapat dikembalikan ke PBF sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati antara kedua belah pihak. Batas waktu pengembalian obat yang kadaluarsa yang ditetapkan oleh PBF 3-4 bulan sebelum tanggal kadaluarsa, tetapi ada pula yang bertepatan dengan waktu kadaluarsanya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/MenKes/Per/X/1993 pasal 12 ayat (2), menyebutkan bahwa obat dan perbekalan farmasi lainnya yang karena sesuatu hal tidak dapat digunakan lagi atau dilarang digunakan, harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
Pada pasal 13 menyebutkan bahwa pemusnahan yang dimaksud dilakukan oleh Apoteker Pengelola Apotek atau Apoteker Pengganti, dibantu oleh sekurang-kurangnya seorang karyawan apotek yang bersangkutan, disaksikan oleh petugas yang ditunjuk Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan setempat. Pada pemusnahan dengan bentuk yang telah ditentukan dalam rangkap lima yang ditandatangani oleh Apoteker Pengelola atau Apoteker Pengganti dan petugas Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan setempat. Pemusnahan obat-obat narkotika dan psikotropika yang sudah kadaluarsa dilaksanakan oleh apoteker dengan disaksikan oleh petugas Dinas Kesehatan dan sekurang-kurangnya seorang karyawan apotek. Sedangkan untuk obat non narkotika-psikotropika dilaksanakan oleh apoteker dibantu oleh sekurang-kurangnya seorang karyawan apotek.
A.Pengertian
PP No 26 tahun 1965
Apotek = tempat ttt dimana dilakukan usaha dan pekerjaan kefarmasian.
PP No 25 tahun 1980
Apotek = suatu tempat ttt, tempat diadakan pekerjaan kefarmasian & penyaluran obat kpd masyarakat.
KepMenKes No.1332(2002)
Apotek = tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.
KepMenKes No.1027/2004
Apotek = tempat ttt, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.
Pekerjaan kefarmasian (UU Kes No.23 tahun 1992)\
Adalah pembuatan, pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional.
KepMenKes No.1027/2004
Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Sedangkan yang dimaksud dengan perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat & peralatan yang diperlukan utk menyelenggarakan upaya kesehatan.
B.Tugas dan Fungsi Apotek
Menurut PP No.25 tahun 1980 pasal 2, adalah:
a.Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.
b.Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat.
c.Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan secara luas dan merata.
C.Peraturan PerUU-an Apotek
Undang-undang Tentang
UU RI No. 23 th 1992 Kesehatan
UU RI No. 5 th 1997 Psikotropika
UU RI No. 22 th 1997 Narkotika
Permenkes No.922 th 1993 Tata cara pemberian ijin apotek
Kepmenkes No. 1027 th 2004 Standar pelayanan kefarmasian di apotek
Hal-hal yang terkait dengan Kepmenkes 1027
Alat kesehatan : bahan, instrument apparatus, mesin, implant yg tidak mengandung obat yg digunakan utk mnecegah, mendiagnosis, menyembuhkan & meringankan penyakit, merawat org sakit serta memulihkan kesehatan pd manusia dan/atau membentuk struktur & memperbaiki fungsi tubuh.
R/ = permintaan tertulis dari dr, drg, drh, kpd Apt utk menyediakan dan menyerahkan obat bagi Px sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
Perlengkapan Apotek = semua peralatan yg dipergunakan utk melaksanakan keg pelayanan kefarmasian diApotek.
Pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical Care/ PC) = bentuk pelayanan & tanggung jawab langsung profesi Apt. dalam pekerjaan kefarmasian utk mneiungkatkan kualitas hidup px.
Medication error (ME) = kejadian yg merugikan Px akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan yg sebetulnya dapat dicegah.
Konseling = suatu proses komunikasi 2 arah yg sistematik antara Apt dan Px utk mnegidentifikasi dan memecahkan masalah yg berkaitan dg obat dan pengobatan.
Pelayanan residensial (home care) = pelayanan Apt sbg care giver dlm pelayanan kefarmasian dirumah2 khususnya unt lansia & Px dg pengobatan kronis.
D.Sarana dan Prasarana
Menurut KepMenKese No.1027/2004, bahwa apotek
1.Berlokasi pada daerah yg mudah dikenali oleh masyarakat
2.Terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek
3.Mudah diakses oleh masyarakat
4.Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi resiko kesalahan pelayanan.
5.Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling.
6.Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya.
7.Apotek harus bebas dari hewan pengerat, serangga
8.Memiliki supply listrik yang konstan terutama untuk lemari pendingin.
Apotek harus memiliki :
1.Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien
2.Tempat unt memberi informasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur/materi informasi.
3.Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien.
4.Ruang racikan
5.Keranjang sampah yang tersedia untuk staf maupun pasien.
6.Perabotan harus tertata rapi, lengkap dgn rak-rak penyimpanan obat & barang2 lain yg tersusun rapi, terlindung dari debu, kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi ruangan dengan temperatur yang telah ditetapkan.
E.Aspek Pengelolaan Apotek
Pengelolaan Sumber Daya
Apoteker Pengelola Apotek (APA)
Tugas dan tanggung jawab Apoteker yaitu:
1.Bidang Pengabdian Profesi
a.Meneliti semua jenis obat & bhn obat yang dibeli secara kualitatif dan kuantitatif.
b.Mengadakan pengontrolan terhadap bagian pembuatan.
c.Mengontrol pelayanan atas resep yg telah dibuat dan diserahkan kepada pasien.
d.Memberikan informasi tentang obat pada Px, dr, dsb.
e.Menyelenggarakan komunikasi dengan pihak luar.
2.Bidang Administrasi
a.Memimpin, mengatur, serta mengawasi pekerjaan tata usaha, keuangan, dan perdagangan.
b.Membuat laporan-laporan keuangan dan surat menyurat.
c.Mengadakan pengawasan, penggunaan, dan pemeliharaan akte perusahaan.
3.Bidang Komersial
a.Merencanakan dan mengatur kebutuhan barang (obat, alat kesehatan, dll) untuk suatu periode tertentu sesuai aturan yang berlaku.
b.Mengatur & mengawasi penjualan R/, bebas, langganan dsb.
c.Menentukan kalkulasi harga dan kebijakan harga.
d.Berusaha meningkatkan penjualan.
e.Memupuk hubungan baik dengan para pelanggan.
f.Menentukan kpd siapa dpt dilayani kredit atas pembelian obat.
g.Mengadakan efisiensi dalam segala hal.
4.Bidang Tanggungjawab dan Wewenang
a.Internal, bertanggung jawab mengenai segala aktivitas perusahaan kepada PSA. Eksternal bertanggungjawab kepada Departemen Kesehatan.
b.Memimpin dan menggelola karyawan dalam melakukan pengabdian profesinya.
c.Mengatur sistem penerimaan pegawai dan sistem penggajian
Asisten Apoteker (AA)
Tugas :
1.Membantu Apt dalam hal pelayanan R/, OTC (over the counter), pembuatan sediaan obat,
2.Mencatat dan memeriksa keluar masuknya obat
3.Menyusun buku defekta
4.Pembuatan laporan narkotika & psikotropika
5.Pengarsipan R/
Tanggung Jawab : AA bertanggung jawab kepada APA
Reseptir
Tugas :
1.Membuat sediaan dibawah pengawasan Apt dan AA
2.Membantu membuat R/ racikan yg bahan2nya telah disiapkan oleh Apt / AA
3.Membantu mneyelesaikan racikan obat seperti tinggal menggerus dan membungkus
Kasir
Tugas : Mencatat penerimaan uang setelah dihitung (dilengkapi kuitansi, nota, tanda setoran yg sudah diparaf Apt atau petugas yg ditunjuk.
Tenaga Administrasi
Tugas :
1.Membuat laporan harian (catatan penjualan, pembelian, hasil penjualan, tagihan, pengeluaran harian
2.Membuat laporan bulanan seperti daftar gaji dan pajak
Tanggung Jawab bertangggung jawab kepada APA
PENGELOLAAN OBAT
A.PERENCANAAN
Tujuan agar proses pengadaan perbekalan farmasi/ obat yang ada di apotek menjadi lebih efektif dan efisien dan sesuai dengan anggaran yang tersedia.
Faktor2 yg harus dipertimbangkan dalam menyusun perencanaan :
1)Pemilihan pemasok, yg perlu diperhatikan antara lain:
a)Legalitas pemasok(PBF)
b)Service, meliputi ketepatan waktu, barang yang dikirim, ada tidaknya diskon/bonus, layanan obat ED dan tenggang waktu penagihan.
c)Kualitas obat, perbekalan farmasi lain
d)Ketersediaan obat yang dibutuhkan.
e)Harga
2)Ketersediaan barang/perbekalan farmasi
Beberapa hal yg harus diperhatikan :
sisa stok, rata-rata pemakaian obat dalam satu periode pemesanan, frekuensi pemakaian dan waktu tunggu pemesanan, pemilihan metode perencanaan
Adapun metode perencanaan yaitu :
a)metode konsumsi
memperkirakan penggunaan obat berdasarkan pemakaina sebelumnya sbg dasar perencanaan yg akan datang.
b)metode epidemiologi
berdasarkan penyebaran penyakit yg paling banyak terdapat didaerah sekitar apotek
c)metode kombinasi
mengkombinasikan antara metode konsumsi epidemiolog
d)JIT (Just In Time)
Membeli obat pada saat dibutuhkan
B.PENGADAAN
Dapat dilakukan dg cara :
1.Pembelian membeli obat ke PBF
2.Konsinyasi PBF menitipkan barang di apotek dan dibayar setelah laku terjual
Proses pengadaan barang dengan cara pembelian dilakukan melalui beberapa tahapan berikut:
1)Persiapan
untuk mengetahui persediaan yang dibutuhkan apotek untuk melayani pasien. Persediaan yang habis dapat dilihat di gudang atau di kartu stok gudang sehingga jika barang habis dapat dilakukan pemesanan. Persiapan dilakukan dengan cara mengumpulkan data barang-barang yang akan dipesan dari buku defecta, termasuk obat2 baru yg ditawarkan supplier.
2)Pemesanan
Pemesanan dapat dilakukan jika persediaan barang habis, yang dapat dilihat dalam buku defecta. Pemesanan dapat dilakukan langsung ke PBF melalui telepon maupun pesan melalui salesman yang datang ke apotek.
3)Pemesanan dilakukan dgn menggunakan Surat Pesanan (SP). SP minimal dibuat 2 lembar (untuk supplier dan arsip apotek) dan dittd oleh Apt. Biasanya SP dibuat 3 lembar.
SP pembelian narkotika dibuat 5 lembar. (utk KF pusat, KF kota, Dinkes kab, BPOM, Arsip apt)
Narkotika (1 sp utk 1 jenis obat) Psikotropika (1 sp bisa utk lebih dari 1 macam obat)
4)Penerimaan
Dilakukan oleh AA yg mempy SIK setelah menerima barang kiriman harus mencocokkan barang dengan DO/faktur dan SP lembar ke-2 mengenai jumlah, nama obat, harga satuan, perhitungan harga. Bila ada obat dengan ED, dicatat dalam buku tersendiri dn urutan tanggalnya.
5)Pencatatan.
a)Dari faktur yang diterima catat dlm buku penerimaan barang, ditulis nama PBF, nama obat, nomor batch, tgl ED, jumlah harga satuan, potongan harga, jumlah harga, nomor urut dan tanggal penerimaan.
b)Satu hari sekali dilakukan pencatatan penerimaan barang shg dapat diketahui jmlh barang yg dibeli & untuk menjaga agar barang yang dibeli tidak melebihi anggaran pembelian obat.
c)Faktur yang diterima kemudian disimpan untuk diperiksa lagi dan digunakan untuk mencocokkan jika barang harus dilunasi.
6)Pembayaran
a)dilakukan jika sudah jatuh tempo & faktur dikump tiap debitur
b)masing-masing dibuatkan bukti kas keluar serta cek dan giro,
c)kemudian diserahkan ke bagian keuangan utk dittd sebelum dibayarkan kepada supplier.
d)Pembayaran dapat dilakukan secara cash atau kredit, tergantung dari jenis obat, serta perjanjian dengan pihak distributor.
e)utk obat narkotika hrs secara COD (Cash On Delivery).
C.PENYIMPANAN
apotek hrs memiliki perlengkapan & alat penyimpanan perbekalan farmasi : botol dgn ukuran tertentu, jenis & jumlah sesuai dgn kebutuhan, lemari dan rak penyimpanan obat, lemari pendingin untuk menjamin mutu perbekalan farmasi tersebut.
Penyusunan dan penyimpanan obat/barang dpt dilakukan berdasarkan kelas terapeutik, alfabetis, / bentuk sediaannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu :
1)Bahan yg mudah terbakar sebaiknya disimpan terpisah dari bahan yang lainnya.
2)Narkotika disimpan dalam lemari khusus.
3)Obat-obatan yang memerlukan kondisi tertentu seperti insulin, vaksin atau serum perlu disimpan dalam lemari pendingin.
D.PELAYANAN
Menurut Kepmenkes No 1027 th 2004, yg termasuk dlm pelayanan yaitu : pelayanan R/, promosi dan edukasi, pelayanan residential (Home Care) pelayanan farmasi yg bersifat kunjungan rumah khususnya utk kelompok lansia den pasien dengan penyakit kronis.
PENGELOLAAN R/
PENGELOLAAN OBAT WAJIB APOTEK (OWA)
Apoteker dapat menyerahkan Obat Keras tanpa resep dokter kepada pasien. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No.347/MENKES/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek. Adapun latar belakang dari keputusan Menteri Kesehatan tersebut adalah :
1)Meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman, dan rasional.
2)Meningkatkan peran apoteker dalam KIE.
Oleh karena itu perlu ditetapkan keputusan menteri kesehatan tentang obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter di apotek. Hal ini tercantum dalam Permenkes No. 919/Menkes/Per/1993 tentang kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep, yaitu :
1)Tidak dikontraindikasikan untuk wanita hamil, anak dibawah 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
2)Tidak memberikan resiko pada kelanjutan penyakit.
3)Penggunaan tidak memerlukan cara/alat khusus yang harus dilakukan oleh/bantuan tenaga kesehatan.
4)Untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia
5)Memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam keputusan ini, pelayanan OWA yang dilakukan oleh apoteker harus memenuhi cara dan ketentuan, diantaranya sebagai berikut :
1)Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien
2)Membuat catatan pasien dan obat yang diberikan
Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pakai, kontra indikasi, efek samping, dan lain-lain yang perlu diperhatikan pasien.
PENGELOLAAN NARKOTIKA dan PSIKOTROPIKA
Tujuan diadakannya pengelolaan narkotika dan psikotropika adalah untuk mencegah penyalahgunaan obat narkotika dan psikotropika. Sehingga obat-obat narkotika dan psikotropika harus ditangani secara khusus.
1)Narkotika
Narkotika berdasarkan UU Kesehatan No. 2 tahun 1997 pasal 1, adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
a)Pengeluaran Narkotika
Narkotika hanya diberikan kepada pasien yang membawa resep dokter. Resep yang terdapat narkotika diberi tanda garis bawah berwarna merah kemudian dipisahkan untuk dicatat dalam buku register narkotika. Pencatatan meliputi tanggal, nomor resep, tanggal pengeluaran, jumlah obat, nama pasien, alamat pasien, dan nama dokter. Dilakukan pencatatan tersendiri untuk masing-masing nama obat narkotika. Untuk setiap pengeluaran narkotika dicatat dalam kartu stelling, kemudian dicatat pada buku narkotika yang digunakan sebagai pedoman dalam pembuatan laporan bulanan yang dikirim ke Dinas Kesehatan Propinsi, Balai Besar POM Propinsi, Dinas Kesejahteraan Sosial Propinsi dan sebagai arsip yang dilaporkan setiap tanggal 10 tiap bulan. Untuk setiap penggunaan obat tersebut dicatat jumlah pengeluaran dan sisa yang ada, jika ada perbedaan dilakukan pengontrolan lebih lanjut. Hal ini untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan obat.
b)Pemusnahan Narkotika
Sesuai dengan pasal 60 dan 61 UU No. 22 tahun 1997 pemusnahan narkotika harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
(1)Dikarenakan obat kadaluwarsa
(2)Tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan untuk pelayanan kesehatan
(3)Dilakukan dengan menggunakan berita acara yang memuat:
(a)Nama, jenis, sifat dan jumlah
(b)Keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun.
(c)Tanda tangan dan identitas pelaksana dan pejabat yang menyaksikan (ditunjuk oleh MenKes).
(4)Ketentuan lebih lanjut syarat dan tata cara pemusnahan diatur dengan Keputusan Menteri Kesehatan.
c)Pelaporan
Laporan penggunaan narkotika setiap bulannya dikirim ke Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial kabupaten/kota dan dibuat tembusan ke Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial propinsi, Balai Besar POM DIY dan untuk arsip apotek. Pelaporan selambat-lambatnya tanggal 10 tiap bulannya. Laporan bulanan narkotika berisi nomor urut, nama sediaan, satuan, jumlah pada awal bulan, pemasukan, pengeluaran, dan persediaan akhir bulan serta keterangan. Khusus untuk penggunaan morphin, pethidin, dan derivatnya dilaporkan dalam lembar tersendiri disertai dengan nama dan alamat pasien serta nama dan alamat dokter.
2)Psikotropika
UU No.5 tahun 1997 tentang psikotropika menyatakan bahwa psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah maupun sintesa yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Berdasarkan UU No.5 Tahun 1997, pasal 3 tentang Psikotropika, tujuan pengaturan di bidang psikotropika adalah:
a)Menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan.
b)Mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropik.
c)Memberantas peredaran gelap psikotropik
(1)Pengadaan
Menurut UU No.5 tahun 1997 pemesanan psikotropika menggunakan surat pesanan yang telah ditandatangani oleh apoteker kepada PBF atau pabrik obat. Penyerahan psikotropika oleh apoteker hanya dapat dilakukan untuk apotek lain, Rumah Sakit, Puskesmas, Balai Pengobatan, dokter dan pelayanan resep dokter
(2)Penyimpanan
Penyimpanan obat golongan psikotropika belum diatur oleh peraturan perundang-undangan. Obat-obat psikotropik cenderung disalahgunakan, maka disarankan penyimpanan obat-obat golongan psikotropika diletakan tersendiri dalam rak atau lemari khusus.
(3)Pengeluaran
Penggunan psikotropika perlu dilakukan monitoring dengan mencatat resep-resep yang berisi psikotropika dalam buku register psikotropika yang berisi nomor, nama sediaan, satuan, persediaan awal, jumlah pemasukan, nama PBF, nomor faktur PBF, jumlah pengeluaran, persediaan akhir, nama pasien dan nama dokter.
Penyerahan psikotropika menurut pasal 14 UU No. 5 tahun 1997:
a)Penyerahan psikotropika dalam rangka peredaran hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan dan dokter.
b)Penyerahan psikotropik oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan kepada pengguna/pasien.
c)Penyerahan psikotropika oleh rumah sakit, balai pengobatan, puskesmas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan kepada pengguna/pasien.
d)Penyerahan psikotropika oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, dan balai pengobatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan resep dokter.
e)Penyerahan psikotropika oleh dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam hal:
(1)Menjalankan praktek terapi dan diberikan melalui suntikan.
(2)Menolong orang sakit dalam keadaan darurat.
(3)Menjalankan tugas di daerah terpencil.
f)Psikotropika yang diserahkan dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (5) hanya dapat diperoleh dari apotek.
(4)Pemusnahan
Pemusnahan psikotropika dilakukan karena:
(a)Kadaluarsa
(b)Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan.
(c)Dilakukan dengan pembuatan berita acara yang memuat: nama, jenis, sifat dan jumlah, keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun, tanda tangan dan identitas pelaksana dan pejabat yang menyaksikan (ditunjuk MenKes).
(5)Laporan
Laporan penggunaan psikotropika dikirim kepada Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial DIY, Balai Besar POM DIY, dan untuk arsip apotek. Pelaporan selambat-lambatnya tanggal 10 tiap bulannya. Laporan bulanan psikotropika berisi nomor urut, nama sediaan jadi (paten), satuan, jumlah awal bulan, pemasukan, pengeluaran, persediaan akhir bulan serta keterangan.
PENGELOLAAN OBAT ED
Obat-obat yang rusak dan kadaluarsa merupakan kerugian bagi apotek, oleh karenanya diperlukan pengelolaan agar jumlahnya tidak terlalu besar. Obat-obat yang rusak akan dimusnahkan karena tidak dapat digunakan dan tidak dapat dikembalikan lagi ke PBF.
Obat kadaluarsa yang dibeli oleh apotek dapat dikembalikan ke PBF sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati antara kedua belah pihak. Batas waktu pengembalian obat yang kadaluarsa yang ditetapkan oleh PBF 3-4 bulan sebelum tanggal kadaluarsa, tetapi ada pula yang bertepatan dengan waktu kadaluarsanya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/MenKes/Per/X/1993 pasal 12 ayat (2), menyebutkan bahwa obat dan perbekalan farmasi lainnya yang karena sesuatu hal tidak dapat digunakan lagi atau dilarang digunakan, harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
Pada pasal 13 menyebutkan bahwa pemusnahan yang dimaksud dilakukan oleh Apoteker Pengelola Apotek atau Apoteker Pengganti, dibantu oleh sekurang-kurangnya seorang karyawan apotek yang bersangkutan, disaksikan oleh petugas yang ditunjuk Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan setempat. Pada pemusnahan dengan bentuk yang telah ditentukan dalam rangkap lima yang ditandatangani oleh Apoteker Pengelola atau Apoteker Pengganti dan petugas Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan setempat. Pemusnahan obat-obat narkotika dan psikotropika yang sudah kadaluarsa dilaksanakan oleh apoteker dengan disaksikan oleh petugas Dinas Kesehatan dan sekurang-kurangnya seorang karyawan apotek. Sedangkan untuk obat non narkotika-psikotropika dilaksanakan oleh apoteker dibantu oleh sekurang-kurangnya seorang karyawan apotek.
Tuesday, December 22, 2009
SIMPLISIA HERBA SELADA AIR
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.Berkat rahmat dan petunjuk-Nya penulis bisa menyelesaikan tugas makalah Farmakognosi yang berjudul “ Herba Selada Air ”dengan baik dan tepat waktu.
Disusunnya makalah ini bertujuan sebagai tugas mata kuliah Farmakognosi .Penulis berharap supaya penulisan makalah ini bisa menambah pengetahuan mahasiswa dalam ilmu Farmakognosi serta bisa memberi motivasi kepada mahasiswa untuk menjadi mahasiswa yang lebih kreatif,inovatif dan bersemangat tinggi dalam menuntut ilmu.
Di dalam penyusunan makalah Farmakognosi ini penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada:
1. Tuhan YME atas rahmat dan petunjuk-Nya
2. Orang tua yang selalu memberi bimbingan dan motivasi
3. Bapak Sugeng, Ibu Layli, Ibu Ninik, Ibu Mamik selaku dosen farmakognosi yang telah mendidik dan membimbing penulis
4. Teman-teman,serta pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah Farmakognosi ini.
Dengan segala keterbatasan yang dimiliki penulis ,penulis selalu mengharapkan dukungan,dorongan serta saran yang membangun agar tujuan penulisan makalah ini dapat terlaksana dengan baik.Penulis juga meminta maaf apabila ada yang salah dalam penyusunan makalah ini baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Malang,16 November 2009
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai bahan obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia terbagi atas simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia mineral.
Salah satu tanaman yang merupakan salah satu simplisia nabati adalah herba selada air . Selada air (Nasturtium officinale) yang cepat tumbuh, air atau semi-akuatik, tanaman abadi asli dari Eropa ke pusat Asia, dan salah satu tertua sayur daun yang dikonsumsi oleh manusia. Ini adalah sebuah spesies invasif di Danau Besar wilayah dimana pertama kali terlihat pada 1847. Tanaman ini adalah anggota dari Keluarga Brassicaceae atau kubis . Batangnya berongga dan mengambang. Selada air menghasilkan bunga yang kecil dan berwarna putih.
Budidaya selada air berkembang terbaik dalam air yang sedikit basa. Tanaman ini sering ditanam di sekitar hulu sungai kapur. Dalam pasar lokal, permintaan selada air melebihi pasokan. Hal ini disebabkan oleh selada air yang cocok untuk distribusi dalam bentuk kering dan hanya dapat disimpan untuk waktu yang singkat.
Jika dipanen, selada air dapat tumbuh hingga ketinggian 50-120 cm. Juga dijual sebagai kecambah, tunas yang dapat dimakan dipanen hari setelah berkecambah. Seperti banyakkan dalam famili tumbuhan ini, dedaunan selada air menjadi pahit ketika tanaman mulai menghasilkan bunga.
Selada air mengandung sejumlah besar zat besi, kalsium dan asam folat, selain vitamin A dan C. Banyak manfaat dari makan selada air , seperti yang bertindak sebagai stimulan, sumber phytochemical dan antioksidan, diuretik, ekspektoran, dan membantu pencernaan .Juga dipercaya dapat membantu melindungi terhadap kanker paru-paru. Karena tinggi yodium konten, selada air memiliki efek penguatan pada kelenjar tiroid, sehingga bermanfaat bagi yang menderita hipotiroidisme.
Dalam makalah ini, kami khusus membahas tentang herba selada air. Sesuai dengan ketentuan judul yang diberikan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah farmakognosi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Bagaimanakah taksonomi herba selada air?
1.2.2 Bagaimanakah morfolgi herba salada air?
1.2.3 Bagaimanakah kandungan kimia herba selada air?
1.2.4 Bagaimanakah khasiat herba selada air?
1.2.5 Bagaimanakah pembuatan simplisia herba selada air?
1.2.6 Bagaimanakah pengujian simplisia herba selada air?
1.2.7 Bagaimanakah pengamatan terhadap simplisia herba selada air?
1.3 TUJUAN
1.3.1 Untuk mengetahui taksonomi herba salada air
1.3.2 Untuk mengetahui morfologi herba selada air
1.3.3 Untuk mengetahui kandungan kimia herba selada air
1.3.4 Untuk mengetahui khasiat herba selada air
1.3.5 Untuk mengetahui pembuatan simplisia herba selada air
1.3.6 Untuk mengetahui pengujian simplisiaherba selada air
1.3.7 Untuk mengetahui pengamatan terhadap simplisia herba selada air
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 TAKSONOMI HERBA SELADA AIR
Nama Latin:
Nasturtium officinale R.Br
Nama Simplisia:
Nasturtii Herba
Sinonim:
Rorippa nasturtium-aquaticum , R. microphylla,
Nama Daerah:
Sumatera : selada ayer ; jawa : selada cay
Kingdom :
Plantae
Subkingdom :
Tracheobionta
Super Divisi :
Spermatophyta
Divisi :
Magnoliophyta
Kelas :
Magnoliopsida
Sub Kelas :
Dilleniidae
Ordo :
Capparales
Famili :
Cruciferae
Genus :
Nasturtium
2.2 MORFOLOGI HERBA SELADA AIR
• Tinggi Tanaman: Tumbuh hingga mencapai 50 - 120 cm
• Batang : Berbentuk bulat, Berwarna muda kehijauan
• Daun:
o Daun majemuk gasal
o warna hijau sampai kecoklatan
o ujungnya berbentuk jorong melebar sampai bundar
o pangkal berbentuk jantung , membundar atau tumpul
o panjang 1,5 – 4,5 cm
setelah diukur didapat memiliki panjang 3,5 cm
o lebar 1 – 3 cm
Setelah diukur didapat lebarnya 3 cm
o Tepi bergelombang
o Permukaan datar dan rata
• Akar : Berbentuk serabut, merambat seperti tanaman kangkung
2.3 KANDUNGAN KIMIA HERBA SELADA AIR
1. glikonasturtiin
2. minyak atsiri
3. rafanol
4. zat pahit
5. vitamin
2.3.1 Glikonasturtiin
Gluconasturtiin adalah glucosinolate dengan nama kimia phenethylglucosinolate. Ini adalah salah satu yang paling banyak didistribusikan di glucosinolates silangan, terutama di akar, dan mungkin salah satu dari senyawa tanaman yang bertanggung jawab atas hama alami-sifat menghambat pertumbuhan silangan, seperti kubis, sawi, di rotasi dengan tanaman. Efek gluconasturtiin ini kemungkinan besar karena sifatnya degradasi oleh enzim tanaman myrosinase ke phenethyl isothiocyanate, yang merupakan racun bagi banyak organisme.
Ditemukan dalam Gluconasturtiin lobak (Armoracia rusticana) bersama dengan sinigrin. Kedua senyawa mendatangkan suatu tajam rasanya.
Dalam akar berkembang penuh, konsentrasi sinigrin mewakili 83% dan gluconasturtiin 11% dari diekstrak glucosinolates.
Gluconasturtiin
Nama lain Phenethylglucosinolate
identifikasi
Nomor CAS
499-30-9
PubChem
9548618
Properties
Rumus
C 15 H 21 NO 9 S 2
Massa molar
423.461 g/mol
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data diberikan untuk bahan dalam keadaan standar (25 ° C, 100 kPa)
2.3.2 Minyak atsiri
• Pengertian
Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman. Minyak ini disebut juga minyak menguap, minyak eteris, atau minyak esensial karena pada suhu biasa (suhu kamar) mudah menuap pada udara terbuka. Istilah esensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya. Dalam keadaan segar dan murni tanpa pencemar, minyak atsiri umumnya tidak berwarna. Namun, pada penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi dan membentuk resin serta warnanya berubah menjadi lebih tua atau gelap. Untuk mencegah supaya tidak berubah warna minyak atsiri harus terlindungi dari pengaruh cahaya, misalnya disimpan dalam bejana gelas yang berwarna gelap. Bejana tersebut juga diisi sepenuh mungkinsehingga tidak memungkinkan berhubungan langsung dengan oksigen udara, ditutup rapat, serta disimpan ditempat yang kering dan sejuk.
• Sifat-sifat minyak atsiri
Adapun sifat-sifat minyak atsiri diterangkan sebagai berikut :
i. Tersusun oleh bermacam-macam komponen senyawa.
ii. Memiliki bau khas. Umumnya bau ini mewakili bau tanaman asalnya. Bau minyak atsiri satu dengan yang lainnya berbeda, sangat tergantung dari macam dan intensitas bau dari masing- masing komponen penyusunnya.
iii. Mempunyai rasa getir, kadang-kadang berasa tajam mengigit, memberi kesan hangat sampai panas atau justru dingin ketika terasa di kulit, tergantung dari jenis komponen penyusunnya.
iv. Dalam keadaan murni (bekum tercemar oleh senyawa lain) mudah menguap pada suhu kamar sehingga bila diteteskan pada selembar kertas maka ketika dibiarkan menguap tidak meninggalkan bekas noda pada benda yang ditempel.
v. Bersifat tidak bias disabunkan dengan alkali dan tidak bisa berubah menjadi tengik (rancid). Ini berbeda dengan minyak lemak yang tersusun oleh asam-asam lemak.
vi. Bersifat tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan, baik pengaruh oksigen udara, sinar matahri (terutama gelombang ultraviolet), dan panas karena terdiri dari berbagai komponen penyusun.
vii. Indeks bias umumnya tinggi.
viii. Pada umumnya bersifat optis aktif dan memutar bidang polarisasi dengan rotasi yang spesifik karena banyak komponen penyusun yang memiliki atom C asimetrik.
ix. Pada umumnya tidak bercampur dengan air tetapi cukup dapat larut gingga dapat memberikan baunya kepada air walaupun kelarutannya sangat kecil.
x. Sangat mudah larut dalam pelarut organic.
• Keberadaan Minyak Atsiri Dalam Tanaman
Minyak atsiri terkandung dalam berbagai organ, seperti di dalam rambut kelenjar (pada famili labiatae), di dalam sel-sel parenkim (misalnya famili piperaceae), di dalam saluran minyak yang disebut vittae (famili umbelliferae), di dalam rongga-rongga skizogen dan lisigen (pada famili pinaceae dan rutaceae), terkandung di dalam semua jaringan (pada famili coniferae). Pada bunga mawar kandungan minyak atsiri terbanyak terpusat pada mahkota bunga, pada kayu manis (sinnamon) banyak ditenui di kulit batang (cortex), pada famili umbelliferae banyak terdapat dalam perikarp buah, pada menthae sp terdapat dalam rambut kelenjar batang dan daun, serta pada jeruk terdapat dalam kulit buah dan dalam helai daun.
Minyak atsiri dapat terbentuk secara langsung oleh protoplasma akibat adanya peruraian akibat lapisan resin dari dinding sel atau oleh hidrolisis dari glikosida tertentu. Peranan utama dari minyak atsiri terhadap tumbuhan itu sendiri adalah sebagai pengusir serangga (mencegah daun dan bunga rusak) serta sebagai pengusir hewan-hewan pengusir lainnya. Namun sebaliknya minyak atsiri juga berfungsi sebagai penarik serangga guna membantu terjadinya penyerbukan silang dari bunga.
• Biosintesis Komponen Minyak Atsiri
Kerangka dasar komponen minyak atsiri adalah terpena yang terdiri dari satuan isoprena. Satuan isoprene yang berperan aktif secara biosintetik adalah isopetenil pirofosfat, dimetil alil pirofosfat, serta senyawa-senyawa yang terbentuk dari asam asetat lewat jalur biosintesis asam mevalonat. Geranil pirofosfat adalah precursor C10 dari terpena dan dianggap memiliki peran utama dalam pembentukan monoterpena serta dibentuk melalui kondensasi dari masing-masing satuan isopentenil pirofosfat dan dimetil alil pirofosfat. Geranil pirofosfat dianggap sebagai precursor langsung untuk monoterpena siklis. Namun senyawa ini berupa isomer sis terhadap neril pirofosfat sebelum monoterpena siklis dapat dibentuk. Sebab isomer trans tidak mempunyai stereo kimia yang tepat untuk siklisasi. Kemungkinan lain adalah pembentukan neril pirofosfat dari isopentenil pirofosfat. Dalam hal ini dimetilalil pirofosfat tidak tergantung pada langkah geranil pirofosfat. Bentuk pertengahan dalam pembentukan terpena siklis ditunjukkan sebagai ion karbonium.
Prekursor utama untuk komponen fenil propanoid dalam minyak atsiri adalah asam sinamat dan asam P-hidroksi-sinamat yang juga dikenal sebagai asam P-komarat. Dalam tanaman, senyawa ini dibentuk dari asam amino aromatic fenilalanin dan tirosid yang akhirnya disintesis lewat jalur asam sikimat. Jalur biosintetik ini dapat dilakukan oleh mikroorganisme dengan menggunakan mutan auksotropik Eschericia coli dan Enterobacter aerogenes yang membutuhkan asam amino aromatic untuk pertumbuhannya.
• Kandungan Kimiawi Minyak Atsiri
Tidak satu pun minyak atsiri tersusun dari senyawa tunggal,tetapi merupakan campuran komponen yang terdiri dari tipe-tipe yang berbeda. Berdasarkan cara isolasinya, komponen penyusun minyak atsiri dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok seperti berikut.
1.Kelompok yang mengkristal pada suhu rendah, misalnya stearoptena.
2. Kelompok senyawa yang dapat di pisahkan melalui proses distilasi bertingkat.
3.Kelompok senyawa yang di pisahkan melalui proses kristalisasi bertingkat.
4.Kelompok yang senyawa pemisahannya dilakukan melalui kromatrografi.
5.Kelompok senyawa yang diisolasi melalui proses-proses kimia.
Minyak atsiri sebagian besar terdiri dari senyawa terpena, yaitu suatu senyawa produk alami yang strukturnya dapat dibagi ke dalam satuan-satuan isoprena (C5H8) ini terbentuk dari asetat melalui jalur biosintesis asam mefalonat dan merupakan rantai bercabang lima satuan atom karbon yang mengandung 2 ikatan rangkap. Senyawa yang terdiri dari 2 satuan isoprena disebut sebagai Monoterpena (rumus molekul C10H16) , senyawa yang mengandung 3 satuan isoprena disebut seskuiterpena (C15H24), yang mengandung 4 satuan isoprena disebut diterpena (C20H32), Mengandung 6 isoprena disebut triterpena (C30H38) dst.
Terpena yang paling sering terdapat sebagai penyusun minyak atsiri adalah monoterpena. Monoterpena banyak ditemui dalam bentuk asiklik, monosiklik, serta bisiklis sebagai hidrokarbon dan keturunan yang teroksidasi seperti alkohol, aldehida, keton, fenol, dan ester. Terpena lain di bawah monoterpena yang berperan penting sebagai penyusun minyak atsiri adalah seskuiterpena dan diterpena.
Kelompok besar lain dari komponen penyusun minyak atsiri adalah golongan fenil propana. Senyawa ini mengandung cincin fenil C6 dengan rantai samping berupa propana C3. Banyak di antara fenil propanoid yang terdapat pada minyak atsiri berwujud sebagai fenol atau eter fenol.
2.3.3 Vitamin
Vitamin adalah sekelompok senyawa organik berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme organisme. Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin adalah kofaktor dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Istilah "vitamin" sebenarnya sudah tidak tepat untuk dipakai dalam pengertian biokimia karena tidak memiliki kesamaan struktur tetapi akhirnya dipertahankan dalam konteks ilmu kesehatan dan gizi. Nama ini berasal dari gabungan kata bahasa Latin vita yang artinya "hidup" dan amina (amine) yang mengacu pada suatu gugus organik yang memiliki atom nitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian. Kelak diketahui bahwa banyak vitamin sama sekali tidak memiliki atom N.
Sebagai salah satu komponen gizi, vitamin diperlukan memperlancar proses metabolisme tubuh, dan tidak berfungsi menghasilkan energi. Vitamin terlibat dalam proses enzimatik.Tubuh memerlukan vitamin dalam jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan yang sedikit itu diabaikan, akan mengakibatkan terganggunya metabolisme di dalam tubuh kita karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Kondisi kekurang vitamin disebut avitaminosis.
Pada umumnya vitamin tidak dapat dibuat sendiri oleh hewan (atau manusia) karena mereka tidak memiliki enzim untuk membentuknya, sehingga harus dipasok dari makanan. Akan tetapi, ada beberapa vitamin yang dapat dibuat dari zat-zat tertentu (disebut provitamin) di dalam tubuh. Contoh vitamin yang mempunyai provitamin adalah vitamin D. Provitamin D banyak terdapat di jaringan bawah kulit. Vitamin lain yang disintetis di dalam tubuh adalah vitamin K dan vitamin B12. Kedua macam vitamin tersebut disintetis di dalam usus oleh bakteri.
• Vitamin C
Vitamin C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin c termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam, oleh karena itu penggunaaan vitamin C sebagai antioksidan semakin sering dijumpai.
Vitamin C perlu untuk menjaga struktur kolagen, sejenis protein yang menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di tubuh manusia. Struktur kolagen yang baik dapat menyembuhkan luka, patah tulang, memar, perdarahan kecil dan luka ringan.
Vitamin C juga berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi dan mempertajam kesadaran. Sebagai antioksidan ia mampu menetralkan radikal bebas di seluruh tubuh. Melalui pengaruh pencahar, ia dapat meningkatkan pembuangan faeses atau kotoran. Tak heran bila berlebihan, vitamin ini dapat mengakibatkan diare. Untuk pencegahan kurangi konsumsinya, atau ganti dengan natriumaskorbat.
Vitamin C juga mampu menangkal nitrit penyebab kanker. Penelitian di Institut Teknologi Massachusetts menemukan, pembentukan nitrosamin (hasil akhir pencernaan bahan makanan yang mengandung nitrit) dalam tubuh sejumlah mahasiswa yang diberi vitamin C berkurang sampai 81%.
Kebutuhan vitamin C memang berbeda-beda bagi tiap orang, tergantung kebiasaan masing-masing. Pada remaja, kebiasaan yang berpengaruh di antaranya: merokok, minum kopi, atau minuman beralkohol, konsumsi obat tertentu seperti obat antikejang, antibiotik tetrasiklin, antiartritis, obat tidur, dan kontrasepsi oral. Kebiasaan merokok menghilangkan 25% vitamin C dalam darah. Selain nikotin senyawa lain yang berdampak sama buruknya adalah kafein. Maka, sebisa mungkin hindari minum kopi, teh, dan cola. Selain itu stres, demam, infeksi, dan giat berolahraga juga meningkatkan kebutuhan akan vitamin C.
• Vitamin A
Vitamin A terhubung dengan keluarga sama berbentuk molekul, retinoid, yang menyelesaikan sisa vitamin urutan. Yang penting adalah grup retinyl, yang dapat ditemukan dalam beberapa bentuk. Dalam makanan asal hewan, bentuk utama vitamin A adalah suatu ester, terutama retinyl palmitate, yang dikonversi ke alkohol (retinol) di usus kecil. Vitamin A dapat juga berada dalam suatu aldehida (retina). Asam (retinoic acid), suatu metabolit, hanya sebagian aktivitas vitamin A, dan tidak berfungsi di retina. Semua bentuk vitamin A memiliki beta-ionone cincin yang suatu isoprenoid rantai terpasang. Struktur ini sangat penting untuk aktivitas vitamin. [1] Para pigmen oranye dari wortel - beta-karoten - dapat digambarkan sebagai dua retinyl terhubung kelompok, yang digunakan dalam tubuh untuk memberikan kontribusi untuk vitamin A level. Alpha-karoten dan gamma-karoten juga memiliki retinyl satu kelompok yang memberi mereka aktivitas vitamin. Tak satu pun dari karotin lain memiliki aktivitas vitamin. Beta-karotenoid cryptoxanthin ionone memiliki sebuah kelompok dan memiliki aktivitas vitamin pada manusia.
ketika melekat pada protein tertentu, adalah satu-satunya cahaya utama penyerap dalam persepsi visual, dan nama senyawa berhubungan dengan retina mata. Kelompok ini juga yang retinyl fungsi dalam asam retinoic, yang mirip hormon pameran kegiatan di bagian lain dari tubuh.
Vitamin A dapat ditemukan dalam berbagai bentuk:
o Retinol, bentuk vitamin A diserap ketika makan sumber makanan hewan, adalah kuning, larut dalam lemak, vitamin dengan visi dan penting dalam pertumbuhan tulang. Karena bentuk alkohol tidak stabil, vitamin biasanya diproduksi dan diberikan dalam bentuk retinyl asetat atau palmitate.
o lain retinoid, sebuah kelas senyawa kimia yang terkait secara kimiawi menjadi vitamin A, digunakan dalam kedokteran.
o alpha-carotene, beta-karoten, gamma-karoten; dan xanthophyll beta-cryptoxanthin (semua yang mengandung beta-ionone cincin), tapi tidak lain karotenoid, berfungsi sebagai vitamin A pada hewan herbivora dan omnivore, yang memiliki enzim diperlukan untuk mengkonversi senyawa tersebut ke retina. Karnivora pada umumnya miskin konverter dari ionine-containg karotenoid, dan karnivora murni seperti kucing dan kurangnya ferets beta-karoten 15,15 '-monooxygenase dan tidak bisa mengubah apapun karotenoid untuk retinals (sehingga tidak ada bentuk karotenoid menjadi vitamin A untuk spesies ini ).
2.4 KHASIAT HERBA SELADA AIR
Herba selada air memiliki beberapa khasiat, antara lain
• Bronkitis
• Pilek
• Batuk
• Peluruh air seni (Diuretik)
• gondok
• Kelesuan
• Kekurangan vitamin
• Rasa panas di paru-paru
• Iritasi kulit
• Membersihkan Darah
• Mengurangi resiko kanker
2.5 PENGUJIAN SIMPLISIA HERBA SELADA AIR
2.5.1 Identifikasi
A. Pada 2 mg serbuk herba tanbahkan 5 tetes asam sulfat P ; Terjadi warna coklat tua.
B. Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes asam sulfat 10 N ; terjadi warna coklat muda.
C. Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes larutan natrium hidroksida P 5 % b/v dalam etanol P ; terjadi warna hijau.
D. Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes ammonia (25%) P; terjadi warna coklat tua
E. Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes larutan besi (III) klorida P 5% b/v ; terjadi warna coklat kehijauan.
F. Timbang 300 mg serbuk herba campur dengan 5 ml methanol P dan panaskan diatas tangas air selama 2 menit, dinginkan dan saring. Cuvi ebdapan dengan metanol P secukupnya sehingga diperolah 5 ml filtrate. Pada titik pertama, kedua dan ketiga lempeng KLT tutulkan masing-masing sebagai 40 μl filtrate. Pada titik keempat tutulkan 5 μl zat warna I LP. Evaluasi dengan dikloroetana P dengan jarak rambat 15 cm. Keringkan lempeng tersebut diudara selama 10 menit, evaluasi lagi dengan toluene P dengan arah evaluasi dan jarak rambut yang sama. Amati lagi dengan sinar biasa dan dengan sinar ultraviolet 366 nm. Selanjutnya disemprot dengan pereaksi anisaldehida-asam sulfat LP, panaskan pada suhu 110oC selama 10 menit. Amati lagi dengan sinar bias dan dengan sinar ultraviolet 366 nm. Dengan perlakuan yang sama seperti cara kerja diatas dilakukan juga penyemprotan dengan pereaksi AlCl3 LP. Pada kromatogram tampak bercak-bercak dengan warna dan hRx sebagai berikut :
Dengan sinar biasa Dengan sinar UV 366 nm
NO hRx Tanpa
Pereaksi Dengan reaksi Tanpa pereaksi Dengan reaksi
I II I II
1
2
3
4
5 9-12
12-15
25-28
29-33
123-129 Kuning
Hijau
Hijau
Hijau
- -
Ungu
Hijau
Ungu
Ungu -
Hijau
Merah
Hijau
- Kuning
Merah
Merah
Merah
- Violet
Merah
Merah
Violet
Violet -
Merah
-
Merah
-
Catatan : Harga Rx dihitung terhadap bercak warna merah ( yang diamati dengan sinar biasa atau warna ungu dengan sinar UV 366 nm )
hRf bercak warna merah = 65
Tanda I = Pereaksi anisaldehida-asam sulfat LP
II = Pereaksi AlCl3 LP
2.5.2 Uji Kemurnian
Kadar abu. Tidak lebih dari 18 %.
Kadar abu yang tidak larut dalam asam. Tidak lebih dari 5 %.
Kadar sari yang larut dalam air. Tidak kurang dari 40 %.
Kadar sari yang larut dalam etanol. Tidak kurang dari 9 %.
Bahan organic asing. Tidak lebih dari 2 %.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat :
• Gunting
• Wadah
• Tempat pengeringan
• Oven
• Blender
• Ayakan
• Mikroskop
• Objekglass
• Coverglass
• Silet
• Korek api
• Tempat penyimpanan simplisia
3.1.2 Bahan
• Herba Selada Air
• Chloral Hidrat
3.2 Pembuatan Simplisia Herba Selada Air
Tahapan Pembuatan
3.2.1 Pengumpulan Bahan Baku
(Dilakukan pada: Selasa, 1 Desember 2009 )
a. Bagian tanaman yang digunakan : daun, batang dan tangkai daun
b. Umur tanaman waktu dipanen: setelah tanaman berumur 3-4 bulan
c. Lingkungan tempat tumbuh : yang mengandung banayak air , seperti hulu sungai atau sawah
d. Cara pengumpulan : dipotong diatas tanah setinggi 10 cm dengan cara memangkas daun dan batangnya
3.2.2 Sortasi Basah
(Dilakukan pada: Selasa, 1 Desember 2009 )
Sortasi basah dilakukan dengan tujuan memishkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. Dalam sortasi basah yang kami lakukan didapatkan benda asing berupa daun kering, daun yang berlubang, ranting-ranting daun, daun lain yang bukan merupakan tanaman selada air pada simplisia kami.
3.2.3 Pencucian
(Dilakukan pada: Selasa, 1 Desember 2009 )
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya yang melekat pada simplisia. Pada pencucian yang kami lakukan, kami menggunakan air PDAM karena mudah didapat, dan harganya terjangkau
3.2.4 Perajangan
Tujuan perajangan pada simplisia adalah untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan, dan penggilingan. Namun pada herba, perajangan jarang dilakukan karena ketebalan daun pada golongan herba sangatlah tipis.
Untuk itu, pada herba selada air juga tidak dilakukan perjangan. Karena dikhawatirkan, pada saat pengeringan kadar zat aktif berkurang karena ketebalan daun sangat tipis.
3.2.5 Pengeringan
• Hari pertama pengeringan
(Dilakukan pada: Selasa, 1 Desember 2009 )
• Hari terakhir pengeringan ( Setelah daun sudah menegering )
(Dilakukan pada: Selasa, 8 Desember 2009 )
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan mencegah penurunan mutu atau perusakan simplisia.
Cara pengeringan yang kami lakukan adalah dengan pengeringan alamiah dengan dipanaskan dengan sinar matahari . Dan tempat untuk pengeringan adalah yang berlubang untuk mempercepat pengeringan. Setelah hampir kering kami menggunakan oven untuk mendapat simplisia yang lebih kering lagi, dengan suhu 60o C selama 30 menit
3.2.6 Sortasi Kering
(Dilakukan pada: Selasa,8 Desember 2009 )
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuan sortasi ini adalah untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering.
3.2.7 Pengepakan dan Penyimpanan
(Dilakukan pada: Selasa, 8 Desember 2009)
Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena berbagai faktor luardan dalam, seperti cahaya, oksigen, reaksi kimia intern, dehidrasi, penyerapan air, pengotoran, serangga, dan kapang. Untuk itu simplisia disimpan dalam wadah yang dapat menanggulangi hal tersebut dan tempat yang terhindar dari hal tersebut.
Penyimpanan yang kami lakukan adalah dengan menyimpan simplisia yang sudah kering dalam toples kedap udara
3.3 Pembuatan Serbuk Simplisia
3.3.1 Menghaluskan Serbuk Simplisia
(Dilakukan pada: Selasa , 8 Desember 2009 )
Pembuatan serbuk simplisia yang kemi lakukan dengan cara menghaluskan simplisia yang sudah kering dengan cara diblender
3.3.2 Pengayakan Simplisia
( Dilakukan pada : Selasa, 8 Desember 2009 )
hasil serbuk simplisia dengan cara diayak, dengan menggunakan pengayak no 25. sehingga didapat serbuk simplisia yang sangat halus.
3.3.3 Penyimpanan Serbuk Simplisia
( Dilakukan pada : Selasa, 8 Desember 2009 )
Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena berbagai faktor luardan dalam, seperti cahaya, oksigen, reaksi kimia intern, dehidrasi, penyerapan air, pengotoran, serangga, dan kapang. Untuk itu simplisia disimpan dalam wadah yang dapat menanggulangi hal tersebut dan tempat yang terhindar dari hal-hal tersebut.
Penyimpanan yang kami lakukan dengan cara meletakkan serbuk simplisia dalam pot plastic yang kedap udara dan memberi silika gel agar tetap kering.
3.7 PENGAMATAN TERHADAP SIMPLISIA HERBA SELADA AIR
3.7.1 Pengamatan mikroskopis dengan penampang melintang
1.Xilem dan Floem
2.Jaringan Bunga Karang
3.Epidermis
3.7.2 Pengamatan serbuk simplisia
a. Organoleptis Serbuk
Warna: hijau
Rasa: mula-mula tawar kemudian terasa tebal di lidah
Bau: agak anyir
Bentuk: serbuk halus
b. Pengamatan mikroskopis serbuk simplisia
1.Jaringan Bunga karang
2.Berkas Pembuluh
3.Epidermis
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Selada air merupakan tanaman yang hidup di dalam tanah yang banyak mengandung air seperti sawah atau hulu sungai. Yang diambil dari tanaman ini adalah daun dan batangnya. Daun dari tanaman ini berbentuk majemuk gasal dan berwarna hijau sampai hijau kecoklatan sedang batangnya berbentuk bulat berwarna hijau muda.
Tanaman yang memiliki nama latin Nasturtium officinale R.Br ini memiliki kandungan kimia berupa Glikonasturtiin, minyak atsiri, rafanol, zat pahit dan vitamin. Dan memiliki khasiat Peliruh air seni ( Diuretik ), Bronkitis, Pilek, Batuk, Gondok , Kelesuan, Kekurangan vitamin, Rasa panas di paru-paru, Iritasi kulit, Membersihkan Darah, dan Mengurangi resiko kanker
4.2 SARAN
Dalam pengobatan tidak hanya digunakan zat-zat kimia tapi dapat juga digunakan berbagai tanaman obat yang memiliki khasiat-khasiat tertentu. Tanaman obat ini dapat tumbuh di sekitar rumah ataupun dapat digunakan sebagai tanaman hias di rumah, sehingga bila terkena penyakit, kita bisa langsung mengobatinya dengan tanaman obat yang ada di rumah yang memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
MATERIA MEDIKA
http://www.plantamor.com/index.php?plant=888
http://www,watercress,com
http://id.wikipedia.org/wiki/watercress
http://sekarmenur.blogspot.com/2008/02/lagi-tentang-selada-air.html
http://www.iptek.net.id/ind/teknologi_pangan/index.php?mnu=2&id=296
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.Berkat rahmat dan petunjuk-Nya penulis bisa menyelesaikan tugas makalah Farmakognosi yang berjudul “ Herba Selada Air ”dengan baik dan tepat waktu.
Disusunnya makalah ini bertujuan sebagai tugas mata kuliah Farmakognosi .Penulis berharap supaya penulisan makalah ini bisa menambah pengetahuan mahasiswa dalam ilmu Farmakognosi serta bisa memberi motivasi kepada mahasiswa untuk menjadi mahasiswa yang lebih kreatif,inovatif dan bersemangat tinggi dalam menuntut ilmu.
Di dalam penyusunan makalah Farmakognosi ini penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada:
1. Tuhan YME atas rahmat dan petunjuk-Nya
2. Orang tua yang selalu memberi bimbingan dan motivasi
3. Bapak Sugeng, Ibu Layli, Ibu Ninik, Ibu Mamik selaku dosen farmakognosi yang telah mendidik dan membimbing penulis
4. Teman-teman,serta pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah Farmakognosi ini.
Dengan segala keterbatasan yang dimiliki penulis ,penulis selalu mengharapkan dukungan,dorongan serta saran yang membangun agar tujuan penulisan makalah ini dapat terlaksana dengan baik.Penulis juga meminta maaf apabila ada yang salah dalam penyusunan makalah ini baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Malang,16 November 2009
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai bahan obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia terbagi atas simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia mineral.
Salah satu tanaman yang merupakan salah satu simplisia nabati adalah herba selada air . Selada air (Nasturtium officinale) yang cepat tumbuh, air atau semi-akuatik, tanaman abadi asli dari Eropa ke pusat Asia, dan salah satu tertua sayur daun yang dikonsumsi oleh manusia. Ini adalah sebuah spesies invasif di Danau Besar wilayah dimana pertama kali terlihat pada 1847. Tanaman ini adalah anggota dari Keluarga Brassicaceae atau kubis . Batangnya berongga dan mengambang. Selada air menghasilkan bunga yang kecil dan berwarna putih.
Budidaya selada air berkembang terbaik dalam air yang sedikit basa. Tanaman ini sering ditanam di sekitar hulu sungai kapur. Dalam pasar lokal, permintaan selada air melebihi pasokan. Hal ini disebabkan oleh selada air yang cocok untuk distribusi dalam bentuk kering dan hanya dapat disimpan untuk waktu yang singkat.
Jika dipanen, selada air dapat tumbuh hingga ketinggian 50-120 cm. Juga dijual sebagai kecambah, tunas yang dapat dimakan dipanen hari setelah berkecambah. Seperti banyakkan dalam famili tumbuhan ini, dedaunan selada air menjadi pahit ketika tanaman mulai menghasilkan bunga.
Selada air mengandung sejumlah besar zat besi, kalsium dan asam folat, selain vitamin A dan C. Banyak manfaat dari makan selada air , seperti yang bertindak sebagai stimulan, sumber phytochemical dan antioksidan, diuretik, ekspektoran, dan membantu pencernaan .Juga dipercaya dapat membantu melindungi terhadap kanker paru-paru. Karena tinggi yodium konten, selada air memiliki efek penguatan pada kelenjar tiroid, sehingga bermanfaat bagi yang menderita hipotiroidisme.
Dalam makalah ini, kami khusus membahas tentang herba selada air. Sesuai dengan ketentuan judul yang diberikan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah farmakognosi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Bagaimanakah taksonomi herba selada air?
1.2.2 Bagaimanakah morfolgi herba salada air?
1.2.3 Bagaimanakah kandungan kimia herba selada air?
1.2.4 Bagaimanakah khasiat herba selada air?
1.2.5 Bagaimanakah pembuatan simplisia herba selada air?
1.2.6 Bagaimanakah pengujian simplisia herba selada air?
1.2.7 Bagaimanakah pengamatan terhadap simplisia herba selada air?
1.3 TUJUAN
1.3.1 Untuk mengetahui taksonomi herba salada air
1.3.2 Untuk mengetahui morfologi herba selada air
1.3.3 Untuk mengetahui kandungan kimia herba selada air
1.3.4 Untuk mengetahui khasiat herba selada air
1.3.5 Untuk mengetahui pembuatan simplisia herba selada air
1.3.6 Untuk mengetahui pengujian simplisiaherba selada air
1.3.7 Untuk mengetahui pengamatan terhadap simplisia herba selada air
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 TAKSONOMI HERBA SELADA AIR
Nama Latin:
Nasturtium officinale R.Br
Nama Simplisia:
Nasturtii Herba
Sinonim:
Rorippa nasturtium-aquaticum , R. microphylla,
Nama Daerah:
Sumatera : selada ayer ; jawa : selada cay
Kingdom :
Plantae
Subkingdom :
Tracheobionta
Super Divisi :
Spermatophyta
Divisi :
Magnoliophyta
Kelas :
Magnoliopsida
Sub Kelas :
Dilleniidae
Ordo :
Capparales
Famili :
Cruciferae
Genus :
Nasturtium
2.2 MORFOLOGI HERBA SELADA AIR
• Tinggi Tanaman: Tumbuh hingga mencapai 50 - 120 cm
• Batang : Berbentuk bulat, Berwarna muda kehijauan
• Daun:
o Daun majemuk gasal
o warna hijau sampai kecoklatan
o ujungnya berbentuk jorong melebar sampai bundar
o pangkal berbentuk jantung , membundar atau tumpul
o panjang 1,5 – 4,5 cm
setelah diukur didapat memiliki panjang 3,5 cm
o lebar 1 – 3 cm
Setelah diukur didapat lebarnya 3 cm
o Tepi bergelombang
o Permukaan datar dan rata
• Akar : Berbentuk serabut, merambat seperti tanaman kangkung
2.3 KANDUNGAN KIMIA HERBA SELADA AIR
1. glikonasturtiin
2. minyak atsiri
3. rafanol
4. zat pahit
5. vitamin
2.3.1 Glikonasturtiin
Gluconasturtiin adalah glucosinolate dengan nama kimia phenethylglucosinolate. Ini adalah salah satu yang paling banyak didistribusikan di glucosinolates silangan, terutama di akar, dan mungkin salah satu dari senyawa tanaman yang bertanggung jawab atas hama alami-sifat menghambat pertumbuhan silangan, seperti kubis, sawi, di rotasi dengan tanaman. Efek gluconasturtiin ini kemungkinan besar karena sifatnya degradasi oleh enzim tanaman myrosinase ke phenethyl isothiocyanate, yang merupakan racun bagi banyak organisme.
Ditemukan dalam Gluconasturtiin lobak (Armoracia rusticana) bersama dengan sinigrin. Kedua senyawa mendatangkan suatu tajam rasanya.
Dalam akar berkembang penuh, konsentrasi sinigrin mewakili 83% dan gluconasturtiin 11% dari diekstrak glucosinolates.
Gluconasturtiin
Nama lain Phenethylglucosinolate
identifikasi
Nomor CAS
499-30-9
PubChem
9548618
Properties
Rumus
C 15 H 21 NO 9 S 2
Massa molar
423.461 g/mol
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data diberikan untuk bahan dalam keadaan standar (25 ° C, 100 kPa)
2.3.2 Minyak atsiri
• Pengertian
Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman. Minyak ini disebut juga minyak menguap, minyak eteris, atau minyak esensial karena pada suhu biasa (suhu kamar) mudah menuap pada udara terbuka. Istilah esensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya. Dalam keadaan segar dan murni tanpa pencemar, minyak atsiri umumnya tidak berwarna. Namun, pada penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi dan membentuk resin serta warnanya berubah menjadi lebih tua atau gelap. Untuk mencegah supaya tidak berubah warna minyak atsiri harus terlindungi dari pengaruh cahaya, misalnya disimpan dalam bejana gelas yang berwarna gelap. Bejana tersebut juga diisi sepenuh mungkinsehingga tidak memungkinkan berhubungan langsung dengan oksigen udara, ditutup rapat, serta disimpan ditempat yang kering dan sejuk.
• Sifat-sifat minyak atsiri
Adapun sifat-sifat minyak atsiri diterangkan sebagai berikut :
i. Tersusun oleh bermacam-macam komponen senyawa.
ii. Memiliki bau khas. Umumnya bau ini mewakili bau tanaman asalnya. Bau minyak atsiri satu dengan yang lainnya berbeda, sangat tergantung dari macam dan intensitas bau dari masing- masing komponen penyusunnya.
iii. Mempunyai rasa getir, kadang-kadang berasa tajam mengigit, memberi kesan hangat sampai panas atau justru dingin ketika terasa di kulit, tergantung dari jenis komponen penyusunnya.
iv. Dalam keadaan murni (bekum tercemar oleh senyawa lain) mudah menguap pada suhu kamar sehingga bila diteteskan pada selembar kertas maka ketika dibiarkan menguap tidak meninggalkan bekas noda pada benda yang ditempel.
v. Bersifat tidak bias disabunkan dengan alkali dan tidak bisa berubah menjadi tengik (rancid). Ini berbeda dengan minyak lemak yang tersusun oleh asam-asam lemak.
vi. Bersifat tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan, baik pengaruh oksigen udara, sinar matahri (terutama gelombang ultraviolet), dan panas karena terdiri dari berbagai komponen penyusun.
vii. Indeks bias umumnya tinggi.
viii. Pada umumnya bersifat optis aktif dan memutar bidang polarisasi dengan rotasi yang spesifik karena banyak komponen penyusun yang memiliki atom C asimetrik.
ix. Pada umumnya tidak bercampur dengan air tetapi cukup dapat larut gingga dapat memberikan baunya kepada air walaupun kelarutannya sangat kecil.
x. Sangat mudah larut dalam pelarut organic.
• Keberadaan Minyak Atsiri Dalam Tanaman
Minyak atsiri terkandung dalam berbagai organ, seperti di dalam rambut kelenjar (pada famili labiatae), di dalam sel-sel parenkim (misalnya famili piperaceae), di dalam saluran minyak yang disebut vittae (famili umbelliferae), di dalam rongga-rongga skizogen dan lisigen (pada famili pinaceae dan rutaceae), terkandung di dalam semua jaringan (pada famili coniferae). Pada bunga mawar kandungan minyak atsiri terbanyak terpusat pada mahkota bunga, pada kayu manis (sinnamon) banyak ditenui di kulit batang (cortex), pada famili umbelliferae banyak terdapat dalam perikarp buah, pada menthae sp terdapat dalam rambut kelenjar batang dan daun, serta pada jeruk terdapat dalam kulit buah dan dalam helai daun.
Minyak atsiri dapat terbentuk secara langsung oleh protoplasma akibat adanya peruraian akibat lapisan resin dari dinding sel atau oleh hidrolisis dari glikosida tertentu. Peranan utama dari minyak atsiri terhadap tumbuhan itu sendiri adalah sebagai pengusir serangga (mencegah daun dan bunga rusak) serta sebagai pengusir hewan-hewan pengusir lainnya. Namun sebaliknya minyak atsiri juga berfungsi sebagai penarik serangga guna membantu terjadinya penyerbukan silang dari bunga.
• Biosintesis Komponen Minyak Atsiri
Kerangka dasar komponen minyak atsiri adalah terpena yang terdiri dari satuan isoprena. Satuan isoprene yang berperan aktif secara biosintetik adalah isopetenil pirofosfat, dimetil alil pirofosfat, serta senyawa-senyawa yang terbentuk dari asam asetat lewat jalur biosintesis asam mevalonat. Geranil pirofosfat adalah precursor C10 dari terpena dan dianggap memiliki peran utama dalam pembentukan monoterpena serta dibentuk melalui kondensasi dari masing-masing satuan isopentenil pirofosfat dan dimetil alil pirofosfat. Geranil pirofosfat dianggap sebagai precursor langsung untuk monoterpena siklis. Namun senyawa ini berupa isomer sis terhadap neril pirofosfat sebelum monoterpena siklis dapat dibentuk. Sebab isomer trans tidak mempunyai stereo kimia yang tepat untuk siklisasi. Kemungkinan lain adalah pembentukan neril pirofosfat dari isopentenil pirofosfat. Dalam hal ini dimetilalil pirofosfat tidak tergantung pada langkah geranil pirofosfat. Bentuk pertengahan dalam pembentukan terpena siklis ditunjukkan sebagai ion karbonium.
Prekursor utama untuk komponen fenil propanoid dalam minyak atsiri adalah asam sinamat dan asam P-hidroksi-sinamat yang juga dikenal sebagai asam P-komarat. Dalam tanaman, senyawa ini dibentuk dari asam amino aromatic fenilalanin dan tirosid yang akhirnya disintesis lewat jalur asam sikimat. Jalur biosintetik ini dapat dilakukan oleh mikroorganisme dengan menggunakan mutan auksotropik Eschericia coli dan Enterobacter aerogenes yang membutuhkan asam amino aromatic untuk pertumbuhannya.
• Kandungan Kimiawi Minyak Atsiri
Tidak satu pun minyak atsiri tersusun dari senyawa tunggal,tetapi merupakan campuran komponen yang terdiri dari tipe-tipe yang berbeda. Berdasarkan cara isolasinya, komponen penyusun minyak atsiri dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok seperti berikut.
1.Kelompok yang mengkristal pada suhu rendah, misalnya stearoptena.
2. Kelompok senyawa yang dapat di pisahkan melalui proses distilasi bertingkat.
3.Kelompok senyawa yang di pisahkan melalui proses kristalisasi bertingkat.
4.Kelompok yang senyawa pemisahannya dilakukan melalui kromatrografi.
5.Kelompok senyawa yang diisolasi melalui proses-proses kimia.
Minyak atsiri sebagian besar terdiri dari senyawa terpena, yaitu suatu senyawa produk alami yang strukturnya dapat dibagi ke dalam satuan-satuan isoprena (C5H8) ini terbentuk dari asetat melalui jalur biosintesis asam mefalonat dan merupakan rantai bercabang lima satuan atom karbon yang mengandung 2 ikatan rangkap. Senyawa yang terdiri dari 2 satuan isoprena disebut sebagai Monoterpena (rumus molekul C10H16) , senyawa yang mengandung 3 satuan isoprena disebut seskuiterpena (C15H24), yang mengandung 4 satuan isoprena disebut diterpena (C20H32), Mengandung 6 isoprena disebut triterpena (C30H38) dst.
Terpena yang paling sering terdapat sebagai penyusun minyak atsiri adalah monoterpena. Monoterpena banyak ditemui dalam bentuk asiklik, monosiklik, serta bisiklis sebagai hidrokarbon dan keturunan yang teroksidasi seperti alkohol, aldehida, keton, fenol, dan ester. Terpena lain di bawah monoterpena yang berperan penting sebagai penyusun minyak atsiri adalah seskuiterpena dan diterpena.
Kelompok besar lain dari komponen penyusun minyak atsiri adalah golongan fenil propana. Senyawa ini mengandung cincin fenil C6 dengan rantai samping berupa propana C3. Banyak di antara fenil propanoid yang terdapat pada minyak atsiri berwujud sebagai fenol atau eter fenol.
2.3.3 Vitamin
Vitamin adalah sekelompok senyawa organik berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme organisme. Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin adalah kofaktor dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Istilah "vitamin" sebenarnya sudah tidak tepat untuk dipakai dalam pengertian biokimia karena tidak memiliki kesamaan struktur tetapi akhirnya dipertahankan dalam konteks ilmu kesehatan dan gizi. Nama ini berasal dari gabungan kata bahasa Latin vita yang artinya "hidup" dan amina (amine) yang mengacu pada suatu gugus organik yang memiliki atom nitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian. Kelak diketahui bahwa banyak vitamin sama sekali tidak memiliki atom N.
Sebagai salah satu komponen gizi, vitamin diperlukan memperlancar proses metabolisme tubuh, dan tidak berfungsi menghasilkan energi. Vitamin terlibat dalam proses enzimatik.Tubuh memerlukan vitamin dalam jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan yang sedikit itu diabaikan, akan mengakibatkan terganggunya metabolisme di dalam tubuh kita karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Kondisi kekurang vitamin disebut avitaminosis.
Pada umumnya vitamin tidak dapat dibuat sendiri oleh hewan (atau manusia) karena mereka tidak memiliki enzim untuk membentuknya, sehingga harus dipasok dari makanan. Akan tetapi, ada beberapa vitamin yang dapat dibuat dari zat-zat tertentu (disebut provitamin) di dalam tubuh. Contoh vitamin yang mempunyai provitamin adalah vitamin D. Provitamin D banyak terdapat di jaringan bawah kulit. Vitamin lain yang disintetis di dalam tubuh adalah vitamin K dan vitamin B12. Kedua macam vitamin tersebut disintetis di dalam usus oleh bakteri.
• Vitamin C
Vitamin C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin c termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam, oleh karena itu penggunaaan vitamin C sebagai antioksidan semakin sering dijumpai.
Vitamin C perlu untuk menjaga struktur kolagen, sejenis protein yang menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di tubuh manusia. Struktur kolagen yang baik dapat menyembuhkan luka, patah tulang, memar, perdarahan kecil dan luka ringan.
Vitamin C juga berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi dan mempertajam kesadaran. Sebagai antioksidan ia mampu menetralkan radikal bebas di seluruh tubuh. Melalui pengaruh pencahar, ia dapat meningkatkan pembuangan faeses atau kotoran. Tak heran bila berlebihan, vitamin ini dapat mengakibatkan diare. Untuk pencegahan kurangi konsumsinya, atau ganti dengan natriumaskorbat.
Vitamin C juga mampu menangkal nitrit penyebab kanker. Penelitian di Institut Teknologi Massachusetts menemukan, pembentukan nitrosamin (hasil akhir pencernaan bahan makanan yang mengandung nitrit) dalam tubuh sejumlah mahasiswa yang diberi vitamin C berkurang sampai 81%.
Kebutuhan vitamin C memang berbeda-beda bagi tiap orang, tergantung kebiasaan masing-masing. Pada remaja, kebiasaan yang berpengaruh di antaranya: merokok, minum kopi, atau minuman beralkohol, konsumsi obat tertentu seperti obat antikejang, antibiotik tetrasiklin, antiartritis, obat tidur, dan kontrasepsi oral. Kebiasaan merokok menghilangkan 25% vitamin C dalam darah. Selain nikotin senyawa lain yang berdampak sama buruknya adalah kafein. Maka, sebisa mungkin hindari minum kopi, teh, dan cola. Selain itu stres, demam, infeksi, dan giat berolahraga juga meningkatkan kebutuhan akan vitamin C.
• Vitamin A
Vitamin A terhubung dengan keluarga sama berbentuk molekul, retinoid, yang menyelesaikan sisa vitamin urutan. Yang penting adalah grup retinyl, yang dapat ditemukan dalam beberapa bentuk. Dalam makanan asal hewan, bentuk utama vitamin A adalah suatu ester, terutama retinyl palmitate, yang dikonversi ke alkohol (retinol) di usus kecil. Vitamin A dapat juga berada dalam suatu aldehida (retina). Asam (retinoic acid), suatu metabolit, hanya sebagian aktivitas vitamin A, dan tidak berfungsi di retina. Semua bentuk vitamin A memiliki beta-ionone cincin yang suatu isoprenoid rantai terpasang. Struktur ini sangat penting untuk aktivitas vitamin. [1] Para pigmen oranye dari wortel - beta-karoten - dapat digambarkan sebagai dua retinyl terhubung kelompok, yang digunakan dalam tubuh untuk memberikan kontribusi untuk vitamin A level. Alpha-karoten dan gamma-karoten juga memiliki retinyl satu kelompok yang memberi mereka aktivitas vitamin. Tak satu pun dari karotin lain memiliki aktivitas vitamin. Beta-karotenoid cryptoxanthin ionone memiliki sebuah kelompok dan memiliki aktivitas vitamin pada manusia.
ketika melekat pada protein tertentu, adalah satu-satunya cahaya utama penyerap dalam persepsi visual, dan nama senyawa berhubungan dengan retina mata. Kelompok ini juga yang retinyl fungsi dalam asam retinoic, yang mirip hormon pameran kegiatan di bagian lain dari tubuh.
Vitamin A dapat ditemukan dalam berbagai bentuk:
o Retinol, bentuk vitamin A diserap ketika makan sumber makanan hewan, adalah kuning, larut dalam lemak, vitamin dengan visi dan penting dalam pertumbuhan tulang. Karena bentuk alkohol tidak stabil, vitamin biasanya diproduksi dan diberikan dalam bentuk retinyl asetat atau palmitate.
o lain retinoid, sebuah kelas senyawa kimia yang terkait secara kimiawi menjadi vitamin A, digunakan dalam kedokteran.
o alpha-carotene, beta-karoten, gamma-karoten; dan xanthophyll beta-cryptoxanthin (semua yang mengandung beta-ionone cincin), tapi tidak lain karotenoid, berfungsi sebagai vitamin A pada hewan herbivora dan omnivore, yang memiliki enzim diperlukan untuk mengkonversi senyawa tersebut ke retina. Karnivora pada umumnya miskin konverter dari ionine-containg karotenoid, dan karnivora murni seperti kucing dan kurangnya ferets beta-karoten 15,15 '-monooxygenase dan tidak bisa mengubah apapun karotenoid untuk retinals (sehingga tidak ada bentuk karotenoid menjadi vitamin A untuk spesies ini ).
2.4 KHASIAT HERBA SELADA AIR
Herba selada air memiliki beberapa khasiat, antara lain
• Bronkitis
• Pilek
• Batuk
• Peluruh air seni (Diuretik)
• gondok
• Kelesuan
• Kekurangan vitamin
• Rasa panas di paru-paru
• Iritasi kulit
• Membersihkan Darah
• Mengurangi resiko kanker
2.5 PENGUJIAN SIMPLISIA HERBA SELADA AIR
2.5.1 Identifikasi
A. Pada 2 mg serbuk herba tanbahkan 5 tetes asam sulfat P ; Terjadi warna coklat tua.
B. Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes asam sulfat 10 N ; terjadi warna coklat muda.
C. Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes larutan natrium hidroksida P 5 % b/v dalam etanol P ; terjadi warna hijau.
D. Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes ammonia (25%) P; terjadi warna coklat tua
E. Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes larutan besi (III) klorida P 5% b/v ; terjadi warna coklat kehijauan.
F. Timbang 300 mg serbuk herba campur dengan 5 ml methanol P dan panaskan diatas tangas air selama 2 menit, dinginkan dan saring. Cuvi ebdapan dengan metanol P secukupnya sehingga diperolah 5 ml filtrate. Pada titik pertama, kedua dan ketiga lempeng KLT tutulkan masing-masing sebagai 40 μl filtrate. Pada titik keempat tutulkan 5 μl zat warna I LP. Evaluasi dengan dikloroetana P dengan jarak rambat 15 cm. Keringkan lempeng tersebut diudara selama 10 menit, evaluasi lagi dengan toluene P dengan arah evaluasi dan jarak rambut yang sama. Amati lagi dengan sinar biasa dan dengan sinar ultraviolet 366 nm. Selanjutnya disemprot dengan pereaksi anisaldehida-asam sulfat LP, panaskan pada suhu 110oC selama 10 menit. Amati lagi dengan sinar bias dan dengan sinar ultraviolet 366 nm. Dengan perlakuan yang sama seperti cara kerja diatas dilakukan juga penyemprotan dengan pereaksi AlCl3 LP. Pada kromatogram tampak bercak-bercak dengan warna dan hRx sebagai berikut :
Dengan sinar biasa Dengan sinar UV 366 nm
NO hRx Tanpa
Pereaksi Dengan reaksi Tanpa pereaksi Dengan reaksi
I II I II
1
2
3
4
5 9-12
12-15
25-28
29-33
123-129 Kuning
Hijau
Hijau
Hijau
- -
Ungu
Hijau
Ungu
Ungu -
Hijau
Merah
Hijau
- Kuning
Merah
Merah
Merah
- Violet
Merah
Merah
Violet
Violet -
Merah
-
Merah
-
Catatan : Harga Rx dihitung terhadap bercak warna merah ( yang diamati dengan sinar biasa atau warna ungu dengan sinar UV 366 nm )
hRf bercak warna merah = 65
Tanda I = Pereaksi anisaldehida-asam sulfat LP
II = Pereaksi AlCl3 LP
2.5.2 Uji Kemurnian
Kadar abu. Tidak lebih dari 18 %.
Kadar abu yang tidak larut dalam asam. Tidak lebih dari 5 %.
Kadar sari yang larut dalam air. Tidak kurang dari 40 %.
Kadar sari yang larut dalam etanol. Tidak kurang dari 9 %.
Bahan organic asing. Tidak lebih dari 2 %.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat :
• Gunting
• Wadah
• Tempat pengeringan
• Oven
• Blender
• Ayakan
• Mikroskop
• Objekglass
• Coverglass
• Silet
• Korek api
• Tempat penyimpanan simplisia
3.1.2 Bahan
• Herba Selada Air
• Chloral Hidrat
3.2 Pembuatan Simplisia Herba Selada Air
Tahapan Pembuatan
3.2.1 Pengumpulan Bahan Baku
(Dilakukan pada: Selasa, 1 Desember 2009 )
a. Bagian tanaman yang digunakan : daun, batang dan tangkai daun
b. Umur tanaman waktu dipanen: setelah tanaman berumur 3-4 bulan
c. Lingkungan tempat tumbuh : yang mengandung banayak air , seperti hulu sungai atau sawah
d. Cara pengumpulan : dipotong diatas tanah setinggi 10 cm dengan cara memangkas daun dan batangnya
3.2.2 Sortasi Basah
(Dilakukan pada: Selasa, 1 Desember 2009 )
Sortasi basah dilakukan dengan tujuan memishkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. Dalam sortasi basah yang kami lakukan didapatkan benda asing berupa daun kering, daun yang berlubang, ranting-ranting daun, daun lain yang bukan merupakan tanaman selada air pada simplisia kami.
3.2.3 Pencucian
(Dilakukan pada: Selasa, 1 Desember 2009 )
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya yang melekat pada simplisia. Pada pencucian yang kami lakukan, kami menggunakan air PDAM karena mudah didapat, dan harganya terjangkau
3.2.4 Perajangan
Tujuan perajangan pada simplisia adalah untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan, dan penggilingan. Namun pada herba, perajangan jarang dilakukan karena ketebalan daun pada golongan herba sangatlah tipis.
Untuk itu, pada herba selada air juga tidak dilakukan perjangan. Karena dikhawatirkan, pada saat pengeringan kadar zat aktif berkurang karena ketebalan daun sangat tipis.
3.2.5 Pengeringan
• Hari pertama pengeringan
(Dilakukan pada: Selasa, 1 Desember 2009 )
• Hari terakhir pengeringan ( Setelah daun sudah menegering )
(Dilakukan pada: Selasa, 8 Desember 2009 )
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan mencegah penurunan mutu atau perusakan simplisia.
Cara pengeringan yang kami lakukan adalah dengan pengeringan alamiah dengan dipanaskan dengan sinar matahari . Dan tempat untuk pengeringan adalah yang berlubang untuk mempercepat pengeringan. Setelah hampir kering kami menggunakan oven untuk mendapat simplisia yang lebih kering lagi, dengan suhu 60o C selama 30 menit
3.2.6 Sortasi Kering
(Dilakukan pada: Selasa,8 Desember 2009 )
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuan sortasi ini adalah untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering.
3.2.7 Pengepakan dan Penyimpanan
(Dilakukan pada: Selasa, 8 Desember 2009)
Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena berbagai faktor luardan dalam, seperti cahaya, oksigen, reaksi kimia intern, dehidrasi, penyerapan air, pengotoran, serangga, dan kapang. Untuk itu simplisia disimpan dalam wadah yang dapat menanggulangi hal tersebut dan tempat yang terhindar dari hal tersebut.
Penyimpanan yang kami lakukan adalah dengan menyimpan simplisia yang sudah kering dalam toples kedap udara
3.3 Pembuatan Serbuk Simplisia
3.3.1 Menghaluskan Serbuk Simplisia
(Dilakukan pada: Selasa , 8 Desember 2009 )
Pembuatan serbuk simplisia yang kemi lakukan dengan cara menghaluskan simplisia yang sudah kering dengan cara diblender
3.3.2 Pengayakan Simplisia
( Dilakukan pada : Selasa, 8 Desember 2009 )
hasil serbuk simplisia dengan cara diayak, dengan menggunakan pengayak no 25. sehingga didapat serbuk simplisia yang sangat halus.
3.3.3 Penyimpanan Serbuk Simplisia
( Dilakukan pada : Selasa, 8 Desember 2009 )
Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena berbagai faktor luardan dalam, seperti cahaya, oksigen, reaksi kimia intern, dehidrasi, penyerapan air, pengotoran, serangga, dan kapang. Untuk itu simplisia disimpan dalam wadah yang dapat menanggulangi hal tersebut dan tempat yang terhindar dari hal-hal tersebut.
Penyimpanan yang kami lakukan dengan cara meletakkan serbuk simplisia dalam pot plastic yang kedap udara dan memberi silika gel agar tetap kering.
3.7 PENGAMATAN TERHADAP SIMPLISIA HERBA SELADA AIR
3.7.1 Pengamatan mikroskopis dengan penampang melintang
1.Xilem dan Floem
2.Jaringan Bunga Karang
3.Epidermis
3.7.2 Pengamatan serbuk simplisia
a. Organoleptis Serbuk
Warna: hijau
Rasa: mula-mula tawar kemudian terasa tebal di lidah
Bau: agak anyir
Bentuk: serbuk halus
b. Pengamatan mikroskopis serbuk simplisia
1.Jaringan Bunga karang
2.Berkas Pembuluh
3.Epidermis
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Selada air merupakan tanaman yang hidup di dalam tanah yang banyak mengandung air seperti sawah atau hulu sungai. Yang diambil dari tanaman ini adalah daun dan batangnya. Daun dari tanaman ini berbentuk majemuk gasal dan berwarna hijau sampai hijau kecoklatan sedang batangnya berbentuk bulat berwarna hijau muda.
Tanaman yang memiliki nama latin Nasturtium officinale R.Br ini memiliki kandungan kimia berupa Glikonasturtiin, minyak atsiri, rafanol, zat pahit dan vitamin. Dan memiliki khasiat Peliruh air seni ( Diuretik ), Bronkitis, Pilek, Batuk, Gondok , Kelesuan, Kekurangan vitamin, Rasa panas di paru-paru, Iritasi kulit, Membersihkan Darah, dan Mengurangi resiko kanker
4.2 SARAN
Dalam pengobatan tidak hanya digunakan zat-zat kimia tapi dapat juga digunakan berbagai tanaman obat yang memiliki khasiat-khasiat tertentu. Tanaman obat ini dapat tumbuh di sekitar rumah ataupun dapat digunakan sebagai tanaman hias di rumah, sehingga bila terkena penyakit, kita bisa langsung mengobatinya dengan tanaman obat yang ada di rumah yang memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
MATERIA MEDIKA
http://www.plantamor.com/index.php?plant=888
http://www,watercress,com
http://id.wikipedia.org/wiki/watercress
http://sekarmenur.blogspot.com/2008/02/lagi-tentang-selada-air.html
http://www.iptek.net.id/ind/teknologi_pangan/index.php?mnu=2&id=296
Wednesday, November 18, 2009
PENGUMPULAN SIMPLISIA
PENGUMPULAN SIMPLISIA
Pembuatan ialah seluruh rangkaian kegiatan yang meliputi pengadaan bahan (termasuk penyiapan bahan baku), pengolahan, pengemasan, pengawasan mutu sampai diperoleh produk jadi yang siap untuk didistribusikan. Jadi penyiapan bahan baku merupakan tahapan yang awal dan tidak boleh diabaikan, karena akan sangat menentukan mutu produk jadi obat tradisional. Dalam makalah ini kami hanya akan menjelaskan tentang cara pengumpulan simplisia, yaitu mengenai penyiapan simplisia, waktu pemanenan, cara panen dan penanganan pasca panen.
Simplisia adalah Bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami penggolahan apapun juga. Kecuali dinyatakan lain,berupa bahan yang telah dikeringkan. Bahan simplisia dipenoleh dan “pengepul”. Dalam hal ini ada yang berbentuk segar atau sudah merupakan simplisia. Untuk itu perlu penanganan yang khusus tergantung dari bentuknya tadi. Sayang sampai saat ini belum ada pengolah simplisia yang dapat diandalkan sehingga industri jamu dapat memperoleh simplisia yang bermutu dari pengolah tersebut.
Dibagi menjadi beberapa tahap :
Waktu Panen.
Cara Panen.
Penanganan Pasca Panen
1 . WAKTU PANEN :
Waktu pemanenan yang tepat akan menghasilkan simplisia yang mengandung bahan berkhasiat yang optimal.
(a) Biji (semen) dipanen pada saat buah sudah tua atau buah mengering, misalnya biji kedawung.
(b) Buah (fructus) dikumpulkan pada saat buah sudah masak atau sudah tua tetapi belum masak, misalnya Iada (misalnya pada pemanenan lada, kalau dilakukan pada saat buah sudah tua tetapi belum masak akan dihasilkan lada hitam (Piperis nigri Fructus); tetapi kalau sudah masak akan dihasilkan lada putih (Piperis aIbi Fructus).
C)Daun (folia) dikumpulkan pada saat tumbuhan menjelang berbunga atau sedang berbunga tetapi belum berbuah.
(d) Bunga (flores/flos) dipanen pada saat masih kuncup (misalnya cengkeh atau melati) atau tepat mekar (misalnya bunga mawar, bunga srigading).
(e) Kulit batang (cortex) diambil dari tanaman atau tumbuhan yang telah tua atau umun yang tepat, sebaiknya pada musim kemarau sehingga kulit kayu mudah dikelupas.
(f) Umbi Iapis (bulbus) dipanen pada waktu umbi mencapai besar optimum, yaitu pada waktu bagian atas tanaman sudah mulai mengering (misalnya bawang putih dan bawang merah).
(g) Rimpang atau “empon-empon (rhizomad) dipanen pada waktu pertumbuhan maksimal dan bagian di atas tanah sudah mulai mengering, yaitu pada permulaan musim kemarau
. Cara Panen
Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemarandan dalam keadaan kering.
Alat yang diguna-kan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanahyang tidak diperlukan. Seperti rimpang, alat untuk panen dapat menggunakan garpu atau cangkul.
Bahan yang rusakatau busuk harus segera dibuang atau dipisahkan.
Penempatan dalam wadah (keran-jang, kantong, karung dan lainlain)tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak.
Selanjutnya dalam waktu pengangkutandiusahakan supaya bahan tidak terkena panas yang berlebihan, karena dapat menyebab-kan terjadinya proses fermentasi/ busuk.
Bahan juga harus dijaga dari gang-guan hama (hama gudang, tikus dan binatang peliharaan).
Penanganan Pasca Panen
Pasca panen merupakan kelanjut-an dari proses panen terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan alam yang fungsinya antara lain untuk membuat bahan hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah disimpan untuk diproses selanjutnya. Untuk memulai proses pasca panen perlu diperhatikan cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan tanaman yang ideal setelah dilakukan proses panen tanaman tersebut. Selama proses pasca panen sangat penting diperhatikan keber-sihan dari alat-alat dan bahan yang digunakan, juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan seperti masker dan sarung tangan. Tujuan dari pasca panen ini untuk menghasilkan simplisia tanaman obat yang bermutu, efek terapinya tinggi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.
Pembuatan ialah seluruh rangkaian kegiatan yang meliputi pengadaan bahan (termasuk penyiapan bahan baku), pengolahan, pengemasan, pengawasan mutu sampai diperoleh produk jadi yang siap untuk didistribusikan. Jadi penyiapan bahan baku merupakan tahapan yang awal dan tidak boleh diabaikan, karena akan sangat menentukan mutu produk jadi obat tradisional. Dalam makalah ini kami hanya akan menjelaskan tentang cara pengumpulan simplisia, yaitu mengenai penyiapan simplisia, waktu pemanenan, cara panen dan penanganan pasca panen.
Simplisia adalah Bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami penggolahan apapun juga. Kecuali dinyatakan lain,berupa bahan yang telah dikeringkan. Bahan simplisia dipenoleh dan “pengepul”. Dalam hal ini ada yang berbentuk segar atau sudah merupakan simplisia. Untuk itu perlu penanganan yang khusus tergantung dari bentuknya tadi. Sayang sampai saat ini belum ada pengolah simplisia yang dapat diandalkan sehingga industri jamu dapat memperoleh simplisia yang bermutu dari pengolah tersebut.
Dibagi menjadi beberapa tahap :
Waktu Panen.
Cara Panen.
Penanganan Pasca Panen
1 . WAKTU PANEN :
Waktu pemanenan yang tepat akan menghasilkan simplisia yang mengandung bahan berkhasiat yang optimal.
(a) Biji (semen) dipanen pada saat buah sudah tua atau buah mengering, misalnya biji kedawung.
(b) Buah (fructus) dikumpulkan pada saat buah sudah masak atau sudah tua tetapi belum masak, misalnya Iada (misalnya pada pemanenan lada, kalau dilakukan pada saat buah sudah tua tetapi belum masak akan dihasilkan lada hitam (Piperis nigri Fructus); tetapi kalau sudah masak akan dihasilkan lada putih (Piperis aIbi Fructus).
C)Daun (folia) dikumpulkan pada saat tumbuhan menjelang berbunga atau sedang berbunga tetapi belum berbuah.
(d) Bunga (flores/flos) dipanen pada saat masih kuncup (misalnya cengkeh atau melati) atau tepat mekar (misalnya bunga mawar, bunga srigading).
(e) Kulit batang (cortex) diambil dari tanaman atau tumbuhan yang telah tua atau umun yang tepat, sebaiknya pada musim kemarau sehingga kulit kayu mudah dikelupas.
(f) Umbi Iapis (bulbus) dipanen pada waktu umbi mencapai besar optimum, yaitu pada waktu bagian atas tanaman sudah mulai mengering (misalnya bawang putih dan bawang merah).
(g) Rimpang atau “empon-empon (rhizomad) dipanen pada waktu pertumbuhan maksimal dan bagian di atas tanah sudah mulai mengering, yaitu pada permulaan musim kemarau
. Cara Panen
Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemarandan dalam keadaan kering.
Alat yang diguna-kan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanahyang tidak diperlukan. Seperti rimpang, alat untuk panen dapat menggunakan garpu atau cangkul.
Bahan yang rusakatau busuk harus segera dibuang atau dipisahkan.
Penempatan dalam wadah (keran-jang, kantong, karung dan lainlain)tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak.
Selanjutnya dalam waktu pengangkutandiusahakan supaya bahan tidak terkena panas yang berlebihan, karena dapat menyebab-kan terjadinya proses fermentasi/ busuk.
Bahan juga harus dijaga dari gang-guan hama (hama gudang, tikus dan binatang peliharaan).
Penanganan Pasca Panen
Pasca panen merupakan kelanjut-an dari proses panen terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan alam yang fungsinya antara lain untuk membuat bahan hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah disimpan untuk diproses selanjutnya. Untuk memulai proses pasca panen perlu diperhatikan cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan tanaman yang ideal setelah dilakukan proses panen tanaman tersebut. Selama proses pasca panen sangat penting diperhatikan keber-sihan dari alat-alat dan bahan yang digunakan, juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan seperti masker dan sarung tangan. Tujuan dari pasca panen ini untuk menghasilkan simplisia tanaman obat yang bermutu, efek terapinya tinggi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.
Wednesday, October 21, 2009
Pengeringan Simplisia
Pengeringan adalah suatu cara pengawetan atau pengolahan pada bahan dengan cara mengurangi kadar air, sehingga proses pem-busukan dapat terhambat. Dengan demikian dapat dihasilkan simplisia terstandar, tidak mudah rusak dan tahan disimpan dalam waktu yang lama Dalam proses ini, kadar air dan reaksi-reaksi zat aktif dalam bahan akan berkurang, sehingga suhu dan waktu pengeringan perlu diperhatikan. Suhu pengeringan tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan. Pada umumnya suhu pengeringan adalah antara 40 – 600C dan hasil yang baik dari proses pengeringan adalahsimplisia yang mengandung kadar air 10%. Demikian pula dengan waktu pengeringan juga bervariasi, tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan seperti rimpang, daun, kayu ataupun bunga. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam proses pengeringan adalah kebersihan (khususnya pengeringan menggunakan sinar matahari), kelembaban udara, aliran udara dan tebal bahan (tidak saling menumpuk). Pengeringan bahan dapat dilakukan secara tradisional dengan menggunakan sinar matahari ataupun secara modern dengan menggunakan alat pengering seperti oven, rak pengering, blower ataupun dengan fresh dryer. Pengeringan hasil rajangan dari temu-temuan dapat dilakukan dengan menggunakan sinar matahari, oven, blower dan fresh dryer pada suhu 30 – 500C. Pengeringan pada suhu terlalu tinggi dapat merusak komponen aktif, sehingga mutunya dapat menurun. Untuk irisan rimpang jahe dapat dikeringkan menggunakan alat pengering energi surya, dimana suhu pengering dalam ruang pengering berkisar antara 36 – 450C dengan tingkat kelembaban 32,8 – 53,3% menghasilkan kadar minyak atsiri lebih tinggi dibandingkan dengan pengeringan matahari langsung maupun oven. Untuk irisan temulawak yang dikeringkan dengan sinar matahari langsung, sebelum dikeringkan terlebih dulu irisan rimpang direndam dalam larutan asam sitrat 3% selama 3 jam. Selesai peren-aman irisan dicuci kembali sampai bersih, ditiriskan kemudian dijemur dipanas matahari. Tujuan dari perendaman adalah untuk mencegah terjadinya degradasi kurkuminoid pada simplisia pada saat penjemuran juga mencegah penguapan minyak atsiri yang berlebihan. Dari hasil analisis diperoleh kadar minyak atsirinya 13,18% dan kurkumin 1,89%. Di samping menggunakan sinar matahari langsung, penjemuran juga dapat dilakukan dengan menggunakan blower pada suhu 40 – 500C. Kelebihan dari alat ini adalah waktu penjemuran lebih singkat yaitu sekitar 8 jam, dibandingkan dengan sinar matahari membutuhkan waktu lebih dari 1 minggu. Pelain kedua jenis pengeri-ng tersebut juga terdapat alat pengering fresh dryer, dimana suhunya hampir sama dengan suhu ruang, tempat tertutup dan lebih higienis. Kelemahan dari alat ter-sebut waktu pengeringan selama 3 hari. Untuk daun atau herba, pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan sinar matahari di dalam tampah yang ditutup dengan kain hitam, menggunakan alat pengering fresh dryer atau cukup dikering anginkan saja. Pengeringan dapat menyebabkan perubahan-perubahan hidrolisa enzimatis, pencokelatan, fermentasi dan oksidasi. Ciri-ciri waktu pengeringan sudah berakhir apabila daun ataupun temu-temuan sudah dapat dipatahkan dengan mudah. Pada umumnya bahan (simplisia) yang sudah kering memiliki kadar air ± 8 – 10%. Dengan jumlah kadar air tersebut kerusakan bahan dapat ditekan baik dalam pengolahan maupun waktu penyimpanan.
Thursday, September 24, 2009
Apa itu Farmasis?

Praktek kefarmasian dunia sekarang ini menuju ke arah yang mengintegrasikan antara patient-focused care dan pelayanan distribusi obat. Kecenderungan untuk tampil sebagai profesi yang paripurna akan diwujudkan dengan dilaksanakannya pharmaceutical care dimana farmasis bertanggungjawab akan ketepatan dari terapi obat dengan tujuan untuk mencapai luaran yang pasti dalam peningkatan kualitas hidup pasien. Empat luaran tersebut meliputi penyembuhan penyakit, menghilangkan atau mengurangi simptom yang muncul, menahan atau menghambat proses penyakit dan mencegah penyakit atau simptom tersebut. Pharmaceutical care membutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang farmakoterapi, pemahaman yang baik tentang etimologi penyakit, pengetahuan tentang produk obat, kemampuan komunikasi yang kuat, monitoring obat, informasi obat dan keahlian perencanaan terapi serta kemampuan untuk memperkirakan dan menginterpretasikan data klinis yang ada. Menjamurnya apotek di Indonesia tidak menjamin pelaksanaan pharmaceutical care telah berlangsung optimal. Paradigma farmasis Indonesia saat ini dikenal dengan akronim “SI-ADI” yang merupakan kependekan dari “Simpan, Ambil dan Distribusi”. Terkesan hanya dari sisi managerialnya saja, lalu apa gunanya ilmu-ilmu yang lain? Kalau begitu, sarjana ekonomi lebih cocok daripada farmasis itu sendiri karena mereka yang lebih patut dijuluki “MANAGEMENT EXPERTS”. Terapi pengobatan pasien tidaklah sesederhana berobat ke dokter, ambil obat ke apotek lalu pulang. Obat, pada hakekatnya adalah racun bagi tubuh, yang bila tidak digunakan secara tepat akan membahayakan bagi pasien. Disinilah peran penting farmasis dibutuhkan. Karena pasien hanya mempunyai sedikit pengetahuan tentang obat atau bahkan tidak sama sekali. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, sesungguhnya tugas farmasis lebih banyak dibandingkan dokter. Dokter hanyalah sebagai inisiator mulainya terapi. Namun dalam proses sampai akhir terapi adalah bagian farmasis. Selama ini farmasis hanya bekerja di belakang layar yang kurang mendapatkan perhatian langsung dari masyarakat umum. Keberhasilan terapi sering dikaitkan dengan jasa dokter tanpa melibatkan jasa farmasis. Jika kita mau belajar dari negara tetangga kita, Malaysia, farmasis sangatlah dihargai karena farmasis mempunyai peranan dan manfaat yang penting bagi pasien. “Professional Fee” farmasis di Malaysia tidak hanya diperoleh dari jasa managerialnya saja, namun juga dari jasa konsultasi. Hampir sama dengan dokter, untuk mengeluarkan resep, dokter memperoleh “Professional Fee”. Lalu bagaimanakah dengan sistem konsultasi yang dapat dilaksanakan farmasis? Seperti yang telah disebutkan di muka, pelaksanaan Pharmaceutical care adalah tanggungjawab farmasis mengenai kesuksesan terapi obat. Kesuksesan tersebut tidak hanya dinilai dari ketepatan perkiraan indikasi, pemilihan obat serta dosis saja, namun perlu juga diperhatikan tingkat kepatuhan pasien yang meliputi cara penggunaan, waktu penggunaan serta hal-hal yang harus dilakukan dan dihindari selama proses terapi. Jika pasien memahami dengan betul proses dan manfaat terapi, maka tingkat kesuksesan dari terapi tersebut akan optimal. Dari sisi inilah farmasis akan mendapatkan kepercayaan langsung pasien karena manfaat secara langsung profesi farmasi dapat dirasakan. Dengan demikian, profesi farmasi dalam sistem pelayanan kesehatan terutama di Indonesia ini tidaklah lagi dikesampingkan dan pengabdian profesi farmasi akan jauh lebih bermakna. Inilah hakekat profesi farmasi yang paripurna. Dari sisi ini, pasien akan diuntungkan, terapi yang dilaksanakan akan sukses dengan meminimalisir medication error yang mungkin terjadi karena ketidakpatuhan. Dari sisi ini, farmasis juga diuntungkan, seperti misalnya farmasis memiliki legal protection dalam arti farmasis telah berupaya memberikan konseling yang holistik sehingga medication error akan minimal dan kalaupun terjadi, besar kemungkinan karena pasien tidak patuh (dalam hal ini pasien tidak dapat menuntut farmasis kecuali terdapat kesalahan dalam konseling). Selain itu posisi farmasis dalam sistem pelayanan kesehatan juga tidak dapat digantikan karena farmasis merupakan “DRUG EXPERTS”. Yang paling utama adalah farmasis mendapatkan kepuasan kerja karena telah dapat menolong seseorang untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Dan yang terakhir, farmasis akan memperoleh professional fee yang berupa consulting service revenue. Sedikit mengutip kata-kata bijak….manakala nilai hidup ini hanya untuk diri kita, maka akan tampak bagi diri kita bahwa kehidupan itu kecil dan singkat. Yang dimulai sejak kita memahami arti hidup dan berakhir hingga batas akhir hidup kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)
MERAIH RUPIAH KLIK INI
Follow my Twitter
My Facebook
nETWORKER
Followers
My Blog List
-
-
-
Malamku16 years ago
