RSS Feed

Wednesday, October 26, 2011

FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN TABLET

FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN TABLET


PRAKTIKUM TA. OBAT DAN NARKOBA



Dili Bagus S.P 07.004

Retno Citrasari 07.020

Aulia Rizki P. 08.003

Defrina Julianti 08.004

Halimatus Tsa’diyah 08.008

Raditya Putra I.R 08.024

Rizka Dwi Y. 08.025

Tri Endah Y. 08.030

Valensia Arwindo R 08.032

Vivta Nindy W 08.033

AKADEMI ANALISA FARMASI DAN MAKANAN

PUTRA INDONESIA MALANG

NOVEMBER 2010

BAB II

1.1 PENGERTIAN TABLET

TABLET (MENURUT FI III)

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok.

TABLET (MENURUT FI IV)

Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa.

Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang paling banyak tantangannya didalam mendesain dan membuatnya. Misalnya kesukaran untuk memperoleh bioavailabilitas penuh dan dapat dipercaya dari obat yang sukar dibasahi dan melarutkannya lambat, begitu juga kesukaran untuk mendapatkan kekompakan kahesi yang baik dari zat amorf atau gumpalan. Namun demikian, walaupun obat tersebut baik kempanya, melarutnya, dan tidak mempunyai masalah bioavailabilitas, mendesain dan memproduksi obat itu masih penuh tantangan, sebab masih banyak tujuan bersaing dari bentuk sediaan ini.

TABLET MENURUT IMO

Tablet adalah sediaan padat ,dibuat secara kempa cetak,berbentuk rata atau cembungrangkap,umumnya bulat,mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan.

1.2. Ukuran Tablet

· Menurut R. Voigt

- garis tengah pada umumnya 15-17 mm

- bobot tablet pada umunya 0,1 g-1g

· Menurut Lachman

- tablet oral biasanya berukuran 3/16-1/2 inci

- berat tablet berkisar antara 120-700 mg ≥ 800 mg

- diameternya 1/4-7/6 inci

· Menurut Dom Martin

- 1/8-1 1/5 inci

· Menurut FI III

- kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 kali tebal tablet

1.3 Kriteria Tablet

Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

· harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan

· harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil

· keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik atau mekanik

· keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan

· harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan

· bebas dari kerusakan fisik

· stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan

· zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu

· tablet memenuhi persyaratan Farmakope yang berlaku

1.4 Kegunaan Tablet

· Untuk pengobatan lokal

- tablet untuk vagina, digunakan sebagai anti infeksi, anti fungi, hormon lokal

- tablet untuk mulut dan tenggorokan

· Untuk pengobatan sistemik

- tablet langsung ditelan

- tablet buccal : antara gigi dan gusi

- tablet sublingual : di bawah lidah

- tablet implantasi : di bawah kulit badan

1.5 Komposisi Tablet

a. Zat pengikat(binder)

Dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak,dapat merekat.Biasanya yang digunakan adalah mucilago Gummi Arabici 10 -20 %(panas solutio Mythylcellulosum 5%).

b. Zat penghancur(disinterogator)

Dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut.Biasanya yang digunakan adalah amilum manihot kering,gelatinum,agar – agar, natrium alginat.

c. Zat pelicin(lubricant)

Dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan(matrys).Biasanya digunakan talkum 5 %,Magnesium stearas,Acidum Stearicum.

d. Zat pengisi (diluent)

Dimaksudkan untuk memperbesar volume tablet.biasanya digunakan Saccharum lactis,Amylum manihot,calcii phospas,calcii carbonas dan zat lain yang cocok.

e. Zat penyalut

Untuk maksud dan tujuan tertentu tablet disalut dengan zat penyalut yang cocok,biasanya berwarna atau tidak.

· Tablet bersalut gula (sugar coating)

Tablet ini sering disebut dragee.Menggunakan penyalut larutan gula.

· Tablet bersalut kempa (press coating)

Sering disebut tablet dalam tablet.menggunakan granul halus kering yang dikempa

di sekitar tablet ini.

· Tablet bersalut selaput (film coating)

Tablet ini dilapisi selaput tipis dengan zat penyalut yang dikenakan atau disemprotkan pada tablet.

· Tablet bersalut enterik (enteric coating)

Mengunakan campuran serbuk lilin karnauba atau asam stearat dan serabut tumbuh – tumbuhan dari agar – agar atau kulit pohon elm.

SYARAT TABLET

a. Memenuhi keseragaman ukuran

b. Memenuhi keseragaman bobot

c. Memenuhi waktu hancur

d. Memenuhi keseragaman isi zat berkhasiat

e. Memenuhi waktu larut (dissolution test)

KEUNGGULAN TABLET

a) cepat dapat dilayani di apotik, karena sudah tersedia dan tidak perlu diracik dahulu

b) mudah disimpan (stabil) dan dibawa

c) lebih mudah menelan tablet daripada puyer (sebagian besar orang)

KERUGIAN TABLET

a) komposisi dan dosis belum tentu sesuai kebutuhan penderita

b) waktu disintegrasi dan disolusi bila tidak memenuhi syarat, maka kadar obat plasma tidak tercapai

JENIS SEDIAAN TABLET

· Berdasarkan prinsip pembuatan, tablet terdiri atas :

1. Tablet Kempa

Dibuat dengan cara pengempaan dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan pons atau cetakan baja.

2. Tablet Cetak

Dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah pada lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada pembentukan kristal yang terbentuk selama pengeringan, tidak tergantung pada kekuatan yang diberikan.

· Berdasarkan tujuan penggunaan, tablet terdiri atas :

1. Tablet Kempa Tujuan Saluran Pencernaan

a. Tablet Konvensional Biasa

Tablet yang dibuat atau dikempa dengan siklus kompresi tunggal yang biasanya terdiri dari zat aktif sendiri atau kombinasi dengan bahan eksipien seperti :

- pengisi (memberi bentuk) : laktosa

- pengikat (memberi adhesivitas atau kelekatan saat bertemu saluran cerna) : amylum, gelatin, tragakan

- desintegrator (mempermudah hancurnya tablet)

b. Tablet Kempa Multi atau Kempa Ganda

Adalah tablet konvensional yang dikompresi lebih dari satu siklus kompresi tunggal sehingga tablet akhir tersebut terdiri atas dua atau lebih lapisan. Disebut juga sebagai tablet berlapis. Keuntungannya dapt memisahkan zat aktif yang inkompatibel (tidak tersatukan).

c. Tablet Lepas Lambat

Tablet yang pelepasan zat aktifnya dimodifikasi sehingga tablet tersebut melepaskan dosis awal yang cukup untuk efek terapi yang kemudian disusul dengan dosis pemeliharaan sehingga jumlah zat aktif atau konsentrasi zat aktif dalam darah cukup untuk beberapa waktu tertentu (misal tablet lepas lambat 6 jam, 12 jam, dsb).

d. Tablet Lepas Tunda (Tablet Salut Enterik)

Adalah tablet yang dikempa yang disalut dengan suatu zat yang tahan terhadap cairan lambung, reaksi asam, tetapi terlarut dalam usus halus yang pelepasan zat aktifnya terkendali pada waktu-waktu tertentu.

e. Tablet Salut Gula

Adalah tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapis lapisan gula baik berwarna maupun tidak. Tujuannya untuk melindungi zat aktif terhadap lingkungan udara (O2, kelembaban), menutup rasa dan bau tidak enak, menaikkan penampilan tablet.

f. Tablet Salut Film

Tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, berwarna atau tidak dari bahan polimer yang larut dalam air yang hancur cepat di dalam saluran cerna. Penyalutan tidak perlu berkali-kali.

g. Tablet Effervesen

Tablet kempa jika berkontak dengan air menjadi berbuih karena mengeluarkan CO2. Tablet ini harus dilarutkan dalam air baru diminum.

h. Tabel Kunyah

Tablet kempa yang mengandung zat aktif dan eksipien yang harus dikunyah sebelum ditelan.

2. Tablet Kempa Digunakan dalam Rongga Mulut

a. Tablet Bukal

Tablet kempa biasa berbentuk oval yang ditempatkan diantara gusi dan pipi. Biasanya keras dan berisis hormon. Bekerja sistemik, tererosi atau terdisolusi di tempat tersebut dalam waktu yang lama (secara perlahan).

b. Tablet Sublingual

Tablet kempa berbentuk pipih yang diletakkan di bawah lidah, berisi nitrogliserin. Biasanya untuk obat penyempitan pembuluh darah ke jantung (angina pectoris) sehingga harus cepat terlarut agar dapat segera memberi efek terapi. Diabsorbsi oleh selaput lendir di bawah lidah.


c. Tablet Hisat atau Lozenges

Tablet yang mengandung zat aktif dan zat-zat penawar rasa dan bau, dimaksudkan untuk disolusi lambat dalam mulut untuk tujuan lokal pada selaput lendir mulut.

d. Dental Cones (Kerucut Gigi)

Yaitu suatu bentuk tablet yang cukup kecil, dirancang untuk ditempatkan di dalam akar gigi yang kosong setelah pencabutan gigi. Tujuannya biasanya untuk mencegah berkembangbiaknya bakteri di tempat yang kosong tadi dengan menggunakan suatu senyawa anti bakteri yang dilepaskan secara perlahan-lahan, atau untuk mengurangi pendarahan dengan melepaskan suatu astringen atau koagulan.

3. Tablet Kempa Digunakan melalui Liang Tubuh

a. Tablet Rektal

Tablet kempa yang mengandung zat aktif yang digunakan secara rektal (dubur) yang tujuannya untuk kerja lokal atau sistemik.

b. Tablet Vaginal

Tablet kempa yang berbentuk telur (ovula) untuk dimasukkan dalam vagina yang di dalamnya terjadi disolusi dan melepaskan zat aktifnya. Biasanya mengandung antiseptik, astringen. Digunakan untuk infeksi lokal dalam vagina dan mungkin juga untuk pemberian steroid dalam pengobatan sistemik.

4. Tablet Kempa untuk Implantasi

Tablet implantasi atau pelet dibuat berdasarkan teknik aseptik, mesin tablet harus steril. Dimaksudkan untuk implantasi subkutan (untuk KB, mencegah kehamilan).

5. Tablet Cetak untuk Penggunaan Lain

a. Tablet Triturat untuk Dispensing

Adalah tablet yang dihaluskan dulu atau disiapkan untuk penggunaan tertentu. Tablet kempa atau cetak berbentuk kecil umumnya silindris digunakan untuk memberikan jumlah zat aktif terukur yang tepat untuk peracikan obat (FI IV). Digunakan sebagai tablet sublingual atau dilepaskan di atas lidah dan ditelan dengan air minum.

b. Tablet Hipodermik

Tablet cetak atau kempa yang dibuat dari bahan mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Umumnya digunakan untuk membuat sediaan injeksi steril dalam ampul dengan menambahkan pelarut steril (FI IV)

c. Tablet Dispending

Tablet yang digunakan oleh apoteker dalam meracik bentuk sediaan padat atau cair. Dimaksudkan untuk ditambahkan ke dalam air dengan volume tertentu, oleh ahli farmasi atau konsumen, untuk mendapatkan suatu larutan obat dengan konsentrasi tertentu.

FORMULA UMUM TABLET

· Zat Aktif

Secara luas obat atau bahan aktif yang diberikan secara oral dalam bentuk tablet dikelompokkan menjadi :

a. Zat Aktif Tidak Larut Air (Insoluble Drugs)

Zat ini cenderung digunakan untuk memberikan efek lokal pada saluran pencernaan (seperti antasida dan adsorben). Oleh karena zat tidak larut air umumnya dipengaruhi oleh fenomena permukaan, maka jika bekerja menggunakan zat ini, sangatlah penting memperhatikan kemampuan redispersi bahan obat dari sediaan menghasilkan ukuran partikel yang halus dan luas permukaan yang tinggi. Dengan demikian efek formulasi, granulasi, dan pencetakan terhadap sifat permukaan dari bahan dan kemampuan memperbaiki sifat bahan dalam saluran cerna dengan sifat permukaan optimum merupakan faktor kritis.

b. Zat Aktif Larut Air (Suluble Drugs)

Zat ini cenderung digunakan untuk memberikan efek sistemik dengan terdisolusi dan terabsorpsi pada usus. Dalam hal obat diharapkan dengan memberikan efek sistemik, rancangan bentuk sediaan harus cepat terdisintegrasi dan terlarut. Kemampuan ini dapat menjadi faktor kritis atau tidak, bergantung pada kemampuan terlarutnya di daerah saluran cerna tempat bahan tersebut diabsorpsi.

· Eksipien (Bahan Pembantu)

Eksipien adalah zat yang bersifat inert secara farmakologi yang digunakan sebagai zat pembantu dalam formulasi tablet untuk memperbaiki sifat zat aktif, membentuk tablet dan mempermudah teknologi pembuatan tablet. Eksipien harus memiliki kriteria sebagai berikut :

· tidak toksik (memenuhi persyaratan peraturan di setiap negara)

· tersedia secara komersial dengan mutu yang dapat diterima oleh semua negara

tempat produk tersebut dikembangkan

· harga relatif murah

· tidak kontraindikasi dalam suatu golongan populasi, inert secara fisiologis, stabil secara fisika dan kimia baik tersendiri maupun dalam kombinasi dengan zat aktif

· bebas dari kandungan bakteri patogen

· kompatibel dengan zat warna dan bahan lainnya

· dan tidak membawa pengaruh yang buruk terhadap ketersediaan hayati dari zat aktif dalam sediaan.

a. Bahan Pengisi

Pengisi adalah zat yang ditambahkan untuk menyesuaikan bobot dan ukuran tablet jika dosis zat aktif tidak cukup untuk membuat massa tablet, memperbaiki daya kohesi sehingga tablet dapat dikempa dengan baik, serta mengatasi masalah kelembaban yang mempengaruhi kestabilan zat aktif. Jumlah bahan pengisi yang dibutuhkan bervariasi, berkisar 5-80 % dai bobot tablet (tergantung jumlah zat aktif dan bobot tablet yang diinginkan). Bila bahan aktif berdosis kecil, sifat tablet (campuran massa yang akan ditablet) secara keseluruhan ditentukan oleh sifat bahan pengisi.

Massa yang dibutuhkan dalam tablet adalah 0,1-0,8 g, sehingga memungkinkan untuk dicetak. Pada obat yang berdosis cukup tinggi bahan pengisi tidak diperlukan. Bhan pengisi juga ditambahkan untuk memperbaiki daya kohesi sehingga dapat dikempa langsung atau untuk memicu aliran. Yang umum digunakan adalah pati dan laktosa (Voight, 1995 : 202)

Tabel Macam-macam bahan pengisi tablet

Tidak larut

Larut

Kalsium sulfat

Laktosa

Kalsium fosfat

Sukrosa

Kalsium karbonat

Dektrosa

Amilum

Mannitol

Modifikasi amilum

Sorbitol

Mikrokritalin selulosa

Bahan pengisi yang dapat digunakan untuk kempa langsung disebut filler-binders. Filler-binders adalah bahan pengisi yang sekaligus memiliki kemampuan meningkatkan daya alir dan kompaktibilitas massa tablet. Filler-binders digunakan dalam kempa langsung.

b. Pengikat dan Perekat (Binders and Adhesives)

Pengikat atau perekat berfungsi memberi daya adhesi pada massa serbuk pada granulasi dan kempa langsung serta untuk menambah daya kohesi yang telah ada pada bahan pengisi. Bahan pengikat dapat ditambahkan dalam bentuk kering dan bentuk larutan (lebih efektif). Beberapa senyawa yang dapat digunakan sebagai pengikat atau perekat antara lain : polimer alam, contohnya amilum, gom (akasia, tragakan), sorbitol, glukosa, gelatin dan natrium alginat; polimer sintetik, contohnya derivat selulosa seperti metil selulosa, karboksil metil selulosa (CMC), etil selulosa (Ethocel) poli metakrilat, polivinil pirolidon (PVP). Salah satu bahan pengikat yang sering digunakan adalah jenis pati dengan konsentrasi 5%-20%. (Voight, 1995 : 174). Pada granulasi basah, bahan pengikat biasanya ditambahkan dalam bentuk larutan (dibuat solution, muchilago atau suspensi), namun dapat juga ditambahkan dalam bentuk kering, setelah dicampur dengan massa yang akan digranul baru ditambahkan pelarut.

c. Penghancur (Disintegran)

Fungsinya untuk memudahkan pecahnya atau hancurnya tablet ketika kontak dengan cairan pencernaan. Bahan ini dapat menarik air ke dalam tablet, mengembang, dan menyebabkan tablet pecah menjadi bagian-bagian. Bahan ini sangat menentukan kelarutan obat selanjutnya sehingga dapat tercapai bioavailabilitas yang diharapkan. (Lachman, 1994 : 702). Bahan penghancur meliputi tepung jagung dan kentang, turunan amilum seperti amylum glikoat, senyawa selulosa, dan bahan-bahan lain yang memperbesar atau mengembang dengan adanya lembab dan mempunyai efek memecahkan atau menghancurkan tablet setelah masuk ke dalam saluran pencernaan. Amilum digunakan dengan konsentrasi 5% umumnya cocok untuk membantu penghancuran. (Ansel, 1989 : 263)

d. Bahan Pelincir (Lubrikan)

· Lubrikan Murni

Lubrikam murni adalah zat yang digunakan untuk mengurangi gesekan antara granul dengan dinding cetakan selama pengempaan dan pengeluaran tablet. Lubrikan dapat bekerja dengan dua mekanisme, yaitu fluid lubrication dan boundary lubrication. Fluid lubrication bekerja dengan memisahkan kedua permukaan granul dan dinding. Sedangkan boundary lubrication bekerja karena adanya penempelan dari bagian molekular yang mempunyai rantai karbon panjang. Berdasarkan kelarutannya dalam air, lubrikan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

- Lubrikan larut air

Lubrikan ini umumnya hanya digunakan jika tablet harus sangat larut air (misalnya tablet effervesen) dan tergantung dari karakter disolusi yang diinginkan. Beberapa contoh senyawa yang dapat digolongkan sebagai lubrikan larut air antara lain : natrium benzoat, natrium asetat, natrium klorida, natrium oleat, natrium lauril sulfat, magnesium lauril sulfat, asam borat, Karbowax 4000, Karbowax 6000, polietilenglikol.

- Lubrikan tidak larut air

Lubrikan ini lebih efektif daripada yang larut air dan digunakan pada konsentrasi yang lebih rrendah. Beberapa contoh senyawa yang dapat digolongkan sebagai lubrikan tidak larut air antara lain : magnesium stearat, kalsium stearat, natrium stearat, asam stearat, talk.

Pertimbangan pemilihan lubrikan tergantung pada cara pemakaian, tipe tablet, sifat disintegrasi dan disolusi yang diinginkan, sifat fisika-kimia serbuk atau granul dan biaya.

Sebagai bahan pelincir yang sangat menonjol adalah talk karena dapat sekaligus memenuhi ketiga fungsi yaitu sebagai pelincir, anti lengket dan pelicin. Pada umumnya talk ditambahkan sebanyak 2% ke dalam granulat siap pakai. (Voight, 1995 : 205).

e. Anti Lengket (Antiadheren)

Antiadheren adalah zat yang digunakan untuk mencegah menempelnya massa tablet pada punch dan untuk mengurangi penempelan pada dinding cetakan. Bahan ini sangat diperlukan untuk zat-zat yang mudah menempel, seperti vitamin E. Talk, magnesium stearat dan amilum jagung merupakan material yang memiliki sifat antiadheren yang sangat baik.

Tabel Antiadheren yang biasa digunakan

Jenis Antiadheren

Konsentrasi (%b/b)

Talk

1-5

Magnesium stearat

< 1

Amilum jagung

3-10

Colloidal silica

0,1-0,5

DL-Leucine

3-10

Natrium lauril sulfat

< 1

f. Perbaikan Aliran atau Glidan

Glidants ditambahkan dalam formulais untuk menaikkan atau meningkatkan fluiditas massa yang akan dikempa, sehingga massa tersebut dapat mengisi die dalam jumlah yang seragam. Amilum adalah glidan yang paling populer karena disamping dapat berfungsi sebagai glidan juga sebagai disintegran dengan konsentrasi sampai 10%. Talk lebih baik sebagai glidan dibandingkan amilum, tetapi dapat menurunkan disintegrasi dan disolusi tablet.

Tablet tipe lubrikan yang biasanya digunakan

Glidants

Konsentrasi (%)

Logam stearat

<1

Asam stearat

1-5

Talk

1-5

Amilum

1-10

Natrium benzoate

2-5

Natrium klorida

5-20

Natrium dan magnesium lauril sulfat

1-3

PEG 4000 dan 6000

2-5

g. Pembasah (Surfaktan)

Beberapa zat berkhasiat memiliki sifat hidrofob, yaitu sifat yang susah untuk dibasahi. Zat berkhasiat yang demikian akan menimbulkan masalah dalam waktu hancurnya, oleh karena itu diperlukan suatu zat pembasah. Zat pembasah membantu mempercepat penetrasi cairan ke dalam tablet sehingga dapat terjadi kontak antara bahan cairan dengan zat penghancur yang lebih cepat.

h. Penyerapan Cairan (Adsorben)

Adsorben adalah zat yang digunakan untuk menyerap sejumlah besar cairan seperti minyak, ekstrak cair, dan lelehan eutektik yang dapat terinkoporasi dalam tablet tanpa perubahan zat tersebut menjadi basah. Beberapa contoh zat yang dapat digolongkan menjadi adsorben antara lain : siloid, aerosol, tanah liat, kaolin, magnesium silikat, magnesium karbonat, magnesium oksida, amilum.

i. Zat Tambahan (Adjuvant)

Adjuvan adalah zat tambahan dalam formula sediaan obat yang ditambahkan dalam jumlah kecil untuk maksud pemberian warna, penawar bau, dan rasa. Contohnya :

· Colors dan Pigments

Bahan pewarna tidak mempunyai aktifitas terapeutik, dan tidak dapat meningkatkan bioavailabilitas atau stabilitas produk, tetapi pewarna ditambahkan ke dalam sediaan tablet berfungsi untuk menutupi warna obat yang kurang baik, identifikasi produk, dan untuk membuat suatu produk lebih menarik. akan tetapi penggunaan pewarna yang tidak tepat akan mempengaruhi mutu produk. Pewarna yang digunakan haruslah pewarna yang diperbolehkan oleh Undang-undang untuk digunakan sebagai pewarna untuk sediaan obat. bahan pewarna ada yang larut dalam air dan ada yang tidak larut dalam air. Pewarna ditambahkan dalam bentuk larutan atau suspensi dalam granulasi basah, tergantung apakah pewarna tersebut larut atau tidak. Penggunaan pewarna yang larut kemungkinan dapat terjadi migrasi zat warna selama proses pengeringan yang dapat mengakibatkan tidak meratanya warna. Penggunaan pewarna ynag tidak larut dapat mengurangi resiko interaksi yang kemungkinan terjadi dengan zat aktif dan bahan tambahan lain. Terhadap tablet yang telah diberi pewarna, sangat penting untuk dilakukan pengukuran keseragaman warna pengkilapan, serta perubahan warna karena pengaruh cahaya pada permukaan tablet.

Tabel Jenis pewarna (sintetik yang biasa digunakan)

Pewarna

Nama umum

Red 3

Erytrosine

Red 40

Allura red AC

Yellow 5

Tartrazine

Yellow 6

Sunset Yellow

Blue 1

Brilliant Blue

· Sweetners dan Flavor

Penambahan pemanis dan pemberi rasa biasanya hanya untuk tablet-tablet kunyah, hisap, buccal, sublingual, effervesen dan tablet lain yang dimaksudkan untuk hancur atau larut di mulut.

Tabel beberapa pemanis yang biasa digunakan

Pemanis Alami

Pemanis Sintetis atau Buatan

Mannitol

Sakarin

Lactosa

Siklamat

Sukrosa

Aspartame

Dektrosa

PEMBUATAN TABLET.

Tablet dibuat terutama dengan cara kompresi. Sejumlah tertentu dari tablet dibuat dengan mencetak, secara singkat dapat dikatakan bahwa tablet yang dibuat secara kompresi menggunakan mesin yang mampu menekan bahan bentuk serbuk atau granul dengan menggunakan berbagai bentuk punch atau ukuran dan die, alat kompresi tablet merupakan alat beratt dari berbagai kapasitas dipilih sesuai dengan dasar dari jenis tablet yang akan dibuat serta produksi rata-rata yang diinginkan. Tablet yang dicetak dibuat dengan tangan atau dengan alat mesin tangan, dengan cara menekan bahan tablet kedalam cetakan, kemudiaan bahan tablet yang telah terbentuk dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan sampai kering. Dalam pembuatan tablet zat berkasiat , zat – zat lain ,kecuali zat pelicin dibuat granul(butiran kasar).Karena serbuk yang halus tidak mengisi cetakan dengan baik.maka dibuat granul agar mudah mengalir(free flowing)mengisi cetakan agar tablet tidak retak (capping).

Pada umumnya tablet kempa dibuat dengan mengempa massa kempa yang mengalir dari corong ke kisi pengisi lalu ke lubang kempa menjadi massa kompak dan padat. Tablet dibuat sesuai bentuk dan ukuran pons dan lubang kempa lalu dikempa menghasilkan massa kompak dengan bentuk tertentu. Unit tablet dalam satu batch harus mempunyai keseragaman bobot, keseragaman kandungan, serta kadar zat aktif yang harus memenuhi syarat. Ketentuan lain yang juga penting dari massa tablet yaitu massa tablet harus homogen dan massa kempa harus mengalir lancar ke lubang kempa.

Massa kempa adalah massa tablet yang terdiri dari campuran fase dalam dan fase luar yang telah proses untuk siap dikempa menjadi tablet. Fase dalam adalah massa utama tablet yang terdiri dari campuran zat aktif dan eksipien yang diproses menjadi granul secara basah atau kering atau tergantung pembuatan, dapat pula merupakan campuran serbuk zat aktif dan eksipien. Fase luar adalah campuran beberapa eksipien saja, yaitu penghancur luar, glidan, dan lubrikan yang ditambahkan ke fase dalam untuk memudahkan pengempaan tablet dan untuk menunjang mutu tablet yang memenuhi syarat. Massa kempa yang baik memiliki sifat-sifat :

- memiliki aliran yang baik agar dapat dengan lancar mengalir dari corong ke lubang kempa sehingga keseragaman bobot memenuhi syarat

- memiliki sifat granulometri (ukuran serba sama) agar pengisian lubang kempa selalu dalam bobot dan volume yang tepat, cepat dan partikel setelah dikempa menghasilkan tablet yang kompak

- memiliki kompressibilitas yang baik

- memiliki kompaktibilitas yang baik

- memiliki kandungan zat aktif yang homogen dan serba sama

Granulasi adalah proses pembuatan ikatan partikel-partikel kecil membentuk padatan yang lebih besar atau agregat permanen melalui penggumpalan massa, sehingga dapat dibuat granul yang lebih homogen dari segi kadar, ukuran, serta bentuk partikel. Adapun fungsi granulasi adalah untuk memperbaiki sifat aliran dan kompressibilitas dari massa cetak tablet, memadatkan bahan-bahan, menyediakan campuran seragam yang tidak memisah, mengendalikan kecepatan pelepasan zat aktif, serta mengurangi debu. Untuk beberapa zat aktif tertentu, proses granulasi dapat dilewati jika zat aktif memenuhi syarat untuk langsung dikempa. Metode ini disebut kempa langsung. Metode ini mengurangi lamanya proses pembuatan tablet melalui proses granulasi, tapi sering timbul beberapa kendala yang disebabkan sifat zat aktif itu sendiri atau eksipien.

Cara membuat granul ad 2 macam :

1. Cara basah

2. Cara kering atau sering disebutsluging atau pre compresion

PEMBUATAN GRANUL

1. Cara Basah

Zat berkasiat,zat pengisi dan pengkancur dicampur baik – bai,laludibasahi dengan larutan bahan pengikat,bila perlu ditambah bahan pewarna.Setelah itu diayak menjadi granul,dan dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu 40⁰ - 50⁰.Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan bahan pelicin dan dicetak menjadi tablet dalam mesin tablet.

Proses Pembuatan :

1. Penghalusan

Tujuan dari penghalusan adalah untuk memperkecil ukuran partikel zat aktif dan eksipien. Semakin besar ukuran partikel maka sifat kohesifitas dan adhesifitas antar partikel semakin besar yang dapat menyebabkan terjadinya pemisahan pada granul. Tahap ini dapat dilakukan dengan menggunakan bowl hammer, hammer mill, dan grinder.

2. Pencampuran

Tujuan pencampuran ini adalah untuk mendapatkan distribusi bahan aktif yang merata dan homogen. Tahap ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat planetary mixer, twin-shell, dan blender.

3. Penambahan dan Pencampuran Larutan Pengikat

Penambahan larutan pengikat akan membentuk massa basah sehingga membutuhkan alat yang dapat meremas dengan kuat seperti sigma blade mixer dan planetary mixer.

4. Pengayakan

Massa basah dibuat menjadi granul dengan melewatkannya pada ayakan berukuran 6-12 mesh yang disebut oscilating granulator atau fitzmill.

5. Pengeringan

Pengeringan bertujuan untuk menghilangkan pembasah yang digunakan. Granul kemudian dikeringkan dalam oven.

6. Pengayakan

Ukuran granul diperkecil dengan cara melewatkan pada ayakan dengan porositas yang lebih kecil dari yang sebelumnya.

7. Penambahan Penghancur dan Lubrikan

Proses selanjutnya yaitu proses pencampuran granul-granul dengan penghancur dan lubrikan menggunakan twin-shell blender atau mixer lainnya.

8. Pengempaan Tablet

Proses terakhir dari metode granulasi basah adalah pengempaan massa cetak berupa granul menjadi tablet.

2. Cara kering

Zat berkasiat,zat pengisi,zat penghancur ,bila perlu zat pengikat dan pelicin dicampur dan dibuat dengan cara kempa cetak menjadi tablet yang besar (slugging),setelah itu tablet yang terjadi dipecah menjadi granul lalu diayak,akhirnya dikempa cetak menjadi teblet yang dikehendaki dengan mesin tablet.

Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan :

· Mesin Slug

Massa serbuk ditekan pada tekanan tinggi sehingga menjadi tablet besar yang tidak berbentuk, kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan.

· Mesin Rol

Massa serbuk diletakkan diantara mesin rol yang dijalankan secara hidrolik untuk menghasilkan massa rata yang tipis, lalu diayak atau digiling hingga diperoleh granul dengan ukuran yang diinginkan.

Proses Pembuatan :

1. Penghalusan

Tujuan dari penghalusan adalah untuk memperkecil ukuran partikel zat aktif dan eksipien. Semakin besar ukuran partikel maka sifat kohesifitas dan adhesifitas antar partikel semakin besar yang dapat menyebabkan terjadinya pemisahan pada granul. Tahap ini dapat dilakukan dengan menggunakan bowl hammer, hammer mill, dan grinder.

2. Pencampuran

Tujuan pencampuran ini adalah untuk mendapatkan distribusi bahan aktif yang merata dan homogen. Tahap ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat planetary mixer, twin-shell, dan blender.

3. Slugging

Campuran serbuk ditekan ke dalam cetakan yang besar dan dikompakkan dengan punch berpermukaan datar, massa yang diperoleh disebut slug.

4. Penghancuran

Setelah melalui proses slugging, tablet langsung dihancurkan untuk selanjutnya dilekukan pengayakan.

5. Pengayakan

Massa tablet dibuat menjadi granul dengan melewatkannya pada ayakan berukuran 6-12 mesh yang disebut oscilating granulator atau fitzmill.

6. Penambahan Penghancur dan Lubrikan

Proses selanjutnya yaitu proses pencampuran granul-granul dengan penghancur dan lubrikan menggunakan twin-shell blender atau mixer lainnya.

7. Pengempaan Tablet

Proses terakhir dari metode granulasi basah adalah pengempaan massa cetak berupa granul menjadi tablet.

KEMPA LANGSUNG

Kempa langsung adalah pembuatan tablet tanpa adanya proses granulasi yang memerlukan eksipien yang cocok sehingga dapat memungkinkan untuk dikempa secara langsung. Kempa langsung dapat menghindari banyak masalah yang timbul pada granulasi basah maupun kering. Walaupun demikian perubahan sifat fisik bahan pengisi dapat merubah sifat alir sehingga tidak sesuai untuk dikempa secara langsung. Metode ini digunakan untuk zat aktif yang mempunyai sifat aliran dan kompressibilitas baik. Selain itu kempa langsung dapat dilakukan untuk zat aktif yang tidak mungkin dilakukan dengan metode granulasi basah (tidak tahan lembab dan panas) dan granulasi kering (yang melibatkan kompresi tinggi).

Proses Pembuatan :

1. Penghalusan

Tujuan dari penghalusan adalah untuk memperkecil ukuran partikel zat aktif dan eksipien. Semakin besar ukuran partikel maka sifat kohesifitas dan adhesifitas antar partikel semakin besar yang dapat menyebabkan terjadinya pemisahan pada granul. Tahap ini dapat dilakukan dengan menggunakan bowl hammer, hammer mill, dan grinder.

2. Pencampuran

Tujuan pencampuran ini adalah untuk mendapatkan distribusi bahan aktif yang merata dan homogen. Tahap ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat planetary mixer, twin-shell, dan blender.

3. Pengempaan Tablet

Proses terakhir dari metode granulasi basah adalah pengempaan massa cetak berupa granul menjadi tablet.

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN METODE TABLET

a) Granulasi Basah

· Keuntungan pembuatan menggunakan metode granulasi basah :

- dapat meningkatkan kohesifitas dan kompressibilitas serbuk dengan penambahan bahan pengikat

- dapat digunakan untuk zat aktif dosis besar yang sulit mengalir dan sulit dikompressi

- distribusi dan keseragaman kandungan baik bagi zat aktif yang mudah larut dan dosis kecil

- zat warna dapat lebih homogen karena terlebih dahulu dilarutkan dalam cairan pengikat

- serbuk dapat ditangani tanpa menghasilkan kontaminasi udara (debu dari serbuk)

· Kerugian pembuatan menggunakan metode granulasi basah :

- membutuhkan tempat yang luas, biaya yang tinggi, alat dan waktu yang banyak

- memungkinkan terjadinya kehilangan bahan selama pemindahan ke proses lainnya

- tidak dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan lembab

b) Granulasi Kering

· Keuntungan pembuatan menggunakan metode granulasi kering :

- memerlukan tahap proses yang lebih sedikit dibandingkan metode granulasi basah

- waktu hancur lebih cepat karena tidak diperlukannya larutan pengikat

- tidak memerlukan pengeringan sehingga tidak terlalu lama pengerjaannya

- dapat digunakan untuk zat aktif dosis besar yang peka terhadap panas dan lembab

· Kerugian pembuatan menggunakan metode granulasi kering :

- perlu mesin khusus untuk membuat slug

- tidak dapat mendistribusikan warna dengan homogen

- tidak dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak larut

- keseragaman kandungan lebih sulit dicapai

KEMPA LANGSUNG

· Keuntungan pembuatan menggunakan metode kempa langsung :

- kempa langsung merupakan tahap produksi tablet yang paling singkat

- keperluan akan alat, ruangan, dan waktu lebih sedikit

- dapat meningkatkan disintegrasi zat aktif karena tablet langsung mengalami disintegrasi menjadi tablet

· Kerugian pembuatan menggunakan metode kempa langsung :

- harga eksipien yang dibutuhkan cukup mahal karena dibutuhkan eksipien yang memiliki aliran, kompressibilitas, serta ikatan antar partikel yang baik

- eksipien dan zat aktif harus memiliki ukuran partikel yang mirip agar tablet yang dihasilkan mempunyai keseragaman kandungan yang baik.


MASALAH MASALAH DALAM PEMBUATAN TABLET

Beberapa permasalahan dalam pembuatan tablet adalah sebagai berikut : (Lachman 1994 : 673-680) :

1. Capping

Caping adalah pemisahan sebagian atau keseluruhan bagian atas atau bagian bawah tablet dari badan tablet. Umumnya disebabkan oleh adanya udara yang terjadi dalam ruang die dan penyebab lain yaitu kelebihan granul, over lubrikasi atau kurang rubrikan.

2. Laminasi

Laminasi adalah pemisahan tablet menjadi 2 bagian atau lebih. Umumnya keretakan atau pecahnya tablet terjadi segera setelah kompresi atau beberapa jam atau hari kemudian.

3. Chipping

Chipping adalah keadaan pada bagian bawah tablet terpotong yang disebabkan oleh ujung punch bawah tidak rata dengan permukaan atas die.

4. Cracking

Cracking adalah keadaan tablet pecah, lebih sering di bagian atas tengah. Cracking merupakan akibat lanjut dari permukaan atas die.

5. Picking

Picking adalah perpindahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada permukaan punch yang disebabkan pengeringan granul belum cukup, jumlah glidan kurang atau yang dikompresi adalah bahan berminyak/lengket.

6. Sticking

Sticking adalah keadaan granul menempel pada dinding die. Penyebabanya yaitu punch kurang bersih, tablet dikompresi pada kelembapan tinggi.

7. Mottling

Mottling adalah keadaan distribusi zat warna pada permukaan tablet tidak merata.

8. Binding

Binding adalah lubrikasi yang tidak memadai.

EVALUASI SEDIAAN GRANUL

· Uji Waktu Alir

Uji ini dilakukan dengan metode corong. Adapun caranya adalah sebagai perikut yaitu ditimbang 100g granul yang sudah terbentuk, kemudian dimasukkan kedalam corong dengan ukuran tertentu yang bagian bawahnya tertutup. Alat dijalankan, kemuian dicata waktu yang diperlukan seluruh granul untuk melalui corong tersebut dengan menggunakan stopwatch. Waktu alir granul yang baik adalah jika waktu yang diperlukan kurang lebih atau sama dengan 10 detik untuk 100 gram granul. Dengan demikian kecepatan alir yang baik adalah lebh besar dari 100 gram/detik.

· Persen Kompressibilitas

Pengukuran lain dari sebuk yang bebas mengalir adalah kompresibilitas yang dihitung dari kerapatan granul, yaitu dengan memasukkan sejumlah tertentu granul kedalam gelas ukur. Volume awal dicatat, kemudian diketuk-ketuk sampai tidak terjadi pengurangan volume. Selanjutnya dihitung persen kompressibilitasnya. (Lachman, 1994:682-683)

Kompresibilitas = x 100 %

Vo = Volume awal granul

Vi = Volume granul setelah diketukkan

Tabel 2.1 Kompressibilitas dan daya alir. (Lachman, 1989: 400)

% Kompressibilitas

Daya Alir

5-15

12-16

18-21

23-35

33-38

>40

Baik sekali

Baik

Sedang- dapat lewat

buruk

sangat buruk

sangat buruk sekali

EVALUASI SEDIAAN TABLET

Ø Uji waktu hancur

Uji waktu hancur dilakukan pada 6 tablet dan menggunakan disintegratin tester (disentegrator). Uji waktu hancur sesuai dengan persyaratan FI adalah kecuali dinyatakan lain, semua tablet harus tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet salut gula/salut selaput. Apabila, tablet/2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian dengan 12 tablet lainnya, tidak kurang 16 dari 18 yang diuji harus hancur sempurna (Indonesia, 1995, 1087)

Prosedur kerja uji waktu hancur (Indonesia, 1976:6)

1. Dimasukkan satu tablet pada masing-masing tabung dari keranjang, lalu masukkan satu cakram pada tiap tabung dan alat dijalankan menggunakan air bersuhu 370 ± 20C sebagai media kecuali dinyatakan lain dalam monografi.

2. Pada akhir batas waktu yang tertera pada monografi, keranjang diangkat

Ø Uji keseragaman bobot

Uji keseragaman bobot dilakukan dengan menimbang 20 tablet satu persatu dan dihitung bobot rata-ratanya. Hasilnya, tidak lebih dari dua tablet yang mempunyai penyiampangan lebih besar dari kolom A dan tidak boleh ada satu tablet pun yang mempunyai penyimpangan bobot lebih besar dari kolom B. (Indonesia, 1979:6)

Tabel persyaratan penyimpangan bobot tablet.

Bobot rata-rata

Penyimpangan bobot rata-rata

A

B

25 mg atau kurang

15%

30%

26 mg-150 mg

10%

20%

151 mg-300 mg

7,5%

15%

Lebih dari 300 mg

5%

10%

Ø Uji keseragaman ukuran

Ketebalan berhubungan dengan kekerasan tablet. Selam percetakan, perubahan ketebalan merupakn indikasi adanya masalah pada aliran massa cetak atau pada pengisian granul ke dalam die. Alat yang digunakan pada uji keseragaman ukuran adalah jangka sorong.

Prosedur kerja uji keseragaman ukuran adalah sebagai berikut (Indonesia, 1976:6)

1. Diambil 10 tablet

2. Tablet yang baik mempunyai diameter tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 11/3 tebal tablet.

Ø Uji kekerasan

Kekerasan menggambarkan kekuatan tablet untuk menahan tekanan pada saat proses produksi, pengemasan, dan pengangkutan. Prinsip pengukurannya adalah memberikan tekanan pada tablet sampai tablet retak atau pecah, kekuatan minimum untuk tablet adalah sebesar 4 kg/cm3. Alat yang digunakan pada uji kekerasan adalah hardness tester. (Ansel, 1989:255)

Prosedur kerja uji kekerasan :

1. Tablet diletakkan diantara pegas penekan, kemudian alat dihidupkan.

2. Jarum petunjuk tekanan akan bergerak sesuai tekanan yang diberikan pada tablet.

3. Saat tablet retak atau pecah, jarum akan berhenti pada suatu angka sebagai penunjuk kekerasan tablet yang dinyatakan dalam satuan kilogram.

Ø Uji kerapuhan

Uji kerapuhan merupakan uji ketahanan permukaan tablet terhadap gesekan yang dialami oleh tablet sewaktu pengemasan, pengiriman, dan penyimpanan. Prinsip pengukurannya adalah penetapan presentase bobot tablet yang hilang dari 20 atau 40 tablet selama diputar dalam waktu tertentu. Alat yang digunakan pada uji kerapuhan adalah friablator test (Lachman, 1994:654)

Prosedur kerja uji kerapuhan :

1. Tablet dibersihkan dari debu dengan cara memakai kuas kecil

2. Ditimbang bobot 20 tablet (tablet besar) atau 40 tablet (tablet kecil) = Wo

3. Tablet dimasukkan ke dalam alat, kemudian alat dijalankan selama 4 menit dengan kecepatan 25 rpm

4. Tablet dikeluarkan lalu dibersihkan dari debu dengan memakai kuas kecil

5. Ditimbang bobot tablet = Wf

6. Indeks kerapuhan dihitung dengan memakai rumus :

F = Wo – Wf x 100%

Wo

Ket : F = indeks kerapuhan

Wo= bobot awal

Wf= bobot akhir

1.2 MONOGRAFI KALSIUM LACTAT / Ca. LACTAT


OH Kalsium laktat (1,2) hidrat

C6H10CaO6

Pentahidrat BM. 308.30

Anhidrat BM. 218.22

Mengandung 98,0 % - 101,0 % C6H10CaO6 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

Pemerian : Serbuk atau granul putih, praktis tidak berbau, bentuk pentahidrat sedikit mekar pada suhu 120oC menjadi bentuk anhidrat.

Kelarutan : Ca-laktat pentahidrat larut dalam aor, praktis tidak larut dalam etanol (FI IV 1995. hal 164).

Tablet Kalsium Laktat mengandung kalsium laktat C6H10CaO6 . 5H2O tidak kurang dari 94,0 % dan tidak lebih dari 106,0 % dri jumlah yang tertera pada etiket.

· Penetapan Kadar Calcii Laktat menurut FI edisi IV 1995

Timbang dan serbukkan tidak kurang 20 tablet. Timbang seksama sejumlah serbuk setara dengan ± 350 mg Ca-Laktat masukkan ke dalam erlenmeyer tambahkan 150 ml air dan 2 ml HCl 3N aduk menggunakan pengaduk stirrer selama 3-5’. Sambil di aduk tambahkan ± 30 ml Na-EDTA 0,05 M melalui buret 50,0 ml tambahkan 15 ml NaOH 1N dan 300 mg indicator biru hidroksinaftol lanjutkan titrasi hingga TAT warna biru.

1 ml Na-EDTA 0,01 M ~ 30,84 mg C6H10C4O6.5H2O

· Uji Disolusi tablet Ca-lactat FI edisi IV 1995

Media disolusi : 500 ml air

Alat type : 100 rpm

Waktu : 45 menit

Prosedur : lakukan penetapan jumblah C6H10CaO6 . 5H2O yang terlarut seperti yang tertera pada penetapan kadar.

Toleransi : dalam waktu 45 menit tidak kurang dari 75 % C6H10CaO6 . 5H2O dari jumblha yang tertera pada etiket.


II. Bahan terpilih dan alasan pemilihan bahan :

Ca-lactat : sebagai bahan aktif

Lactosa : mudah didapat dan murah, sifatnya hampir sama dengan bahan aktif

Gom arab : zat pengikat, sifatnya hampir sama dengan bahan aktif

Talk : Bahan plicin, murah dan mudah didapat

Pati : Mudah didapat dan multi fungsi

III. Rancangan Formulasi

Calcii Lactis Compressi – Tablet calcium laktat

Komposisi :

Tiap tablet mengandung

Calcii laktat 500 mg

Zat tambahan yang cocok secukupnya

Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik

Dosis : 3 x sehari ; 2 - 4 tablet

Catt : sebagai zat pewangi digunakan minyak permen

IV. Rancangan Formulasi per tablet : 1 tablet = 650 mg

R/ Calcii lactas 500 mg x 200 tablet = 100000 mg = 100 g

Lactosa 60 % 90 mg x 200 tablet = 180000 mg = 18 g

Gom arab 5 % 7,5 mg x 200 tablet = 1500 mg = 1,5 g

Talk 25 % 37,5 mg x 200 tablet = 7500 mg = 7,5 g

Sod. Alginat 10 % 15 mg x 200 tablet = 3000 mg = 30 g

V. Rancangan Formulasi pertablet 450 mg

R/ Calcii lactas 300 mg

Amilum Solani 10% pengikat 10 mg

5 % penghancur 5 mg

Talk 2 % pelicin 2 mg

Lactosa ad 450 mg

VI. Prosedur Kerja

1. Ca-laktat ditimbang sebanyak 30 g ditambahkan lactosa 6 g sedikit demi sedikit, gerus ad homogen.

2. Tambahkan 2 g Amilum solani sedikit demi sedikit, gerus ad homogen.

3. Pembuatan mucilago

− Cawan porselen dan batang pengaduk ditara

− Timbang 2 g amilum solani dengan cawan

− Tambahkan air 5 % (± 5 ml).

− Panaskan dengan api langsung, ad massa transparant.

− Timbang kembali, catat berat, kekurangan ditambahkan air panas, kelebihan diuapkan sampai diperoleh berat yang sesuai.

4. Campuran 1 dan 2 tambahkan sedikit demi sedikit pada mucilago yang telah di buat.

5. Campuran yang telah homogen masukkan ke ayakan no 12.

6. Keringkan granul yang diperoleh kemudian hitung % recovery.

7. Talk ditambahkan kemudian masukkan dalam mesin cetak tablet.

8. Tablet yang telah jadi diuji : granul (waktu alir, BJ mampat, kadar air), tablet (kerapuhan, keragaman dan keseragaman bobot, disolusi, waktu hancur, hardness, keseragaman ukuran).


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Evaluasi Sediaan Granul

1. Uji Kompresibilitas

t.awal = 44 cm

t.ahir = 42 cm

% kompresibilitas = 44 - 42 x 100 %

44

= 4.5454 %

Nilai % kompresibilitas granul Ca-laktat 4.5454% , hal tersebut berarti granul tersebut memiliki daya alir baik sekali.

2. Uji Kelembapan

Penimbangan = berat kurs = 29.5522 g

Kurs + granul = 32.5649 g -

Berat granul = 3.0127 g Berat granul sebelum di oven

Penimbangan = berat kurs = 29.5522 g

Kurs + granul = 32.3249 g -

Berat granul = 2.7727 g Berat granul setelah di oven

% kadar air = berat awal – berat setelah di Oven x 100%
berat awal

= 3.0127 – 2.7727 g x 100 %

3.0127

= 7.96 %

Nilai kadar air Ca-lactat 7.96 %

3. Uji Sudut Diam

Tinggi = 2.6 cm

Diameter = 9.3 cm

Tan = h/r

= 2.6 : 4.65

= 0.5591

= 29.2095 º

Nilai sudut diam Ca-laktat 29.2095, berarti nilai tersebut masuk rentang baik dan memenuhi syarat.

4. Uji Waktu Alir

Waktu alir yang diperoleh 7,06 detik, sehingga dapat dikatakan memenuhi syarat.

Dari hasil evaluasi sediaan granul Ca-lactat didapatkan hasil yang memenuhi syarat untuk dilanjutkan pengempaan sebagai tablet. Hasil evaluasi granul didapatkan nilai kompresibilitas 4,5454%, nilai kadar air 7.96 %, nilai sudut diam 29.2095 serta waktu alir 7.06 detik.

B. Evaluasi Sediaan Tablet

1. Pemeriksaan penampilan (organoleptis )

1. Bentuk : Bulat

2. Warna : Putih

3. Rasa : Pahit

4. Bau : arus

2. Keseragaman ukuran

No

Diameter (mm)

Ketebalan (mm)

1

24 mm

20 mm

2

24 mm

20 mm

3

24 mm

20 mm

4

24 mm

20 mm

5

24 mm

20 mm

6

24 mm

20 mm

7

24 mm

20 mm

8

24 mm

20 mm

9

24 mm

20 mm

10

24 mm

20 mm

11

24 mm

20 mm

12

24 mm

20 mm

13

24 mm

20 mm

14

24 mm

20 mm

15

24 mm

20 mm

16

24 mm

20 mm

17

24 mm

20 mm

18

24 mm

20 mm

19

24 mm

20 mm

20

24 mm

20 mm

Dari hasil pengamatan keseragamam ukuran didapat hasil yang kurang proporsional karena berdasarkan diameter serta ketebalan tablet Ca-lactat hampir sama, sehingga bentuk tablet kurang baik.

3. Kekerasan tablet

Tablet

Kekerasan ( kg / cm2 )

1

1,5

2

3

3

1

4

1

5

1

Pada uji kekerasan tablet didapat nilai yang sangat rendah, kurang dari rentang yang baik yaitu 4 kg/ Cm , sehinggp didapat tablet menjadi rapuh. Hal ini dimungkinkan karena tekanan dari punch yang kurang.

4. Keseragaman bobot

No

Bobot (mg)

% Penyimpangan

A (5%)

B (10%)

1

431 mg

7,23 %

2

367 mg

-8,30 %

3

415 mg

3,25 %

4

442 mg

9,96 %

5

369 mg

-8,20 %

6

366 mg

-8,94 %

7

381 mg

-5,21 %

√

8

446 mg

10,96 %

√

9

368 mg

8,45 %

10

437 mg

8,72 %

11

369 mg

-8,20 %

12

378 mg

-5,96 %

√

13

439 mg

9,22 %

14

380 mg

-5,46 %

√

15

434 mg

7,97 %

16

410 mg

2,00 %

17

373 mg

-7,20 %

18

435 mg

8,22 %

19

427 mg

6,23 %

20

372 mg

-7,45 %

· Rata-rata 20 tablet = 8039 mg = 401,95

· % Penyimpangan = Penyimpangan bobot pil x 100 %

rata-rata bobot

· Penyimpangan = bobot pil – rata-rata bobot 20 pil

Dari hasil uji keseragaman bobot dapat disimpulkan bahwa tablet tidak memenuhi syarat karena melebihi harga kolom A dan B, hal tersebut dimungkinkan karena pengempaan yang tidak merata sehingga penympangan tablet besar.

5. Penetapan kadar Ca-lactat

Kompleksometri

1. Pembuatan larutan Baku Primer CaCl2 . 2H2O

M = W x 1000

Mr Volum

0,1 M = W x 1000

147,02 50 ml

W = 0,7351 g

- Menimbang + 0,7351 g CaCl2 . 2H2O, memasukkan dalam beaker glass.

- Melarutkan dengan + 20 ml aquadest ad larut

- Pindahkan dalam labu ukur 50 ml ad tanda batas

- Kocok ad homogeny

2. Pembuatan larutan Baku Sekunder EDTA

M = W x 1000

Mr Volum

0,1 M = W x 1000

372,24 100 ml

W = 3,7224 g

- Menimbang + 3,7224 g EDTA, memasukkan dalam beaker glass

- Melarutkan dengan + 20 ml aquadest ad larut

- Pindahkan dalam labu ukur 100 ml tambahkan aquadest ad tanda batas

- Kocok ad homogeny

3. Pembakuan larutan Baku Sekunder EDTA dengan larutan Baku Primer CaCl2 . 2H2O

- Pipet 10 ml larutan Baku Primer CaCL2 . 2H2O dalam Erlenmeyer

- Tambahkan + 2 ml buffer amoniak pH = 10

- Menambahkan + 2-3 tetes EBT titrasi dengan larutan Baku Sekunder EDTA

- Catat volume titrasi dan hitung PK konsentrasi larutan Baku Sekunder EDTA

4. Penetapan Kadar tablet Kalsium Laktat dengan kompleksometri

- 1 tablet Kalsium Laktat tambahkan aquadest 10 ml

- Tambahkan 1-2 ml buffer amoniak pH = 10

- Menambahkan 2-3 tetes EBT titrasi dengan larutan Baku Sekunder EDTA yang telah dibakukan

- Penetapan Kadar Calcii Laktat menurut FI edisi IV 1995

Timbang dan serbukkan tidak kurang 20 tablet. Timbang seksama sejumlah serbuk setara dengan ± 350 mg Ca-Laktat masukkan ke dalam erlenmeyer tambahkan 150 ml air dan 2 ml HCl 3N aduk menggunakan pengaduk stirrer selama 3-5’. Sambil di aduk tambahkan ± 30 ml Na-EDTA 0,05 M melalui buret 50,0 ml tambahkan 15 ml NaOH 1N dan 300 mg indicator biru hidroksinaftol lanjutkan titrasi hingga TAT warna biru.

1 ml Na-EDTA 0,01 M ~ 30,84 mg C6H10C4O6.5H2O

HASIL PERHITUNGAN PENETAPAN KADAR KALSIUM LAKTAT

è Pembakuan EDTA

M = 0,0927

Volume titrasi = 12,95 ml

Σ mgrek CaCl2 .2H2O = ∑ mgrek Na EDTA

V . M = V . M

10 ml . 0,0927 M = 12,95 ml . M EDTA

M EDTA = 0,0927 M

12,95

= 0,00716 M

è Penetapan Kadar tablet Kalsium Laktat

Volume titrasi = 30,75 ml

∑ mgrek Na EDTA = ∑ mgrek Ca-Laktat

= 30,75 ml . 0,00716 M

= 0,22017 mmol

= 0,22017 mol . 308,30

= 67,878411 mgram

% Recovery = 67,878411 mgram X 100%

431,6 mgram

= 15,7271 %

5. Hasil Uji Keseragaman Kandungan

No

Bobot tablet(mg)

Zat Aktif

Xi

(Xi –Xn)

( Xi –Xn)2

1

437,7

68,8334

22,9445

0,4017

0,1613

2

439,8

69,1636

23,0545

0,5117

0,2618

3

444

69,8224

23,2741

0,7313

0,5348

4

429,3

67,5124

22,5041

-0,0387

0,0015

5

413,9

65,0906

21,6969

-0,8459

0,7155

6

431

67,7797

22,5932

0,0504

0,0025

7

374

58,8787

19,6262

-2,9166

8,5065

8

444

69,8241

23,2747

0,7319

0,5357

9

439,9

69,0850

23,0283

0,4855

0,2357

10

447

70,2959

23,4320

0,8892

0,7907

Total zat aktif = 735,1705 mg

Total rata-rata = 73,517 mg

Total Xi = 225,4285, rata-rata = 22,5428

Total (xi-xn)2 = 11,746

S = akar 11,746 / 9

= 1,3051

RSD = 100. S / E Xi = 100.1,3051 / 22,5428 = 5,7894 %

Dari hasil evaluasi granul Ca-lactat serta tablet Ca-lactat didapat hasil yang berbeda. Pada uji evaluasai sediaan granul didapat hasil yang baik, sehingga dapat dikatakan memenuhi syarat untuk dikempa menjadi tablet.

Pada proses pembuatan tablet di dapat hasil yang tidak memenuhi syarat,karena didapat nilai keseragaman ukuran, keseragaman bobot, kekerasan yang kurang. Hal tersebut dimungkinkan karenafaktor eksternal yaitu kurangnya atau tidak meratanya tekanan pada punch, sehingga bobot serta kekerasan tablet Ca-lactat jelek dan tidak memenuhi syarat.

Pada evaluasi uji keseragaman kandungan didapatkan hasil yang seragam namun setelah ditetapkan kadar Ca-lacta per tablet didapatkan hasil yang sangat buruk. Dari kadar pada etiket kandungan Ca-lactat tiap tablet adalah 300 mg, namun pada PK didapat hasil yang sangat jauh yaitu 67.8784 mg tiap tablet.

Kemungkinan paling utama perbedaan tersebut dikarenakan pada saat proses granulasi yang kurang memadai, berdasarkan sifat fisika kimianya Ca.lactat larut dalam air, sedangkan prosedur yang digunakan adalah granulasi basah. Kemungkinan waktu proses granulasi menempel pada ayakan sehingga banyak massa yang hilang.

Kemungkinan yang kedua adalah pada saat proses PK yang jelek, sehingga hasil yang didapat kurang valid.


BAB V

PENGEMASAN

Untuk pengemasan tablet Ca-lactat “CA-MEX” digunakan bentuk strip atau blister. Tiap blister berisi 10 tablet CA-MEX, alasan pemilihan kemasan bentuk blister ini dikarenakan kemasan ini praktis dang produksinya dengan biaya yang murah.

Gambar Kemasan :


Gambar Brosur :


BAB VI

KESIMPULAN

Pada praktikum An. Obat dan Narkoba ini dapat disimpulkan bahwa proses formulasi serta Evaluasi sediaan tablet Ca-lactat kurang memenuhi persyaratan. Pada proses granulasi serta evaluasinya didapat hasil yang sangat baik, sehingga layak untut k dilanjutkan penempaan sebagai tablet.

Pada proses pembuaatan sera evaluasi tablet didapatkan kendala kerusakan alat, pada evaluasi tablet Ca-Laktat didapatkan hasil yang kurang baik. Ukuran serta keseragaman bobot tablet menjadi kurang memenuhi syarat, sehingga pada waktu uji penetapan kadar untuk tiap tablet juga kurang baik.

Untuk itu perlu diadakan pengkajian ulang dimana letak permasalahan yang menyebabkan hasil yang tidak memenuhi syarat tersebut

Lamaran RSUD Saiful Anwar Malang

Malang, 6 Oktober 2011

Kepada,
Yth. Direktur RSUD Dr. Saiful Anwar UP Kepala Instalasi Farmasi
di tempat.

Dengan hormat,
Bersama ini saya mengajukan surat lamaran untuk mengisisi posisi sebagai tenaga/karyawan di RSUD Dr. Saiful Anwar, Jl. Jaksa Agung Suprapto No.2 Malang – Jawa Timur.
Nama saya Irwanto, berusia 21 tahun dan belum menikah. Saya telah menempuh studi pendidikan DIII farmasi (Asisten Apoteker) di Akademi Farmasi Yayasan Putra Indonesia Malang.
Turut pula saya sertakan beberapa lampiran sebagai bahan pertimbangan Bapak\Ibu:
1. Daftar riwayat hidup
2. Foto copy kartu identitas.
3. Foto copy ijazah SMA.
4. Surat keterangan dari Akademi.
5. Foto copy transkrip nilai sementara, studi pendidikan DIII Farmasi Akademi Farmasi Yayasan Putra Indonesia Malang (Asisten Apoteker)
6. Pas Foto berwarna 4 x 6 (1 lembar)
Besar harapan saya untuk dapat diterima sebagai karyawan di RSUD Dr. Saiful Anwar. Sekian surat lamaran saya, terima kasih atas semua perhatian bapak/Ibu.

Malang, 6 Oktober 2011
Hormat saya,




(Irwanto)

Thursday, April 14, 2011

PHYSICAL DESCRIPTION



A physical description of a person is needed in certain situations, such as when we have just been robbed and we need to tell the police what the robber looks like. We also need to have a description of the person we are going to meet at the airport, if we have never seen him/her before. If someone asks you what a certain person looks like (for instance your mother or your friend), what do you say?

A. General Description
When we describe a person, we usually mention the general features first; for example, Maria is tall and dark; she is good-looking.
The following groups of words and phrases contain characteristics for a general description. Look them over.
(NOTE: in some cases, a word or phrase in one group can also belong to another group)

COMPLEXION:
HEIGHT:
AGE:
BUILD/FIGURE:

LOOKS: fair, dark
tall, short, of average height
old, young, elderly, middle-aged
small, tiny, bug, stocky, muscular, skinny, slim, slender, plump, fat, obese
attractive, beautiful, charming, pretty, cute, sexy, plain, ugly

Activity 1: Identifying physical characteristics for a general description
Now, pair up with a friend. First, give a general description of your friend. Next, do the same for yourself. Use the spaces provided below.

MY FRIEND

COMPLEXION:
HEIGHT:
AGE:
BUILD/FIGURE:
LOOKS:


ME

COMPLEXION:
HEIGHT:
AGE:
BUILD/FIGURE:
LOOKS:


B. A more Detailed Description
Besides general descriptions, we sometimes may need to give a more detailed description of a person’s physical features.
- Height, weight, and age
height : - Siti is 1.65 meters tall
or: Her height is 1.65 meters

weight : - She weighs about 55 kilograms
or: Her weight is about 55 kilograms

age : - Siti is 21 years old
or: She is 21

When we ask questions about someone’s height, weight, and age, we usually use the question word How or What. Look at the following questions and the answers.

QUESTIONS

- how tall are you?
- what’s your height?

- how much do you weigh?
- what’s your weight?

- how old are you?
- what’s your age? ANSWERS

- I’m 1.63 meters tall
- I’m 1.63

- I weigh 53 kilos
- My weight is 53 kilos

- I’m 19 years old
- I’m 19

Activity 2: Talking about people’s height, weight, and age
Complete the short dialogs below with either a question or an answer
1a. Doctor : How …………………………?
Mrs. Kus : He’s eleven
1b. Mira : Isn’t she still a teenager?
Nuri : ………………………………..
2a. Rudianto : How tall is Sara?
Sam : Sara? I guess …………………
2b. Mrs. Utoyo : Little Tito has really grown since I last saw him. What …………
Mrs. Tan : I measured him only last week. He’s 73 cm now.
3a. Tommy : Am I wrong, or have you really gained weight?
How much do you weigh now?
John : Yes, I’m afraid I’m rather overweight. I think …………………..
3b. Doctor : ……………………………………?
……………………………………?
Nurse : She is 1.55 meters tall, and she weighs 50 kilograms.


-Parts of the Body
To give a detailed description of a person’s physical features, we often describe parts of the body. What are the different parts of the body?
Activity 3: Identifying parts of the body
-eyebrow -forehead -arm -neck
-elbow -nose -hair -knee
-leg -ear -face -foot
-mouth -shoulder -hand -ankle
others….

Each person has special physical features. They are the characteristics that distinguish him/her from another person, or that make him/her look like somebody else. To say what a person looks like, we need to know the words that are used to give a physical description. For example, Andreas has black hair. His shoulders are narrow. He has long legs.
The WORD BANK below contains adjectives that we can use to describe a person’s physical features.

WORD BANK
ebony
blue
blond
dark brown
grey pale
bright
narrow
thinning
flabby chubby
kinky
flat
pointed
bald oblong
almond-shaped
angular
slanted
aquiline

Look at how the adjectives are used in sentences

HAIR:

FACE:

EYES:

NOSE:

CHEEKS:

EARS:

SHOULDERS:

LEGS: Short, curly

long, oval

small, bright

small, flat

chubby

small

narrow

slender  Win has short hair
OR: Her hair is curly
 James has a long face
OR: His face is oval
 Shana has small eyes
OR: Her eyes are bright
 Kino has a small nose
OR: His nose is flat
 Her cheeks are chubby
OR: She has chubby cheeks
 He has small ears
OR: His ears are small
 Anton has narrow shoulders
OR: His shoulders are narrow
 Rita has slender legs
OR: Her legs are slender



Activity 4: Describing parts of the body
Describe the physical features of someone you know. Use words from the WORD BANK and other words you have already learned.

C. Specific Facial Features
When we describe a person, we most often describe his/her facial features. Besides the adjectives in the WORD BANK, we can use nouns to describe a person. Look at the following nouns:

moustache beard sideburns ponytail freckles
dimple pug nose birthmark mole scar

Now look at the following description of someone’s face here and try to draw it:
James has a long face. His face is oval. He has a pug nose and small ears. James has a big beard, a thick moustache, sideburns, and also a mole on his left cheek.

STROKE


Definition
A stroke is the sudden death of a portion of the brain cells due to a lack of oxygen. A stroke occurs when blood flow to the brain is damage resulting in abnormal function of brain. It causes by blockage or rupture of an artery to the brain.
Description of Stroke
The specific abilities that will be lost or affected by the stroke depend on the extent of the cell death and where in the brain the stroke happened.
The brain is divided into four primary parts: the right hemisphere, the left hemisphere, the cerebellum and the brain stem.
The right hemisphere controls:
• left side of the body
• analytical and perceptual tasks such as judging distance, size, speed, position
• short-term memory
The left hemisphere controls:
• right side of the body
• speech and language
• memory
The cerebellum controls:
• balance and coordination
The brain stem controls:
• life-support functions such as breathing, blood pressure and heartbeat
• eye movements
• hearing
• speech
• swallowing
Depending on the severity of the stroke, victims may or may not experience any or all losses of the above functions.

Ethiology
There are two broad categories of strokes, called ischemic stroke or hemorrhagic stroke.
Ischemic stroke is caused by a blockage of a blood vessel in the brain or neck. This stroke can stem from three different conditions: thrombosis, embolism or stenosis:
• Thrombosis (cerebral thrombosis) is the formation of a clot within a blood vessel of the brain or neck and is usually caused by atherosclerotic plaque build-up.
• Embolism (cerebral embolism) is the movement of a clot from another part of body to the brain or neck. These clots can form on artificial valves in the heart, on atherosclerotic plaques in aorta or caused from a condition called atrial fibrillation. Atrial fibrillation is an irregular heartbeat whereby the upper chamber of the heart quivers rapidly rather than beats. Because this quivering motion is not forceful enough to send all the blood to the heart's lower chambers, the blood pools, thus allowing clots to develop.
• Stenosis is a severe narrowing of an artery in or leading to the brain. Roughly 2/3 of all strokes are caused by clots.
Hemorrhagic stroke is the bleeding into the brain or the spaces surrounding the brain which is caused by a number of disorders that affect the blood vessels (i.e., high blood pressure and cerebral aneurysm). There are two types of hemorrhagic stroke: subarachnoid and intracerebral.
• Subarachnoid hemorrhage is caused by the rupture of a blood vessel on the surface of the brain so that blood fills the space between the brain and the skull.
• An intracerebral hemorrhage is caused by the rupture of a blood vessel within the brain itself.
Risk Factors of Stroke
Some factors that increase the risk of stroke are genetically determined, others are simply a function of natural processes, and still others result from a person's lifestyle. The factors resulting from heredity or natural processes can't be changed, but those that are environmental can be modified with a doctor's help.
There are five uncontrollable risk factors:
• Age - your chances of having a stroke go up as you get older. Two-thirds of all strokes happen to people over age 65. Your stroke risk doubles with each decade past age 55.
• Sex - males have a slightly higher risk than females.
• Race - American blacks have a higher stroke risk than most other racial groups.
• Family history of diabetes.
• Family history of stroke or TIA (transient ischemic attack).
There are two basic controllable risk factors:
• Treatable medical disorders - includes diabetes, atrial fibrillation, heart attack, high blood pressure, high cholesterol, carotid artery disease, heart disease, personal history of stroke or TIA and patent foramen ovale (PFO). PFO is an abnormal opening between the right and left sides of the heart.
• Lifestyle factors - includes smoking, drinking too much, obesity, drug abuse (especially cocaine), physical inactivity and low estrogen.

Symptoms of Stroke
The warning signs of stroke are:
• Sudden weakness or numbness of the face, arm and leg on one side of the body.
• Loss of speech, or trouble talking or understanding speech.
• Dimness or loss of vision, particularly in only one eye.
• Unexplained dizziness, unsteadiness or sudden falls.
• "Temporary strokes" (transient ischemic attacks or TIAs). These can occur days, weeks or even months before a major stroke. TIAs result when a blood clot temporarily clogs an artery and part of the brain does not get the supply of blood it needs. The symptoms occur rapidly and last a relatively short period of time, usually from a few minutes to several hours. The usual symptoms are like those of a full-fledged stroke, except that the symptoms of a TIA are temporary, lasting 24 hours or less. In fact, people who have had TIAs are 9.5 times more likely to have a stroke than people of the same age and sex who have not had a TIA.

Treatment of Stroke
Treating a stroke depends on where the stroke occurred in your brain and whether it's ischemic or hemorrhagic. The doctor may use a magnetic resonance imaging (MRI) scan, computed tomography (CT) imaging or angiography (injecting dye through a catheter inserted into the suspected blocked blood vessel and taking x-rays of the vessels) to determine the stroke type and location.
Time is critical. Until a few years ago, strokes were regarded as untreatable. Brain cells were thought to die within minutes after a stroke began, so stroke treatment was believed useless. The only onsite medical treatment is stabilization and "wait and see." Now researchers have discovered that some brain cells die immediately after a stroke, but others can survive for as long as several days. It is now clear that treatment following a stroke, especially if begun within three hours of onset, can help preserve brain tissue.
In June 1996 the FDA approved tissue plasminogen activator (t-PA) as the first treatment for strokes caused by arterial blockages. This "clotbuster" is inserted into the femoral artery near the groin and then threaded up into the brain to directly dissolve the blood clot, thereby limiting or stopping the damage to the brain cells. This therapy is used on ischemic strokes and effective within three hours of onset.
The use of t-PA is not recommended after three hours of onset due to the risk of hemorrhaging, thus standard treatment is administered. In an ischemic stroke the goal is to (1) maintain normal blood pressure and (2) improve blood flow by preventing recurrent clots. This is done by administrating anti-hypertensives to reduce blood pressure, platelet-inhibiting drugs such as aspirin, ticlopidine (Ticlid) or an anticoagulant such as heparin, coumadin or warfarin to prevent blood clots from forming or growing.
If unsuccessful, a carotid endarterectomy may be considered. This procedure removes the atherosclerotic plaque and the blood clot from the left or right carotid artery (the major vessels that carry blood through the neck to the brain) thus allowing the blood to flow uninterrupted.
In a hemorrhagic stroke, the goal is to (1) get the blood pressure under control and (2) correct the cause of the hemorrhage and protect the brain from further damage. The hemorrhage causes blood to pool in the brain and thus increases pressure on the brain. The doctor will give diuretic drugs to minimize the temporary swelling of the brain tissue.
Rarely is surgery recommended, but if tests detect an aneurysm, the surgeon may clamp the aneurysm at its base and then remove it. The surgeon now has the option to use a catheter, containing a metal coil, that passes through the blood vessel in the neck. The metal coil causes the aneurysm to clot and seal itself off.
Some people are only slightly affected by strokes. Others recover quickly from what seemed like a severe stroke. Still others may suffer such serious damage that it will take a long time to regain even partial use of their limbs, speech, or whatever faculties that have been affected.
Successful rehabilitation depends on the extent of brain damage, the patient's attitude, the skill of the rehabilitation team, and the cooperation of family and friends. Most stroke patients can benefit from rehabilitation, and today the outlook for stroke patients is more hopeful than ever before. Because of advances in treatment and rehabilitation, many patients are being restored to a fully functional life.
For rehabilitation to be most effective, three points must be kept in mind:
1. Rehabilitation must begin as soon after the stroke as possible
2. The family can be the patient's most important means of support during the rehabilitation process
3. Rehabilitation is a team effort with the physician, nurse, and other specialists working with the patient and their family.
Prevention of Stroke
Strokes may be prevented by lowering your blood pressure, quitting smoking, beginning or increasing exercise, controlling medical problems with medications (i.e., atrial fibrillation requires anticoagulants), maintaining optimal weight, and eating a diet high in fruits and vegetables.
If you have a blocked carotid artery your doctor may suggest a carotid endarterectomy to remove the fatty deposits.
Questions To Ask Your Doctor About Stroke
What are the chances the symptoms were caused by something other than a stroke?
What was the cause of the stroke?
What tests are used to determine what type of stroke occurred and how much damage was done?
What medications will be prescribed?

What are the side effects?
Would surgery be recommended to improve cerebral circulation?

If so, what type of surgery?
What other treatment can be used to prevent another stroke?
Is there a support group for the family to go to ask questions?
What are the chances of having a stroke after a TIA or having another stroke after a first?
What do we need to know about rehabilitation?
Can the rehabilitation be done on an outpatient basis?
Will a nurse or therapist help instruct us on what we need to know for home care such as exercise, diet and communication?
Approximately how long will rehabilitation take to return to normal activities?
Rehabilitation
Stroke rehabilitation is the process by which a stroke survivor works with a team of health care providers with the aim of regaining as much of the function lost after a stroke as possible. By joining a comprehensive rehabilitation program immediately after leaving the hospital, stroke survivors can maximize their chances of recovery, and in most cases they can regain a substantial portion of the functions they lost as a result of their stroke.
Some of the different types of medical professionals who participate in the care of stroke patients during the rehabilitation process include:
• Physical Medicine and Rehabilitation Physicians (Physiatrists)
• Physical Therapists
• Speech Therapists
• Occupational Therapists

TUGAS SISTEM SENSORI PERSEPSI “PENYAKIT TINITUS PADA TELINGA DALAM”

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Tinnitus merupakan gangguan pendengaran dengan keluhan selalu mendengar bunyi, namun tanpa ada rangsangan bunyi dari luar. Sumber bunyi tersebut berasal dari tubuh penderita itu sendiri, meski demikian tinnitus hanya merupakan gejala, bukan penyakit, sehingga harus di ketahui penyebabnya.(dr. Antonius HW SpTHT dalam artikel Suara Keras Sebabkan Telinga Mendenging.Indopos Online)
Tinnitus adalah suatu gangguan pendengaran dengan keluhan perasaan mendengar bunyi tanpa rangsangan bunyi dari luar. Keluhannya bisa berupa bunyi mendenging, menderu, mendesis, atau berbagai macam bunyi lainnya. Gejalanya bisa timbul terus menrus atau hilang timbul.(Putri Amalia dalam artikel Gangguan Pendengaran ”Tinnitus”.FK Universitas Islam Indonesia)ETIOLOGI
B. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya tinnitus sangat beragam,beberapa penyebabnya anatara lain:
a. Kotoran yang ada di lubang telinga, yang apabila sudah di bersihkan rasa berdenging akan hilang
b. Infeksi telinga tengah dan telinga dalam
c. Gangguan darah
d. Tekanan darah yang tinggi atau rendah, dimana hal tersebut merangsang saraf pendengaran
e. Penyakit meniere’s Syndrome, dimana tekanan cairan dalam rumah siput meningkat, menyebabkan pendengaran menurun, vertigo, dan tinnitus
f. Keracunan obat
g. Penggunaan obat golongan aspirin,dsb.

C. KLASIFIKASI
 Tinnitus Frekuensi rendah (low tone) seperti bergemuruh
 Tinnitus frekuensi tinggi (high tone)seperti berdenging

D. MANIFESTASI KLINIS
Pendengaran yang terganggu biasanya di tandai dengan mudah marah, pusing, mual dan mudah lelah. Kemudian pada kasus tinnitus sendiri terdapat gejala berupa telinga berdenging yang dapat terus menerus terjadi atau bahkan hilang timbul.
Denging tersebut dapat terjadi sebagai tinnitus bernada rendah atau tinggi. Sumber bunyi di ataranya berasal dari denyut nadi, otot-otot dala rongga tellinga yang berkontraksi, dan juga akibat gangguan saraf pendengaran.

E. PATOFISIOLOGI
Tinnitus biasanya di hubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat juga terjadi karena gangguan konduksi, yang biasanya berupa bunyi dengan nada rendah. Jika di sertai dengan inflamasi, bunyi dengung akan terasa berdenyut (tinnitus pulsasi) dan biasanya terjadi pada sumbatan liang telinga, tumor, otitis media, dll.
Pada tuli sensorineural, biasanya timbul tinnitus subjektif nada tinggi (4000Hz). Terjadi dalam rongga telinga dalam ketika gelombang suara berenergi tinggi merambat melalui cairan telinga, merangsang dan membunuh sel-sel rambut pendengaran maka telinga tidak dapat berespon lagi terhadap frekuensi suara. Namun jika suara keras tersebut hanya merusak sel-sel rambut tadi maka akan terjadi tinnitus, yaitu dengungan keras pada telinga yang di alami oleh penerita. (penatalaksanaan penyakit dan kelainan THT edisi 2 thn 2000 hal 100). Susunan telinga kita terdiri atas liang telinga, gendang telinga, tulang-tulang pendengaran, dan rumah siput. Ketika terjadi bising dengan suara yang melebihi ambang batas, telinga dapat berdenging, suara berdenging itu akibat rambut getar yang ada di dalam rumah siput tidak bisa berhenti bergetar. Kemudian getaran itu di terima saraf pendengaran dan diteruskan ke otak yang merespon dengan timbulnya denging.
Kepekaan setiap orang terhadap bising berbeda-beda, tetapi hampir setiap orang akan mengalami ketulian jika telinganya mengalami bising dalam waktu yag cukup lama. Setiap bising yang berkekuatan 85dB bisa menyebabkan kerusakan. Oleh karena itu di Indonesia telah di tetapkan nilai ambang batas yangn di perbolehkan dalam bidang industri yaitu sebesar 89dB untuk jangka waktu maksimal 8 jam. Tetapi memang implementasinya belum merata. Makin tinggi paparan bising, makin berkurang paparan waktu yang aman bagi telinga.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tinnitus merupakan suatu gejala klinik penyakit telinga, sehingga untuk memberikan pengobatannya perlu di tegakkan diagnosa yang tepat sesuai dengan penyebab,dan biasanya memanng cukup sulit untuk di ketahui. Untuk memastikan diagnosis perlu di tanyakan riwayat terjadinya kebisingan, perlu pemerikasaan audio-metri nada murni (pure tone audiometry). Pada pemeriksaan nada murni gambaran khas berupa takik (notch) pada frekuensi 4kHz. Anamnesis merupakan hal utama dan terpenting dalam menegakkan diagnosa tinnitus. Hal yang perlu di gali adalah seperti kualitas dan kauantitas tinnitus, apakah ada gejala lain yang menyertai ,seperti vertigo ,gangguan pendengaran, atau gejala neurologik. Pemeriksaan fisik THT dan otoskopi harus secara rutin di lakukan, dan juga pemeriksaan penala,audiometri nada murni,audiometri tutur,dan bila perlu lakkukan ENG.
G. PENATALAKSANAAN
Pada umumnya pengobatan gejala tinnitus dibagi dalam 4 cara, yaitu:
1. Elektrofisiologik, yaitu memberi stimulus elektroakustik (rangsangan bunyi) dengan intensitas suara yang lebih keras dari tinnitusnya, dapat dengan alat bantu dengar atau tinnitus masker.
2. Psikologik, yaitu dengan memberikan konsultasi psikologik untuk meyakinkan pasien bahwa penyakitnya tidak membahayakan dan bisa disembuhkan, serta mengajarkan relaksasi dengan bunyi yang harus didengarnya setiap saat.
3. Terapi medikametosa, sampai saat ini belum ada kesepakatan yang jelas diantaranya untuk meningkatkan aliran darah koklea,transquilizer,anti depresan sedatif,neurotonik, vitamin dan mineral.
4. Tindakan bedah, dilakukan pada tumor akustik neuroma. Namun, sedapat mungkin tindakan ini menjadi pilihan terakhir,apabila gangguan denging yang diderita benar-benar parah.Pasien juga di berikan obat penenang atau
obat tidur,untuk membantu memenuhi kebutuhan istirahat, karena penderita tinnitus biasanya tidurnya sangat terganggu oleh tinnitus itu sendiri, sehingga perlu di tangani,juga perlu di jelaskan bahwa gangguat tersebut sulit di tanangi,sehingga pasien di anjurkan untuk beradaptasi dengan keadaan tersebut,karena penggunaan obat penenang juga tidak terlalu baik dan hanya dapat di gunakan dalam waktu singkat.

H. PROSES KEPERAWATAN
Diagnosa
1. Cemas b/d kurangnya informasi tentang gangguan pendengaran (tinnitus)
Tujuan / Kriteria Hasil:
• Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien terhadap penyakit
Meningkat

Intervensi :
• Kaji tingkat kecemasan / rasa takut
• Kaji tingkat pengetahuan klien tentang gangguan yang di alaminya
• Berikan penyuluhan tentang tinnitus
• Yakinkan klien bahwa penyakitnya dapat di sembuhkan
• Anjurkan klien untuk rileks, dan menghindari stress.
2. Gangguan istirahat dan tidur b/d gangguan pendengaran
Tujuan / Kriteria Hasil :
• Gangguan tidur dapat teratasi atau teradaptasi
Intervensi :
• Kaji tingkat kesulitan tidur
• Kolaborasi dalam pemberian obat penenang/ obat tidur
• Anjurkan klien untuk beradaptasi dengan gangguan tersebut.
3. Resiko kerusakan interaksi sosial b/d hambatan komunikasi
Tujuan / Kriteria Hasil :
• Resiko kerusakan interaksi sosial dapat di minimalkan
Intervensi :
• Kaji kesulitan mendengar
• Kaji seberapa parah gangguan pendengaran yang di alami klien
• Jika mungkin bantu klien memahami komunikasi nonverbal
• Anjurkan klien menggunakan alat bantu dengar setiap di perlukan jika tersedia.


DAFTAR PUSTAKA
• Doenges, Marilynn,E, dkk. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi ketiga, penerbit buku kedokteran. EGC.1999.
• dr. Antonius HW SpTHT dalam artikel Suara Keras Sebabkan Telinga Mendenging . (Indopos Online)
• Putri Amalia.Dalam artikel kesehatan.Tinnitus.FK. Universitas Islam Indonesia
• www.suarasurabaya.net/v05/konsultasikesehatan/?p=126
• www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/022006/09/cakrawala/lainnya04.htm
• www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/031/kes3.html
• www.solusisehat.net/tips_kesehatan.php?id=496
• www.radarlampung.co.id/edisi_minggu/keluarga/denging,_efek_listrik_tubuh.radar
• http://jurnalnasional.com/?med=about%20us

Mau?

afferinte.com

MERAIH RUPIAH KLIK INI

Join in Here