RSS Feed

Thursday, April 29, 2010

Identifikasi Sifat Fisika Pada Suspensi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam bidang industri farmasi, perkembangan tekhnologi farmasi sangat berperan aktif dalam peningkatan kualitas produksi obat-obatan. Hal ini banyak ditunjukan dengan banyaknya sediaan obat-obatan yang disesuaikan dengan karakteristik dari zat aktif obat, kondisi pasien dan penigkatan kualitas obat dengan meminimalkan efek samping obat tanpa harus mengurangi atau mengganggu dari efek farmakologis zat aktif obat.

Sekarang ini banyak bentuk sediaan obat yang kita jumpai dipasaran antara lain: Dalam bentuk sediaan padat: Pil, Tablet, Kapsul. Supposutoria. Dalam bentuk sediaan setengah padat: Krim, Salep. Dalam bentuk cair: Sirup, Eliksir, Suspensi, Emulsi dan lain-lain. Suspensi merupakan salah satu contoh dari bentuk sediaan cair, yang secara umum dapat diartikan sebagai suatu siatem dispersi kasar yang terdiri atas bahan padat tidak larut tetapi terdispersi merata ke dalam pembawanya. bentuk suspense yang dipasarkan ada 2 macam, yaitu suspense siap pakai atau suspense cair yang l;angsung bisa diminum, dan suspense yang dilarutkan terlebih dahulu ke dalam cairan pembawanya, suspense bentuk ini digunakan untuk zat aktif yang kestabilannya dalam akir kurang baik. Dan sebagai pembawa dari suspense yaitu berupa air dan minyak. Alasan bahan obat diformulasikan dalam bentuk sediaan suspense yaitu bahan obat mempunyai kelarutan yang kecil atau tidak larut dalam air, tetapi diperlukan dalam bentuk sediaan cair, mudah diberikan kepada pasien yang mengalami kesulitan untuk menelan, diberikan pada anak-anak, untuk menutupi rasa pahit atau aroma yang tidak enak pada bahan obat.

Dalam pembuatan sediaan suspensi Asam mefenamat ini diperlukan suspending agent yang digunakan untuk mendispersikan bahan aktif yang tidak larut dalam pembawanya, meningkatkan viskositas dan mempengaruhi stabilitas fisik suspensi. suspending agent yang digunakan dalam formulasi sediaan ini adalah Pulvis Gummi Arabicum (PGA).

Pulvis Gummi Arabicum (PGA) ini mempunyai sifat larut hampir sempurna dalam air, memberikan cairan seperti mucilago tidak berwarna atau kekuningan, kental dan lengket.

1.2 Rumusan Masalah

a. Bagaimanakah definisi suspensi?

b. Apakah macam-macam suspensi?

c. Bagiamanakah sifat-sifat suspensi yang baik?

d. Apakah keuntungan sediaan suspensi?

e. Bagaimanakah komponen sediaan suspensi secara umum?

f. Bagaimanakah evaluasi stabilitas fisik suspensi?

g. Bagaimanakah evaluasi sifat fisika suspensi?

h. Bagaimanakah komposisi suspensi Asam mefenamat?

i. Bagaimanakah hasil evaluasi stabilitas fisik Asam mefenamat?

j. Bagaimanakah hasil evaluasi sifat fisika Asam mefenamat?

1.3 Tujuan

a. Untuk mengetahui definisi suspensi

b. Untuk mengetahui macam-macam suspensi

c. Untuk mengetahui sifat-sifat suspensi yang baik

d. Untuk mengetahui keuntungan sediaan suspensi

e. Untuk mengetahui komponen sediaan suspensi secara umum

f. Untuk mengetahui evaluasi stabilitas fisik suspensi

g. Untuk mengetahui evaluasi sifat fisika suspensi

h. Untuk mengetahui komposisi suspensi Asam mefenamat

i. Untuk mengetahui hasil evaluasi stabilitas fisik suspensi Asam mefenamat

j. Untuk mengetahui hasil evaluasi sifat fisika suspensi asam mefenamat

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Suspensi

a. Definisi Suspensi

Ada beberapa sumber yang mendefinisikan tentang suspensi yaitu:

1. Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat adat dalam bentuk halus dan tidak larut terdispersi dalam cairan pembawa. (Indonesia, 1979:32)

2. Suspensi adalah sediaaan cair yang mengandung partikel-partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. (Indinesia, 1995:17)

3. Suspensi adalah preparat yang mengandung partikel obat yang terbagi halus disebarkan secara merata dan pembawa dimana obat menunjukan kelarutan yang sangat minimum (Ansel, 1998:354)

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa suspense adalah sediaan cair yang mengandung bahan obat padat yang tidak larut tetapi dapat terdispersi secara sempurna dalam pembawanya

b. Macam-Macam Suspensi

Menurut farmakope Indonesia Edisi IV suspensi dogolongkan menjadi empat macam yaitu sebagai berikut:

1. Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditunjukan untuk pengunaan oral.

2. Suspensi tropical adalah sedissn cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditunjukan untuk penggunaan pada kulit.

3. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel yang sangat halus yang ditunjukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.

4. Suspensi opthalmik adalah sediaan cair mengandung partikel yang sangat halus, terdispersi dalam cairan pembawa ditunjukan untuk pemakaian pada mata. (Indonesia, 1979:32). Suspensi ophtalmik harus steril, zat yang terdispersi harus sangat halus, jika di simpan dalam wadah dosis ganda harus mengandung bakterisida, dan zat terdispersi tidak boleh menggumpal pada penyimpanan. (Indonesia, 1979:32)

c. Sifat-Sifat Fisika Suspensi Yang Baik

Beberapa sifat fisik suspense yang baik adalah sebagai berikut:

1. Partikel suspense harus kecil dan seragam, sehingga memberikan penampilan hasil yang baik dan tidak kasar.

2. Suspensi harus tetap homogen pada suatu periode, paling tidak pada periode antara pengocokan dan penuangan sesuai dosis yang dikehendaki.

3. Viskositas tidak boleh terlalu kental, sehingga tidak menyulitkan pada saat penuangan dari wadah dan untuk mengurangi kecepatan pengendapan partikel yang terdispersi.

4. Pengendapan yang terjadi pada saat penyimpanan harus mudah didispersikan kembali pada pengocokan

d. Keuntungan Sediaan Suspensi

Pembuatan suspense mempunyai beberapa keuntungan, yaitu baik digunakan untuk pasien yang sukar menelan tablet atau kapsul, terutama pada anak-anak, mempunyai homogenitas tinggi, dapat menutupi rasa tidak enak atau pahit dari obat, mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air.

e. Komponen sediaan Suspensi Secara Umum

1. Bahan Berkhasiat

Bahan berkhasiat merupakan bahan yang mampu memberikan efek terapi, pada suspense disebut fase terdispersi, bahan ini mempunyai kelarutan yang tidak larut di dalam pendispersi.

2. Bahan Tambahan

v Bahan Pensuspensi atau Suspending Agent

Bahan pensuspensi yaitu bahan tambahan yang berfungsi mendispersikan partikel tidak larut dalam pembawa dan meningkatkan viskositas sehingga kecepatan sedimentasi diperlambat.

Macam suspending agent antara lain:

· Golongan polisakarida, contohnya acasia gom, tragacantha, alginate.

· Golongan selulosa larut air, contohnya metal selulosa, hidroksi etil selulosa, Na-CMC, avicel.

· Golongan tanah liat, contohnya bentoit, veegum, aluminium,magnesiu silica, hectocrite.

· Golongan sintetik, contohnya carbomer, carboxypolymethylene, colloidal, silicon dioksida. (Aulton, 1990:100-102)

Suspending agent berfungsi mendispersikan partikel tidak larut kedalam pembawa dan meningkatkan viskositas sehingga kecepatan pengendapan bisa diperkecil. Mekanisme kerja suspending agent adalah untuk memperbesar kekentalan (viskositas), tatapi kekentalan yang berlebihan akan mempersulit rekonstitusi dengan pengocokan.

Suspensi yang baik memepunyai kekentalan yang sedang. Disamping itu penggunaan suspending agent dapat menurukan tegangan antar permukaan antar dua partikel yang tidak bisa saling tercampur yaitu zat aktif dan cairan pembawa.

3. Bahan Pembasah

Humektan digunakan tergantung dari sifat permukaan padat cair bahan aktif. Serbuk sulit dibasahi air disebut hidrofob, seperti sulfur, carbo adsorben, magnesis stearat, dan serbuk mudah dibasahi oleh air disebut hidrofil, seperti Toluene, Zinci Oxydi, Magnesi carbonas. Dalam pembuatan suspense penggunaan himektan sangat berguna dalam penurunan tegangan antar muka dan pembasah akan dipermudah. Mekanisme kerja himektan adalah menghilangkan lapisan udara pada permukaan zat padat, sehingga zat padat dan humektan lebih mudah kontak dengan pembawa. Beberapa contoh humektan antara lain gliserin, propilen glikol, polietilen glikol, dan laritan gom, pada sediaan suspense ibuprofen ini bahan pembasah menggunakan sorbitol. (Ansel, 1998:362)

4. Pemanis

Pemanis berfungsi untuk memperbaiki rasa di sediaan. Dilihat dari hasil kalori yang dihasilkan dibagi menjadi dua yaitu berklori tinggi dan berkalori rendah. Adapun pemanis tinggi misalnya sakarin, sukrosa. Sedangkan pemanis kalori rendah misalnya laktosa. Zat pemanis yang dapat meningkatkan gula darah atau memiliki nilai kalor yang tinggi dan dapat digunakan dalam formulasi untuk pengobatan diabetes pada sediaan suspense Ibuprofen sebagai pemanis menggunakan syrup simplex. (Goeswin, 1993:3)

5. Pengawet

Pengawet berfungsi untuk mencegah terjadinya pertumbuhan mikroba dalam sediaan sehingga dapat menstabilkan sediaan dalam masa penyimpanan yang lama. Beberapa contoh pengawet antara lain, Metil paraben, asam benzoate, Chlor butanol, dan Chlorida Kwartener. (Ansel, 1989:363)

6. Pewarna dan Pewangi

Bahan pewarna dan pewangi harus sesuai dengan rasa sediaan. Contoh pewarna adalah carmin dan caramel, dan contoh pewangi adalah Oleum Menthae, Oleum Citrii.

7. Bahan Pembawa

Sebagai bahan pembawa untuk suspensi adalah air dan minyak.

f. Sistem Suspensi

Dalam sistem suspensi terdapat dua macam system suspensi, yaitu system flokulasi dan system deflokulasi.

Sistem flokulasi biasanya mencegah paling tidak pemisahan yang serius tergantung kadar partikel padatnya dan derajat flokulasinya. Sedangakan pada suatu saat system flokulasi kelihatan kasar sebab terjadi flokul.

Dalam system deflokulasi, partikel-partikel terdispersi baik dan mengendap sendiri, tapi lebih lambat daripada system flokulasi. Partikel-partikel ini membentuk cake atau sedimen yang sukar terdispersi kembali. (Anief, 1999:29-30)

2.2 Evalusi Stabilistas Fisik Suspensi

a. Evaluasi Laju sedimentasi

Meruapakan kecepatan pengendapan dari partikel-partikel suspense. Adapun factor-faktor yang terlibat dalam laju dari kecepatan mengendap partikel-partikel suspense tercakup dalam persamaan hokum srokes (Ansel, 1989:356,357) yaitu:

V=

Keterangan:

V = Kecepatan jatuhnya suatu partikel padat (cm/dtk)

g = Konstanta gravitasi (980,7 cm/dtk)

ρ1 = Kerapatan fase terdispersi (g/ml)

ρ2= Kerapatan fase pendispersi (g/ml)

d = Diameter partikel (cm)

μ = Viskositas mmedium disperse (poise)

Kecepatan sedimentasi berdasarkan hukum stokes di atas dipengaruhi :

v Kerapatan fase terdispersi dan kerapatan fase pendispersi

Sifat yang diinginkan yaitu kerapatn partikel lebih besar daripada kerapatn pembawa, karena bila partikel lebih ringan dari kerapatn pembawa maka partikel akan mengambang dan sulit didistribusikan secara homogeny ke dalam pembawa.

v Diameter ukuran partikel

Laju sedimentasi dapat diperlambat dengan mengurangi ukuran partikel dari fase terdispersi karena semakin kecil ukuran partikel maka kecepatan jatuhnya lebih kecil.

v Viskositas medium pendispersi

Laju sedimentasi dapat berkurang dengan cara menaikkan viskositas medium disperse, tetapi suatu produk yang mempunyai viskositas tinggi umumnya tidak diinginkan karena sulit dituang, sebaiknya viskositas suspense dinaikkan sampai viskositas sedang saja. (Ansel,1989:357)

b. Evaluasi volume Sedimentasi

Volume sedimentasi (F) adalah perbadingan dari volume endapan yang etrjadi (VU) terhadap volume awal dari suspense sebelum mengendap (V0) setelah suspense didiamkan. (Anief, 1993:31)

Rumus : F =

Keterangan:

F = Volume sedimentasi

VU = Volume akhir suspense

V0 = Volume awal suspense sebelum mengendap

Prosedur evaluasi volume sedimentasi adalah sebagai berikut:

1. Sediaan dimasukkan ke dalam tabung sedimen yang berkala

2. Volume yang diisikan merupakan volume awal

3. Setelah didiamkan beberapa waktu/ hari diamati volume akhir dengan terjadinya sedimentasi volume akhir terhadap volume yang diukur ((VU)

4. Dihitung volume sedimentasi

5.

Keterangan:

A = suspense yang baik

B = suspense agak baik

C = Suspensi yang jelek

A

Buat kurva grafik antar F (sumbu Y) terhadap waktu (sumbu X)

C

B


· Bila F = 1 atau mendekati 1, maka sediaan baik karena tidak adanya supernatant jernih pada pendiaman

· Bila F > 1 terjadi “floc” sangat longgar dan halus sehingga volume akhir lebih besardari volume awal

· Formulasi lebih baik jika dihasilkan kurva garis horisontal.

(Martin, 1993:1132)

c. Evaluasi Waktu Redispersi

Waktu redispersi dapat diketahui dengan cara mengocok sediaan dalam wadahnya atau dengan menggunakan pengocok mekanik atau tangan. Suspense didiamkan hingga mengendap kemudian masing-masing suspense dikocok homogen dan dicatat waktunya. Kemampuan redispersi baik bila suspense telah terdispersi sempurna dengan pengocokan dalam waktu maksimal 30 detik.

2.3 Evaluasi Sifat Fisika Suspensi

a. Evaluasi Viskositas

Viskositas atau kekentalan adalah sutau sifat cairan yang berhubungan erat dengan hambatan untuk mengalir. Dalam suatu suspense viskositas dapat dinaikkan dengan adanya sspending agent. Tetapi suatu produk yang mempunyai viskositas tinggi umumnya tidak diinginkan karena sukar dituang dan juga sukar untuk diratakan kembali. Karena itu bila viskositas suspense dinaikkan biasanya dilakukan sedemikian rupa sehingga viskositas sedang sajauntuk menghindari kesulitan-kesulitan seperti yang diperlukan tadi. (Ansel,1989:357)

b. Evaluasi Kerapatan Partikel (Bobot Jenis)

Kerapatan partikel (zat terlarut) umumnya lebih besar daripada kerapatan zat pembawanya, sutau sifat yang diinginkan, karena bila partikel-partikel lebih ringan dari pembawa, partikel-partikel cenderung untuk mengambang dan partikel-partikel ini sangat sukar didistribusikan secara seragam ke dalam pembawa. (Ansel,1989:357)

2.4 Komponen Suspensi Asam Mefenamat

a. Asam Femenamat

Pemerian :

Kelarutan :

Khasiat :

b. Pulvis Gummi Arabicum, Gom Arab (boyland, 1986:2)

Sebagai koloid pelindung. Diperoleh dari tanaman akasia, dapat larut dalam air, bersifat asam karena adanya aktivitas enzim yaitu enzim oksidase yang akan menguraikan zat aktif yang sensitive terhadap oksidase. Enzim tersebut dapat dihilangkan denga pemanasan. Gom ini mudah dirusak oleh bakteri sehingga dalam supensi harus ditambahkan pelarut. Suspending agent gom arab yang digunakan dalam suspense mempunyai konsentrasi antara 5%-10%.

Serbuk gom akasia adalah berbentuk serbuk, putih atau putih kekuningan, tidak berbau. Kelarutan, larut hampir sempurna dalam air, tetpi sangat lambat, meninggalkan sisa bagian tanaman dalam jumlah sangat sedikit dan memberikan cairan seperti mucillago, tidak berwarna atau kekuningan, kental, lengket, transparan, bersifat asam lemah terhadap kertas lakmus, praktis tidak larut dalam etanol dan dalam eter. Penyimpanannya dalam wadah tertutup rapat dan tidak tembus cahaya. Berkhasiat sebagai suspending agent. (Indonesia, 1995:718)

Mucilago Pulvis Gummi Arabicum dibuat dengan menambahkan satu setengah kali air dari berat zat aktif pada gom itu, kemudian diaduk sampai diperoleh suatu massa yang homogen.(Vanduin, 1947:58)

c. Syrup Simplex

Merupakan Sirup yang mengandung 65 % b/v gula

d. Methylis Parabenum, Metil Paraben, nipagin (Indonesia, 1995:551)

Metil Paraben merupakan serbuk halus, putih hampir tidak berbau, tidak mempunyai rasa kemudian agak membakar diikuti rasa tebal. Metil Paraben larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian glliserol P panas, dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati panas, jika didinginkan larutan tetap jernih. Jarak leburnya 125oC dan 128oC. Penyimpanannya dalam wadah tertutup baik. Metil Paraben digunakan sebagai pengawet dengan konsentrasi 0,05%-0,25%.

e. Aqua destilata, Air suling (Indonesia, 1979:96)

Aqua Destilata merupakan cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai warna. Penyimpanannya dalam wadah tertutup baik. Aqua Destilata dalam suspensi ini digunakan sebagai pelarut dan pembawa

2 komentar:

zie said...

bermanfaat, makasih

Anonymous said...

untuk uji waktu redispersi yang menyatakan 3o detik itu literatusnya dari mana bang? mohon jawabannya. trima kasih......

Post a Comment

Mau?

afferinte.com

MERAIH RUPIAH KLIK INI

Join in Here