RSS Feed

Thursday, April 14, 2011

Tumor Tiroid

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Kanker tiroid adalah sutu keganasan pada tiroid yang memiliki 4 tipe yaitu:
papiler, folikuler, anaplastik dan meduler.Kanker tiroid jarang menyebabkan pembesaran kelenjar, lebih sering menyebabkan pertumbuhan kecil (nodul) dalam kelenjar.Sebagian besar nodul tiroid bersifat jinak, biasanya kanker tiroid bisa disembuhkan.
Kanker tiroid sering kali membatasi kemampuan menyerap yodium dan membatasi kemampuan menghasilkan hormon tiroid, tetapi kadang menghasilkan cukup banyak hormon tiroid sehingga terjadi hipertiroidisme.

B. ETIOLOGI
Etiologi dari penyakit ini belum pasti, yang berperan khususnya untuk terjadi well differentiated (papiler dan folikuler) adalah radiasi dan goiter endemis, dan untuk jenis meduler adalah factor genetic. Belum diketahui suatu karsinoma yang berperan untuk kanker anaplastik dan meduler. Diperkirakan kanker jenis anaplastik berasal dari perubahan kanker tiroid berdiferensia baik (papiler dan folikuler), dengan kemungkinan jenis folikuler dua kali lebih besar.
Radiasi merupakan salah satu factor etiologi kanker tiroid. Banyak kasus kanker pada anak-anak sebelumnya mendapat radiasi pada kepala dan leher karena penyakit lain. Biasanya efek radiasi timbul setelah 5-25 tahun, tetapi rata-rata 9-10 tahun. Stimulasi TSH yang lama juga merupakan salah satu faktor etiologi kanker tiroid. Faktor resiko lainnya adalah adanya riwayat keluarga yang menderita kanker tiroid dan gondok menahun.






C. KOMPLIKASI
1. Perdarahan. Resiko ini minimum, namun hati- hati dalam mengamankan hemostatis dan penggunaan drain setelah operasi.
2. Masalah terbukanya vena besar (vena tiroidea superior) dan menyebabkan embolisme udara. Dengan tindakan anestesi mutakhir, ventilasi tekanan positif yang intermitten, dan teknik bedah yang cermat, bahaya ini dapat di minimalkan.
3. Trauma pada nervus laringeus rekurens. Ia menimbulkan paralisis sebagian atau total (jika bilateral) laring. Pengetahuan anatomi bedah yang kuat dan ke hati- hatian pada saat operasi harus diutamakan.
4. Sepsis yang meluas ke mdiastinum. Seharusnya ini tidak doleh terjadi pada operasi bedah sekarang ini, sehingga antibiotik tidak diperlukan sebagai pofilaksis lagi.
5. Hipotiroidisme pasca bedah. Perkembangan hipotiroidisme setelah reseksi bedah tiroid jarang terlihat saat ini. Ini dievaluasi dengan pemeriksaan klinik dan biokomia yang tepat pasca bedah.
6. Hipokalsemi. Karena terangkatnya kelenjar paratiroid pada saat pembedahan.

D. MANIFESTASI KLINIS

Karsinoma papilaris

Jenis yang paling banyak ditemukan, Neoplasma tumbuh lambat dan menyebar melalui saluran getah bening ke kelenjar getah bening regional.

Karsinoma folikuler
Tumor sangat mirip tiroid normal, meskipun pada suatu saat dapat berkembang secara progresif, cepat menyebar ketempat-tempat yang jauh letaknya. Tumor ini tidak hanya secara histologis menyerupai folikel tiroid, tetapi juga mampu menangkap yodium radioaktif. Cara metastasis melalui aliran darah ketempat jauh letaknya seperti paru-paru dan tulang.
Karsinoma meduler
Sel asal neoplasma ini adalah sel C atau sel parafolikuler. Seperti sel prekursornya, maka tumor ini sanggup mensekresi kalsitonin. Meskipun tampaknya tumor ini tumbuh lambat, tumor cenderung mengalami metastasis ke kelenjar getah bening local pada stadium dini. Kemudian tumor ini akan menyebar melalui aliran darah ke paru-paru, hati, tulang dan organ-organ tubuh lainnya dan ada kecenderungan bermetastasis pada stadium dini. Perkembangan dan perjalanan klinisnya dapat diikuti dengan mengukur kadar kalsitonin serum.



Karsinoma anaplastik
Jenis tumor ini sangat ganas dan penyebarannya sangat cepat serta berdiferensiasi buruk. Karsinoma ini memperlihatkan bukti invasi lokal pada stadium dini ke struktur-struktur disekitar tiroid, serta metastasis melalui saluran getah bening dan aliran darah.
E. PATOFISIOLOGI
Karsinoma tiroid merupakan neoplasma yang berasal dari kelenjar yang terletak di depan leher yang secara normal memproduksi hormone tiroid yang penting untuk metabolisme tubuh.Infiltrasi karsinoma tiroid dapat ditemukan di trachea, laring, faring, esophagus, pembuluh darah karotis, vena jugularis, struktur lain pada leher dan kulit.
Metastase limfogen dapat meliputi semua region leher sedangkan metastase hematogen biasanya di paru, tulang, otak dan hati. Kanker ini berdiferensiasi mempertahankan kemampuan untuk menimbun yodium pembesaran kelenjar getah bening. Lokasi kelenjar getah bening yang bisa membesar dan bisa teraba pada perabaan yakni di ketiak, lipat paha. Ada juga kelenjar getah bening yang terdapat di dalam tubuh yang mana tidak dapat diraba yakni didalam rongga perut. Penyebab dari pembesaran kelenjar getah bening adalah infeksi non spesifik, infeksi spesifik (TBC), keganasan (lymphoma).
Hormon stimulator tiroid (thyroid stimulating hormone, TSH) memegang peranan terpenting untuk mengatur sekresi dari kelenjar tiroid. TSH dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Proses yang dikenal sebagai negative feedback sangat penting dalam proses pengeluaran hormon tiroid ke sirkulasi.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Laboratorium
• pemeriksaan kadar ft4 dan tshs untuk menilai fungsi tiroid.
• untuk pasien yang dicurgai karsinoma medulare harus diperiksa kadar kalsitonin dan vma.
• Radiology
• foto polos leher ap dan lateral dengan metode soft tissue technique dengan posisi leher hiperekstensi , bila tumornya besar. Untuk melihat ada tidaknya kalsifikasi.
• dilakukan pemeriksaan foto thorax pa untuk menilai ada tidaknya metastase dan pendesakkan trakea.
• esofagogram dilakukan bila secara klinis terdapat tanda-tanda adanya infiltrasi ke esophagus.
• pembuatan foto tulang belakang bila dicurigai adanya tanda-tanda metastase ke tulang belakang yang bersangkutan. Ct scan atau mri untuk mengevaluasi staging dari karsinoma tersebut dan bisa untuk menilai sampai di mana metastase terjadi.
G. PEMERIKSAAN LABORATORIUM.
Pemeriksaan laboratorium yang membedakan tumor jinak dan ganas tiroid belum ada yang khusus, kecuali kanker meduler, yaitu pemeriksaan kalsitonon dalam serum. Pemeriksaan T3 dan T4 kadang-kadang diperlukan karena pada karsinoma tiroid dapat terjadi tiroktositosis walaupun jarang. Human Tiroglobulin (HTG) Tera dapat dipergunakan sebagai tumor marker dan kanker tiroid diferensiasi baik. Walaupun pemeriksaan ini tidak khas untuk kanker tiroid, namun peninggian HTG ini setelah tiroidektomi total merupakan indikator tumor residif atau tumbuh kembali (barsano). Kadar kalsitonin dalam serum dapat ditentukan untuk diagnosis karsinoma meduler.
• RADIOLOGIS
a. Foto X-Ray
Pemeriksaan X-Ray jaringan lunak di leher kadang-kadang diperlukan untuk melihat obstruksi trakhea karena penekanan tumor dan melihat kalsifikasi pada massa tumor. Pada karsinoma papiler dengan badan-badan psamoma dapat terlihat kalsifikasi halus yang disertai stippledcalcification, sedangkan pada karsinoma meduler kalsifikasi lebih jelas di massa tumor. Kadang-kadang kalsifikasi juga terlihat pada metastasis karsinoma pada kelenjar getah bening. Pemeriksaan X-Ray juga dipergunnakan untuk survey metastasis pada pary dan tulang. Apabila ada keluhan disfagia, maka foto barium meal perlu untuk melihat adanya infiltrasi tumor pada esophagus.
b. Ultrasound
Ultrasound diperlukan untuk tumor solid dan kistik. Cara ini aman dan tepat, namun cara ini cenderung terdesak oleh adanya tehnik biopsy aspirasi yaitu tehnik yang lebih sederhna dan murah.



c. Computerized Tomografi
CT-Scan dipergunakan untuk melihat prluasan tumor, namun tidak dapat membedakan secara pasti antara tumor ganas atau jinak untuk kasus tumor tiroid.
d. Scintisgrafi
Dengan menggunakan radio isotropic dapat dibedakan hot nodule dan cold nodule. Daerah cold nodule dicurigai tumor ganas. Teknik ini dipergunakan juga sebagai penuntun bagi biopsy aspirasi untuk memperoleh specimen yang adekuat.
• BIOPSI ASPIRASI
Pada decade ini biopsy aspirasi jarum halus banyak dipergunakan sebagai prosedur diagnostik pendahuluan dari berbagai tumor terutama pada tumor tiroid. Teknik dan peralatan sangat sederhana , biaya murah dan akurasi diagnostiknya tinggi. Dengan mempergunakan jarum tabung 10 ml, dan jarum no.22 – 23 serta alat pemegang, sediaan aspirator tumor diambil untuk pemeriksaan sitologi. Berdasarkan arsitektur sitologi dapat diidentifikasi karsinoma papiler, karsinoma folikuler, karsinoma anaplastik dan karsinoma meduler.
a. Ultrasonografi
Untuk mendeteksi nodul yang kecil atau yang berada di posterior yang secara klinis belum dapat dipalpasi dan mendeteksi nodul yang multiple dan pembesaran kgb.
Di samping itu dapat dipakai untuk membedakan yang padat dan kistik serta dapat dimanfaatkan untuk penuntun dalam tindakan fnab.
b. Scanning tiroid
Dengan sifat jaringan tiroid dapat mang-up take i 131 maka pemeriksaan scanning ini dapat memberikan beberapa gambaran aktivitas, bentuk dan besar kelenjar tiroid. Kegunaan pemeriksaan ini, yaitu:
• memperlihatkan nodul soliter pada tiroid.
• memperlihatkan multiple nodul pada struma yang klinis kelihatan seperti nodul soliter.
• memperlihatkan retrosternal struma
• mencari occul neoplasma pada tiroid.
• mengindentifikasi fungsi dari jaringan tiroid setelah operasi tiroid.
• mengindentifikasi ektopik tiroid.
• mencari daerah metastase setelah total tiroidektmi.
• needle biopsy; dapat dilakukan dengan cara needle core biopsy atau fnab (biopsy jarum halus).
• Pemeriksaan potong beku
dengan cara ini diharapkan dapat membedakan jinak atau ganas waktu operasi berlangsung, dan sekaligus untuk menentukan tindakan operasi definitive.
• Pemeriksaan histopatologi dengan parafin coupe; pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan definitif atau gold standar.
H. PANATALAKSANAAN
• Penatalaksanaan medis dengan cara
1. Therapi Radiasi (Chemotherapi)
2. Operasi: Pengangkatan Kelenjar tiroid baik sebagian (Tiroidectomi Partial), maupun seluruhnya (Tiroidectomi Total)

• Peran perawat adalah dalam penatalaksanaan Pre-Operatif, Intra Operatif dan Post Operasi

Penatalaksanaan Pre Operasi yang perlu dipersiapkan adalah sebagai berikut:
 Inform Concern (Surat persetujuan operasi) yang telah ditandatangani oleh penderita atau penanggung jawab penderita
 Keadaan umum meliputi semua system tubuh terutama system respiratori dan cardiovasculer
 Hasil pemeriksaan / data penunjang serta hasil biopsy jaringan jika ada
 Persiapan mental dengan suport mental dan pendidikan kesehatan tentang jalannya operasi oleh perawat dan support mental oleh rohaniawan
 Konsul Anestesi untuk kesiapan pembiusan
 Sampaikan hal-hal yang mungkin terjadi nanti setelah dilakukan tindakan pembedahan terutama jika dilakukan tiroidectomi total berhubungan dengan minum suplemen hormone tiroid seumur hidup.
Penatalaksanaan Intra Operasi

• Peran perawat hanya membantu kelancaran jalannya operasi karena tanggung jawab sepenuhnya dipegang oleh Dokter Operator dan Dokter Anesthesi.
Penatalaksanaan Post Operasi (di ruang sadar)
 Observasi tanda-tanda vital pasien (GCS) dan jaga tetap stabil
 Observasi adanya perdarahan serta komplikasi post operasi
 Dekatkan peralatan Emergency Kit atau paling tidak mudah dijangkau apabila sewaktu-waktu dibutuhkan atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
 Sesegera mungkin beritahu penderita jika operasi telah selesai dilakukan setelah penderita sadar dari pembiusan untuk lebih menenangkan penderita
 Lakukan perawatan lanjutan setelah pasien pindah ke ruang perawatan umum


I. PROSES KEPERAWATAN
 Pengkajian perawatan:
a. Riwayat kesehatan klien dan keluarga. Sejak kapan klien menderita penyakit tersebut dan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.
b. Kebiasaan hidup sehari-hari seperti
 Pola makan
 Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur).
 Pola aktivitas.
c. Tempat tinggal klien sekarang dan pada waktu balita
d. Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh;
 Sistem pulmonari
 Sistem pencernaan
 Sistem kardiovaskuler
 Sistem muskuloskeletal
 Sistem neurologik dan Emosi/psikologis
 Sistem reproduksi
 Metabolik
e. Pemeriksaan fisik mencakup
 Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema disekitar leher, adanya nodule yang membesar disekitar leher
 Perbesaran jantung, disritmia dan hipotensi, nadi turun, kelemahan fisik
 Parastesia dan reflek tendon menurun
 Suara parau dan kadang sampai tak dapat mengeluarkan suara
 Bila nodule besar dapat menyebabkan sesak nafas
f. Pengkajian psikososial klien sangat sulit membina hubungan sasial dengan lingkungannya, mengurung diri/bahkan mania. Keluarga mengeluh klien sangat malas beraktivitas, dan ingin tidur sepanjang hari. Kajilah bagaimana konsep diri klien mencakup kelima komponen konsep diri
g. Pengkajian yang lain menyangkut terjadinya Hipotiroidime atau Hipertiroidisme.

 Diagnosa dan intervensi keperawatan
1. Dx. Kep: Ansietas berhubungan dengan faktor kurang pengetahuan tentang kejadian pra operasi dan pasca operasi, takut tentang beberapa aspek pembedahan.
 Tujuan: Klien mengungkapkan ansietas berkurang/hilang.
 Kriteria evaluasi: Klien melaporkan lebih sedikit perasaan gugup, mengungkapkan pe-mahaman tentang kejadian pra operasi dan pasca operasi, postur tubuh rileks.
 Tindakan:
Intervensi Rasional
Jelaskan apa yang terjadi selama periode pra operasi dan pasca operasi, termasuk test laboratorium pra op, persiapan kulit, alasan status puasa, obat-obatan pre op, aktifitas area tunggu, tinggal diruang pemulihan dan program pasca operasi. Informasikan klien bahwa obatnya tersedia bila diperlukan untuk mengontrol nyeri, anjurkan untuk memberitahu nyeri dan meminta obat nyeri sebelum nyerinya bertambah hebat.
Informasikan klien bahwa ada suara serak & ketidaknyamanan menelan dapat dialami setelah pembedahan, tetapi akan hilang secara bertahap dengan berkurangnya bengkak ± 3-5 hari.
Ajarkan & biarkan klien mempraktekkan bagaimana menyokong leher untuk menghindari tegangan pada insisi bila turun dari tempat tidur atau batuk.
Biarkan klien dan keluarga mengungkapkan perasaan tentang pengalaman pembedahan, perbaiki jika ada kekeliruan konsep. Rujuk pertanyaan khusus tentang pembedahan kepada ahli bedah.
Lengkapi daftar aktifitas pada daftar cek pre op, beritahu dokter jika ada kelainan dari test lab. Pre op. Pengetahuan tentang apa yang diperlukan membantu mengurangi ansietas & meningkatkan kerjasama klien selama pemulihan, mempertahankan kadar analgesik darah konstan, memberikan kontrol nyeri terbaik.
Pengetahuan tentang apa yang diperkirakan membantu mengurangi ansietas.
Praktek aktifitas-aktifitas pasca operasi membantu menjamin penurunan program pasca operasi terkomplikasi.
Dengan mengungkapkan perasaan membantu pemecahan masalah dan memungkinkan pemberi perawatan untuk mengidentifikasi kekeliruan yang dapat menjadi sumber kekuatan. Keluarga adalah sistem pendukung bagi klien. Agar efektif, sistem pendukung harus mempunyai mekanisme yang kuat.
Daftar cek memastikan semua aktifi-tas yang diperlukan telah lengkap. Aktifitas ini dirancang untuk memas-tikan klien telah siap secara fisiologis untuk operasi dan mengurangi resiko lamanya penyembuhan.


2. Dx. Kep: Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan ketakutan berkaitan dengan diagnosis kanker yang baru saja diterima, masalah potensial ketidak pastian masa depan.
 Tujuan: Klien dan keluarga dapat beradaptasi secara konstruktif terhadap krisis. Klien dan keluarga mampu mengkomunikasikan secara terbuka dan efektif diantara anggota keluarga.
 Kriteria evaluasi: Sering mengungkapkan perasaan terhadap perawat/dokter. Berpartisipasi dalam perawatan anggota keluarga yang sakit. Mempertahankan sistem fungsional saling mendukung antar tiap anggota keluarga.
 Tindakan:
Intervensi Rasional
Bantu klien & keluarga dalam menghadapi ke-khawatiran terhadap situasi: resikonya, pilihan yang ada serta bantuan yang didapat.
Ciptakan lingkungan rumah sakit yang bersifat pribadi & mendukung untuk klien & keluarga.
Libatkan anggota keluarga dalam perawatan anggota keluarga yang sakit bila memungkin-kan.
Bantu anggota keluarga untuk mengubah harapan-harapan klien yang sakit dalam suatu sikap yang realistis.
Buatlah daftar bantuan profesional lain bila masalah-masalah meluas diluar batas-batas ke-perawatan. Klien & keluarga mengetahui segala sesuatu yang mungkin dapat menyebabkan kekha-watiran serta dapat mengatasi nya.
Klien merasa terlindungi rasa amannya.
Klien mendapat perhatian & kasih sayang dari keluarga-nya & keluarga dapat berpe-ran lebih aktif dalam merawat klien.
Harapan yang tidak realistis membuat kelurga berpikir ti-dak objektif.
Dengan mengetahui bantuan profesional diharapkan klien & keluarga dapat mencari al-ternatif & usaha lain dalam mengobati & merawat klien.




3. Dx. Kep: Resiko bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi akibat adanya perdarahan atau edem pada tempat pembedahan, kerusakan saraf laringeal atau luka pada kelenjar paratiroid.
 Tujuan: Mempertahankan jalan napas paten, aspirasi dicegah.

 Tindakan:
Intervensi Rasional
Pantau frekuensi, kedalaman dan kerja otot-otot pernapasan.
Auskultasi suara napas, catat adanya suara ronkhi.
Monitor tanda-tanda respiratori distres, sia-nosis, takipnea & nafas yang berbunyi.
Periksa balutan leher setiap jam pada periode awal post op, kemudian tiap 4 jam.
Pertahankan klien dalam posisi semi fowler dengan diberi kantung es (ice bag) untuk mengurangi bengkak.
Identifikasi adanya mati rasa.
Monitor tingkat serum kalsium.
Siapkan peralatan emergency untuk tracheostomy, suction, oksigen, perlengkapan be-nang jahit bedah dan kalsium iv, dalam keadaan siap pakai. Berkembangnya distress pada pernapasan merupakan indikasi kompresi trakhea karena adanya edema atau perdarahan.
Ronkhi merupakan indikasi adanya obstruksi/spasme laringeal yang membutuhkan evaluasi dan dan intervensi segera.
Memonitor & mengkaji terus menerus dapat membantu untuk mende-teksi & mencegah masalah pernafasan.
Pembedahan didaerah leher dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas karena adanya udem post op.
Dengan mempertahankan posisi & pemberian es dapat mengurangi pembengkakan.
Kerusakan pada saraf laringeal selama pembedahan tiroid dapat menyebabkan penutupan glotis.
Hipokalsemia, akibat dari kerusakan atau pemotongan kelenjar paratiroid dapat menyebabkan tetani & laringo-spasm.
Persiapan untuk gawat darurat memastikan pemberian perawatan yang cepat & tepat.





4. Dx. Kep: Nyeri berhubungan dengan tiroidektomi.
 Tujuan: Nyeri berkurang/hilang.
 Kriteria evaluasi: Melaporkan nyeri hilang/terkontrol, tidak ada rintihan, ekspresi wajah rileks.
 Tindakan:
Intervensi Rasional
Kaji tanda-tanda nyeri baik verbal maupun non verbal, catat lokasi, intensitas dan lamanya.
Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala/leher dengan bantal kecil.
Anjurkan pasien untuk menggunakan tekhnik relaksasi, seperti imajinasi, musik yang lembut, relaksasi progresif.
Berikan analgesik narkotik yang diresep-kan & evaluasi keefektifannya.
Ingatkan klien untuk mengikuti tindakan-tindakan untuk mencegah peregangan pada insisi seperti:
- menyokong leher bila bergerak di tempat tidur & bila turun dari tempat tidur.
- menghindari hiper ekstensi & fleksi akut leher. Bermanfaat dalam meng-evaluasi nyeri, menentukan pilihan intervensi, menentukan efektivitas terapi.
Mencegah hiperekstensi leher dan melidungi integritas garis jahitan.
Membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan membantu pasien untuk mengatasi nyeri/rasa tidak nyaman secara lebih efektif.
Analgesik narkotik perlu pada nye-ri hebat untuk memblok rasa nyeri.
Peregangan pada garis jahitan ada-lah sumber ketidak nyamanan.


5. Dx. Kep: Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/ ke-rusakan saraf laring; edema jaringan, ketidaknyamanan.
 Tujuan: Penyampaian dan penerimaan pesan dapat dipahami oleh pasien.
 Kriteria evaluasi: Mampu menciptakan metode komunikasi di mana kebutuhan dapat dipahami.

 Tindakan:
Intervensi Rasional
Kaji fungsi bicara secara periodik, anjurkan untuk tidak berbicara secara terus menerus.
Pertahankan komunikasi yang sederhana, beri pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban “ya” atau “tidak”.
Memberikan metode komunikasi alernatif yang sesuai, seperti papan tulis, kertas tulis/papan gambar.
Pertahankan lingkungan yang tenang. Suara serak dan sakit tenggorok akibat edema jaringan atau kerusakan karena pembedahan pada saraf laryngeal dan berakhir dalam beberapa hari.
Menurunkan kebutuhan berespon, mengurangi bicara.
Memfasilitasi ekspresi yang dibutuhkan.
Meningkatkan kemampuan mendengarkan komunikasi perlahan dan menurunkan kerasnya suara yang harus diucapkan pasien yang harus didengarkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Doenges Marlyn E, Moorhouse Mary Frances, Geissler Alice C, 1999, “Pedoman Asuhan Keperawatan”, Edisi ke-3. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
2. Long Barbara C, 1996, “Medical Bedah 2” Yayasan IAPK, Pajajaran, Bandung
3. Price Sylvia A, Wilson Lorraine M, 1995 “Patifosiologi”, Edisi ke-4 Buku ke II, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
4. http://www.scribd.com/doc/39526176/Presentasi-Kasus-Tumor-Tiroid

TUGAS SISTEM KARDIOVASKULER Gagal Jantung

A. DEFINISI

Gagal jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap nutrien dan oksigen. Mekanisme yang mendasar tentang gagal jantung termasuk kerusakan sifat kontraktil dari jantung, yang mengarah pada curah jantung kurang dari normal. Kondisi umum yang mendasari termasuk aterosklerosis, hipertensi atrial, dan penyakit inflamasi atau degeneratif otot jantung. Sejumlah faktor sistemik dapat menunjang perkembangan dan keparahan dari gagal jantung. Peningkatan laju metabolic ( misalnya ;demam, koma, tiroktoksikosis), hipoksia dan anemia membutuhkan suatu peningkatan curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
B. ETIOLOGI
Terjadinya gagal jantung dapat disebabkan :
1. Disfungsi miokard (kegagalan miokardial)
Ketidakmampuan miokard untuk berkontraksi dengan sempurna mengakibatkan isi sekuncup ( stroke volume) dan curah jantung (cardiac output) menurun.
2. Beban tekanan berlebihan-pembebanan sistolik (systolic overload)
Beban sistolik yangb berlebihan diluar kemampuan ventrikel (systolic overload) menyebabkan hambatan pada pengosongan ventrikel sehingga menurunkan curah ventrikel atau isi sekuncup.
3. Beban volum berlebihan-pembebanan diastolic (diastolic overload)
Preload yang berlebihan dan melampaui kapasitas ventrikel (diastolic overload) akan menyebabkan volum dan tekanan pada akhir diastolic dalam ventrikel meninggi. Prinsip Frank Starling ; curah jantung mula-mula akan meningkat sesuai dengan besarnya regangan otot jantung, tetapi bila beban terus bertambah sampai melampaui batas tertentu, maka curah jantung justru akan menurun kembali.
4. Peningkatan kebutuhan metabolic-peningkatan kebutuhan yang berlebihan (demand overload)
Beban kebutuhan metabolic meningkat melebihi kemampuan daya kerja jantung di mana jantung sudah bekerja maksimal, maka akan terjadi keadaan gagal jantung walaupun curah jantung sudah cukup tinggi tetapi tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi tubuh.
5. Gangguan pengisian (hambatan input).
Hambatan pada pengisian ventrikel karena gangguan aliran masuk ke dalam ventrikel

C. KLASIFIKASI
GAGAL JANTUNG KIRI
Gagal jantung kiri atau gagal jantung ventrikel kiri terjadi karena adanya gangguan pemompaan darah oleh ventrikel kiri sehingga curah jantung kiri menurun dengan akibat tekanan akhir diastolic dalam ventrikel kiri dan volum akhir diastolic dalam ventrikel kiri meningkat.
GEJALA :
• Perasaan badan lemah
• Cepatl lelah
• Berdebar-debar
• Sesak nafas
• Batuk Anoreksia
• Keringat dingin.
• Takhikardia
• Dispnea
• Paroxysmal nocturnal dyspnea
• Ronki basah paru dibagian basal
• Bunyi jantung III

GAGAL JANTUNG KANAN
Gagal jantung kanan karena gangguan atau hambatan pada daya pompa ventrikel kanan sehingga isi sekuncup ventrikel kanan menurun tanpa didahului oleh adanya gagal jantung kiri.

GEJALA :
• Edema tumit dan tungkai bawah
• Hati membesar, lunak dan nyeri tekan
• Bendungan pada vena perifer (jugularis)
• Gangguan gastrointestinal (perut kembung, anoreksia dan nausea) dan asites.
• Berat badan bertambah
• Penambahan cairan badan
• Kaki bengkak (edema tungkai)
• Perut membuncit
• Perasaan tidak enak pada epigastrium.
• Edema kaki
• Asites
• Vena jugularis yang terbendung
• Hepatomegali

GAGAL JANTUNG KONGESTIF
Bila gangguan jantung kiri dan jantung kanan terjadi bersamaan. Dalam keadaan gagal jantung kongestif, curah jantung menurun sedemikian rupa sehingga terjadi bendungan sistemik bersama dengan bendungan paru.

GEJALA :
• Kumpulan gejala gagal jantung kiri dan kanan.

D. PATOFISIOLOGI




E. MANIFESTASI KLINIS
1. Peningkatan volume intravaskular (gambaran dominan)
2. Kongesti jaringan
3. Peningkatan desakan vena pulmonal (edema pulmonal) ditandai oleh batuk dan sesak nafas.
4. Peningkatan desakan vena sistemik seperti yang terlihat pada edema perifer umum dan penambahan berat badan.
5. Penurunan curah jantung dengan disertai pening, kekacauan mental, keletihan, intoleransi jantung terhadap latihan, ekstremitas dingin dan oliguria.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Hitung darah dapat menunjukan anemia , merupakan suatu penyebab gagal jantung output tinggi dan sebagai faktor eksaserbasi untuk bentuk disfunsi jantung lainnya
2. Pemeriksaan biokimia untuk menunjukan insufiensi ginjal
3. Tes fungsi ginjal untuk menentukan apakah gagal jantung ini berkaitan dengan azotemia prerenal
4. Pemeriksaan elektrolit untuk mengungkap aktivitas neuroendokrin
5. Fungsi tiroid pada pasien usia lanjut harus dinilai untuk mendeteksi tirotoksikosis atau mieksedema tersembunyi
6. Pemeriksaan EKG
7. Radiografi dada
8. Angiografi radionuklir mengukur fraksi ejeksi ventrikel kiri dan memungkinkan analisis gerakan dinding regional
9. Kateterisasi jantung untuk menentukan penyakit arteri koroner sekaligus luas yang terkena.
G. KOMPLIKASI
1. Kematian
2. Edema pulmoner akut
H. PENATALAKSANAAN
1. Koreksi sebab – sebab yang dapt diperbaiki , penyebab – penyebab utama yang dapt diperbaiki adalah lesi katup jantung, iskemia miokard, aritmia, depresi miokardium diinduksi alcohol, pirau intrakrdial dan keadaan output tinggi.
2. Diet dan aktivitas, pasien – pasien sebaiknya membatasi garam (2 gr natrium atau 5 gr garam). Pada gagal jantung berat dengan pembatasan aktifitas, tetapi bila pasien stabil dianjurkan peningkatan aktifitas secara teratur
3. Terapi diuretic
4. Penggunaan penghambat sistem rennin – angiotensin – aldosteron
5. Terapi beta blocker
6. Terapi glikosida digitalis
7. Terapi vasodilator
8. Obat inotropik positif generasi baru
9. Penghambat kanal kalsium
10. Atikoagulan
11. Terapi antiaritmia
12. Revaskularisasi koroner
13. Transplantasi jantung
14. Kardoimioplasti

I. PENGKAJIAN
RIWAYAT KESEHATAN/KEPERAWATAN

Keluhan Utama :
• Lemah beraktifitas
• Sesak nafas

Riwayat Penyakit Sekarang :
• Penyebab kelemahan fisik setelah melakukan aktifitas ringan sampai berat.
• Seperti apa kelemahan melakukan aktifitas yang dirasakan, biasanya disertai sesak nafas.
• Apakah kelemahan fisik bersifat local atau keseluruhan system otot rangka dan apakah disertai ketidakmampuan dalam melakukan pergerakan.
• Bagaimana nilai rentang kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
• Kapan timbulnya keluhan kelemahan beraktifitas, seberapa lamanya kelemahan beraktifitas, apakah setiap waktu, saat istirahat ataupun saat beraktifitas.

Riwayat Penyakit Dahulu :
• Apakah sebelumnya pernah menderita nyeri dada, darah tinggi, DM, hiperlipidemia.
• Obat apa saja yang pernah diminum yang berhubungan dengan obat diuretic, nitrat, penghambat beta serta antihipertensi. Apakah ada efek samping dan alergi obat.

Riwayat Keluarga :
• Penyakit apa yang pernah dialami keluarga dan adakah anggota keluarga yang meninggal, apa penyebab kematiannya.

Riwayat Pekerjaan dan Kebiasaan :
• Situasi tempat kerja dan lingkungannya
• Kebiasaan dalam pola hidup pasien.
• Kebiasaan merokok
PEMERIKSAAN FISIK

KEADAAN UMUM
Didapatkan kesadaran baik atau compos mentis dan berubah sesuai tingkat gangguan yang melibatkan perfusi system saraf pusat
BREATHING
• Terlihat sesak
• Frekuensi nafas melebihi normal
BLEEDING
• Inspeksi : adanya parut, keluhan kelemahan fisik, edema ekstrimitas.
• Palpasi : denyut nadi perifer melemah, thrill
• Perkusi : Pergeseran batas jantung
• Auskultasi : Tekanan darah menurun, bunyi jantung tambahan
BRAIN
• Kesadaran biasnya compos mentis
• Sianosis perifer
• Wajah meringis, menangis, merintih, meregang dan menggeliat.
BLADDER
• Oliguria
• Edema ekstrimitas
BOWEL
• Mual
• Muntah
• Penurunan nafsu makan
• Penurunan berat badan
BONE
• Kelemahan
• Kelelahan
• Tidak dapat tidur
• Pola hidup menetap
• Jadwal olahraga tak teratur
PSIKOSOSIAL
• Integritas ego : menyangkal, takut mati, marah, kuatir.
• Interaksi social : stress karena keluarga, pekerjaan, kesulitan biaya ekonomi.
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan kardiak output berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokard.
Rencana Intervensi :
• Kaji dan lapor tanda penurunan curah jantung.
• Periksa keadaan klien ; kaji frekuensi dan irama jantung.
• Catat bunyi jantung.
• Palpasi nadi perifer.
• Pantau dan catat haluaran urine.
• Pertahankan bedrest dengan kepala tempat tidur elevasi 30º
• Berikan istirahat dengan lingkungan yang tenang.
• Berikan oksigen tambahan
• Kolaborasi untuk pemberian obat
• Pemberian cairan IV, pembatasan jumlah total sesuai indikasi, hindari cairan garam.
• Pantau EKG dan perubahan foto dada.

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti paru sekunder perubahan membrane kapiler alveoli dan retensi cairan interstitial.
Rencana Intervensi :
• Kaji frekuensi, irama, bunyi dan dalamnya pernafasan.
• Berikan tambahan oksigen
• Pantau saturasi oksigen
• Koreksi keseimbangan asam basa.
• Beri posisi yang memudahkan meningkatkan ekspansi paru.
• Latih batuk efektif dan nafas dalam.
• Kolaborasi pemberian obat.

3. Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri koroner.
Rencana Intervensi :
• Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, lamanya dan penyebarannya
• Anjurkan untuk melaporkan nyeri dengan segera
• Berikan lingkungan yang tenang, aktifitas perlahan
• Bantu melakukan teknik relaksasi
• Berikan oksigen tambahan
• Kolaborasi pemberian obat anti nyeri.

4. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan curah jantung.
Rencana Intervensi :
• Kaji status mental klien
• Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer dan diaforesis secara teratur
• Kaji kualitas peristaltic kapan perlu pasang sonde.
• Kaji adanya kongesti hepar pada abdomen kanan atas
• Ukur tanda vital dan periksa laboratorium.

5. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kongesti vaskuler pulmonalis dan perpindahan cairan ke ekstra vaskuler.
Rencana Intervensi :
• Kaji tekanan darah
• Kaji distensi vena jugularis
• Timbang BB
• Beri posisi yang membantu drainage ekstrimitas dan latihan gerak pasif.
• Periksa laboratorium

6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan demand oksigen.
• Catat frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum dan sesudah aktifitas
• Tingkatkan istirahat dan batasi aktifitas
• Anjurkan menghindari peningkatan tekanan abdomen
• Pertahankan klien tirah baring
• Evaluasi tanda vital saat aktifitas
• Pertahankan penambahan O2 sesuai pesanan
• Selama aktifitas kaji EKG, dispnoe, sianosis, frekuensi dan pola nafas.
• Rujuk program rehabilitasi jantung

7. Cemas berhubungan dengan hospitalisasi dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit serta penanganan yang akan didapatkan.
• Kaji tanda dan ekspresi verbal kecemasan
• Temani klien selama periode cemas
• Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan
• Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan cemasnya
• Lakukan pendekatan dan komunikasi
• Berikan penjelasan tentang penyakit, penyebab dan penanganannya
• Kolaborasi pemberian obat anti cemas.

8. Risiko kambuh berhubungan dengan ketidaktahuan mengenai perawatan gagal jantung.
Rencana Intervensi :
• Diskusikan mengenai fungsi normal jantung.
• Jelaskan manfaat diet rendah garam, rendah lemak dan mempertahankan berat yang ideal.
• Jelaskan kepada klien dan keluarga mengenai factor-faktor yang dapat meningkatkan risiko kambuh.
• Jelaskan untuk memeriksa diri bila ada tanda-tanda kambuh.
• Menyarankan kepada keluarga untuk memanfaatkan sarana kesehatan dim masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth, Buku Ajar Keperawatan Mdikal Bedah, edisi 8, 1997, EGC, Jakarta.

Doenges E. Marlynn, Rencana Asuhan Keperawatan , 2000, EGC, Jakarta.

Gallo & Hudak, Keperawatan Kritis, edisi VI, 1997, EGC Jakarta

Noer Staffoeloh et all, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, 1999, Balai Penerbit FKUI, Jakarta

Nursalam. M.Nurs, Managemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktek Keperawatan Profesional, 2002, Salemba Medika, Jakarta

Russel C Swanburg, Pengantar keparawatan, 2000, EGC, Jakarta.

TUGAS NEUROBEHAVIOUR GANGGUAN PSIKOSOSIAL “SKIZOFRENIA”

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Skizofrenia merupakan gangguan yang ditandai dengan disorganisasi kepribadian yang cukup parah, distorsi realita dan ketidakmampuan berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari.

B. PENYEBAB
skizofrenia sangat kompleks dan dipengaruhi banyak faktor. Dengan makin berkembangnya pengetahuan tentang biologi dan biokimia otak/saraf kini diketahui bahwa ketidakseimbangan zat kimia atau neurotransmitter di dalam otak dapat menjadi pemicu skizofrenia. Gejala positif diyakini akibat kelebihan dopamine, sedang gejala negatif disebabkan serotonin yang berlebihan. Penyebab lain adalah stres, penyakit di otak seperti infeksi, tumor atau kanker, cedera otak baik ketika dewasa maupun saat dilahirkan,
serta faktor genetik.

C. TANDA AWAL YANG BISA DIDETEKSI
mudah curiga, depresi, cemas, tegang, gampang tersinggung, dan marah. Penderita juga mengalami gangguan tidur, nafsu makan, kehilangan energi dan motivasi, sulit mengingat dan berkonsentrasi. Tanda lainnya, penderita merasa asing di lingkungannya, sehingga menarik diri dari kehidupan sosial.

D. GEJALA
Ada 2 kategori gejala:ditandai munculnya persepsi,
• gejala positif = gejala tipe I pikiran, dan perilaku yang tidak biasa secara menonjol, misalnya: halusinasi, delusi, pikiran dan pembicaraan kacau, dan perilaku katatonik
• gejala negatif = gejala tipe II ditandai hilangnya atau berkurangnya kemampuan di area tertentu, misalnya tidak munculnya perilaku tertentu, afek datar, dan alogia (tidak mau bicara).


Selain gejala2 tsb, terdapat beberapa ciri lain skizofrenia, yang sebenarnya bukan kriteria formal untuk diagnosa namun sering muncul sebagai gejala, yaitu:
• afek yang tidak tepat (mis. Tertawa saat sedih dan menangis saat bahagia),
• anhedonia (kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi ttt, apapun yang dialami tidak dapat merasakan sedih atau gembira), dan
• ketrampilan sosial yang terganggu (mis. kesulitan memulai pembicaraan, memelihara hubungan sosial, dan mempertahankan pekerjaan).
Karakteristik skizofrenia :
1. Gangguan Pikiran
Penderita skizofrenia mengalami gangguan dalam cara berpikir maupun isi pikirannya.
a. Cara berpikir
Neologisme, disini penderita memiliki frasa-frasa kata yang baru dimana
frasa kata tersebut hanya bisa dimengerti oleh dia sendiri. Dalam pembicaraanpun mencerminkan asosiasi longgar dimana ide-ide yang dibicarakan meloncat-loncat dan tidak berhubungan. Selain itu penderita dipengaruhi oleh bunyi kata ketimbang maknanya.
b. Isi pikiran
Kebanyakan penderita skizofrenia mengalami waham/delusion ( suatu perasaan atau keyakinan yang keliru yang tidak bisa diubah dengan penalaran maupun penyajian fakta ).
Macam waham/delusion :
Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar. Delusion of influence = waham tentang dirinya sendiri
dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar. Delusion of passivity =
waham tentang gerakan tubuh, pikiran maupun tindakan tak berdaya terhadap
suatu kekuatan dari luar.

Delusion of perception = waham yang berhubunagn dengan pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas dan biasanya bersifat mistik,
2. Gangguan Persepsi
Penderita seringkali merasakan bahwa dunia tampaknya "berbeda" bagi mereka. Penderita merasa bagian tubuh mereka tampak terlalu besar ataupun terlalu
kecil. Gangguan persepsi yang paling dramatis dinamakan halusinasi. Halusinasi auditorik/dengar ( biasanya penderita mendengar suara yang menyuru penderita berperilaku tertentu maupun mengomentari perilakunya ) merupakan halusinasi yang sering terjadi. Halusinasi visual/lihat ( penderita melihat sesuatu yang asing ) agak jarang ditemukan. Halusinasi sensorik lain ( penderita merasa ada suatu bau buruk yang keluar dari tubuhnya, merasa kulitnya ditusuk-tusuk ) juga jarang ditemukan.
3. Gangguan Afek
Pada umumnya penderita tidak merasakan emosi apa-apa. Penderita tidak mampu merespon stimulus emosi dengan benar. Sebagai contoh penderita mungkin tidak menunjukan emosi saat diberitahu kalo anaknya meninggal atau tertawa saat
mendapat berita yang tragis.
4. Gangguan Perilaku
Penderita biasanya menunjukan aktivitas motorik dan ekspresi wajah yang
aneh. Ada juga yang melakukan gerakan yang tak lazim tanpa berhenti atau mempertahankan dalam periode waktu yang lama atau cenderung mematung.
5. Gangguan Kemampuan untuk Bekerja
Pada umumnya penderita kehilangan motivasi kerja dan keterampilan sosial. Selain itu penderita tak memperhatikan kesehatan ( tidak mau mandi ). Dan
tidak mampu berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.



E. PENATALAKSANAAN
Jika ditangani dengan cepat dan benar, kemungkinan besar penderita hanya akan mengalami satu kali serangan kemudian membaik selamanya. Namun jika
memutus pengobatan tanpa konsultasi karena merasa kondisinya membaik,
penderita bisa kambuh kembali beberapa minggu, bulan atau tahun kemudian.
Sedang penderita yang terlambat dibawa ke dokter, seringkali tak menunjukkan
perbaikan yang berarti setelah diobati.
Dalam pengobatan skizofrenia, peran keluarga sangat penting. Tanpa dukungan keluarga, penderita akan sulit sembuh, terutama untuk bersosialisasi
kembali. Banyak kasus terjadi sekembali dari rumah sakit jiwa, penderita
justru diasingkan sehingga merasa tidak nyaman dan kembali masuk rumah sakit
jiwa.

DAFTAR PUSTAKA

Kriswandaru. 3 april 2008. Akses pada tanggal 2 oktober 2010 di http://www.resep.web.id/ kesehatan/mengenal-penyakit-skizofrenia-salah-satu-gangguan-psikosis-fungsional.htm

TUGAS SISTEM IMUN DAN HEMATOLOGI “ REUMATOID ARTRITIS ”

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Reumatoid artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh. (Hidayat, 2006)
Artritis reumatoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan sering kali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. (www.medicastore.com)

B. ETIOLOGI
Hingga kini penyebab Reumatoid Artritis (RA) belum diketahui, tetapi beberapa hipotesa menunjukkan bahwa RA dipengaruhi faktor – faktor :
• Mekanisme imun (Antigen - Antibody) seperti interaksi antara IGC dan faktor rematoid.
• Gangguan metabolisme.
• Genetik.
• Faktor lain : nutrisi dan lingkungan (pekerjaan dan psikososial)

C. PATOFISIOLOGI
Cedera mikro vascular danjumlah sel yang mebatasi dinding sinovium merupakan lesi paling dini pada sinovisis rematoid. Sifat trauma yang menimbulkan respon ini masih belum diketahui. Kemudian, tampak peningkatan jumlah sel yang membatasi dinding sinovium bersama sel mononukleus privaskular. Seiring dengan perkembangan sinovium edematosa dan menonjol kedalam rongga sendi sebagai tonjolan – tonjolan vilosa.
Pada penyakit rematoid artritis terdapat 3 stadium yaitu :
• Stadium sinovisis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandai hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat istirahat maupun bergerak, bengkak dan kekakuan.
• Stadium destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai dengan adanya kontraksi tendon.
• Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali, deformitas dan gangguan fungsi secara menetap.


D. TANDA DAN GEJALA
Pasien – pasien dengan RA akan menunjukkan tanda dan gejala seperti :
• Nyeri persendian
• Bengkak (Rheumatoid nodule)
• Kekauan pada sendi terutama setelah bangun tidur pad pagi hari
• Terbatasnya pergerakan
• Sendi – sendi terasa panas
• Demam (pireksia)
• Anemia
• Berat badan menurun
• Kekuatan berkurang
• Tampak warna kemerahan pada sekitar sendi
• Perubahan ukuran pada sendi dari ukuran normal
• Pasien tampak anemik
Pada tahap yang lanjut akan ditemukan tanda dan gejala seperti :
• Gerakan menjadi terbatas
• Nyeri tekan
• Deformitas bertambah pembengkakan
• Kelemahan
• Depresi
Gejala ekstraartikular :
• Pada jantung :
Rheumatoid heard diseasure
Valvula lesion (gangguan katub)
Pericarditis
Myocarditis
• Pada mata :
Keratokonjungtivitis
Scleritis
• Pada lympa : Lhymphadenopathy
• Pada thyroid : Lyphocytic thyroiditis
• Pada otot : Mycsitis

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
• Faktor reumatoid : positif pada 80 – 95% kasus
• Fiksasi lateks : positif pada 75% dari kasus – kasus khas
• Reaksi – reaksi aglutinasi : positif pada lebih dari 50% kasus – kasus yang khas
• LED : umumnya meningkat pesat (80 – 100 mm/h) mungkin kembali normal sewaktu gejala – gejal meningkat
• Protein C – kreatif : positif selama masa eksaserbasi
• SDP : meningkat pada waktu timbul proses inflamasi
• JDL : umumnya menunjukkan anemia sedang
• Ig (Ig M dan Ig G) : peningkatan besar menunjukkan proses autoimun sebagai penyebab AR
• Sinar X dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada jaringan yang lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan (perubahan awal) berkembang menjadi formasi kista tulang, memperkecil jarak sendi dan subluksasio. Perubahan osteoartistik yang terjadi secara bersamaan.
• Scan radionuklida : identifikasi peradangan sinovium
• Artroskopi langsung : visualisasi dari area yang menunjukkan irregularitas / degenerasi tulang pada sendi
• Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih besar dari normal : buram, berkabut, munculnya warna kuning (respon inflamasi, produk – produk pembuangan degeneratif); elevasi SDP dan lekosit, penuruna viskositas dan komplemen (C3 dan C4)
• Biopsi membran sinovial : menunjukkan perubahan inflamasi dan perkembangan panas
Kriteria diagnostik artritis reumatoid adalah terdapat poli artritis yang simetris yang mengenai sendi – sendi proksimal jari tangan dan kaki serta menetap sekurang – kurangnya 6 minggu atau lebih bila ditemukan nodul subkutan atau gambaran erosi peri artikuler pada foto rontgen.
Kriteria reumatoid artritis menurut American Reumatism Association (ARA) adalah :
• Kekuatan sendi jari – jari tangan pada pagi hari (Morning Stiffness)
• Nyeri pada pergerakan sendi atau nyeri tekan sekurang – kurangnya pada satu sendi
• Pembengkakan (oleh penebalan jaringan lunak atau oleh efusi cairan) pada salah satu sendi secara terus – menerus sekurang – kurangnya selama 6 minggu
• Pembengkakan pada salah satu sendi lain sekurang – kurangnya selama 6 minggu
• Pembengkakan sendi yang bersifat simetris
• Nodul subcutan pada daerah tonjolan tulang didaerah ekstensor
• Gambaran foto rontgen yang khas pada reumatoid artritis
• Uji aglutinasi faktor reumatoid
• Pengendapan cairan musin yang jelek
• Perubahan karakteristik histologik lapisan sinovia
• Gambaran histologik yang khas pada nodul
Berdasarkan kriteria ini maka disebut :
Klasik : bila terdapat 7 kriteria dan berlangsung sekurang – kurangnya 6 minggu
Definitif : bila terdapat 5 kriteria dan berlangsung sekurang – kurangnya 6 minggu
Kemungkinan reumatoid : bila terdapat 3 kriteria dan berlangsung sekurang – kurangnya 4 minggu

F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan medik pada pasien RA diantaranya :
a) Pendidikan : meliputi tentang pengertian, patofisiologi, penyebab dan prognosis penyakit ini
b) Istirahat : karena pada RA ini disertai rasa lelah yang hebat
c) Latihan : pada saat pasien tidak merasa lelah atau inflamasi berkurang, ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi sendi pasien
d) Termoterapi
e) Gizi yaitu dengan memberikan gizi yang tepat
f) Pemberian obat – obatan :
• Anti inflamasi non steroid (NSAID) contoh : aspirin yang diberikan pada dosis yang telah ditentukan
• Obat – obat untuk reumaoid artritis :
• Acetyl salicylic acid, cholyn salicylate (analgetik, antipyretik, anty inflamatory)
• Indomethacin / indocin (analgetik, anti inflamatori)
• Ibufropen / motrin (analgetik, anti inflamatori)
• Tolmetin sodium / tolectin (analgetik, anti inflamatori)
• Naproxsen / naprosin (analgetik, anti inflamatori)
• Sulindac / clinoril (analgetik, anti inflamatori)
• Piroxicam / feldene (analgetik, anti inflamatori)

G. KOMPLIKASI
a) Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya proses granulasi dibawah kulit yang disebut subcutan nodule
b) Pada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot
c) Pada pembuluh darh terjadi tromboemboli
d) Terjadi splenomegali

H. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

a) PENGKAJIAN
Data dasar pengkajian pasien tergantung pada keparahan dan keterlibatan organ – organ lainnya (misalnya mata, jantung paru – paru, ginjal) tahapan misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaan bersama bentuk – bentuk artritis lainnya.

Pengkajian 11 pola Gordon :
1) Pola persepsi kesehatan – pemeliharaan kesehatan
• Apakah pernah mengalami sakit pada sendi – sendi ?
• Riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya ?
• Riwayat keluarga dengan RA
• Riwayat keluarga dengan penyakit autoimun
• Riwayat infeksi virus, bakteri, parasit dll
2) Pola nutrisi metabolik
• Jenis, frekuensi, jumlah makanan yang dikonsumsi (makanan yang banyak mengandung pospor (zat kapur), vitamin dan protein)
• Riwayat gangguan metabolic
3) Pola eliminasi
• Adakah gangguan saat BAB atau BAK ?
4) Pola aktivitas dan latihan
• Kebiasaan aktivitas sehari – hari sebelum dan sesudah sakit
• Jenis aktivitas yang dilakukan
• Rasa sakit / nyeri pada saat melakukan aktivitas
• Tidak mampu melakukan aktivitas berat
5) Pola istirahat dan tidur
• Apakah ada gangguan tidur ?
• Kebiasaan tidur sehari
• Terjadi kekakuan selama ½ - 1 jam setalah bangun tidur
• Adakah rasa nyeri pada saat istirahat dan tidur
6) Pola persepsi kognitif
• Adakah nyeri sendi saat digerakkan atau istirahat
7) Pola persepsi dan konsep diri
• Adakah perubahan pada bentuk tubuh (deformitas / kaku sendi) ?
• Apakah pasien merasa malu dan minder dengan penyakitnya ?
8) Pola peran dan hubungan dengan sesama
• Bagaimana hubungan dengan keluarga ?
• Apakah ada perubahan dengan peran pada klien ?
9) Pola reproduksi seksualitas
• Adakah gangguan seksualitas ?

10) Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress
• Adakah perasaan takut, cemas akan penyakit yang diderita ?
11) Pola sistem kepercayaan
• Agama yang dianut ?
• Adakah gangguan beribadah ?
• Apakah klien menyerahkan sepenuhnya penyakitnya kepada Tuhan

b) Diagnosa keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan agen pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi cairan / proses inflamasi, destruksi sendi.
Dapat dibuktikan oleh : keluhan nyeri, ketidaknyamanan, kelelahan, berfokus pada diri sendiri, perilaku distraksi / respons autonomic, perilaku yang bersifat hati – hati / melindungi.
Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi pasien akan :
• Menunjukkan nyeri hilang / terkontrol
• Terlihat rifleks, dapat tidur / beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai dengan kemampuan
• Mengikuti program farmakologis yang diresepkan
• Menggabungkan ketrampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam program kontrol nyeri
Intervensi dan rasional :
• Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0 – 10). Catat faktor – faktor yang mempercepat dan tanda – tanda rasa sakit non verbal.
Rasional : membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program.
• Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan.
Rasional : matras yang lembut dan empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi atau nyeri.
• Tempatkan atau pantau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace.
Rasional : mengistirahatkan sendi – sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan dapat mengurangi kerusakan pada sendi.
• Dorong untuk sering mengubah posisi, bantu untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan di bawah, hindari gerakan yang menyentak.
Rasional : mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan atau rasa sakit pada sendi.
• Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada pada waktu bangun atau pada waktu akan tidur. Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi – sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi dan sebagainya.
Rasional : panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan.
• Berikan masase yang lembut.
Rasional : meningkatkan relaksasi, menurunkan nyeri.
• Dorong penggunaan teknik manajemen stress, misalnya relaksasi progresif, sentuhan terapeutik, biofeed back, visualisasi, pedoman imajinasi, hyonosis diri, dan pengendalian napas.
Rasional : meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol dan mungkin meningkatkan kemampuan koping.
• Libatkan dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.
• Beri obat sebelum aktivitas atau latihan yang direncanakan sesuai petunjuk.
Rasional : meningkatkan relaksasi, mengurangi tegangan otot / spasme, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi.
• Kolaborasi : berikan obat – obatan sesuai petunjuk, misalnya asetil salisilat.
Rasional : sebagai anti inflamasi dan efek analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas.
• Berikan kompres dingin jika dibutuhkan.
Rasional : rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak selama periode akut.

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas skeletal, nyeri, penurunan kekuatan otot.
Dapat dibuktikan oleh : keengganan untuk mencoba bergerak atau ketidakmampuan untuk dengan sendiri bergerak dalam lingkungan fisik.
Membatasi rentang gerak, ketidakseimbangan koordinasi, penurunan kekuatan otot atau kontrol dan massa (tahap lanjut).
Hasil yang diharapkan atau kriteria evaluasi pasien akan :
• Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya atau pembatasan kontraktur.
• Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi dari kompensasi bagian tubuh.
• Mendemonstrasikan tehnik atau perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas.
Intervensi dan rasional :
• Evaluasi / lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi / rasa sakit pada sendi.
Rasional : tingkat aktivitas / latihan tergantung dari perkembangan / resolusi dari proses inflamasi.
• Pertahankan istirahat tirah baring / duduk jika diperlukan jadwal aktifitas untuk memberikan periode istirahat yang terus menerus dan tidur malam hari yang tidak terganggu.
Rasional : istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan mempertahankan kekuatan.
• Bantu dengan rentang gerak aktif / pasif, demikian juga latihan resesif dan isometris jika memungkinkan.
Rasional : mempertahankan / meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum. Catatan : latihan tidak adekuat menimbulkan kekakuan sendi, karenanya aktivitas yang berlebihan dapat merusak sendi.
• Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan / bantu tehnik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, misalnya trapeze.
Rasional : menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Mempermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Tehnik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit.
• Posisikan dengan bantal, kantung pasir, gulungan trokater, bebat, brace.
Rasional : meningkatkan stabilitas (mengurangi resiko cidera) dan mempertahankan posisi sendi yang diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor.
• Gunakan bantal kecil / tipis di bawah leher.
Rasional : mencegah fleksi leher.
• Dorong pasien memepertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri dan berjalan.
Rasional : memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilias.
• Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi, menggunakan pegangan tangga pada toilet, penggunaan kursi roda.
Rasional : menghindari cidera akibat kecelakaan / jatuh.

• Kolaborasi : konsul dengan fisioterapi.
Rasional : berguna dalam memformulasikan program latihan / aktivitas yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam mengidentivikasi alat.
• Kolaborasi : berikan matras busa / pengubah tekanan.
Rasional : menurunkan tekanan pada jaringan yang mudah peceh untuk mengurangi resiko imobilitas.
• Kolaborasi : berikan obat – obatan sesuai indikasi (steroid).
Rasional : mungkin dibutuhkan untuk menekan sistem inflamasi akut.

3. Gangguan Citra Tubuh / Perubahan Penampilan Peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.

Dapat dibuktikan oleh : Perubahan fungsi dari bagian-bagian yang sakit.
Bicara negatif tentang diri sendiri, fokus pada kekuatan masa lalu, dan penampilan.
Perubahan pada gaya hidup/ kemapuan fisik untuk melanjutkan peran, kehilangan pekerjaan, ketergantungan pada orang terdekat.
Perubahan pada keterlibatan sosial; rasa terisolasi.
Perasaan tidak berdaya, putus asa.

Hasil yang diharapkan / kriteria Evaluasi-Pasien akan :
• Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan keterbatasan.
• Menyusun rencana realistis untuk masa depan.
Intervensi dan rasional :
• Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses penyakit, harapan masa depan.
Rasional : berikan kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/ kesalahan konsep dan menghadapinya secara langsung.
• Diskusikan arti dari kehilangan / perubahan pada pasien / orang terdekat. Memastikan bagaimana pandangan pribadi pasien dalam memfungsikan gaya hidup sehari-hari, termasuk aspek-aspek seksual.
Rasional : mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap intervensi / konseling lebih lanjut.
• Diskusikan persepsi pasienmengenai bagaimana orang terdekat menerima keterbatasan.
Rasional : isyarat verbal / non verbal orang terdekat dapat mempunyai pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri.
• Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan, ketergantungan.
Rasional : nyeri konstan akan melelahkan, dan perasaan marah dan bermusuhan umum terjadi.
• Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal atau terlalu memperhatikan perubahan.
Rasional : dapat menunjukkan emosional ataupun metode koping maladaptif, membutuhkan intervensi lebih lanjut.
• Susun batasan pada perilaku maladaptif. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping.
Rasional : membantu pasien untuk mempertahankan kontrol diri, yang dapat meningkatkan perasaan harga diri.
• Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas.
Rasional : meningkatkan perasaan harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong berpartisipasi dalam terapi.
• Bantu dalam kebutuhan perawatan yang diperlukan.
Rasional : mempertahankan penampilan yang dapat meningkatkan citra diri.
• Berikan bantuan positif bila perlu.
Rasional : memungkinkan pasien untuk merasa senang terhadap dirinya sendiri. Menguatkan perilaku positif. Meningkatkan rasa percaya diri.
• Kolaborasi : rujuk pada konseling psikiatri, misalnya perawat spesialis psikiatri, psikolog.
Rasional : pasien / orang terdekat mungkin membutuhkan dukungan selama berhadapan dengan proses jangka panjang / ketidakmampuan.
• Kolaborasi : berikan obat-obatan sesuai petunjuk, misalnya anti ansietas dan obat-obatan peningkat alam perasaan.
Rasional : mungkin dibutuhkan pada saat munculnya depresi hebat sampai pasien mengembangkan kemapuan koping yang lebih efektif.


4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.

Dapat dibuktikan oleh : Ketidakmampuan untuk mengatur kegiatan sehari-hari.

Hasil yang diharapkan / kriteria Evaluasi - Pasien akan :
• Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan individual.
• Mendemonstrasikan perubahan teknik / gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
• Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi / komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi dan rasional :
• Diskusikan tingkat fungsi umum (0 - 4) sebelum timbul awitan / eksaserbasi penyakit dan potensial perubahan yang sekarang diantisipasi.
Rasional : mungkin dapat melanjutkan aktivitas umum dengan melakukan adaptasi yang diperlukan pada keterbatasan saat ini.
• Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan.
Rasional : mendukung kemandirian fisik / emosional.
• Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri. Identifikasi / rencana untuk modifikasi lingkungan.
Rasional : menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian, yang akan meningkatkan harga diri.
• Kolaborasi : konsul dengan ahli terapi okupasi.
Rasional : berguna untuk menentukan alat bantu untuk memenuhi kebutuhan individual. Misalnya memasang kancing, menggunakan alat bantu memakai sepatu, menggantungkan pegangan untuk mandi pancuran.
• Kolaborasi : atur evaluasi kesehatan di rumah sebelum pemulangan dengan evaluasi setelahnya.
Rasional : mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin dihadapi karena tingkat kemampuan aktual.
• Kolaborasi : atur konsul dengan lembaga lainnya, misalnya pelayanan perawatan rumah, ahli nutrisi.
Rasional : mungkin membutuhkan berbagai bantuan tambahan untuk persiapan situasi di rumah.

5. Kebutuhan pembelajaran mengenai penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan / mengingat, kesalahan interpretasi informasi.

Dapat dibuktikan oleh :
Pertanyaan / permintaan informasi, pernyataan kesalahan konsep.
Tidak tepat mengikuti instruksi / terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.

Hasil yang diharapkan / kriteria Evaluasi - Pasien akan :
• Menunjukkan pemahaman tentang kondisi / prognosis, perawatan.
• Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk modifikasi gaya hidup yang konsisten dengan mobilitas dan atau pembatasan aktivitas.
Intervensi dan rasional :
• Tinjau proses penyakit, prognosis, dan harapan masa depan.
Rasional : memberikan pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
• Diskusikan kebiasaan pasien dalam penatalaksanaan proses sakit melalui diet, obat-obatan, dan program diet seimbang, latihan dan istirahat.
Rasional : tujuan kontrol penyakit adalah untuk menekan inflamasi sendiri / jaringan lain untuk mempertahankan fungsi sendi dan mencegah deformitas.
• Bantu dalam merencanakan jadwal aktivitas terintegrasi yang realistis, istirahat, perawatan pribadi, pemberian obat-obatan, terapi fisik, dan manajemen stres.
Rasional : memberikan struktur dan mengurangi ansietas pada waktu menangani proses penyakit kronis kompleks.
• Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik.
Rasional : keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung pada ketepatan dosis.
• Anjurkan mencerna obat-obatan dengan makanan, susu, atau antasida pada waktu tidur.
Rasional : membatasi irigasi gaster, pengurangan nyeri pada HS akan meningkatkan tidur dan mengurangi kekakuan di pagi hari.
• Identifikasi efek samping obat-obatan yang merugikan, misalnya tinitus, perdarahan gastrointestinal, dan ruam purpuruik.
Rasional : memperpanjang dan memaksimalkan dosis aspirin dapat mengakibatkan takar lajak. Tinitus umumnya mengindikasikan kadar terapeutik darah yang tinggi.
• Tekankan pentingnya membaca label produk dan mengurangi penggunaan obat-obat yang dijual bebas tanpa persetujuan dokter.
Rasional : banyak produk mengandung salisilat tersembunyi yang dapat meningkatkan risiko takar layak obat / efek samping yang berbahaya.
• Tinjau pentingnya diet yang seimbang dengan makanan yang banyak mengandung vitamin, protein dan zat besi.
Rasional : meningkatkan perasaan sehat umum dan perbaikan jaringan.
• Dorong pasien obesitas untuk menurunkan berat badan dan berikan informasi penurunan berat badan sesuai kebutuhan.
Rasional : pengurangan berat badan akan mengurangi tekanan pada sendi, terutama pinggul, lutut, pergelangan kaki, telapak kaki.


• Berikan informasi mengenai alat bantu.
Rasional : mengurangi paksaan untuk menggunakan sendi dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang dibutuhkan.
• Diskusikan tekinik menghemat energi, misalnya duduk daripada berdiri untuk mempersiapkan makanan dan mandi.
Rasional : mencegah kepenatan, memberikan kemudahan perawatan diri, dan kemandirian.
• Dorong mempertahankan posisi tubuh yang benar baik pada saat istirahat maupun pada waktu melakukan aktivitas, misalnya menjaga agar sendi tetap meregang , tidak fleksi, menggunakan bebat untuk periode yang ditentukan, menempatkan tangan dekat pada pusat tubuh selama menggunakan, dan bergeser daripada mengangkat benda jika memungkinkan.
Rasional : mekanika tubuh yang baik harus menjadi bagian dari gaya hidup pasien untuk mengurangi tekanan sendi dan nyeri.
• Tinjau perlunya inspeksi sering pada kulit dan perawatan kulit lainnya dibawah bebat, gips, alat penyokong. Tunjukkan pemberian bantalan yang tepat.
Rasional : mengurangi resiko iritasi / kerusakan kulit.
• Diskusikan pentingnya obat obatan lanjutan / pemeriksaan laboratorium, misalnya LED, kadar salisilat, PT.
Rasional : terapi obat obatan membutuhkan pengkajian / perbaikan yang terus menerus untuk menjamin efek optimal dan mencegah takar lajak, efek samping yang berbahaya.
• Berikan konseling seksual sesuai kebutuhan.
Rasional : informasi mengenai posisi-posisi yang berbeda dan tehnik atau pilihan lain untuk pemenuhan seksual mungkin dapat meningkatkan hubungan pribadi dan perasaan harga diri / percaya diri.
• Identifikasi sumber - sumber komunitas, misalnya yayasan arthritis (bila ada).
Rasional : bantuan / dukungan dari oranmg lain untuk meningkatkan pemulihan maksimal.
DAFTAR PUSTAKA

Hollmann DB. Arthritis & musculoskeletal disorders. In: Tierney LM, McPhee, Papadakis MA (Eds): Current Medical Diagnosis & Treatment, 34 th ed., Appleton & Lange, International Edition, Connecticut 2005, 729-32.

Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC. 2002.

www.perawatblogger.com./asuhan_keperawatan_rheumatoid_artritis.html

www.askepnurse.blogspot.com/askep_rheumatoid_artritis.mht

FISIOLOGI TRACTUS DIGESTIVUS

FISIOLOGI TRACTUS DIGESTIVUS
Dr. Ratna Indriawati, M Kes

TIU :
o Mahasiswa dapat menjelaskan mekanisme pencernaan
o Mahasiswa dapat menjelaskan refleks terkait system pencernaan
o Mahasiswa dapat menjelaskan patofisiologi gejala-gejala gangguan/penyakit di system pencernaan
TIK :
o Mahasiswa dapat menjelaskan anatomi dan fungsi system pencernaan
o Mahasiswa dapat menjelaskan refleks menelan, refleks saliva, refleks sedak dan muntah
o Mahasiswa dapat menjelaskan mekanisme pengaturan cairan dan elektrolit di saluran pencernaan
o Mahasiswa dapat menjelaskan gejala-gejala gangguan/penyakit di system pencernaan


Anatomi dan fungsi sistem Pencernaan

MULUT
Bibir dan pipi: mengatur posisi makanan saat dikunyah.
Gigi : menghancurkan makanan sehingga mudah dicerna secara enzimatis
Lidah : merasa makanan, memposisikan makanan untuk dikunyah gigi, membentuk bolus, mendorong makanan ke pharynx.
Kelenjar ludah: sekresi saliva yang terdiri dari air, mukus, amilase (ptialin), Garam (bicarbonat dan phosphat menjaga pH, chlorid mengaktifkan amilase, urea, asam urat), IgA

Pharynx : melanjutkan penelanan dari mulut ke esophagus
Esophagus: sekresi mukus memudahkan menelan

REFLEKS SALIVA
Refleks terkondisi: membayangkan, melihat, mencium makanan → korteks serebri →Pusat salivasi medula → neuron parasimpatik → kel. Saliva →sekresi saliva
Refleks tak terkondisi : makanan dalam mulut, rangsangan lain → reseptor mulut dan lidah → Pusat saliva medula → dan seterusnya idem

Mekanisme menelan
Menelan adalah mekanisme yang kompleks, terutama karena faring pada hampir setiap saat melakukan fungsi lain di samping menelan dan hanya diubah dalam bebrapa detik ke dalam traktus digestivus utnuk mendorong makanan.

Yang terutama penting adalah bahwa respirasi tidak terganggu akibat menelan. Menelan merupakan rangkaian gerakan otot yang sangat terkoordinasi, mulai dari pergerakan volunteer lidah dan dilanjutkan serangkaian refleks dalam faring dan esophagus. Bagian aferen lengkung refleks ini merupakan serabut-serabut yang terdapat dalam saraf V, IX dan X. Pusat menelan (deglutisi) ada di medulla oblongata. Di bawah koordinasi pusat ini, impuls-impuls berjalan ke luar dalam rangkaian waktu yang sempurna melalui saraf cranial V,X dan XII menuju ke otot-otot lidah, faring, laring dan esophagus.

Pada umumnya menelan dapat dibagi menjadi :
1. Tahap volunter, yang mencetuskan proses menelan
2. Tahap faringeal, yang bersifat involunter dan membantu jalannya makanan melalui faring ke dalam esofagus
3. Tahap esofageal, fase involunter lain yang mempermudah jalannya makanan dari faring ke lambung.

Seluruh tahap faringeal dari penelanan terjadi dalam waktu kurang dari 2 detik, dengan demikian mengganggu respirasi hanya sekejap saja dalam siklus respirasi yang biasa. Pusat menelan secara khusus menghambat pusat respirasi medula selama waktu ini, menghentikan pernapasan pada titik tertentu dalam siklusnya untuk memungkinkan berlangsungnya penelanan.

Proses berbicara tidak hanya melibatkan system pernapasan saja tetapi juga (1) pusat pengatur saraf bicara spesifik dalam korteks cerebri (2) pusat pengatur pernapasan di otak (3) struktur artikulasi dan resonansi pada rongga mulut dan hidung. Berbicara diatur oleh 2 fungsi mekanis (1) fonasi, yang dilakukan oleh laring dan (2) artikulasi yang dilakukan oleh struktur pada mulut.

Fonasi
laring khususnya berperan sebagai penggetar (vibrator). Elemen yang bergetar adalah pita suara, yang umumnya disebut tali suara. Selama pernapasan normal, pita akan terbuka lebar sehingga aliran udara mudah lewat. Selama fonasi, pita menutup bersama-sama sehingga aliran udara di antara mereka akan menghasilkan getaran.

Bila proses menelan dan bersuara terjadi bersamaan, dimana proses respirasi dan menelan pada tahap faringeal terjadi dalam waktu yang sama, dapat menyebabkan masuknya makanan/minuman ke saluran pernapasan.

Bronkhus dan trachea sedemikian sensitifnya terhadap sentuhan halus, sehingga benda asing dalam jumlah berapapun atau penyebab iritasi lainnya akan menimbulkan refleks batuk. Laring dan karina (tempat percabangan trachea) adalah yang paling sensitive, dan bronkhiolus terminalis dan bahkan alveoli bersifat sensitive terhadap rangsang kimia yang korosif. Impuls aferen yang berasal dari saluran napas terutama berjalan melalui n. vagus ke medulla dan terjadilah refleks batuk.

Inhibisi pernapasan dan penutupan glottis merupakan bagian dari refleks menelan. Menelan sulit atau tidak dapat dilakukan apabila mulut terbuka. Seorang dewasa normal sering menelan selama makan juga di antara makan. Jumlah total menelan perhari sekitar 600 kali = 200 kali sewaktu makan dan minum, 350 kali sewaktu terjaga tanpa makan dan 50 kali sewaktu tidur.
Apabila inhibisi pernapasan tidak ada dan atau glottis tidak menutup atau tidak menutup sempurna selama proses menelan, maka akan terjadi refleks tersedak. Hal ini penting untuk melindungi selama pernapasan dari bolus dan bahan-bahan lainnya yang seharusnya melalui saluran pencernaan. Tersedak dapat terjadi antara lain saat makan sambil berbicara, makan terlalu cepat, dll.

Fungsi Motorik Lambung
x Menyimpan
x Mengaduk : gelombang konstriktor peristaltik lemah menuju antrum per 20 detik
x Mencerna : enzimatis
x Absorbsi: sangat sedikit, yaitu substansi sangat larut lemak seperti alkohol, obat-obat tertentu (aspirin) tapi secara umum absorbsi belum terjadi
x Pengosongan lambung

Sekresi Lambung
x Mukus: pelumas dan menjaga mukosa
x Gastrin : merangsang pembentukan HCl dan pepsin
x HCl
membunuh kuman, melarutkan mineral, membantu perubahan pepsinogen menjadi pepsin
x pepsin : mencerna protein
x lipase : mencerna lemak
x intrinsik faktor
membantu penyerapan Vit B12 untuk pembentukan eritrosit

Pengaturan Sekresi Lambung
1. Fase sefalik : sekresi terjadi bahkan sebelum makanan sampai lambung. Makin kuat nafsu makan makin banyak sekresinya

2. Fase Gastrik
Rangsang regangan dinding lambung dan kimiawi makanan merangsang nukleus motorik
dorsalis vagus dan sekresi gastrin
Kimiawi khusus merangsang gastrin : sekretagogue, alkohol, kafein
Rangsang vagus: sekresi pepsin, gastrin dan asam
Rangsang gastrin: meningkatkan sekresi asam lambung dan pepsin
Fase intestinal: keberadaan makanan pada bagian usus kecil merangsang sejumlah kecil gastrin

Pengosongan Lambung
Dirangsang oleh: n.vagus, penuruna simpatis, alkohol, kafein, protein yang tercerna sebagian, distensi dinding lambung →peningkatan kontraksi pompa pilorus → penurunan resistensi spingter pilorus → peningkatan pengosongan lambung
Dihambat oleh Penurunan vagus, peningkatan simpatis, distensi duodenum, adanya lemak, antikolinergik gastrointestinal, antasid, belladona →perlehahan kontraksi pompa pilorus → peningkatan resistensi sfingter pilorus →penurunan pengosongan lambung

Pergerakan Usus
Kontraksi mencampur: regangan satu bagian akan menyebabkan kontraksi konsentris. Panjang kontraksi 1 cm (segmentasi). Kontraksi segmen memotong chyme
Gerakan mendorong; gerakan segmentasi bendorong chyme ke tatub ileosekal dan mendorong melewati katub tsb
Fungsi katub ileosekal: mencegah kembalinya fecal dari kolon ke usus halus

Sekresi dan Pencernaan di Usus kecil
1. Sekresi:
peptidase, maltase, lactase, sukrase, amilase, lipase, garam, air, mukus , hormon kolesistokinin, GIP, sekretin Pencernaan enzimatis oleh enzim dari sekresi usus sendiri juga menerima sekresi dari pankreas (tripsin, kimotripsin, amilase, lipase, nuklease, carboxypeptidase, mukus) liver (empedu, bicarbonat)
2. Bicarbonat dari pankreas dan liver menetralkan asam lambung
3. Empedu mengubah lemak menjadi terlarut dalam air (water soluble)
4. Kolesistokinin : merangsang sekresi amilase pankreas dan kontraksi kantong empedu
5. Sekretin : merangsang sekresi bikarbonat pankreas

Absorbsi Usus
1. Asam amino: masuk p. darah dengan transport aktif
2. Glukosa, gal;aktosa, fruktosa : masuk p. darah dengan transport aktif
3. Lemak
60-70 % dalam emulsi dengan garam empedu, diabsorsi dalam bentuk asam lemak dan gliserol masuk ke dalam duktus limfatik

Absorbsi mineral di usus
1. Bicarbonat: diabsorsi oleh sel mucosal ketika kadar dalam lumen yang tinggi, dan disekresi dalam lumen ketika kadarnya tinggi dalam darah
2. Calcium: diabsorbsi secara transport aktif dengan stimulus Vit D
3. Chlorid: dengan difusi pasif mengikuti ion natrium
4. Copper: Transport aktif

5. Besi
Transport aktif. Dipercepat oleh Vit.C. disimpan sementara di sel usus sebelum ke plasma. Disimpan di hepar dalam bentuk feritin.

6. Phosphat: seluruh bagian intestin. Secara aktif dan pasif.
7. Kalium: Difusi pasif dan aktif
8. Natrium : difusi pasif dan aktif

Pengaturan sekresi pankreas
x Asam lambung melepaskan sekretin dari duodenum →peningkatan cairan pankreas dan bikarbonat
x Lemak dan makanan lain merangsang pelepasan kolesistokinin →peningkatan sekresi
x Rangsang Vagus →peningkatan sekresi enzim

Garam Empedu
x Dibuat di hepar 0,5 g per hari.
x Kolesterol (prekursor) →asam kolik, dikombinasi dengan glisin dan taurin →gliko/ tauro-asam empedu
x Fungsi emulsifikasi lemak dan membantu absorbsi lemak, mono gliserid, kolesterol, dan lipid lain
x Tidak ada garan empedu :40 % lemak tak diabsorbsi →menurunkan vitamin larut lemak
x 94% empedu diabsorbsi dan digunakan kembali



Komposisi empedu
Air 97,5 (%)
Garam empedu 1,1
Bilirubin 0,04
Kolesterol 0,1
Asam lemak 0,12
Lesitin 0,04
Mineral: Na, K, Ca, Cl, HCO3

Pengaturan sekresi empedu
Sekretin sedikit merangsang hepar.
Disimpan dan dikonsentrasikan sampai 12 kali di kantong empedu
Rangsang vagus: kontraksi lemah kantong empedu
Kolesistokinin menyebabkan kontraksi kandung empedu dan relaksasi kantong empedu

Pengaturan sekresi usus halus
Rangsang setempat: berupa taktil oleh kimus(utama) dan iritasi
Pengaturan hormonal : sekretin dan Kolesistokinin
Efek toksin kolera
meningkatkan kecepatan sekresi ion Cl dan diikuti sekresi cairan, terutana di jejunum


Hari pertama kolera dapat mengeluarkan 15 L cairan diare.
Toksin bacilus colon dan desentri meningkatkan sekresi cairan dengan cara sama
Respon rangsang selain hipersekresi juga terjadi hiperperistaltik

USUS BESAR
x Sekresi : mukus
x Aktifitas pencernaan tidak ada
x Absorbsi KH, protein, lemak, telah selesai. Absorbsi terjadi untuk air, elektrolit, dan vitamin. Glukosa dan obat dapat diabsorbsi jika diberikan melalui rektum
x Iritasi akan mengakibatkan peningkatan sekresi air dan elektrolit

Pergerakan kolon
x Gerakan mencampur dan mendorong
x Kontraksi sfingter ani internus menghalangi rangsangan feses ke anus secara terus menerus
x Sfingter ani eksternus dipersarafi n pudendus (saraf somatik) volumter
x Refleks defekasi terjasi oleh rangsang regang feses menimbulkan gelombang peristaltik kolon dan rektum memaksa feses menuju anus.

Penyerapan air dan elektrolit
Setiap hari usus halus terisi sekitar 2000 ml cairan dari makanan dan minuman, 7000 ml sekresi dari mukosa saluran cerna dan kelenjar-kelenjar yang berkaitan. 98% cairan diabsorbsi. Cairan yang diekskresi melalui feces adalah 200 ml. Hanya sejumlah kecil air bergerak melalui mukosa lambung, tetapi air bergerak dalam 2 arah melalui mukosa usus halus dan usus besar sebagai respon terhadap perbedaan osmotik.

Sebagian natrium berdifusi ke dalam atau ke luar usus halus tergantung pada beda konsentrasi. Oleh karena membran luminal eritrosit dalam usus halus dan kolon permeabel terhadap natrium dan membran basolateralnya mengandung Na, K ATP ase, Na juga diserap secara aktif sepanjang usus halus dan usus besar.

Di dalam usus halus, transport aktif sekunder Na penting untuk penyerapan glukosa , beberapa asam amino, dan zat-zat lain.Adanya glukosa di dalam usus akan mempermudah penyerapan kembali Na. Hal ini merupakan dasar fisiologis untuk pengobatan kehilangan Na dan air pada diare dengan pemberian larutan yang mengandungNaCl dan glukosa

Refleks lapar :
Istilah “lapar” berarti keinginan terhadap makanan, dan berkaitan dengan sejumlah perasaan obyektif. Misalnya, pada seseorang yang tidak makan selama berjam-jam, lambung mengalami kontraksi berirama yang kuat yang di sebut kontraksi lapar. Kontraksi ini menyebabkan rasa penuh atau perih di ulu hati dan kadang-kadang menyebabkan nyeri yang di sebut sebagai perih perut karena lapar (hunger pangs).

Faktor yang mempengaruhi jumlah asupan makanan :
1. Pengaturan energi (pengaturan jangka panjang, berkaitan dengan cadangan makanan dalam tubuh, kadar glukosa, asam amino dan lemak tubuh), yang berhubungan terutama dengan pemeliharaan jangka panjang jumlah normal energi yang disimpan dalam tubuh.

Jika cadangan energi tubuh jauh di bawah normal, maka pusat makan dipothalamus dan daerah lain di otak menjadi sangat aktif, dan orang tersebut memperlihatkan rasa lapar yang menigkat demikian juga dengan mencari makanan; sebaliknya jika cadangan energi (teritama cadangan lemak) sudah berlimpah, maka orang tersebut akan kehilangan rasa lapar dan menjadi kenyang.

2. Pengaturan pencernaan (pengaturan jangka pendek) yang berhubungan terutama dengan mencegah kelebihan makan pada setiap waktu makan, sehingga mekanisme pencernaan dan absorpsinya dapat bekerja pada kecepatan optimal dan tidak menjadi terlalu berat secara periodik. Dipengaruhi oleh peregangan dan pengkerutan saluran cerna/lambung, hormone saluran cerna gastrin dan kolesistokinin
3. Suhu
4. Palatabilitas (cita rasa)
5. Psikis


Refleks haus :
Asupan cairan diatur oleh mekanisme rasa haus, yang bersama dengan mekanisme osmoreseptor-ADH, mempertahankan kontrol osmolaritas cairan ekstra seluler dan konsentrasi natrium dengan tepat. Pusat rasa haus berada di sepanjang dinding anteroventral dari ventrikel ketiga (yang juga meningkatkan pelepasan ADH) dan di anterolateral dari nukleus preoptik.

Pengaturan rasa haus
Peningkatan rasa haus Penurunan rasa haus
Peningkatan osmolalitas Penurunan osmolalitas
Penurunan volume darah Peningkatan volume darah
penurunan tekanan darah Peningkatan tekanan darah
Peningkatan angiotensin II Penurunan angiotensin II
Kekeringan mulut Distensi lambung


Tersedak
Apabila inhibisa pernapasan tidak ada dan atau glottis tidak menutup atau tidak menutup sempurna selama proses menelan, maka akan terjadi refleks tersedak. Hal ini penting untuk melindungi selama pernapasan dari bolus dan bahan-bahan lainnya yang seharusnya melalui saluran pencernaan. Tersedak dapat terjadi antara lain saat makan sambil berbicara, makan terlalu cepat, dll.
o Muntah
Pengeluaran isi lambung secara ekspulsif melalui mulut dengan bantuan otot-otot perut
o Terjadi karena respon lambung berlawanan dengan normal :penurunan tonus esofagus bawah, fundus,dan korpus lambung dan peningkatan peristaltik antrun, tonus pilorus dan duodenum

MUNTAH
Penyebab muntah
x Gangguan saluran cerna
x Gangguan metabolik
x Hipoksia
x Bau-bauan
x Gangguan keseimbangan
x Keracunan
x Obat

Mekanisme muntah
1. Rangsangan reseptor labirin
2. Impuls ditransmisi terutama melalui inti-inti vestibuler ke serebellum
3. Menuju zona pencetus kemoreseptor
4. Akhirnya ke pusat muntah medula oblongata

Tanda-tanda penyakit gastrointestinal
1. Nyeri
2. Kesulitan makan (mual, muntah, gangguan makan)
3. Odyniphagia (nyeri sewaktu menelan)
4. Anorexia (kehilangan nafsu makan)
5. Gangguan pergerakan bolus makanan (diare, konstipasi)
6. Perdarahan

Kepustakaan
Ganong WF, 2003, Review of Med. Phys, 21sd Ed.,
Guyton AC and Hall JE, 2000, Textbook of Med. Phys, 10th Ed, Saunders Philadelphia

Price, SA and Wilson, LM., 1995, Patofisiologi Konsep klinis Proses-proses Penyakit, edisi 4 buku 1, EGC

Wednesday, December 15, 2010

Menometroragia

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menometroragia adalah perdarahan yang lebih banyak dari normal, atau lebih lama dari normal ( lebih dari 8 hari ).
Menometroragia dibagimenjadi 2 yaitu menometroragia yang disebabkan oleh adanya kehamilan seperti abortus, kehamilan ektopik,dan menometroragia diluar kandungan yang disebabkan oleh karena luka yang tidak sembuh, peradangan yang haemorrhagis dan hormonal.
Perdarahan yang fungsional dapat terjadi pada setiap umur pada wanita yang dewasa tapi yang tersering terdapat pada awal masa pubertas dan climacterium. Perdarahan fungsional dapat dibagi perdarahan amovulator ( yang tersering ) dan perdarahan ovulator.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah melaksanakan praktek kebidanan diharapkan mahasiswa mampu memberikan Asuhan Kebidanan pada wanita yang menderita menometroragia sehingga dapat memperluas dan memperbanyak ketrampilan dan pengetahuan.
2. Tujuan Khusus
a. Mahaiswa dapat mengumpulkan data dan menganalisa masalah
b. Mahasiswa dapat mengidentifikasi diagnosa dan masalah
c. Mahasiswa dapat mengidentifikasi masalah potensial
d. Mahasiswa dapat mengidentifikasi kebutuhan segara
e. Mahasiswa dapat merencanakan asuhan kebidanan
f. Mahasiswa dapat merencanakan Asuhan Kebidanan yang telah di rencanakan
g. Mahasiswa dapat mengevaluasi yang telah direncanakan

C. Sistemetika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Tujuan
c. Sistematika Penulisan
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
a. Konsep Dasar Menometroragia
b. Konsep Managemen Kebidanan
BAB III : TINJAUAN KASUS
a. Pengkajian Data
b. Identifikasi Diagnosa Dan Masalah
c. Antisipasi Masalah Potensial
d. Identifikasi Kebutuhan Segera
e. Intervensi
f. Implementasi
g. Evaluasi
BAB IV : PEMBAHASAN
BAB V : PENUTUP
a. Kesimpulan
b. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. KonsepMenometroragia
• Pengertian
Menometroragia adalah pengeluaran darah yang terlalu banyakdari biasanya disertai dengan bekuan darah menstruasi jadi siklus yang teratur.
( fakultas kedokteran universitas pajajaran Bandung.1985 )
Menometroragia adalah haid yang berlebihan banyaknya tetapi menurut siklus
( fakultas kedokteran universitas pajajaran Bandung.1983 )
Menometroragia adalah perdarahan yang lebih banyakdari normal atau lebih lama darinormal ( lebih dari 8 hari )
( Prawiroharjo.1999 )

• Etiologi menurut bagian obstetri dan ginekologi ( fakultas kedokteran pajajaran Bandung. 1981 ) :
1. Hypoplasia Uteri
Menurut beratnya hypoplasia dapat mengakibatkan :
- Amenorhea ( uterus sangat kecil )
- Hypomenorhea ( uterus kecil jadi luka kecil )
- Menoragia ( karenatonus otot rahim kurang )
2. Astheni
Menoraghia terjadi karena tonus otot pada umunya kurang
Terapi : uterotonika, tobarantia
3. Selama atau sesudah menderita suatu penyakit atau karena terlalu rendah, juga karena tonus otot kurang.
4. Myoma uteri
Menometroragia pada myoma uteri disebabkan oleh :
- Kontraksi otot rahim kurang kuat
- Cavum uteri kurang luas
- Bendungan pembuluh darah balik
- Terapi : uterotonika atau operasi
5. hypertensi
6. Decompensatia cordis
7. Infeksi : endometritis, salpingitis
8. Retrofleksio cordis karena bendungan pembuluh darah
9. penyakit darah : Werlhoff, Haemofilli

 Menurut fakultas kedokteran pajajaran. Obstetri fisiologi. 1983 hal 92 etiologi menometroragia adalah myoma uteri ( tumor lapisan otot rahim ) atau radang otot rahim.
 Etiologi menometroragia menurut Sarwono Prawirohardjo. 1999 hal 204 adalah adanya myoma uteri dengan permukaan endometrium lebih luas dari biasanya dan dengan kontraktilitas yang terganggu, polip endometrium, gangguan pelepasan endometrium, gangguan pelepasan endometrium waktu haid.

• Patofisiologi menurut Prawirohardjo. 1999 :
Menoragia karena gangguan pelepasan endometrium biasanya terdapat juga gangguan dalam pertumbuhan endometrium yang diikuti dengan gangguan pelepasan haid.

• Komplikasi menurut Prawirohardjo. 1999 ;
1. Myoma uteri
2. Tumor lapisan otot rahim
3. Radang sekitar rahim

• Penatalaksanaan menurut Prawirohardjo.1999 :
Terapi pada hipermenorea pada myoma uteri tergantung pada penangganan myoma uteri sedans diagnosa dan terapi polip endometrium serta gangguan pelepasan endometrium terdiri dari kerokan.

B. Konsep Managemen Asuhan Kebidanan
I. Pengkajian Data
Tanggal MRS : jam :
Tanggal pengkajian : jam :
Tempat :

1. Data Subyektif
a. Biodata :
Nama :
Umur :
Agama :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Alamat :

b. Keluhan Utama
Klien mengatakan berapa lama mengeluarkandarah dari kemaluannya melebihi hari menstruasi.

c. Riwayat haid
Untuk mengetahui siklus haid, lamanya haid, banyaknya darah haid, keluhan saat haid, dan pertama kali haid.

d. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengatakan tidak menderita penyakit menurun, menahun,dan menular seperti tekanan darah tinggi, myome uteri, infeksi, dan penyakit darah.

e. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Klien mengatakan pernah / tidak menderita penyakit yang menular, menurun, dan menahun.

f. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan dalam keluarganya ada / tidak menderita penyakit yang menular, menurun, dan menahun.


g. Pola Kebiasaan Sehari – hari :
 Pola Nutrisi :
Sebalum MRS : makan 3X sehari dan minum air putih 8- 10 gelas per hari
Sewaktu MRS : makan 3 x sehari dan minum air putih 6 – 8 gelas per hari

 Pola Eliminasi :
Sebelum MRS : BAK : 3 – 4 X / hari
BAB : 1X / hari
Sewaktu MRS : BAK : 3 – 4 x / hari
BAB : 1 x / hari

 Pola Istirahat :
Sebelum MRS : tidur siang 1 –2 jam, tidur malam 6 – 7 jam
Sewaktu MRS : tidur malam 5 – 6 jam

 Pola Aktifitas :
Sebelum MRS : melakukan kegiatan belajar dan aktifitas pondokan
Sewaktu MRS : hanya tidur – tiduran saja

 Pola Kebersihan :
Sebelum MRS : mandi 2x sehari, ganti pakaian setiap sore hari dan ganti celana dalam setiap kali merasa basah
Sewaktu MRS : mandi 2x sehari, ganti celana dalams etiap kali merasa basah

2. Data Obyektif
a. Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmetis
TTD : TD : Normalnya 110/70 – 120/ 80 mmHg
N : Normalnya 70 – 90 x / menit
RR : Normalnya 16 – 24 x/menit
S : Normalnya 36 – 37 ºC

b. Pemeriksaan Fisik :
 Inspeksi
Muka : tidak pucat sampai pucat, tidak odema
Mata : konjungtiva tidak pucat sampai pucat, sclera tidak kuning
Mulut : tidak pucat sampai pucat, bibir kering, tidak ada karies gigi, tidak ada stomatitis
Perut : tidak ada luka bekas operasi
Genetalia : tidak ada odema dan varises, perdarahan barwarna merah segar, jumlahnya

 Palpasi
Perut : ada nyeri tekan pada bagian bawah perut bawah

 Perkusi
Perut : tidak meteorismus

 Auskultasi
Perut : tidak terdengar bissing usus

c. Pemeriksaan penunjang
d. Terapi

II. Identifikasi Diagnosa dan Masalah
Dx :
Ds :
Do : Keadaan umum :
Kesadaran :
TTV : TD :
N :
RR :
S :

Pemeriksaan penunjang

III. Antisipasi Masalah Potensial

IV. Identifikasi Diagnosa dan Masalah

V. Intervensi
Dx :
Tujuan : perdarahan dapat teratasi dan kondisi pasien dalam keadaan sehat
Kriteri hasil : - keadaan umum baik
- perdarahan terhenti

Intervensi :
1. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga
R/ klien dan keluarga lebih kooperatif dalam tindakan perawatan dan menimbulkan keperceyaan antara klien dan keluarga
2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
R/ meminimalkan terjadinya infeksi
3. Observasi perdarahan
R/ mengetahui seberapa banyak perdarahan yang keluar
4. Observasi KU dan TTV
R/ mendeteksi adanya komplikasi
5. Anjurkan klien untuk makan – makanan yang bergizi
R/ dengan gizi cukup diharapkan kondisi tubuh meningkat
6. Anjurkan klien untuk personal hygine terutama daerah genetalia
R/ mencegah terjadinya infeksi
7. Anjurkan klien untuk istirahat yang cukup
R/ terhindar dari pengeluaran darah yang lebih banyak
8. Berikan terapi injeksi sesuai advice dokter
R/ fungsi dependent

VI. Implementasi
Tanggal :
Dx :
Dilakukan sesuai dengan intervensi

VII. Evaluasi
Tanggal : jam :
Merupakan penilaian dari seluruh tindakan yang meliputi atau menggunakan metode SOAP














BAB III
TINJAUAN KASUS


I. Pengkajian Data
Tanggal MRS : 23 juni 2007 jam : 13.30
Tanggal MRS : 25 juni 2007 jam : 11.00
Tempat : ruang melati RSUD Dr. Moch. Saleh

1. Data Subyektif
a. Biodata
Nama : Nn “ N ”
Umur : 16 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : Pondokan
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Jokongan

b. Keluhan Utama
Klien mengatakan sudah 62 hari mensnya tidak berhenti – berhenti, darah yang keluar banyak dan bergumpal –gumpal dan perutnya terasa sakit.

c. Riwayat Haid
Menarche : 11 tahun
Siklus : 28 hari
Lama haid : 6 – 7 hari
Disminorea : Setiap kali datang haid pertama
Banyak : 2 – 3 softex / hari

d. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengatakan tidak menderita penyakit menurun, menahun,dan menular seperti tekanan darah tinggi, myome uteri, infeksi, dan penyakit darah.

e. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Klien mengatakan pernah / tidak menderita penyakit yang menular, menurun, dan menahun.

f. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan dalam keluarganya ada / tidak menderita penyakit yang menular, menurun, dan menahun.

g. Pola Kebiasaan Sehari – hari :
 Pola Nutrisi :
Sebalum MRS : makan 3X sehari dan minum air putih 8- 10 gelas per hari
Sewaktu MRS : makan 3 x sehari dan minum air putih 6 – 8 gelas per hari

 Pola Eliminasi :
Sebelum MRS : BAK : 4 – 5 X / hari
BAB : 1X / hari
Sewaktu MRS : BAK : 3 – 4 x / hari
BAB : 1 x / hari

 Pola Istirahat :
Sebelum MRS : tidur siang 1 –2 jam, tidur malam 6 – 7 jam
Sewaktu MRS : tidur malam 5 – 6 jam

 Pola Aktifitas :
Sebelum MRS : melakukan kegiatan belajar dan aktifitas pondokan
Sewaktu MRS : hanya tidur – tiduran saja

 Pola Kebersihan :
Sebelum MRS : mandi 2x sehari, ganti pakaian setiap sore hari dan ganti celana dalam setiap kali merasa basah
Sewaktu MRS : mandi 2x sehari, ganti celana dalams etiap kali merasa basah

2. Data Obyektif
a. Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum : cukup
Kesadaran : composmetis
TTD : TD : 130 / 90 mmHg
N : 88 x / menit
RR : 20 x / menit
S : 37 º C

b. Pemeriksaan Fisik :
 Inspeksi
Kepala : rambut gelombang, hitam, bersih, dan tidak rontok
Muka : tidak pucat sampai pucat, tidak odema
Mata : konjungtiva tidak pucat sampai pucat, sclera tidak kuning
Hidung : simetris, bersih, tidak ada pernafasan cuping hidung
Telinga : simetris, bersih, tidak ada gangguan pendengaran
Mulut : tidak pucat sampai pucat, bibir kering, tidak ada karies gigi, tidak ada stomatitis
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vana jugularis
Dada : tidak ada retraksi dinding dada, simetris
Payudara : simetris, tidak ada benjolan yang abnormal
Perut : tidak ada luka bekas operasi
Genetalia : tidak ada odema dan varises, perdarahan barwarna merah segar, jumlahnya
Anus : bersih, tidak ada hemoroid
Ekstremitas: tidak ada odema pada tangan dan kaki



 Palpasi
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis
Dada : tidak ada retraksi dinding dada
Payudara : tidak ada nyeri tekan
Perut : ada nyeri tekan pada bagian bawah perut bawah
Ekstremitas: tidak ada odema pada kaki dan tangan

 Perkusi
Perut : tidak meteorismus
Ekstremitas: refflek patella +/+

 Auskultasi
Dada : tidak ada bunyi rokhi dan whezzing
Perut : tidak terdengar bissing usus

c. Pemeriksaan penunjang
Plano test : -
Laboratorium : Hb : 12,5 gr / dl
USG : dalam batas normal

d. Terapi
Transamin 3 x 1
Metergin 3 x 1
Kedacilin 3 x 1
Pasang infus Pz 20 tetes / menit

II. Identifikasi Diagnosa dan Masalah
Dx : Nn ” N ” dengan memometroragia
Ds : Klien mengatakan sudah 62 hari mensnya tidak berhenti – berhenti, darah yang keluar bergumpal dan perutnya terasa sakit
Do : Keadaan Umum : cukup
Kesadaran : composmetis
TTD : TD : 130 / 90 mmHg
N : 88 x / menit
RR : 20 x / menit
S : 37 ºC

Inspeksi :
Muka : tidak pucat sampai pucat, tidak odema
Mata : konjungtiva tidak pucat sampai pucat, sclera tidak kuning
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vana jugularis
Perut : tidak ada luka bekas operasi
Genetalia : tidak ada odema dan varises, perdarahan barwarna merah segar, jumlahnya
Ekstremitas : tidak ada odema pada tangan dan kaki

Palpasi :
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis
Perut : ada nyeri tekan pada bagian bawah perut bawah
Ekstremitas : tidak ada odema pada kaki dan tangan

III. Antisipasi Masalah Dan Potensial

IV. Identifikasi Kebutuhan Segera

V. Intervensi
Dx : Nn “ N ” dengan memometroragia
Tujuan : perdarahan dapat teratasi dan kondisi pasien dalam keadaan sehat
Kriteri hasil : - keadaan umum baik
- perdarahan terhenti




Intervensi :
1. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga
R/ klien dan keluarga lebih kooperatif dalam tindakan perawatan dan menimbulkan keperceyaan antara klien dan keluarga
2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
R/ meminimalkan terjadinya infeksi
3. Observasi perdarahan
R/ mengetahui seberapa banyak perdarahan yang keluar
4. Observasi KU dan TTV
R/ mendeteksi adanya komplikasi
5. Anjurkan klien untuk makan – makanan yang bergizi
R/ dengan gizi cukup diharapkan kondisi tubuh meningkat
6. Anjurkan klien untuk personal hygine terutama daerah genetalia
R/ mencegah terjadinya infeksi
7. Anjurkan klien untuk istirahat yang cukup
R/ terhindar dari pengeluaran darah yang lebih banyak
8. Berikan terapi injeksi sesuai advice dokter
R/ fungsi dependent

VI. Implementasi
Tanggal : 25 juni 2007 jam : 11.45
Dx : Nn “ N ” dengan memometroragia

1. Melakukan pendekatan pada klien dan keluarga dengan memperkenalkan diri dan dilanjutkan dengan menanyakan masalah ibu secara sopan agar klien dan keluarga lebih kooperatif dalam setiap tindakan yang akan kita lakukan.
2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan di air yang mengalir untuk meminimalkan kuman hingga 80 % dan mencegah terjadinya infeksi.
3. Mengobservasi perdarahan seberapa banyak jumlah perdarahan yang keluar dari klien 5 – 6 kaliganti softex / hari.
4. Mengobservasi keadaan umum dan tanda- tanda vital, seperti tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu.
5. Menganjurkan klien untuk makan –makanan yang bergizi untuk meningkatkan kondisi tubuh seperti makan sayur – sayuran hijau misalnya bayam, ikan laut, nasi, telur,dll.
6. Menganjurkanklien untuk personal hygine terutama daerah genetalia
- cebok dari depan kebelakang menggunakan sabun
- mengganti CD setiap kali merasa basah
- sering ganti pembalut setiap kali selesai mandi, BAB, dan BAK
7. Menganjurkan klien untuk istirahat yang banyak,seperti banyak tidur.
8. Menberikan obat terapi pada klien :
- Transamin 1 ampul ( jam 11.00, 16.00, 00.00 WIB )
- Metergin 1 ampul ( jam 11.00, 16.00, 00.00 WIB )
- Kedacilin 1 gram ( jam 11.00, 16.00, 00.00 WIB )
- Mengatur tetesan infus PZ 20 tetes / menit

VII. Evaluasi
Tanggal : 25 juni 2007 jam : 13.00 WIB
DX : Nn. “ N ” dengan Menometroragia

S : Klien mengatakan apa yang telah dijelaskan, perdarahan masih belum berhenti dan perut terasa sakit

O : keadaan umum : cukup
Kesadaran : composmetis
TTV : TD : 130/ 90 mmHg
N : 88 x /menit
RR : 20 x /menit
S : 37 º C
Pemerikasaan fisik :
Muka : tidak pucat, tidak odema
Mulut : tidak pucat, bibir kering, tidak ada karies gigi, dan tidak ada stomatitis
Genetalia : tidak ada odema, tidak ada varises, perdarahan berwarna merah segar,jumlahnya 5 – 6 softex/ hari

A : Nn. N dengan Menometroragia

P : Melanjutkan rencana tindakan :
 Mengobservasi perdarahan
 Menganjurkan klien untuk personal hygine terutama daerah genetalia
 Menganjurkan klien untuk makan – makanan yang bergizi
 Menganjurkan klien untuk mobilisasi
 Beriakan terapi sesuai advice dokter :
- Transamin 1 ampul
- Metergin 1 ampul
- Kedacilin 1 gram



CATATAN PERKEMBANGAN

26 JUNI 2007
S : klien mengatakan perdarahan sudah agak berkurang dan perutnya masih terasa sakit

O : keadaan umum : cukup
Kesadaran : composmetis
TTV : TD : 120/ 70 mmHg
N : 84 x / menit
RR : 20 x / menit
S : 36,8 ºC
Pemeriksaan fisik :
Muka : tidak pucat,tidak odema
Mulut : tidak pucat, bibir kering,tidak ada karies gigi,tidak ada stomatitis
Genetalia : tidak ada odema, tidak ada varises, perdarahan berwarna merah segar,jumlahnya 4 – 5 softex/ hari

A : Nn. N dengan Menometroragia

P : Melanjutkan rencana tindakan :
 Mengobservasi perdarahan
 Menganjurkan klien untuk personal hygine terutama daerah genetalia
 Menganjurkan klien untuk makan – makanan yang bergizi
 Menganjurkan klien untuk mobilisasi
 Beriakan terapi sesuai advice dokter :
- Transamin 1 ampul
- Metergin 1 ampul
- Kedacilin 1 gram



27 JUNI 2007
S : Klien mengatakan perdarahannya sudah berkurang dan perutnya tidak sakit

O : keadaan umum : baik
Kesadaran : composmetis
TTV : TD : 120/ 70 mmHg
N : 84 x / menit
RR : 20 x / menit
S : 36,8 ºC
Pemeriksaan fisik :
Muka : tidak pucat,tidak odema
Mulut : tidak pucat, bibir kering,tidak ada karies gigi,tidak ada stomatitis
Genetalia : tidak ada odema, tidak ada varises, perdarahan berwarna merah segar,jumlahnya 2 - 3 softex/ hari

A : Nn. N dengan Menometroragia

P : - minum obat 3 x 1
- menganjurkan personalhygine terutama daerah genetalia
- kontrol ulang seminggu lagi













BAB IV
PEMBAHASAN

Pembahasan merupakan analisa dan penulis mengenai kesenjangan yang terjadi antara teori dengan kasus di lapangan. Dalam kasus ini tidak ada kesenjangan dengan teori.
a. Dalam pengkajian data baik subjektif maupun objektif dalam teori dalam kasus di lapangan terdapat kesamaan.
b. Dalam mendiagnosa tedapat keterkaitan yang erat dan tidsk terjadi kesenjangan antara teori dengan kasus di lapangan.
c. Diagnosa masalah dan potensial dalam kasus serta teori pun tidak jauh beda.
d. Tindakan segera, kebutuhan segera dalam penanganan di lapangan telah sesuai dengan teori
e. Perencanan yang telah direncanakan sesui dengan diagnosa dan masalah juga sesuai dengan teori
f. Evaluasi yang dilakukan setelah diadakannya implementasi berjalan sesuai dengan perkembangan keadaan pasien dan hasil yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan teori


BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menometroragia adalah pengeluaran darah yang terlalu banyak biasanya disertai dengan bekuan darah sewaktu menstruasi, jadi siklus yang teratur.

Etiologi : 1. Hypoplasia Uteri
2. Astheni
3. Selama atau sesudah menderita suatu penyakit atau karena terlalu rendah, juga karena tonus otot kurang
4. Myoma uteri
5. Hypertensi
6. Decompensation uteri
7. Infeksi
8. Retrofleksio uteri
9. Penyakit darah

Patofisiologi : karena gangguan pelepasan endometrium biasanya terdapat juga gangguan dalam pertumbuhan endometrium yang diikuti dengan gangguan pelepasan haid.

Komplikasi : 1. Myoma uteri
2. Tumor lapisan otot rahim
3. Radang sekitar rahim

B. Saran
Bagi wanita yang menderita menometroragia segera ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penangganan lebih lanjut,menjaga personal hygine terutama daerah genetalia, makan – makanan yang bergizi, dan banyak istirahat.


DAFTAR PUSTAKA


FKUP. 1975. GINEKOLOGI. Jakarta : FK Universitas Pajajaran Bandung
FKUP. 1983. OBSTETRI FISIOLOGI. Jakarta : FK Universitas Pajajaran Bandung
Prawirohardjo, Sarwono. 1999. ILMU KANDUNGAN. Jakarta : YBPSP




Mau?

afferinte.com

MERAIH RUPIAH KLIK INI

Join in Here