RSS Feed

Wednesday, December 15, 2010

Hiopotermi

2.1 Pengertian Hipotermi
Hiopotermi adalah suatu keadaan dimana temperatur suhu tubuh menurun.
( Kamus Saku Dorland Edisi 25. 2002 )
Hipotermi adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau beresiko untuk mengalami penurunan suhu tubuh terus menerus lebih rendah dari 36o C.
( Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. 2000 )

2.2 Etiologi
Terjadinya hipotermi dapat disebabkan oleh :
1. Prematuritas
2. Asfiksia
3. Sepsis
4. Kondisi neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral
5. Pengeringan yang tidak adekuat setelah kelahiran
6. Eksposure suhu lingkungan yang dingin

2.3 Gejala Hipotermia
Gejalanya bisa berupa:
1. Suhu kurang dari 36oC
2. Bayi tampak mengantuk
3. Kulitnya pucat dan dingin
4. Lemah, lesu
5. Menggigil
6. Bayi tidak mau minum atau menetek pada ibu
7. Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras (sklerema)



2.4 Tanda – Tanda Klinis Hipotermia
1. Hipotermia sedang:
a. Kaki teraba dingin
b. Kemampuan menghisap lemah
c. Tangisan lemah
d. Kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata
2. Hipotermia berat
a. Sama dengan hipotermia sedang
b. Pernafasan lambat tidak teratur
c. Bunyi jantung lambat
d. Mungkin timbul hipoglikemi dan asidosisi metabolik
3. Stadium lanjut hipotermia
a. Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang
b. Bagian tubuh lainnya pucat
c. Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema)


2.5 Pengkajian Hipotermia
1. Riwayat kehamilan
a. Kesulitan persalinan dengan trauma infant
b. Penyalahgunaan obat-obatan
c. Penggunaan anestesia atau analgesia pada ibu
2. Status bayi saat lahir
a. Prematuritas
b. APGAR score yang rendah
c. Asfiksia dengan rescucitasi
d. Kelainan CNS atau kerusakan
e. Suhu tubuh dibawah 36,5 C atau diatas 37,5 C
f. Demam pada ibu yang mempresipitasi sepsis neonatal
3. Kardiovaskular
a. Bradikardi
b. Takikardi pada hipertermia

4. Gastrointestinal
a. Asupan makanan yang buruk
b. Vomiting atau distensi abdomen
c. Kehilangan berat badan yang berarti
5. Integumen
a. Cyanosis central atau pallor (hipotermia)
b. Edema pada muka, bahu dan lengan
c. Dingin pada dada dan ekstremitas(hipotermia)

2.6 Mekanisme Kehilangan Panas Pada Bayi Baru Lahir
a. Radiasi : Dari objek ke panas bayi.
b. Evaporasi : Karena penguapan cairan yang melekat pada kulit
c. Konduksi : Panas tubuh diambil oleh suatu permukaan yang melekat ditubuh.
d. Konveksi : Penguapan dari tubuh ke udara

2.7 Pencegahan dan Penanganan
A. Pencegahan dari Hipotermia adalah sebagai berikut :
1. Asuhan kontak kulit dengan kulit.Menggendong bayi sambil memeluknya dengan cara yang tepat dapat membantu memberikan kehangatan yang dibutuhkan bayi. Meski awalnya dilakukan oleh ibu, selanjutnya para ayah pun dapat turut mempraktikannya.
2. Gunakan air hangat setiap kali memandikan bayi. Setelah selesai, segeralah angkat dan keringkan tubuh bayi. Lalu pastikan dia dalam keadaan hangat. Jauhkan si kecil dan handuk basah bekas pakai.
3. Jangan biarkan buah hati anda menggunakan popok basah. Untuk itu, rajinlah memeriksa dan mengganti popoknya.
4. Jauhkan bayi dari kemungkinan kondisi kedinginan. Pastikan buah hati anda senantiasa berada pada lingkungan bersuhu hangat/normal. Demikian pula pakaian yang dikenakannya.




B. Penanganan Bayi yang mengalami Hipotermia
1. Bayi yang mengalami hipotermi biasanya mudah sekali meninggal. Tindakan yang harus dilakukan adalah segera menghangatkan bayi tersebut dalam inkubator dan melalui penyinaran lampu.
2. Cara lain yang sangat sederhana dan mudah dikerjakan oleh setiap orang adalah menghangatkan bayi melalui panas tubuh ibu. Bayi diletakkan telungkup di dada ibu agar terjadi kontak kulit langsung ibu dan bayi. Untuk menjaga agar bayi tetap hangat, tubuh ibu dan bayi harus berada dalam satu pakaian ( merupakan teknologi tepat guna baru ) disebut sebagai metode kanguru. Sebaiknya ibu menggunakan pakaian longgar berkancing depan.
3. Bila tubuh bayi masih dingin, gunakan selimut atau kain hangat yang disetrika terlebih dahulu, yang digunakan untuk menutupi tubuh bayi dan ibu. Lakukanlah berulang kali sampai tubuh bayi hangat.
4. Biasanya bayi hipotermi menderita hiploglikemi sehingga bayi haruh diberi ASI sedikit – sedikit sesering mungkin. Bila bayi tidak menghisap diberi infus glukosa 10% sebanyak 60 – 80 ml/kg per hari.

2.8 Prinsip Dasar Metode Kanguru
Prinsip dasar metode kanguru ini adalah pengganti peraewatan BBLR dalam inkubator dengan metode kanguru. Ibi diidentikkan sebagai kanguru yang dapat mendekap bayinya secara seksama dengan tujuan mempertahankan suhu bayi secara normal ( 36,5o – 37,5o C ). Suhu yang optimal ini diperoleh dengan adanya kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibunya secara kontinue. Ibu berfungsi sevagai host atau indung bagi bayi. Posisi bayi dalam kantung kanguru adalah tegak tau vertikal pada siang hari pada saat ibu berdiri atau duduk dan tengkurap atau melring pada malam hari ketika ibu berbaring atau tidur.








BAB III
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI
DENGAN HIPOTERMIA

I. Pengkajian Data
Tanggal : Jam :
Tempat :
Oleh :
No register :

A. Data Subyektif
1. Biodata Anak
Nama : Menghindari kekeliruan jika ada kesamaan nama
Umur : Hipotermia biasanya tidak mengenal umur
Tanggal lahir : Penting untuk menghitung umur bayi
Jenis kelamin : Sering pada genetalia laki-laki
Alamat : Tempat tinggal yang akan dikunjungi pada keadaan tertentu

Orang Tua
Nama Ibu : Nama Ayah :
Umur : Umur :
Pendidikan : Pekerjaan :
Agama : Alamat :
Suku/Bangsa : Suku/Bangsa :
Pekerjaan : Pekerjaan :
Penghasilan : Penghasilan :
Alamat : Alamat :

2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan badan anaknya terasa sangat dingin dan anaknya tidak mau untuk disusui.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Ibu mengatakan bahwa anknya teraba sangat dingi dan tidak mau untuk disusui.

4. Riwayat Penyakit Terdahulu
Ibu mengatakan bahwa anaknya tidak pernah menderita penyakit yang sampai masuk Rumah Sakit
5. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan bahwa didalam keluarganya tidak pernah menderita penyakit menular / menahun / menurun seperti DM, asma, Penyakit jantung dan lain – lain.
6. Riwayat prenatal,natal,dan post natal
b. Riwayat prenatal
Ibu mengatakan bahwa ini adalah kehamilan.... selalu perikasa rutin ke bidan. Dan mendapatkan tablet Fe, vitamin dan suntik TT sebanyak .... kali..
c. Riwayat natal
Ibu melahirkan di ..... secara .... oleh .... Pada tanggal .... Jam .... WIB
d. Riwayat post natal
Kemungkinan bayi terpapar pada suhu lingkungan yang dingin
7. Pola Kebiasaan sehari – hari
1. Pola Nutrisi
Minum ASI sebanyak....cc, setiap... jam.
2. Pola Eliminasi
BAB : 2 – 3 x / hari, berwarna hijau kehitaman
BAK : 5 – 6 x / hari, jernih dan berbau amoniak.
3. Pola Istirahat
14 – 18 jam / hari
4. Pola Aktivitas
a. Bayi diam jarang menangis
b. Tidak merespon lingkungan sekitar
c. Bayi tidur miring kanan / kiri.
5. Pola Hygiene
Bayi sudah dimandikan 2x sehari, ganti popok setelah mandi, BAB dan BAK.






B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
BB : 2500n – 4000 gr
Nadi : 100 – 140 x / menit
PB : 48 – 50 Cm
RR : 30 – 60 x / menit
Suhu : 36,50 C – 37,50 C
2. Pemeriksaan Fisik
INSPEKSI
Kepala : simetris, rambut hitam, rambut tipis
Muka : simetris,tidak pucat, tidak ada kebiruan
Mata : simetris, tidak pucat pada conjunctiva, tidak icterus pada
sclera
Hidung : simetris, tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada secret
Mulut : simetris, bibir tidak kering, tidak pucat, lidah kemerahan
Telinga : simetris, bersih
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada pembesaran vena jugularis
Dada : simetris, tidak ada retraksi dinding dada, payudara simetris.
Abdomen : abdomen normal, bentuk simetris, turgor kulit baik, tali pusat masih basah dan terbungkus kassa steril, bersih
Genitalia : lubang penis tidak terdapat di ujung penis tapi di bawah penis dan penis melengkung ke bawah
Ekstremitas : simetris, turgor kulit bagus, reflek moro (+), reflek babinsky (+), reflek grasping (+), posisi kaki fleksi

PALPASI
Kepala : tidak ada benjolan abnormal
Leher : tidak pembesaran kelenjar thyroid dan limfe.
Abdomen : adakah meteorismus, adakah nyeri tekan
Genitalia : lubang penis berada di bawah karena mengalami hipospadia, anus berlubang, testis sudah turun ke skrotum
Ekstremitas : Turgor, oedema dan ketidakteraturan susunan tulang

AUSKULTASI
Dada : terdapat bunyi vesikuler
Abdomen : meteorismus (-)

PERKUSI
Dada : terdapat bunyi sonor
Abdomen : terdapat bunyi timpani

3.2 Identifikasi Diagnosa Dan Masalah
Dx : Bayi “...” usia ... dengan hipotermia
Ds: Ibu mengatakan bahwa badan anaknya terasa sangat dingin dan anaknya tidak mau untuk disusui.
Do :
Kesadaran umum : baik
Kesadaran : composmentis
BB : normal (2500-4000 gram)
PB : normal (48-60 cm)
TTV : Nadi : 120 – 140 x / menit
Pernafasan : 30 – 60 x / menit
Suhu : 36,5o C – 37, 5o C

3.3 Antisipasi Diagnosa Dan Masalah Potensial
Potensi terjadi hipoglikemi

3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
a. Segera hangatkan bayi, masukkan bayi dalam inkubator
b. Beri asupan nutrisi bagi bayi ( berikan ASI )





3.5 Intervensi
Dx : By “ ... “ usia .... hari dengan hipotermia
Tujuan : Bayi dengan hipotermia teratasi dan suhu tubuh bayi kembali
normal
Kriteria hasil : 1. KU : Baik
2. TTV : Normal
3. Sudah mau untuk disusui oleh ibunya
Intervensi
1. Lakukan pendekatan pada ibu dan keluarga
R/ Agar ibu dan keluarga lebih kooperatif dalam melaksanakan tindakan.
2. Lakukan informed consent
R/ Ibu akan mengerti keadaan bayi dan menyetujui tindakan yang akan dilakukan bayinya.
3. Segera hangatkan bayi, tutuplah tubuh bayi dengan selimut dan masukkan dalam inkubator
R/ Sebisa mungkin mencegah kehilangan panas pada tubuh bayi dan suhu bayi tidak terus rendah.
4. Berilah asupan nutrisi ( ASI ) pada bayi
R/ Untuk meberi tenaga pada bayi dan mencegah terjadinya hiploglikemi..
5. Observasi tanda-tanda vital
R/ untuk mengetahui perkembangan klien
6. Beri KIE pada ibu tentang perawatan bayi
R/ Agar bayi tetap sehat dan bersih


3.6 Implementasi
Tanggal :
Jam :
Dx : Bayi “...” usia “....” hari dengan hipotermia.
1. Melakukan pendekatan pada ibu dan keluarga agar selama pemeriksaan dan pengambilan tindakan yang akan diberikan kepada bayi dapat berjalan dengan baik dan tercipta hubungan yang komunikatif.
2. Melakukan inform consent kebada ibu dan keluarga, karena tindakan yang akan kita berikan sebaiknya mendapatkan persetujuan dari keluarga, ini sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat dalam profesi kebidanan.
3. Menghangatkan tubuh bayi dengan menyelimutinya dan menaruh bayi di dalam inkubator, agar bayi menjadi hangat dan suhu diharapkan dapat meningkat
4. Meminta ibu untuk menyusui bayinya agar bayi tidak kekurangan asupan nutrisi dalam tubuh dan terjadi hiploglikemi, apabila bayi tidak mau menyusu tampung ASI dan berikan ASI tersebut pada bayi sedikit demi sedikit dengan menggunakan sendok.
5. Mengobservasi tanda-tanda vital yaitu dengan melakukan pengukuran suhu dan menghitung pernafasannya.
6. Memberi KIE pada ibu agar selalu menjaga suhu tubuh bayi agar tetap hangat.
7. Taruhlah bayi pada tempat yang terang untuk mencegah terjadinya kehilangan panas pada tubuh bayi
8. Anjurkan ibu untuk menggunakan metode kanguru untuk menghangatkan bayinya dalam kehidupan sehari – hari.

3.7 Evaluasi
Tanggal :
Jam :
Dx : By “ ... ” Usia ... hari dengan hipotermia
S : - Ibu mengatakan bahwa suhu tubuh bayinya sudah mulai naik dan tidak teraba dingin lagi.
- Ibu mengatakan sudah mengerti tentang apa yang sudah dijelaskan tadi.
- Ibu mengatakan mau melakukan metode kanguru dalam kehidupan sehari – hari untuk menjaga suhu tubuh bayinya tetap normal.
O : Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
BB : 2500n – 4000 gr
Nadi : 100 – 140 x / menit
PB : 48 – 50 Cm
RR : 30 – 60 x / menit
Suhu : 36,50 C – 37,50 C
A : Kesimpulan tentang berhasil atau tidaknya pelayanan kesehatan yang telah diberikan.
P : Memberi KIE pada ibu :
a. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya agar bayi tidak kekurangan asupan nutrisi dalam tubuh dan terjadi hiploglikemi
b. Menganjurkan agar meletakkan bayi pada tempat yang terang untuk mencegah terjadinya kehilangan panas pada tubuh bayi
c. Menganjurkan untuk menggunakan metode kanguru untuk menghangatkan bayinya dalam kehidupan sehari – hari.
d. Menggunakan air hangat setiap kali memandikan bayi
e. Jangan biarkan bayi menggunakan popok basah.

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 25. 2002. Jakarta : EGC
M. Sacharin, Rosa. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi 2. Jakarta : EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

0 komentar:

Post a Comment

Mau?

afferinte.com

MERAIH RUPIAH KLIK INI

Join in Here